Mencintaimu Sekali Lagi

Mencintaimu Sekali Lagi
ke ruang rawat


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan keluarga dira, niken masuk kembali keruang dokter yang ada di ruang OK.


Ada tempat tidur kecil disana untuk niken bisa mengistirahatkan badanya setelah dua kali melakukan operasi sito.


Dia memejamkan matanya. Saat sudah mau tertidur, niken mengingat rama, mengambil handphonenya lalu mengirimkan pesan singkat padanya.


“dira sudah melahirkan tadi malam”  tulis niken singkat lalu mengirimkan pesan itu pada rama.


***


Di ruang observasi, dira masih tertidur karena efek obat bius yang menidurkannya saat proses penjahitan luka bekas pembedahan.


Dalam tidurnya, dira memimpikan sedang menggendong anaknya yang sempat ia lihat saat baru dikeluarkan dari rahimnya.


Dira memang sudah melihat wajah anaknya, menyentuhnya sebentar dan mendengar tangisan anaknya dengan jelas sebelum dia tertidur.


Dira duduk bersama lelaki yang tidak lain adalah rama dengan bayi di gendonganya. Dira dan rama tersenyum bahagia melihat bayi yang baru saja dilahirkannya.


“Anak kita cantik ya sayang, lihat mata dan hidungnya, mirip sekali denganku” ucap rama


Rama membelainya dengan penuh cinta lalu mencium pipinya. Dira memejamkan mata saat rama menciumnya.


Dira merasakan belaian dan ciuman  pada pipinya terasa begitu nyata. Dira membuka matanya perlahan. Silau lampu membuat dia menyipitkan matanya. Sebuah tangan besar melindungi mata dira dari sorotan lampu. Dira tidak tahu tangan siapa yang melakukan itu.


Saat dira sudah bisa membuka matanya dengan sempurna dilihatnya wajah dimas yang sedang duduk di sampingnya.


Dira mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan pria disampingnya. Dia sedikit bingung saat melihat pria  disampingnya adalah pria yang berbeda dari yang ada di mimpinya.


“syukurlah sudah siuman sayang” ucap dimas saat melihat dira membuka mata. Ada kelegaan terpancar di wajahnya.


Dira tersenyum melihat dimas.


“kak, aku haus.“ ucap dira.


“aku panggil perawat dulu ya, biar dilihat dulu kamunya” dimas pergi menuju ruang perawat yang ada di ruang OK, tidak jauh dari ruang observasi berada.


“mas, istri saya udah bangun.” Kata dimas kepada perawat laki-laki yang terlihat sedang mengisi data di depan computer.


“oiya pak kita kesana sebentar lagi ya, saya panggilkan dokter niken dulu”


“iya mas, oiya istri saya minta minum mas. Apa boleh?”


“jangan dulu mas, jangan dikasi apa-apa dulu ya”

__ADS_1


“baik” jawab dimas singkat lalu meninggalkan perawat terebut.


Perawat itu menguhubungi dokter niken via telpon.


Suara telpon ruangan berbunyi. Niken membuka matanya sambil mengumpat.


“aisss sial! Aku baru aja tidur udah dibangunin lagi.” Niken mengangkat telpon yang tidak jauh dari tempat tidur.


“dokter, pasien dira udah sadar.” Kata perawat di seberang.


“bentar ya ditto, aku cuci muka dulu. Lima menit lagi kesana.” Ucap niken pada perawat yang bernama ditto.


Niken bangun lalu mencuci wajahnya, menyikat gigi dan merapikan penampilannya sekedarnya. Jaga malam memang selalu memberikan kesan tersendiri baginya.


Diruang observasi dimas menemani dira dengan sabar.


“sayang kata perawatnya belum boleh minum, ditahan sebentar ya, nantikalau dokternya dating kita Tanya kapan kamu boleh minumnya.”


Dira menganggukkan kepalanya.


Lima menit kemudian, niken sudah berada di ruang observasi lalu memerikas keadaan dira.


“mbak dira udah boleh pindah keruangan ya, belum boleh minum dulu kalau belum buang angin. Kalau kering boleh dibasahin sedikit daerah bibirnya.”jelas niken.


Tidak lama dira dipindahkan keruang perawatan.


