Mencintaimu Sekali Lagi

Mencintaimu Sekali Lagi
Bab 39 Ternyata


__ADS_3

Terdengar suara Naomi berteriak-teriak di tengah malam buta begini, untung penerangan listrik yang diambil dari tenaga surya tadi siang masih bisa bertahan untuk satu desa paling tidak sampai lewat tengah malam nanti sebelum akhirnya desa akan kembali sepi dan gelap seperti desa kematian.


"Ayo cepat Sena...lelet banget kayak ulat keket??" ucap paman Said saat Sena masih berhenti dulu di depan pagar pak RT untuk meminta tolong pada Anthony mengelilingi rumah itu untuk melihat apakah ada sesuatu yang ganjil di sekitarnya!!


"Iya...iya, sabar paman!!" kata Sena lalu buru-buru menuju kearah pamannya.


"Assalamualaikum!!" teriak Sena takutnya suara teriakan Naomi lebih nyaring dari suara salamnya.


"Waalaikum Salam!!" jawab Stella dari dalam lalu lari menuju pintu.


"Mbak Sena, paman Said...masuklah!! Bian lagi di dalam memegangi tangan Naomi yang sejak tadi selalu mau kabur melulu." Kata Stella.


Dengan cepat Sena dan paman Said masuk kekamar menemui mereka.


"Lho??? katanya Bian sama Naomi di kamar, mana mereka??" tanya Sena dan paman Said bingung.


Bug....


Sebuah pukulan cukup keras menghantam tengkuk Sena dan paman Said sehingga keduanya jatuh pingsan.


Tampak seringai puas dari seseorang.


"Maaf ya neng geulis, pak tua Said...kalian ini bisa jadi penghalang kami jika terus ikut campur dalam masalah kelompok kami." Toyib tersenyum menyeringai.


"Untung tadi sore aku sempat mendengar percakapan ketiga mahasiswa itu dan begitu ketua menghubungiku langsung aja kepikiran ide untuk mengorbankan si tua dan si cantik ini!!" gumam Toyib.


Toyib memeriksa jari tangan Sena.


"Kemana cincin mustika merah delima yang tempo hari aku lihat ada di jari manisnya??" gumam Toyib.


'Ahhh bodo amat, sebaiknya mereka berdua aku gabungkan dengan ketiga mahasiswa itu di gudang belakang rumah pak RT." Kata Said lagi.


Seperti menyeret mayat, Toyib menyeret Sena dan paman Said bergantian ke gudang belakang.


Bluk...Bluk


Bian setengah sadar setengah pingsan terkejut saat ada dua tubuh lagi yang di masukan Toyib ke gudang yang hanya mendapatkan penerangan dari cahaya bulan purnama di luar melalui celah jendela.


"Siapa itu Bi??" kata Stella yang rupanya juga sudah mulai sadar dari pengaruh obat bius itu.


"Entahlah Stell, aku nggak bisa melihat dengan jelas, bagaimana kondisi Naomi??? belum sadar jugakah dia??" tanya Bian.


"Kepalaku sakit Bi, Stell....!!" kata Naomi pelan.


"Syukur kamu sudah sadar, Omi...!!" kata Stella.


"Bagaimana ini Bi, tangan dan kaki kita terikat begini??" tanya Stella.


Aarrrgghhh


"Kasihan, rupanya mereka juga jadi korban penculikan sama seperti kita!!" kata Stella saat mendengar erangan Sena.


"Paman...paman Said!!" kata Sena lirih.

__ADS_1


"Mbak Sena??" gumam Bian.


"Mbak Sena kah itu??" ulang Bian lagi.


"Bi??? kamukah??" tanya Sena lirih.


"Iya mbak, aku sama Naomi dan Stella!!" jawab Bian.


"Kenapa mbak Sena dan paman Said bisa ditangkap juga??" tanya Bian.


"Lho, bukannya kamu yang telepon mengatakan bahwa Naomi.kesurupan??" tanta Sena.


"Hah?? kapan mbak?? aku. Naomi dan Stella bahkan tidak ada yang memegang ponsel sama sekali!!" jawab Bian lagi.


"Lalu siapa yang menelponku selepas maghrib tadi??" kata Sena.


Tak lama....


"Sen...Sena...kita semua harus cepat meloloskan diri dari sini, jika tiba tengah malam kita semua akan ditumbalkan sebagai korban." Suara paman Said terdengar lirih.


"Sebagai korban??" kata Sena, Bian, dan lainnya.


"Bian, coba kamu rogoh kantong celana paman sebelah kiri, paman tadi menaruh korek dan rokok di situ!!" kata paman.


Paman Said berputar menghadap belakang Bian, dengan tangan yang masih terikat di belakang, Bian merogoh kantong celana paman Said mencoba mencari korek api.


