
"Kakek melarang kami untuk bicara dulu karena keluarga kita sedang diawasi setiap gerak gerik dan perkataan kita selalu dipantau!!" Kata Sifa.
"Dipantau dan diawasi oleh siapa?" Tanya Sena.
"Oleh siapa lagi kalau bukan oleh si bibi alias si nenek palsu!!" Jawab Dini pelan nyaris tak terdengar.
"Sekarang pertanyaannya, di mana bibi yang asli? Masih hidup atau sudah meninggal?" Tanya Sena pelan.
"Itulah mengapa kakek nggak mau bertindak dulu untuk mencari tau di mana keberadaan nenek yang asli berada!" Ucap Dini.
Ssttt...
Sifa memberi kode kepada Sena dan Dini untuk berhenti bicara karena dia merasa nenek palsunya sedang mengawasi mereka.
"Kamu sih Sifa, makanya kalau jalan itu jangan sambil main ponsel, gini kan jadinya? Melepuh tuh tangan nenek! Pasti sakit tuh!" Ucap Sena dengan suara yang sengaja dia keraskan.
"Iya mak maaf, namanya juga nggak sengaja!" Jawab Sifa.
"Dasar anak-anak brengsek! Tanganku melepuh bukan karena kena air panasnya tetapi terkena racun yang ada di dalam teh itu!" Maki Aminah pelan lalu berlalu menuju kamarnya.
"Dia sudah pergi, makanya sekarang kita harus hati-hati!" Jawab Dini pelan.
Mereka bertiga kembali keluar. Paman Said dan Rama masih asyik berbincang-bincang.
"Juan mana paman?" Tanya Sena saat dia tidak melihat keberadaan anak keduanya itu.
__ADS_1
"Dia di kamar sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya!" Rama yang menjawab.
Tiba-tiba...
Aarrrgghhhh....
Terdengar suara teriakan dari kamar Juan.
Serentak mereka berlima berlari menuju kamar Juan.
"Kenapa kamu berteriak kencang sekali?" Tanya Sena sambil memeluk Juan yang berdiri ketakutan di pojok kamar.
"Ada hantu mak? Dia berdiri di luar jendela menatap Juan dengan tajam!" Kata Juan ketakutan.
"Terus kenapa nggak kamu tatap balik lagi?" Tanya Dini pada adiknya itu.
"Nggak mau ah! Enak aja kakak kalau bicara! Lagian memang Juan buta nggak bisa membedakan mana tiang jemuran dan mana hantu?" Ucap Juan sewot.
Paman Said memeriksa keluar jendela. Orang tua itu tampak mengendus sesuatu.
"Juan benar, ada sesuatu tadi berdiri di luar!" Kata paman Said.
Paman Said lalu menutup kembali jendela kamar Juan. Dia memandang Sena, Dini dan Sifa bergantian. Lalu matanya beralih menatap Rama.
"Sebaiknya kamu jangan pulang malam ini, di jalan terlalu berbahaya!" Ucap paman Said pada Rama yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Baik paman!" Ucap Rama singkat.
"Dan kamu Juan, tutup korden jendelamu kembali!" Kata paman Said lagi.
Sementara di kamar Aminah...
"Dasar hantu bodoh...disuruh menakuti anak kecil saja nggak becus!" Oceh Aminah pelan.
Sementara itu jauh di rumah sakit sana tepatnya di ruangan hemodialisa tampak Anthony sedang uring-uringan.
"Kamu kenapa sih bos? Bawaannya sensitif melulu, lagi PMS kah? Seperti perempuan aja, memang masih subur? Sudah menoupose lho? Orang sudah ratusan tahun umurnya si bos?" Goda kuntil anak Kanti.
"Diam kamu Kanti! Bikin tambah pusing aja!" Bentak Anthony.
"Bos yang lagi pusing, yang dibentak jangan pacar saya dong bos?" Kata si muka rata membela kekasihnya.
"Habis kalian ini bukannya cari solusi malah nambah masalah, bikin pusing aja!" Gerutu Anthony bertambah kesal.
"Bos cari siapa? Si Lusi? Lusi yang mana ya? Perasaan hantu di sini nggak ada yang namanya si Lusi lho bos!" Kata Kanti sambil berpikir mencoba mengingat-ingat.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Jarang update ya reader, mohon dimaafkan🙏🙏