Dira dibawa ke ruang perawatan menggunakan tempat tidurnya, suasana seperti ini sungguh tidak asing baginya. Samar – samar dira mengingat sesuatu saat dia kecelakaan. Mengingat bagaimana dia jatuh dari motor, dibawa ke ambulan sampai dia bangun setelahnya.


“akh!!” Dira memegangi dadanya yang terasa nyeri, air mata mengalir di matanya cukup deras. Dira mulai mengingat bagaiman dia jatuh dari sepeda motor  waktu itu.


Memori yang selama ini menghilang kembali hadir dengan lebih jelas.


Dira mengingat kekasih yang sangat ia cintai selama lebih dari satu tahun kemarin sebelum dira menikah., mengingat perpisahannya dengan rama saat kekasihnya akan pindah ke makasar, dira mengingat malam dimana iya dan rama menghabiskan malam bersama. Dira mengingat semuanya.


Dira jua Mengingat bagaimana ia bisa menikah dengan dimas. Mengingat bagaimana besar cinta yang dimas tunjukan padanya..


Dimas yang ada di samping dira keheranan melihat istrinya menangis.


“sayang kenapa?” Tanya dimas khawatir.


Dira tidak menjawab pertanyaan dimas. Dia terus menangis sampai tiba di ruang perawatan yang akan dia tempati beberapa hari kedepan sampai kondisinya pulih.


Ditto yang mendampingi dira dan dimas meletakkan beberapa tabung infuse dan obat kedalam laci khusus di ruang itu. Lalu membenarkan tetesan infuse dengan benar.

__ADS_1


“pak saya mau keruang perawat dulu, nanti saya kesini dengan perawat ruangan yang akan mendampingi proses pemulihan bu dira,” kata perawat ditto sambil berpamitan meninggalkan dira dan dimas.


Dimas menarik kursi yang tidak jauh darinya lalu duduk disamping dira.


“sayang ada apa? Apa yang sedang kamu fikirkan?”


“anakku gimana kak?”


“ anak kita diruang perinatologi sayang, dia harus dirawat di incubator.”


Dira menatap dalam dimas di sela-sela tangisnya. “anak kita? Apakah dia benar-benar menerima anakku sebagai anaknya? Ya tuhan.. apa yang harus aku lakukan” batin dira.


“jangan khawatir sayang, anak kita baik-baik saja, dia menangis cukup kencang tadi, kata dokter anak kita sehat. Tapi karena lahir premature harus dijaga di incubator dulu”


Bu nisa dan pak jaya mendekati dira. Pak jaya membelai pipi anaknya. “selamat ya sayang udah jadi ibu sekarang” mata jaya berkaca- kaca melihat anaknya yang terbaring lemah. Ada perasaan haru di hatinya melihat anak yang selalu dimanjanya sudah menjadi seorang ibu.


“bu,yah, maafin dira ya” ucap dari sambil terus mengalirkan air mata.


“iya sayang, jadi ibu yang kuat ya” ucap bu nisa.


Dira menganggukkan kepalanya.


“jangan menangis lagi, jadi ibu gak boleh cengeng” kata bu nisa lagi.


Dira tersenyum malu menanggapi ucapan ibunya.


 Krisna dan sofia berdiri tidak jauh dari dimas, entah perasaan seperti apa yang sedang mereka rasakan. Senang karena dira baik – baik saja, tapi juga sedih karena dimas harus merawat anak yang bukan darah dagingnya.


Krisna menepuk punggung anaknya memberi dukungan pada dimas.


“ sayang, mama dan papa pulang dulu ya” ucap mama sofia pada dira dan dimas.


“iya mah, makasi ya udah nemenin dira” ucap dira dengan wajah canggung.


Dimas mengantar orang tuanya sampai kedepan pintu.


Beberapa saat setelah kepulangan orang tua dimas, dira merasakan perutnya begitu sakit dan panas, efek dari obat bius sudah mulai berkurang.


“bu perut dira sakit bu” keluh dira pada ibunya.


Dimas segera menghampiri dira.


“sakit perutnya?” kata dimas panic.

__ADS_1


“iya kak, sakit sekali.”


Dimas menekan tombol yang tidak jauh dari bad tempat dira berbaring. Tidak lama seorang suster masuk keruang perawatan VIP tempat dira dirawat.


__ADS_2