
"ayo masuk nak, kebetulan diraada disini"
rama melebarkan gerbang lalu memasukkan mobilnya.
bu nisa mempersilahkan rama duduk diruang tamu lalu menyuruh dira menemuinya.
"temui dia nak, tapi ingat bahwa kamu sekarang sudah bersuami"
"iya ma" dira lalu menemui rama diruang tamu.
dira duduk agak jauh dari rama. mereka sama-sama diam mengamati satu sama lain.
rama memberanikan diri mendekati dira.
"maaf jangan terlalu dekat, aku sudah menikah" dira mencoba menjaga jarak dari rama.
"ijinkan aku duduk disampingmu sebentar saja dira, ku mohon" ucap rama mengiba.
"aku tidak tau kamu mengalami kecelakaan itu, tapi kenapa secepat itu kamu menikah dengan laki-laki lain. kita sudah berjanji bulan ini aku akan melamarmu dan kita akan menikah setelah tugasku selesai. aku tidak bisa kehilanganmu seperti ini dira" rama berbicara dengan mata berkaca-kaca.
dira terdiam mencerna apa yang dibicarakan rama.
"katakan apa alasanmu menikahi laki-laki itu dira? kita sudah lama berpacaran. keputusanmu tidak masuk akal buatku."
dira menangis, dia merasa mungkin anak yang dikandungnya adalah anak lelaki yang didepannya ini.
__ADS_1
ibu dira masuk membawakan teh hangat untuk rama dan dira, lalu duduk disampibg dira.
rama menggeser tubuhnya sedikit menjauhi dira.
"bu, maaf jika kedatangan saya kemari menganggu ibu dan dira, tapi hati saya menolak bahwa saya harus kehilangan dira seperti ini".
"saya menjalin hubungan dengan dira sudah satu tahun lebih bu, saya pergi juga karena ada tugas diluar kota, bukan kemauan saya." lalu rama menjelaskan ke orang tua dira tentang rencana yang dira dan rama buat untuk melamar dira dan kemudian menikah.
mendengar cerita rama dan dira, ibu dira dan rama saling meneteskan air mata.
walaupun belum bisa mengingatnya, tapi dira merasakan hubungan yang dalam antara dia dan rama. sedangkan bu nisa merasakan kesedihan antara situasi rama, dira dan dimas.
mereka terhanyut dengan perasaan mereka masing-masing.
hingga satu jam kemudian. mobil dimas masuk ke pelataran rumah pak jaya.
Dimas mengumpat setelah menutup sambungan telfon dari bu nisa. "dasar brengs**!!! aku menitipkan dira supaya tidak bertemu orang itu, malah hari ini dia kerumah dira! " dimas terus mengumpat karena begitu kesal.
dimas menarik nafas dalam-dalam dan menghrmbuskannya kasar, dilakukanya berulang-ulang berusaha meredakan emosinya.
lalu dia keluar menemui Hans rekan kerja dimas bagian HRD untuk pulang awal. setelah itu dimas bergegas pulang melajukan mobilnya dengan cepat.
sesampainya dirumah orang tua dira, dimas turun dengan wajah marah yang tidak bisa lagi dia sembunyikan.
dimas masuk dan melihat dira dan bu nisa sedang terisak.
__ADS_1
"pergilah ram! biarkan kami membicarakan ini dulu."
"tidak bisa begini dimas! , kita berada disituasi yang sama, kamu pasti tau seperti apa perasaanku."
"ya aku tau!! tapi pergilah dulu, kami akan membicarakannya dengan keluarga kami. dan kamu bukan bagian dari keluarga ini."
rama terdiam sejenak.
"baiklah.. tapi ijinkan aku menemui dira sekali lagi. lusa, aku sudah harus kembali ke makasar"
dimas mengepalkan tangannya. " ya, sekarang pergilah!!
rama berdiri berpamitan dengan dira dan ibunya.
"aku tidak akan membiarkan dira bersamamu." rama berbisik perlahan saat melewati dimas.
setelah kepergian rama. dimas duduk disamping dira lalu memeluk istrinya. "sudah tidak apa-apa, aku akan selalu bersamamu"
dira kembali menangis dipelukan dimas. berada disamping suaminya membuat dira merasa tenang, tapi fikiranya tetap tidak bisa melupakan perkataan rama. kenyataan bahwa rama adalah pacarnya dulu dan kemungkinan besar anak yang dikandungnya adalah buah cintanya membuat dira dilema..
.
.
.
__ADS_1
.
.