
"Setiap hari bawaannya lelah melulu seperti orang yang bekerja sangat keras setiap hari, sehingga tenaganya seperti terkuras habis." Gumam Stella bermonolog pada dirinya sendiri.
"Apa Bian sudah kembali ke asrama putra ya? Kalau ada Bian, kami bisa saling tukar pikiran dan pendapat!" Kata Stella.
Di dalam kamarnya Naomi berbaring di ranjangnya. Di asrama dia mengkhususkan diri meminta kamar sendiri supaya tidak bergabung dengan mahasiswi yang lain termasuk sepupunya yang cerewet dan banyak tanya itu.
"Untung aku meminta kamar sendiri jadi sewaktu-waktu aku mau keluar diam-diam dari kamar maka tak ada yang mencurigaiku!!" Gumam Naomi.
"Apalagi saat yang mulia membutuhkan kehangatan dariku atau sebaliknya aku tinggal mengunci kamar saja tanpa seorang pun tau bahwa di dalam kamar aku dan yang mulia sedang bergumul hebat di atas ranjang!!" Naomi memejamkan matanya merasakan kembali darahnya bergejolak setiap mengingat hubungan terlarangnya dengan sang ketua.
Berbeda dengan saat bersama Piere dulu, Piere tidak mau bersikap kurang ajar padanya.
"Aku hanya tinggal melayani ketua Baron dengan baik setelah itu aku bisa mendapatkan semua yang aku inginkan, mengapa tidak dari dulu aja ya??" Kekeh Naomi sambil membayangkan kembali pertemuannya dengan sang ketua dua minggu yang lalu.
***Flashback on***
Naomi sedang duduk sendirian di taman kota menikmati senja yang temaram tanpa ditemani Stella sepupunya yang cerewet.
Tiba-tiba datang seorang lelaki berkulit hitam manis bertubuh tinggi berambut ombak menghampirinya.
"Sendiri aja cantik?" Sapanya.
"Entah mengapa saat pertama kali melihatnya, Naomi begitu terpesona pada pria tinggi besar berhidung mancung itu.
Apalagi saat itu Naomi melihat sesuatu yang besar dan menonjol di balik celana olahraga berbahan kaos yang dipakai oleh si manis itu.
"Boleh!!" Kata Naomi lalu menggeser duduknya.
"Sendirian saja??" tanya si tampan itu sambil duduk di sebelah Naomi.
"Iya lagi menikmati sore!!" Kata Naomi.
Kembali Naomi melirik pada milik orang di sebelahnya.
Si pria bukan tidak tau Naomi suka melirik pada kejantanannya, bukannya menutupi dia seperti sengaja memamerkannya pada Naomi.
Entah terkena sihir apa Naomi yang biasanya lugu dan penakut pada pria tiba-tiba menjadi sedikit agresif.
__ADS_1
"Perkenalkan nama saya, Baron!!" Ucap si tampan mengulurkan tangannya pada Naomi.
"Naomi!!" Balas Naomi.
Sekarang giliran Baron yang melirik aset berharga Naomi yang memang di atas rata-rata.
"Sedari tadi kamu melirik milik saya, apakah kamu menginginkannya?" Tanya Baron to the point.
Awalnya Naomi kaget dan wajahnya langsung memerah mendengar perkataan orang tersebut yang dinilai kurang ajar oleh Naomi.
Tetapi lagi-lagi Naomi tak berdaya saat menatap mata pria tersebut, dia seperti terhipnotis pada ketampanan Baron.
"Apa kamu masih perawan?" Tanya Baron tiba-tiba.
Wajah Naomi kembali memerah mendengarnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Naomi.
"Aku hanya sekedar bertanya saja, jika kamu masih perawan pasti rasanya sakit sekali saat kemasukan milik saya yang besar ini!!" Kata Baron tersenyum mesum.
"Aku ingin bercinta dengamu, kamu itu kekasih putraku Piere kan? Dari pada kamu bersama dengan Piere yamg tidak jelas itu mending kamu bersamaku saja, selain kepuasan dan kenikmatan bercinta juga harta dan awet muda pun bisa kamu dapatkan." Kata Baron sambil meniup perlahan kewajah Naomi dan membuat gadis cantik itu seperti kehilangan akal sehatnya.
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya Naomi mau saja diajak oleh pria tinggi besar tersebut.
