Mencintaimu Sekali Lagi

Mencintaimu Sekali Lagi
Marah


__ADS_3

Diruangan dira. Dimas kembali duduk disamping kiri istrinya setelah rama meninggalkan mereka. Dira membelai wajah istrinya yang terlihat sangat kacau. Menahan sakit paska operasi dan sakit hati menjadi satu sungguh membuat hancur hati dira.


 Wajah dira sangat pucat. Matanya cekung karena terus menahan sakit.


Pak jaya kembali keruangan dira. Anaknya masih dengan wajah penuh kesedihan. Pak jaya menghampiri dira lalu menepuk bahunya pelan.


“Jangan terlalu memikirkan hal yang membuatmu terluka. Saat ini ada bayi kecil yang menunggumu. Jika kamu stress juga akan mempengaruhi psikologismu. Asimu bisa tidak keluar dira. Pikirkan itu. Tenangkan hati dan fikiranmu. Fokuslah satu – satu permasalahan yang ada. Semua ada solusinya.”  Kata pak jaya menenangkan dira.


Rama meminta ben untuk memindahkan dira keruang yang lebih baik. Dan menyuruhnya membereskan semua biaya. Lalu mereka keluar dari rumah sakit menuju rumah niken.


Satu jam kemudian rama sudah sampai didepan pintu rumah niken. Seorang pembantu keluar membukakan pintu setelah mendengar suara bel berbunyi.


“cari siapa tuan?”


“niken ada?”


Belum sempet pembantu itu menjawab rama niken sudah keluar dari kamarnya sambil berseru.


“suruh masuk mbok, dia temanku”


Rama dan ben masuk kerumah niken lalu niken menyuruhnya duduk di ruang tamu yang cukup besar.

__ADS_1


Niken adalah keluarga yang cukup berada, keluarganya hampir semuanya adalah seorang dokter.


Ayahnya seorang dokter bedah syaraf. Ibunya seorang dokter anak. Kakak lai – laki satu –satunya juga seorang dokter spesialis orthopedic.


Niken duduk tidak jauh dari rama. Aa lingkar hitam yang tidak terlalu jelas menandakan bahwa ia kurang tidur.


“kenapa matamu? Jelek sekali” ucap ramamenggoda niken.


“ah.. satu malam duan kali operasi cito sungguh melelahkan. Aku hampir tidak tidur sama sekali semalaman dank au mengganggu waktu tidurku yang berharga”


“aku kesini justru jadi anugrah buatmu. Jarang – jarang ka nada tuan muda yang tampan bertamu kerumahmu.” Rama berkata sambil tersenyum angkuh


“cihh… sombong sekali. Ada apa kamu kesini? Pasti mau Tanya tentang wanita itu kan? Dasar gila”


“ya! Dasar rama gila. Masih banyak wanita lajang yang masih perawan. Kamu malah sibuk memikirkan wanita yang sudah bersuami bahkan baru saja melahirkan. Pariksalah sana sama ayah. Dia akan sangat bisa membantumu”


“kamu ini! Aku gila karena anak yang dikandung dira adalah anakku!” ujar rama dengan nada lebih tinggi.


Niken membulatkan matanya mendengar ucapan rama.


“yang benar kamu?”

__ADS_1


“untuk apa aku bohong. Dira menikah dengan laki-laki itu saat dia sudah mengandung anakku.”


“jangan asal bicara kamu rama. Dimas sangat menyayangi dira dan kandungannya setiap kali periksa kehamilan.”


“aih.. itu kenyataanya. Bayi itu adalah anakku. Ceritakan padaku kenapa dira bisa melahirkan secepat itu?”


Niken menghela nafas sebelum menceritakan kepada rama.


Kehamilan niken memang bermasalah karena letak plasenta yang hampir menutupi jalan lahir. Keadaan itu membuat sering terjadi kontraksi pada kehamilannya. Ditambah factor stress yang niken tidak ketahui penyebabnya membuat kehamilan dira bertamabah lemah.


Saat dilakukan pembedahan, terdapat sisa cairan sp***a dalam rahim dira menandakan belum lama mereka melakukan hubungan suami istri yang mimicu terjadinya kontraksi hebat yang menyebabkan kelahiran premature.


Mendengar penjelasan niken. Wajah rama berubah merah. Tangannya mengepal matanya semikn tajam. Dia sangat marah pada dimas.


Tidak lama dari itu rama pamit kepada niken untuk pulang. Suasana hatinya berubah buruk.


Di dalam perjalanan rama tidak bersuara sama sekali. Rahannya mengeras matanya penuh amarah.


“bisa – bisanya dia melakukan itu saat kehamilan dira sedang bermaslah. Dia hilang akal atau gimana!! Dia bilang dia mencintai dira. Tapi dia justru menyakitinya. Aku ingin sekali membunuhnya.” Gumam rama lirih.


Walaupun pelan, Ben yang ada dikursi depan tetap mendengarnya. “apakah kita perlu membunuhnya tuan muda?”

__ADS_1


“tidak perlu. Aku akan menhajarnya besok. Membunuhnya hanya akan menjauhkanku dari dira.”


*** 


__ADS_2