
Cukup lama krisna dan wijaya berbincang-bincang diluar, tidak terasa hari sudah mulai gelap. krisna pamit pulang saat melihat matahari sudah mulai tenggelam.
Wijaya masuk kedalam rumah dengan wajah datar. menandakan masalah yang sedang ia hadapi belum bisa ia selesaikan.
Malam itu rosi dan dira sedang duduk bersama menonton acara televisi. Ayah wijaya dan bu nisa tidak keluar dari kamarnya.
“mbak,kamu inget kak dimas gak?” rosi bertanya sambil memakan kripik pisang coklat khas kota Bandar.
“enggak” dira asal menjawab lalu mengambil kripik yang dipegang rosi.
“wahhh enak ci, apa ini?”
“kripik khas sini, kan om kris sering ngiriman kita waktu masih dijakarta”.
“mana mbak inget. Eh dimas siapa tadi?”
“kak dimas itu anakny om kriss, rumahnya samping rumah kita dulu dijakarta, masak sama cinta monyetnya sendiri juga gak inget! Payah”.
“mana ada mbakmu cantik begini cinta sama monyet” dira berkata sambil tersenyum lebar
“dasar dodol!” rosi mengumpat sambil melemparkan kripik pisang ditanganya.
__ADS_1
“jangan dibuang-buang ci, enak tau.” Dira mengambil kripik yang dilemparkan rosi kepadanya lalu memasukkannya kedalam mulut.
“noh dilemari banyak” rosi menunjuk lemari tv yang banyak terisi kripik pisang aneka rasa.
”wah surga ini!!! Dira segera mengambil kripik pisang rasa keju.
“kamu makan keju mbak? Bukanya benci banget sama keju ya? Apa lupa juga?”
“entahlah, bawaan bayi kali.” Dira melahap kripik pisang ditanganya dengan semangat.
“aneh orang bunting mah ya, yang benci jadi suka yang suka malah lupa”
“mba kan lupa bukan karena bunting rosita” ucap dira dengan nada lebih keras sambil melemparkan kripik pisang miliknya seperti yang rosi tadi lakukan.
“nih aku kasih liat fotonya aja ya” rosi mengeluarkan HPnya dan membuka galeri mencari foto dimas yang tersimpan di sana.
Dira melihat satu persatu foto itu, dari dimas yang sendirian, foto selfi, foto dengan dira, dengan rosi, keluarganya dan lain-lain. dira ingat dimas kecil yang selalu baik kepadanya, tapi dimas versi dewasa ini dira tidak mengingat apapun. Dira mencoba mengingatnya dengan sungguh-sungguh tapi gambaran itu hanya seperti klise terbayang samar di fikiranya.
“aduh” dira memegangi kepalanya kemudian pingsan.
rosi panik melihat kakaknya.
__ADS_1
"AYAH.. IBU.. mba dira pingsan. " teriak rosi
wijaya dan nisa segera keluar kamar saat mendengar teriakan anak bungsunya. nisa mengambil minyak kayu putih lalu mengoleskan ke pelipiss dan mendekatkan kehidung dira.
beberapa waktu kemudian dira akhirnya siuman.
Kejadian seperti ini sering terjadi setelah dira mengalami kecelakaan itu. dira akan selalu pingsan apabila mencoba mengingat sesuatu, sehingga keluarga dira jarang sekali mencoba untuk membantu dira mengingat hal-hal yang membebani fikirannya.
Dira masih rutin menjalani pemeriksaan dengan Beberap dokter ahli. dokter mengatakan, jika ingatan dira bisa pulih kembali seiring waktu akibat cidera kepala saat kecelakaan itu. sehingga keluarga dira hanya membantu dira mengingat hal-hal kecil saja seperti nama-nama kota, dan lain-lain.
dira bisa menginggat kenangn saat dira kecil tapi tidak bisa mengingat hal yang terjadi saat dira menginjak dewasa sampai kecelakaan itu terjadi.
Tidak lama, dira akhirnya membuka mata. ayah, ibu dan rosi sedang duduk disampingnya. dira merasakan kekhawatiran dari ekapresi wajah Mereka.
"kenapa mukanya pada gitu si? aku baik - baik aja"
"mbak dira ini, nginget-nginget cowok aja sampe pingsan begitu. besok aku bawa juga orangnya kemari" ucap rosi khawatir bercampur kesal
"aku inget dimas saat masih kecil rosita, tapi aku gak ibget versi gedenya, makanya aku paksa, eh taunya berasa muter-muter kepalaku." dira berkata sambil tersenyum.
"jangan keseringan pingsan dong nak, kalau bayimu kenapa-napa gimana? " nisa mengingatkan.
__ADS_1
"iya bu, aku dan bayiku akan baik-baik aja."