
"Kampus kamu bukan ada di desa yang tidak ada ditinggali orang pintar seperti ustadz atau Kyai nya kan?" Jadi logikanya untuk apa meminta tolong pada kita yang jauh begini??" Kata Sena.
Anthony mengecek secara diam-diam asrama tempat tinggal Stella dan Naomi.
Hening, dia tidak mendengar suara apapun yang mencurigakan.
"Tidak ada suara apapun yang terdengar apalagi seperti layaknya suara orang kesurupan." Gumam Anthony.
"Aku jadi curiga jangan-jangan ini adalah sebuah jebakan untuk Bian, Sena dan Paman Said." Kata Anthony.
Sementara itu...
"Pintarnya putri papa meniru suara orang dewasa, semoga jebakan kita berhasil!" Kata Baron pada putri kecilnya, Mayda.
Malam itu dengan alasan tidur cepat Mayda masuk ke dalam kamarnya. Dia mengatur bantal dan guling sedemikian rupa dan diberikannya selimut supaya tidak ketahuan oleh mamanya jika dia tak ada di kamarnya.
Sangat lah mudah bagi bocah sesakti Mayda untuk pergi ke istana tempat kediaman papanya bertahta selama ini di istana kegelapan.
Dua hanya tinggal memejamkan matanya lalu membayangkan istana ayahnya dan sekejap saja tubuhnya sudah akan berpindah.
"Itu bukan hal yang sulit untuk Mayda lakukan papa!!" Kata Mayda.
Tak lama Piere datang kehadapan ayahnya. Sebelumnya mata Piere bertatapam dengan mata Mayda.
"Ouh, jadi kamu rupanya anak gelap ayahku dari wanita ja*lang itu??" tanya Piere.
"Tutup mulutmu kak, mamaku bukan wanita ja*lang!!" Kata Mayda marah sekali saat Piere mengatakan bahwa mamanya adalah wanita ******.
"Lho, kok marah?? Kan memang mamamu seorang ja*lang, buktinya suami mamamu Rama tetapi kenapa mama kamu hamilnya sama ayahku??" kata Piere tersenyum mengejek.
"Awas kamu kak, sekali lagi kamu menghina mamaku maka aku sendiri yang akan membunuhmu!!" Ancam Mayda.
"Sudah...sudah, mengapa kalian baru saja sehari bertemu sudah bertengkar!" Baron menengahi putra dan putrinya lain ibu itu.
"Awas kamu kak!" Ancam Mayda.
"Aku tidak takut padamu!!" Balas Piere.
"Bisakah kalian berdua diam?" Sentak Baron mulai kesal.
Piere melengos lalu berlalu dari sana meninggalkan ayahnya dan saudara lain ibunya itu.
Sambil menunggu Anthony kembali, Bian duduk di teras sambil membaca tasbih di tangannya.
Wusshh
"Kau selalu datang dengan mengagetkan aku Anthony!!" Gerutu Bian.
"Apa yang telah kamu dapatkan dari hasil penyelidikanmu saat pergi keasrama mereka? Benarkah Naomi kesurupan?" Tanya Bian lagi.
"Aku tidak menemukan apapun yang mencurigakan aku percaya ini adalah sebuah jebakan orang yang jahat!!" Kata Anthony.
"Aku sudah menduganya!!" Ucap Bian.
__ADS_1
"Tapi ini ulah siapa?" Tanya Bian lagi.
"Kita akan mencari tau jawabnya, sekarang aku harus menemui paman Said dulu!" Kata Anthony lalu melesat pergi kembali.
"Maksud kamu, Naomi sama sekali tidak kesurupan?" Tany paman Said menegaskan pernyataan Anthony.
"Kalau bukan Stella dan Naomi siapa lagi yang tau nomor ponsel Bian??" Tanya paman Said pada Anthony
"Nah itu yang aku tidak tau paman!" Jawab Anthony.
"Cepat kamu kembali keruangan hemodialisa, jaga Sena di sana!" Kata paman Said.
Sena masih asyik mengumpulkan sampah saat tiba-tiba dia merasa lehernya seperti ada yang mencekik dari belakang.
"Si...siapa ini??" tanya Sena terbata-bata karena lehernya tercekik.
"Kanti, Lean, Leon tolong!" Teriak Sena karena dia tau Anthony sedang pergi mencari tau tentang masalah Bian dan sampai sekarang belum juga kembali.
"Lepaskan Sena!" Teriak Kanti. Lean dan Leon juga ikut membantu menarik Sena untuk menolongnya.
Tapi tangan yang tak kasat mata itu terus mencekik Sena dengan kuatnya.
"Anthony, tolong aku!!" Teriak Sena mulai terbata-bata.
Anthony melayang dengan cepat agar bisa segera menoling kekasihnya itu.
"Aku tak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu!" Geram Anthony menerjang masuk ke dalam ruangan hemodialisa.
"Siapa kamu? Beraninya kamu menyakiti kekasihku!" Teriak Anthony sangat marah melihat napas Sena yang tersengal-sengal karena cekikan tadi.
