Mencintaimu Sekali Lagi

Mencintaimu Sekali Lagi
Bab 88 Paman Said Tertolong


__ADS_3

Sementara itu Dini dan Sifa tengah berupaya mengeluarkan jarum yang menyusup masuk kedalam sistem syaraf yang ada di ketiak paman Said.


Keduanya sampai mengeluarkan keringat dingin, karena salah sedikit saja maka jarum itu akan melesak semakin jauh dan tidak bisa diambil kembali.


"Ayo fokus Sifa, kak Dini yakin kita pasti bisa!" Ucap Dini sambil terus fokus mengerahkan tenaganya pada titik yang dituju.


"Ayo lah kalian cepat, sirepku pada manusia satu itu tak akan bertahan lama!!" Seru Juan.


"Kita pusatkan tenaga kita secara bersamaan setelah bertemu di titik mana jarum itu tertanam lalu kita kita hentakan keluar secara bersamaan pula!" Perintah Dini pada Sifa.


Lalu tampak keduanya kembali berkonsentrasi memusatkan tenaga mereka kemudian menggabungkan keduanya serta menyalurkan energi mereka secara bersamaan.


"Tarik...!"


Dini berteriak memberi aba-aba pada adiknya.


Wushhh...


Sebuah benda putih berkilat melompat keluar dari dalam daging paman Said.


Benda itu berbentuk seperti jarum berputar cepat di lantai dan akhirnya berhenti.

__ADS_1


"Alhamdulillah!" Ucap Dini dan Sifa bersamaan.


Dini memungut jarum tersebut dari lantai dan mengamatinya.


"Jarum ini tidak mengandung racun, tetapi sekali dia masuk kedalam kulit dia akan langsung menembus daging dan merusak sistem syaraf korbannya bahkan dia akan terus mengikuti aliran darah dan berhenti di jantung, untung kakek sebelum pingsan sempat menutup aliran darahnya ke jantung hingga jarum itu hanya mampu bertahan di sekitar ketiak kakek saja!" Ujar Dini.


"Jahatnya, dia benar-benar ingin membunuh kakek!" Kata Sifa geram.


Tampak kakek Said mulai menggeliat.


Dini menyodorkan segelas air putih pada kakek mereka.


"Terima kasih anak-anak, ini memang salah kakek karena kurang waspada pada wanita itu, kakek terkadang lupa jika wanita itu bukan lagi nenek Sumi kalian!" Ucap paman Said sedih.


Juan melepaskan sirepnya karena sudah tak sanggup lagi.


Saat mereka berempat berkumpul di ruang tamu, dari dalam kamar Aminah bangkit dari pembaringannya dan mengintip keluar.


"Setan...belum berangkat ke Neraka juga orang tua itu!" Geramnya.


"Dan aku? Kenapa juga aku bisa tertidur di saat seperti ini? Bodohnya aku!" Rutuknya.

__ADS_1


"Kamu memang bodoh, Minah...sudah bodoh, ceroboh pula? Apakah kamu baru menyadarinya?" Sebuah suara seperti nyamuk mendengung di telinganya.


"Ma...maafkan saya ketua!" Ucap Aminah tergagap.


"Kamu ini membuang waktuku saja, apakah kamu mau kujadikan santapan anjing-anjing siluman peliharaanku?" Gertak suara itu lagi.


"Ja...jangan...mohon ampun ketua, hamba hanya bingung bagaimana caranya si tua karatan itu bisa lolos dari panggilan malaikat maut?" Tanya Aminah pada suara tanpa wujud itu.


"Kamu pikir mereka itu orang-orang bodoh, Aminah? Otak dan akal mereka lebih pintar dari pada yang kamu bayangkan!" Ucap suara itu.


"Sekali ini aku mengampunimu tetapi tak ada kesempatan dan pengampunan untuk yang kedua kali jika lamu gagal melaksanakan perintah dariku!" Ucapnya seraya menggeram membuat Aminah seketika itu menjadi ciut nyalinya.


"Kurang ajar, siapa sebenarnya ketiga anak-anak ini, dan aku yakin yang membuat aku tertidur tadi pasti sirep dari pemuda kecil berhidung bengkok seperti burung beo itu!" Aminah memperhatikan satu persatu ketiga anak Sena tersebut.


*


*


***Bersambung...


Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya?

__ADS_1


Ikuti terus kisah Mencintai Sekali Lagi du episode selanjutnya ya🙏🙏


__ADS_2