
Malam hari rama kembali ke Jakarta. Sampai di flat rama masuk kedalam kamarnya. menanggalkan pakaian yang ia kenakan menuju kamar mandi. Rama masuk kedalam bathub mengalirkan air hangat dan memberikan bath foam beraroma therapy. Dia berendam cukup lama sampai badannya merasa lebih segar.
Rama mengakhiri mandinya selama hamper tiga puluh menit.
Keluar dari kamar mandi, rama berganti baju dan keluar menuju ruang tengah apartemenya.
Beni sudah menyiapkan makan malam untuk rama. Sepiring nasi hangat dengan lauk daging dengan jamur kuping berwarna kehitaman, sup sayur dan segelas jus jeruk sudah tersedia untuk dinikmati olehnya.
Rama makan sendirian karena beni sudah pulang ke apartemennya yang terletak tiga lantai dibawah apartemen rama.
Setelah makan, rama membereskan piring dan menaruhnya ke tempat cuci piring di dapur lalu duduk kembali keruang tengah lalu menyalakan televisi.
Rama tidak melihat televisi yang dia nyalakan. Rama hanya merasa kesepian sehingga suara televisi membuatnya merasa lebih ramai di apartemennya yang besar itu.
Siang harinya ben masuk kedalam apartemen rama dengan membawa dokumen-dokumen yang berisi informasi tentang dira.
“aku selalu menyukai kinerjamu, aku kira akan butuh waktu tiga atau lima hari untuk mendapatkan semua yang aku minta” ucap rama dengan senyum merekah saat menerima dokumen dari ben.
“kami tidak mau mengecawan anda tuan muda.” Ucap alan singkat dengan wajah datar.
lama bekerja dengan keluarga prayoga, ben dan timnya mempunyai banyak relasi dan anak buah. sehingga untuk mencari informasi ben tidak akan kekurangan orang.
Rama membaca semua isi dokumen itu. Keningnya beberapa kali berkerut saat membacanya.Rama menghela nafas setelah selesai membaca.
Besok kita ke Bandar, aku mau menemui dira secepatnya.
*********
Dira pov.
Malam hari della kembali kerumah orang tua dira. Dia tidak enak hati jika harus menginap dirumah dira. Ketika sahabatnya sudah menikah, della cukup tahu diri untuk menjaga kenyamanan dira dan dimas.
Dimas dan dira sedang berada di ranjang. Dimas duduk dan menyandarkan badannya ke kepala ranjang dan dira merebahkan badannya ke dada dimas. Dimas membelai rambut dira. Baginya ini sangat menyenangkan dan menenangkan.
“kak, aku sepertinya mulai mengingat banyak hal, tapi masih sedikit-sedikit.”
“besok kita kontrol kalau gitu, supaya kita tahu perkembangan ingatanmu sayang” ucap dimas sambil tetep membelai rambut dira.
__ADS_1
“aku takut kalau aku udah inget semuanya. Aku akan melukai kakak dan mengecewakan banyak orang”
“apa yang kamu takutkan sayang? keadaanmu tidak bisa disalahkan oleh siapapun, saat kamu sudah ingat kejadian yang kamu alami dan ternyata tidak sejalan dengan keinginan kita, pasti aka nada cara terbaik untuk mengatasinya. Jangan terlalu memikirkan hari esok.”
Dira menatap dimas dengan senyum bahagia, laki-laki ini selalu membuatnya nyaman dan mengerti keadaanya.
Dimas tersenyum hangat membalas senyuman istrinya. Dimas mendekatkan wajahnya ke wajah dira, mencium bibirnya dengan lembut. Tangannya menjelajahi setiap inci tubuh istrinya.
Dimas melakukan dangan lembut karena dia tidak mau menyakiti dira dan kandungannya sampai peluh membanjiri tubuh keduanya.
Dimas jatuh disamping dira. Lalu memeluk tubuhnya dari belakang.