Sementara Anthony dan sosok yang tak kelihatan itu bertempur, Kanti dan yang lainnya menolong Sena membawanya ke sofa untuk duduk sementara Lean dan Leon sibuk membawakan air minum dan satunya sibuk mengobati luka memar di leher Sena.
Jika ada orang awam yang melihat semua peralatan melayang sendiri mungkin sudah berteriak ketakutan.
"Apakah lehermu sakit??" tanya Kanti.
"Sakit Kanti, leherku terasa dicekik oleh benda tajam..." Kata Sena.
Sementara Anthony masih sibuk bertarung dengan sosok yang tidak kelihatan itu.
"Aku harus mencari akal agar dia dapat terlihat tapu bagaimana caranya!" Kata Sena lagi.
Akhirnya Lean dan Leon mendapat ide cemerlang untuk memercikan air di sekitar tubuh Anthony agar sosok itu bisa terlihat nyata.
Kita tinggalkan dulu Anthony yang masih sibuk berkelahi dengan sosok misterius yang tak kelihatan itu.
Kita kembali pada Rama yang sedang bahagia karena ketiga anaknya mau menerima semua pemberian darinya. Setidaknya hatinya bisa sedikit terhibur, entah namti digunakan atau tidak yang penting siludah diterima dulu oleh Sena dan anak-anaknya.
"Sepertinya lagi ada yang happy nih??" Kata kak Rani saat datang kerumah Rama.
"Iya Rama lagi happy dia mau berusaha rujuk kembali dengan istrinya!" Kata ibu Ayu.
"Oh iya? Mau rujuk kembali dengan Aida si brengsek itu?" Tanya Rani tampak tidak setuju.
__ADS_1
"Sembarangan aja lho kak Rani ini, siapa juga yang akan rujuk dengan Aida?" Ketus Rama.
"Lha kalau bukan Aida masak kamu mau rujuk sama Sena? Secara istrimu kan cuma mereka saja!!" Kata Rani lagi.
"Mbak aku memang didatangi oleh Aida dan mengajakku untuk rujuk kembali tetapi justru aku curiga dia mendesak aku karena keadaannya sekarang ini tengah mengandung entah anak siapa." Kata Anthony.
"Dasar memang mantan istrimu itu adalah kelompok orang yang tidak tau malu." Geram kak Rani mendengar cerita dari Rama.
"Sudah dia yang lebih dahulu berkhianat kini dia lagi yang mau mengemis minta untuk rujuk kembali, dasar wanita tidak tau malu!!" kata kak Rani.
"Terus apa Sena sudah tau jika kamu ingin rujuk lembali dengannya??" Tanya Rani.
"Belum sih kak, aku belum ada keberanian untuk mengajaknya menikah kembali, karena aku tau anak-anak sangat membenci aku!!" Kata Rama.
"Ya sudah, kamu berjuanglah demi mendapatkan cintanya kembali, secara tak ada satupun di muka bumi yang tidak mempunyai salah!! Kata kak Rani.
************
"Ada apa Sifa, mengapa kamu terlihat sangat gelisah?" tanya pamam Said pada Sifa.
"Mamak mbah, sepertinya mamak dalam bahaya!!" Kata Sifa dan membuat paman Said juga menjadi gelisah.
"Coba kita lihat keadaan mamak kamu dengan cara seperti ini!!"
Lalu Sifa dan Paman Said duduk bersila saling berhadapan dengan menempekan tepi telapak tangan masing-masing mencoba untuk saling menyalurkan tenaga murni mereka!!" Selarik sinar teramat dingin dihantamkan keduanya kearah jalan dan sinar itu mencari sendiri di mana orang yang di maksud untuk ditolong.
Sena yang sedang merasakan sakit yang luar biasa pada lehernya, tiba-tiba mendapatkan dirinya di selimuti oleh sesuatu dan sinar dingin itu langsung membelit leher Sena untuk mengurangi rasa sakit di lehernya bahkan juga mengobatinya.
Berangsur-angsur rasa sakit itu menghilang dan berganti dengan rasa sejuk yang luar biasa pada lehernya.
"Terima kasih paman, terima kasih Sifa anakku sayang, berkat pertolongan kalian, leher mamak sudah tidak lagi seperti tadi terasa sangat sakit." Gumam Sena.
Sementara di tempat lain.
"Go*blok...dasar go*blok!! Menghadapi orang seperti itu aja tidak bisa!!" Geram Mayda yang telah mengirmkan teluh kepada Sena.
Mendengar suara itu Piere yang kebetulan keluar dan dia mendengar semua perkataan adiknya.
"Kurang ajar, jika calon permaisuri aku tergores sedikit saja dan menimbulkan luka maka aku tidak akan mengampuni orang tersebut walaupun dia adalah saudaraku sendiri yang melakukannya!!" Gumam Piere.
Piere menggeram kesal sekali pada Mayda. Mayda dinilainya sangat lancang mendahului kekuasaannya.
"Kamu tidak apa-apa??" Tanya Anthony pada Sena.
"Tadi leherku sangat sakit tetapi sekarang setelah dikirimkan tenaga tambahan oleh paman Said dan Sifa sekarang aku sudah merasa sehat kembali.
*
*
***Bersambung....
Lanjut ke episode berikutnya ya reader🙏🙏
__ADS_1