
"Sialan...kau yang seperti dedemit yang tak kelihatan wajahmu sama sekali!" Balas Sena dengan kesal.
"Hahahaha...dasar kau saja yang sudah tua dan mulai pikun!" Ejek sosok itu yang semakin membuat Sena semakin kesal dibuatnya.
"Ayo...mengakulah jika kamu memang sudah tua!" Ejek sosok tersebut.
"Dasar kampret!" Geram Sena.
Sosok itu maju mendekati Sena, saat tepat di depan wanita itu dia melepaskan penutup kepalanya.
"Kamu?" Seru Sena hampir tak percaya pada penglihatannya.
"Si orang hilang sudah kembali!" Kata Sena balas mengejek.
"Angin apa yang membuatmu kembali kemari?" Tanya Sena.
"Angin rindu padamu!" Jawabnya singkat.
"Kudengar kamu sudah menikah di kerajaan kakekmu sana!" Ucap Sena.
"Siapa yang bilang? Pasti hantu Belanda rese itu kan?" Ucapnya.
__ADS_1
"Sen, jika aku menikah pasti aku sudah mengundangmu sekeluarga, lagian tak ada wanita sebaik dan secantikmu, oke?" Katanya.
"Piere...Piere...botenya kamu ini?" Kata Sena menjawab pertanyaan orang itu yang ternyata adalah Piere.
"Kok bote sih? Apa itu bote? Bahasa manusia aneh-aneh aja!" Jawab Piere.
"Oh iya kamu ngapain blusukan dijalan gelap begini? Mau cari mangsakah?" Tanya Piere seraya tersenyum menatap wanita yang sangat dia rindukan itu.
***Flashback on***
"Putraku? Piere?" Sapa seorang wanita yang sangat cantik yang datang bersama seorang lelaki tua tetapi masih sangat tersisa ketampanannya di masa muda dahulu.
Wajah mereka sangat mirip. Yah...dia adalah Yona, ibunda Piere dan orang tua berwajah gagah itu adalah Pandere kakek Piere ayah dari Yona.
"Tampaknya cucu tampanku ini hanya tubuhnya saja yang berada di sini tetapi hati dan pikirannya berada jauh melanglang buana di luar sana." Kata Pandere seraya tersenyum.
"Ah kakek bisa saja!" Ucap Piere seraya mengalihkan pandangannya pada ibu dan kakeknya.
"Nah itu buktinya, ibundamu memanggil-manggilmu sejak tadi tapi kamu tak merespon sama sekali, menolehpun juga tidak." Jawab Pandere.
"Wanita siluman mana yang telah berhasil merebut hatimu, anakku?" Tanya Yona.
__ADS_1
"Dia bukan mahluk seperti kita, bunda...tapi dia seorang manusia biasa!" Jawab Piere tertunduk.
"Apa? Kamu jatuh cinta pada seorang manusia? Apa kamu lupa pada kisah kakek dan nenek dulu, Piere?" Tanya Pandere.
Piere menggelengkan kepalanya pelan.
"Kek, apakah mahluk seperti kita terlarang untuk jatuh cinta? Mengapa? Kita juga punya perasaan sama seperti bangsa manusia, kek?" Lirih Piere.
"Jatuh cinta itu tidak salah Piere, tetapi bukan kepada bangsa manusia, cintailah wanita dari alam.kita sendiri...tak kurang wanita cantik di kerajaan kita ini!" Kata Yona.
"Jika tetap dipaksakan, maka akan seperti kakek dan nenek dulu!" Ucap Pandere seraya menghembuskan napas kasarnya dan membuang pandangan matanya kearah lain.
Terbayang kembali diingatannya bagaimana saat istrinya Yova menghembuskan napas terakhir dalam pelukannya puluhan tahun yang lalu.
"Kita mahluk abadi, Piere...sedangkan manusia tidak! Mereka bisa mengalami penuaan lalu mati, sudah siapkah kamu saat ditinggalkan oleh wanita yang kamu cintai pergi untuk selamanya seperti dulu saat nenek meninggalkan kakek untuk selamanya?" Tanya Pandere sedih.
Piere terdiam mendengar cerita kakeknya. Dia memang belum pernah melihat sosok sang nenek ibu dari Yona ibundanya, wanita tua yang mendampingi kakeknya selama ini hanyalah nenek sambungnya saja.
*
*
__ADS_1
***Bersambung...
Ikuti selalu kisah mereka selanjutnya ya reader, dan mohon selalu dukungannya.