Mereka tidur berpelukan dibawa selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
Tengah malam, dira terbangun karena perutnya sakit dan mengeras.
“auh! Sstttttt, sakit sekali.”
Dimas mendengar suara dira dan terbangun. Dimas melihat jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul tiga pagi.
“ada apa sayang?”
Dimas memegang perut dira. Keras sekali seperti cangkang telur.
Dimas membelai lembut perut istrinya berharap akan membaik dengan sendirinya seperti beberapa bulan terakhir.
Benar saja, tidak lama kontraksi yang terjadi berangsur - angsur mereda.
Selang sepuluh menit, perut dira kembali mengeras dan dira merasakan sakit yang dia rasakan semakin bertambah.
“kak, ini lebih sakit” keluhnya.
“ayo kita ke rumah sakit aja” dimas berdiri memakai bajunya lalu mengambilkan pakaian untuk dira. dia juga membantu dira memakaikan pakaian istrinya.
Dimas Mengambil dompet konci mobil dan handphonenya lalu menuntun dira keluar menuju mobil dengan hati - hati.
Saat mereka sudah di dalam mobil dimas segera melajukan kendaraanya menuju rumah sakit Emanuel.
__ADS_1
Dira melakukan pernafasan dalam sepanjang perjalanan untuk mengurangi nyeri kontraksi.
Sampai di Rumah sakit, dimas menuntun dira keluar dari mobil.
Security yang melihat dimas memapah dira, segera membawakan kursi roda untuk mereka.
Dira duduk di kursi roda dan dimas segara membawa istrinya ke ruang UGD.
Dira di tidurkan ke tempat tidur di ruang gawat darurat itu lalu dokter yang bertugas menghampirinya dan memerikas kondisi dira.
“pak, kita pindahkan ibu ke ruang bersalin ya, ibu dira akan melahirkan. Nanti dokter kandungan akan segera kesini dan memeriksa bu dira lagi” kata dokter yang memeriksa dira.
Dimas menganggukkan kepalanya. Ketakutan dan kegelisahan terlihat jelas dimatanya.
Usia kehamilan dira baru 32 minggu, dia sangat khawatir karena itu.
Di ruang bersalin dokter kandungan yang tidak lain adalah dokter niken datang tidak lama karena beberapa saat lalu dia baru saja menyelesaikan operasi Caesar.
Dokter niken memeriksa kehamilan dira dan menyarankan untuk segera dilakukan section Caesar karena plasenta dira yang sebagian menutupi jalan lahir sang janin.
Akan beresiko jika dipaksakan untuk lahiran normal.
Dimas menghubungi keluarganya dan keluarga dira, member tahukan bahwa istrinya akan segera melahirkan dan sudah masuk ke ruang operasi.
Tiga puluh menit kemudian, nisa dan suaminya sampai di rumah sakit Emanuel.
“gimana dira dim?” suara nisa terdengar panik
“Dira sudah mulai di operasi bu, sudah sepuluh menit yang lalu”
“kenapa bisa begini? Tadi siang dira masih baik – baik aja”
Dimas diam dengan tatapan kosong, tidak kuasa menjawab pertanyaan mertuanya. Dia merasa bersalah karena keadaan dira disebabkan oleh dimas. Dia lupa mengeluarkan auranya di dalam rahim dira yang bisa menyebabkan kontraksi pada kehamilannya.
Dokter niken keluar ruang operasi menandakan operasi dira telah selesai.
“gimana istri saya dokter?” Tanya dimas terburu – buru setelah melihat dokter niken keluar dari ruang operasi.
__ADS_1
“Selamat ya pak dimas, sekarang udah jadi ayah. Operasinya berhasil mbak dira masih kita observasi dulu di dalem, anak pak dimas perempuan sedang ditangani sama dokter anak di dalam.” Terang dokter niken.
“syukurlah” dimas terlihat lega mendengar operasi istrinya berhasil. Tapi kekhawatiran masih terlihat diwajahnya karena belum bisa melihat dira.