Baron memegang tangan Naomi tanpa di sadari oleh Naomi, Baron telah mengajak Naomi datang keistananya.
Mengajak Naomi ke kamarnya dan mengajak gadis yang seperti terkena hipnotis tersebut melewati hampir separuh senja. Mendekati jam 10 malam kegiatan mereka selesai.
Baron tersenyum sangat puas karena ternyata Naomi memang masih perawan. Karena setiap perawan yang dia setubuhi maka setiap kali itu pula kekuatan ilmu hitamnya bertambah selain itu pula gadis yang dia tiduri akan hamil dan melahirkan anak-anak dari dunia kegelapan guna menambah sekutu dan bala tentaranya.
Seperti kasus Lisa Aida yang melahirkan Mayda dan juga dari wanitanya yang lain yang melahirkan Piere namun entah mengapa kedua anak dari Baron ini walaupun mereka mempunyai sifat jahat tetapi mereka terkadang masih terselip sifat baik dalam diri keduanya itulah yang kadang membuat Baron sangat kesal pada kedua putra dan putrinya.
Naomi tiba langsung di atas pembaringannya saat dia dan Stella masih berbagi kamar tidur yang membuat Stella kaget karena saat dia keluar kamar Naomi belum ada tetapi saat dia kembali dari dapur, Naomi sudah ada di dalam kamar dalam keadaan tubuh yang sepertinya lelah sekali.
Lalu beberapa hari kemudian, Naomi minta kamar sendiri agar pertemuannya dengan Baron tidak terganggu oleh siapa pun.
***Flashback off***
__ADS_1
Kembali Naomi merenung, sejak pertemuannya dengan Baron rejekinya selalu lancar dan kuliahnya selalu beres tetapi sebagai imbalannya setiap malam Baron selalu datang ke kamarnya entah dari mana dia bisa masuk tiba-tiba dia sudah terbaring tanpa busana di atas ranjang Naomi.
Dan setiap kali itu pula Naomi selalu tak dapat menolaknya.
***************
"Kalian berdua bisa berhenti bertengkar nggak sih?? Berisik tau!!" Kata Sena berseru lantang membuat Piere dan Anthony spontan menghentikan pertengkaran mereka berdua.
"Anthony dan kamu Piere?? Mau jadi jagoan?? Silakan di lapangan rumah sakit di depan sana jangan di sini karena keributan kalian mengganggu konsentrasi kerjaku saja!!" Celoteh Sena kesal.
"Kita pergi aja yuk Anthony kita cari tempat lain untuk ribut, di sini kita diomelin melulu!!" Ajak Piere pada Anthony.
"Iya yuk!! Aku belum puas bertengkar denganmu malam ini!!" Ucap Anthony.
Lalu kedua mahluk menyebalkan itu menghilang diikuti oleh Kanti dan beberapa yang lain sebagai juri keributan mereka. Hanya si kembar Lean dan Leon yang masih setia di situ menemani Sena bekerja sambil mereka menonton televisi bersama om Cong di pojok ruangan.
Tetapi mereka semua lupa bahwa hari ini musuh bebuyutan Anthony akan datang lagi ke ruangan hemodialisa itu untuk mencari Sena.
Di saat ruangan sedang lengang, Sena masih asyik menyapu dan dari ruangan luar suara tawa si kembar yang hanya bisa di dengar oleh Sena itu masih riuh menonton televisi entah sudah berapa lama tiba-tiba Sena akhirnya sadar bahwa suara ketiganya tak lagi terdengar.
"Mereka bertiga pada kemana ya??? Yang lainnya juga pada kemana sih??" Bisik Sena lalu melangkah keluar ruangan dalam.
Alangkah terkejutnya Sena melihat sesuatu yang sama sekali tidak dia duga.
Hatinya berdebar antara takut dan cemas. Di tengah ruangan telah berdiri satu sosok yang tengah tersenyum manis pada Sena, tetapi Sena tau itu senyum penuh kepalsuan dan kelicikan.
"Mau apa kau manusia iblis?" Desis Sena.
Itu perkataan yang terakhir keluar dari bibirnya sebelum akhirnya sosok itu meniup Sena dan membuat Sena pingsan tak sadarkan diri.
*
*
***Bersambung....
Lanjut ke next episode ya reader dan jangan lupa dukungannya agar author tetap semangat menulis cerita nya.
__ADS_1