
"halo pak dimas, meeting dimajukan jama 08.30 ya" suara perempun dari sambungan telfon saat dimas sedang menuju kantornya. dia adalah anita sekertaris tempat dimas bekerja.
"oke ta, aku udah dijalan kok" jawab dimas singkat lalu mematikan sambungan telfonnya.
Hari ini ada meeting tander baru untuk proyek pembangunan pusat perbelanjaan, dimas sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk proyek ini. salah satunya ada di flashdisk khusus yang selalu dimas siapkan untuk bekerja.
dimas merogoh kantongnya tapi tidak menemukan flashdisk itu.
"ya ampun ketinggalan dirumah"
dimas memutar mobilnya kembali kerumah, teringat saat mau sarapan dimas meletakkanya dimeja tv.
saat sampai dipintu gerbang, dimas melihat pintu gerbang tidak ditutup
"dira tumben gak nutup pintu"
firasat dimas buruk, takut terjadi apa-apa karena tidak biasanya dira tidak menutup puntu gerbang.
dimas menghentikan mobilnya dihalamandan segeramasuk rumah. dimaa menemukan dira duduk dilantai dekat sofa sedang memeluk kakinya dan menundukkan kepalanya, dimas membelai rambut dira.
"ada apa dira?"
dira terkejut karena dimas kembali lagi setela berangkat kerja tadi.
"kakak ada apa pulang lagi? kakak sakit? "
"enggak, aku lupa ambil itu" dimas menunjukkan flashdis yg tergeletak di meja tv.
"kenapa gak telfon aja, dira bisa anter ke kantor kakak"
"gakpapa, aku sekalian liat kamu" dimas tersenyum hangat.
senyuman yang selalu membuat dira nyaman dan menenangkan hatinya.
"hati-hati dirumah, kunci pagernya ya"
"hemm" dira menganggukan kepalanya
dimas pergi lagi setelah mengambil flashdiknya dan dira menutup pagar rumahnya kembali.
dira duduk menyandarkan badanya disofa.
kedatangan laki-laki tadi membuat dira sangat terkejut. dira merasakan sesuatu yang lain saat menatap laki-laki itu.
"kamu sudah menikah dira? " kalimat rama yang pertama kali keluar dari mulutnya.
__ADS_1
raut wajahnya menunjukkan kesedihan saat melihat perut dira yang membesar.
"iya, kamu mengenalku?" dira merasakan kedekatan dengan pria ini tapi tidak mengingatnya.
dira dan rama masih berdiri di dekat pintu pagar, dira tidak menyuruh rama masuk kerumah karena suaminya sedang pergi bekerja. sifatnya kembali dingin kepada orang lain dan hanya hangat saat bersama suaminya, meskipun mereka tidak seperti suami istri, tapi dira menghormati dimas.
"kamu tidak mengingatku?" rama berusaha menenangkan hatinya, mencerna situasi didepannya.
dira menggelengkan kepalanya.
"aku teman satu kantormu dulu dijakarta, kita sangat dekat"
dira tetap tidak ingat, justru ada bayangan aneh yang terlintas di ingatanya. bayangan samar dan cepat saat dira dan rama sedang nonton film layar lebar dan dira tertawa dengan lepas saat ada adegan lucu tapi tangan dira digenggam erat oleh tangan laki-laki disampingnya.
dira memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut.
"aku masuk dulu ya, nanti sore kamu mau kembali lagi kalau suamiku sudah pulang? aku ingin menanyakan banyak hal" dira masuk kedalam membiarkan rama yang berdiri mematung memandangi wanita yang sangat dicintainya.
rama memberikan kartu namanya sebelum dira menutup pintu lalu pergi meninggalkan rumah itu menuju hotel tempatnya menginap.
pukul empat sore, dimas sudah pulang kerja. dira sudah menyiapkan air hangat, baju ganti dan makanan untuknya.
satu bulan ini hubungan mereka mulai berkembang, dimas pernah sekali meminta dira menyiapkan air hangat untuk mandi dan setelah itu, dimas selalu menyiapkan air hangat dan pakaian ganti untuk dimas.
"kak, aku mau ngomong sesuatu".
"ada apa? biasanya ngomong aja gak pake bilang". dimas tersenyum tipis
dira menyerahkan sebuah kartu nama.
RAMA PRAYOGA
MANAGER KEUANGAN HOTEL INDANA
MAKASAR
0811XXXXX
dimas mengerutkan dahinya saat membaca keterangan yang ada di kartu nama itu.
"tadi ada laki-laki menghampiriku waktu mau nutup gerbang dia bilang kenal aku, aku menyuruhnya kembali kalo kakak udah pulang, lalu dia kasih kartu nama itu, aku gak ngomong banyak sama dia didepan, akut jadi omongan orang".
dimas tersenyum dan membelai rambut dira.
"istri yang baik" dimas mencium kening dira.
__ADS_1
pipi dira memerah, ini pertama kalinya dimas mencium keningnya. tiba-tiba dira mngingat kejadian yang sama tapi seperti de javu. kepala dira berdenyut mngingat itu.
"kita telfon aja ya orangnya, kali aja bisa kasih petunjuk penting untuk situasimu"
"iya kak"
dimas mengambil HPnya dan menghubungi nomer yang ada di kartu nama itu.
"halo, siapa ini? "suara laki-laki disambungan telfonya.
"saya dimas suami wanita yang tadi siang anda temui, apa bisa kita bertemu?"
"iya bisa, kebetulan saya juga mau bertemu dengan anda"
"kita bertemu di coffe daniel saja jam tujuh malam. saya akan kirim alamatnya?"
"oke" rama menjawab singkat lalu mematikan sambungan telfonnya.
seyelah sambungan dimatikan dimas mengirimkan alamat coffe daniel lewat pesan singkat.
"kamu dirumah aja ya dir, biar aku yang temui orang itu."
dira ingin ikut tapi tidak membantah omongan dimas. "iya kak"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1