Mencintaimu Sekali Lagi

Mencintaimu Sekali Lagi
Bab 42 Bertemu Sang Mantan


__ADS_3

Akhirnya, Aida memutuskan untuk menyapa mantan suaminya terlebih dahulu sambil hendak memamerkan kekasih barunya sebagai ganti Rama.


"Hai Mas Rama, Ibu Ayu!" kata Aida.


Rama dan Bu Ayu, yang sedang memilih sepatu dan tas sekolah, menoleh ke arah Aida.


"Iya, ada apa, Aida?" tanya Rama dengan ekspresi biasa-biasa saja.


"Aku dan kekasihku masih mampu membeli tas dan sepatu untuk Mayda, jadi kalian nggak perlu repot-repot dan membuang-buang uang, apalagi sedang kesulitan ekonomi sekarang. Lagipula, Mayda juga belum sekolah!" kata Aida, merasa angkuh.


Ibu Ayu hampir caci maki Aida, tapi Rama dengan cepat menahannya untuk tidak menghiraukan perkataan Aida.


"Aku tahu kamu dan pacarmu mampu membelinya untuk Mayda, makanya aku tidak membelikannya. Apalagi anak-anakku sedikitnya tidak hanya Mayda, tapi ada tiga lagi," jawab Rama dengan tenang.


Tiba-tiba, wajah Aida berubah. Dia mengetahui bahwa Rama memiliki tiga anak dari Sena. Dulu, dia berusaha mati-matian merebut Rama dari Sena dengan cara yang tidak baik, bahkan sampai rela berhubungan dengan laki-laki lain agar bisa merebut Rama kembali dan dengan kehamilannya itu dia berhasil merebut Rama, tapi akhirnya meninggalkannya setelah Rama tak punya apapun lagi.


"Masih terbayang tentang mantan ya, Mas Rama? Yakin wanita itu tidak menjual dirinya setelah berpisah denganmu? Lagipula, sulit di zaman sekarang ini mendapat pekerjaan dengan gaji yang tinggi tapi hanya dengan minim pendidikan seperti dia. Pasti ia harus menjual diri bagai pelacur kelas kakap iya kan!!" Kata Aida meremehkan.


Ibu Ayu marah sekali dengan ucapan Aida.


"Jangan bicaramu sembarangan, Aida!" kata Ibu Ayu.


Tapi Aida tetap tidak bisa menerima kenyataan bahwa Rama lebih mengingat Sena dan ketiga anaknya dari pada mengingat dirinya dan Mayda.


"Bagaimana Rama bisa punya uang untuk membeli sepasang kaki palsu?" gumam Aida kesal. "Dan pembelaannya pada Sena tadi? Sungguh membuatku sakit hati!"

__ADS_1


***********


Ternyata yang melempari rumah paman Said adalah tiga orang berjubah hitam.


"Keluar kau Said, hadapi kami!!" Teriak mereka dari halaman rumah.


"Busyet dah, mereka bukan hanya bertiga, tapi ada banyak sekali!!" Gumam Bian.


"Ayo kita keluar paman, bisa hancur dinding rumah paman terkena terus lemparan batu dari mereka." Kata Sena.


"Mari kita serang tiga orang berjubah yang menjadi pimpinan mereka itu!!" Kata paman Said.


"Sena, Paman Said dan Anthony akan menyerang tiga orang berjubah itu ya, sementara kamu dan Sifa lindungi kami dengan para pengikutnya yang banyak itu!!" Kata paman Said.


Di saat paman Said dan Anthony bergerak menyerang ketiga orang bertopi hitam di depan mereka, Sena dan Sifa bergerak melindungi keduanya dengan menyerang kelompok mahluk yang ada di sekitar paman Said dan Anthony yang menggunakan senjata kepala yang ada di tangan mereka.


"Hati-hati Sifa!" kata mamak Sifa memberikan aba-aba.


Tugas Sifa dan Sena adalah mengalihkan perhatian mahluk itu agar Anthony dan paman Said bisa menyerang langsung tiga pimpinan mereka malam itu.


"Kita tidak bisa membiarkan mamak dan Sifa bertempur sendirian Juan, kita harus membantu mereka!" kata Dini.


"Tapi bagaimana caranya, kak?" tanya Juan.


"Ayo, Juan. Semangat! Jika Bang Bian bisa memiliki kemampuan seperti kalian semua, tentu saja Bang Bian akan maju ke garis paling depan!" kata Bian.

__ADS_1


"Kita hanya perlu berkonsentrasi pada kedua telapak tangan kita, Juan. Insya Allah, angin pukulan itu akan keluar dengan sendirinya. Kamu lihat mamak dan Sifa di situ, mereka hanya perlu berkonsentrasi saja untuk menyalurkan tenaga ke kedua telapak tangannya!" kata Dini.


"Bang Bian dan Mbak Stella bisa berada di dalam rumah saja ya! Bantu kami dengan doa!" lanjut Dini.


Berkat bantuan tenaga dari Dini dan Juan, kerumunan mahluk tak berkepala itu tersibak dan memberikan kesempatan pada Anthony dan paman Said untuk menyerang ketiga orang bertopi hitam itu.


"Aargghhh!" teriak salah satu dari ketiga mahluk itu ketika salah satu bagian tubuhnya terkena serangan dari paman Said. Jubah yang dia pakai tertarik dan terlepas dari kepalanya.


"Basri! Om Basri!" teriak mereka, membuat semuanya terkejut.


"Saya duga sebelumnya, Basri," kata Paman Said.


Basri tersenyum, kemudian Toyib membuka penutup kepalanya. Yang paling mengejutkan, Pak RT juga muncul dengan muka marah.


"Kalian harus mati malam ini karena kalian yang menyebabkan istriku harus dikorbankan, saya tidak ingin melihat istriku mati sendirian sebagai tumbal, tetapi kalian juga harus mengikutinya, mati dengan cara yang sama!" Ucap Pak RT Tabrani dengan sinar mata yang penuh dendam.


"Tabrani, istri kamu jadi tumbal karena kelalaian kamu sendiri. Siapa yang salah menjadi pengikut iblis dan bersekutu dengannya? Kita manusia yang diciptakan oleh Allah, seharusnya kita hanya menyembah pada-Nya bukan pada iblis atau menyembahnya!" Kata Paman Said.


"Diamlah, Said!! Nyawa kamu hanya tinggal seujung kuku aja sudah Sombongnya selangit!!" Kata Pak RT Tabrani.


"Wah, kamu hebat sekali bisa tahu bahwa nyawa Paman Said hanya tinggal seujung kuku," kata Anthony sambil bertepuk tangan.


**** bersambung...


Maaf ya reader, banyak kata yang terpotong jadi harus othor sambung kembali.

__ADS_1


Jangan lewatkan episode selanjutnya dan mohon dukungannya.🙏🙏


__ADS_2