
Beberapa hari setelah kepindahan keluarga dira ke kota Bandar. krisna berkunjung kerumah ayah dira
Krisna adalah sahabat ayah dira sekaligus tetangganya saat masih tinggal dijakarta.
krisna adalah warga asli kota bandar. dia merantau ke jakarta saat masih kuliah. dari sanalah krisna bertemu dengan ayah dira.
“Ternyata tinggal disini nyaman banget, pantes kamu gak mau balik lagi ke jakarta” wijaya sedang berbincang-bincang dengan krisna di teras rumahnya.
“kalau bukan karena keteledoranku, aku lebih suka jadi tetanggamu dari pada tinggal disini” terlihat penyesalan dimata krisna mengingat kenyataan pahit yang harus keluarganya lalui.
kadang manusia memang harus merasakan jatuh dulu, baru bisa tau kalau dirinya sudah salah langkah.” ujar wijaya mengakhiri pembicaraannya.
Lima tahun lalu saat dimas berumur dua puluh dua tahun, usaha yang dijalani krisna mengalami kebangkrutan. Semua toko mebelnya habis terjual untuk menutupi hutang, semua karyawanya terpaksa harus di PHK.
krisna tertipu bisnis pembangunan sebuah perumahan dijakarta. Dia berinvestasi dengan meminjam uang di bank. Bukannya mendapat keuntungan, uang yang diinvestasikannya justru dibawa kabur oleh rekan bisnisnya. sampai saat ini orang itu belum tertangkap namun krisna sudah mengikhlaskan semuanya.
Saat itu semua tabungan dan aset berharga sudah habis untuk menutupi hutang, bahkan rumahnya harus dijual untuk melunasi sisanya.
Krisna ingin pulang ke kampung halamannya di kota Bandar dan memulai kehidupan serta usaha baru disana. dikota bandar pengeluaran tidak sebesar dijakarta. sehingga dia memilih kembali ke kota itu untuk berhemat dengan uang yang tersisa dan membuka usaha mebel kembali dari awal.
memulai usaha baru pastilah membutuhkan dana yang cukup. krisna meminjam uang kepada wijaya karena sisa penjualan rumahnya hanya tinggal belasan juta saja.
Tanpa berat hati wijaya meminjamkan uang yang cukup besar untuk membantu sahabatnya itu.
Dimas ikut meringankan beban keluarganya dengan tetap melanjutka kuliah sambil bekerja paruh waktu.
sampai akhirnya keuangan mereka membaik dan krisna bisa membayar hutangnya sedikit demi sedikit.
keluarga dimas bukanlah keluarga kaya raya, tapi cukup berada dilingkungan tempat mereka tinggal.
dimas adalah anak pertama dari krisna adiknya melly berusia lima belas tahun selisih dua belas tahun denganya.
__ADS_1
wijaya memandang kendaraan yang lalu lalang dihadapannya dengan tatapan berbeda seperti sedang memikirkan banyak hal
melihat sahabatnya, krisna dibuat heran karena biasanya wijaya selalu tampak tenang. krisna menebak bahawa wijaya sedang menghadapi suatu masalah.
“ada masalah apa? Ceritakan padaku, aku akan berusaha membantumu sebisaku”
“ah..tidak, aku ceritapun sepertinya kamu tidak akan bisa membantu.”
“ayolah..setidaknya meringankan bebanmu. apa terjadi masalah dengan pekerjaan?”
“aku pindah kesini dengan semua keluargaku bukan karna bangkrut sepertimu."
jika tidak mengingat sahabatnya sedang ada masalah, krisna pasti sudah mengumpat kesal.
wijaya mulai bercerita kalau satu bulan yang lalu dira mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan, lebih mengejutkan lagi ternyata dira hamil dan laki-laki yang menghamilinya tidak ada yang tau.
"selama ini dira tidak pernah punya pacar atau ada laki-laki yang dikenalkan pada kami, kami hanya dengar satu orang nama saja yang sering disebutkan dira beberapa tahun lalu. tapi orang itu juga sudah lama tidak pernah terlihat. jadi kami tidak tau harus bagimana".
“bukankah lebih baik dira tidak dibawa kemari supaya laki-laki yang menghamili dira bisa kalian temukan." ujar krisna.
”awalnya aku tidak mengajak anak istriku ikut, tapi karena dira mengalami kecelakaan aku tidak akan tenang membiarkan mereka jauh dariku.
dan keberadaan laki-laki itupun kami tidak tahu."
"dengan kondisi dira saat itu ku pikir membawa dira kesini adalah keputusan terbaik." pak jaya melanjutkan ucapannya sambil tersenyum kecut.
keputusan terbaik yang diambilnya justru berbanding terbalik dengan kenyataan tentang masa depan dira yang harus mempunyai anak tanpa suami.
"lalu apa kamu akan membiarka dira hamil tanpa suami? kita tinggal di indonesia, tidak akan baik buat dira dan keluargamu, kamu harus cepat mencarikan dira pasangan".
wijaya tersenyum masam mendengar ucapan sahabatnya.
__ADS_1
"kalau saja mencarikan suami untuk anakku yang hamil itu mudah, aku pasti sudah melakukannya. terlebih lagi dira tidak mau sembarangan menikah dengan kondisinya sekarang. aku juga khawatir kalau akan ada yang memanfaatkan keadaan dira untuk kepentingan tertentu."
"lalu apa yang akan kalian lakukan?"krisna tidak bisa berkata-kata mendengar penjelasan wijaya.
"entahlah, anak itu kekeh mau merawat kehamilannya sendiri"
"tidak akan mudah merawat anak seorang diri, apalagi dira tidak mandiri secara finansial"
"aku tidak akan membiarkan anak dan cucuku kesusahan, tapi seorang perempuan tetap saja butuh pendamping. aku berharap ada laki-laki yang bisa menjaga anakku seprti aku melindungi mereka. melihat dira seperti ini aku merasa gagal sebagai ayah."
Tiba-tiba krisna memikirkan dimas yang sudah lama mencintai dira. krisna sering melihat dimas memperhatikan dira sejak dira masih Sekolah dasar sampai berusia delapan belas tahun sebelum akhirnya mereka pindah ke Bandar. krisna juga merasa dulu dimas sangat perduli dengan dira
Tanpa sepengetahuan dimas, krisna pernah melihat banyak foto dira di galeri HP dimas dan juga dilemari kamarnya.
dimas tidak pernah dekat dengan perempuan lain. apalagi setelah kepindahan mereka di kota Bandar, dimas terlihat lebih menjaga jarak dengan lawan jenis.
beberapa dari mereka yang mencoba mendekati dimas selalu dimas tolak dengan berbagai alasan. dimas hanya fokus kuliah dan bekerja. itu membuat krisna khawatir, takut kalau dimas tidak akan menikah.
‘ah, apa aku harus membalas budi jaya dengan menikahkan dira dengan dimas?. tapi apa istriku setuju dengan keputusan seperti ini? ah.. aku benar-benar tidak bisa membantu wijaya’ kata krisna dalam hati.
"aku selalu berfikir, tidak ada masalah yang tidak memilik jalan keluar, tapi sepertinya jalan keluar dari masalah keluargaku kali ini cukup sulit dicari. jika mengikuti kemauan dira menjadi ibu tunggal, sebagai ayah aku sungguh tidak bisa menerimanya"
"lebih dekatkan dirimu pada tuhan jay, itu bisa membuatmu lebih tenang dan bisa berfikir jernih".
.
.
.
.
__ADS_1