"Cepat Bi...kita tidak punya waktu lagi!!" kata Stella.


"Dapat!!" gumam Bian girang.


Sambil meringis menahan sakit karena sesekali tangannya terkena jilatan lidah api, akhirnya buhul ikatan di tangan paman Said terlepas.


Lalu dia melepaskan ikatan di kakinya dan menolong yang lain.


"Cepat Bi...lama banget punyaku lepasnya!!" kata Sena.


"Cepetan Bi, nanti aja acara pegang-pegangnya kita tak punya banyak waktu!!" kata Stella.


Wajah Bian dan Sena memerah mendengar celetukan Stella yang spontan.


"Sssstttt...diamlah, paman mendengar ada beberapa langkah kaki menuju kemari!!" bisik paman Said perlahan.


"Ayo kita semua bersiap, gunakan apapun benda di sini untuk memukul mereka!!" kata paman Said lagi.


Dengan meraba mereka berhasil menemukan kayu dan sejenisnya lalu mereka berpura-pura pingsan untuk mengetahui siapa yang datang.


Kletak....


Gembong besi itu terbuka dari luar dan dari sudut mata mereka, mereka berlima melihat ada tiga orang berjubah datang menghampiri kelimanya yang sedang terkapar di lantai gudang dalam gelap.


"Mereka masih pingsan, baguslah mari kita angkut kelimanya menuju altar persembahan suci!!" kata salah seorang dari antara mereka memberi perintah.


saat ketiganya semakin dekat dan hendak meraih tubuh mereka tiba-tiba mereka berlima berdiri, dan....

__ADS_1


Bak...buk...bak...buk


Aarrgghhhh....teriak mereka bertiga kesakitan.


"Bang*sat kalian semua!!" kata salah seorang di antara mereka lalu balas hendak memukul tapi keburu dilumpuhkan oleh paman Said dan Bian.


"Bagus mereka pingsan, sebaiknya kita ambil jubah dan pakaian mereka lalu tukar dengan pakaian kita, cepat...!!" kata paman Said.


"Tapi kalian kan laki-laki masa mau tukar sama baju kita!!" kata Naomi.


"Cepat Omi kita nggak punya waktu lagi, lagian di sini gelap kok kita nggak mungkin bisa melihat deh!!" kata Bian.


Walaupun ragu para wanita memakai baju para si jubah hitam beserta jubahnya.


Bian melirik kearah Sena yang sedang membuka baju atasnya.


Jantungnya berdebar karena belahan da*da itu terlihat jelas terkena pantulan sinar bulan walaupun secara samar.


"Coba dekatkan korek api itu paman mau melihat dulu wajah mereka bertiga!!" kata paman Said.


"Astaghfirullah....ini kan si Toyib?? tapi yang dua orang ini paman tidak kenal!!" kata paman Said.


"Sebentar!!" kata Naomi dan Stella berbarengan.


"Bukankah dua pemuda ini yang tempo hari kita jumpai di pasar ya, Stell!!" kata Naomi mengamati wajah keduanya.


"Kamu benar, iya aku ingat yang membantu kita membawakan barang-barang kita berempat sampai kita menemui tumpangan mobilnya si Toyib ini kan?? sepertinya kita memang sengaja diarahkan supaya datang ke desa ini deh, agar kita menjadi korban mereka selanjutnya!!" desis Stella.


"Ayo cepat kita ikat mereka, dalam suasana gelap begini kawan-kawan mereka tak akan mengenali mereka bertiga!!" kata paman Said.


Setelah mengikat Toyib dan kawan-kawannya mereka berlima keluar dengan menggunakan jubah dari ketiganya sementara Sena dan Naomi berlagak seperti korban calon persembahan.


Naomi di bopong oleh Stella dan paman Said sementara Sena di gendong oleh Bian dengan senang hati.


"Mana yang tiga lagi??" kata mereka yang menunggu di luar gudang.


"Yang tiga masih ada di dalam, kalian angkat ya...!!" perintah Bian dengan suara berat.


Begitu mereka bertiga masuk kedalam, paman Said menggembok pintunya dari luar.


Mereka berlima berlari menjauhi gudang tua tersebut.


"Kita ini ada di mana, paman??" kata Sena.


"Sepertinya kita berada cukup jauh dari rumah pak RT." Kata paman Said.


"Sebentar lagi kita sampai rumah, sebaiknya kalian bertiga jangan balik dulu kerumah pak RT terlalu besar bahayanya!!" kata paman Said.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Bagaimana kisahnya mereka berlima bisa disandera oleh orang berjubah??


Dukungannya ya reader, like, komen, vote, favorit dan rate nya🙏🙏


__ADS_2