
Sementara bibi sibuk berbicara dengan suaminya, Sena malah asyik memperhatikan bibinya, mencermatinya dan mengaitkan dengan semua yang dikatakan Anthony tadi.
"Apakah...?? Ah, rasanya tidak mungkin...tapi semua itu bisa saja terjadi!!" Gumam Sena.
"Tampaknya sekarang aku harus lebih hati-hati, karena sekarang lebih sulit untuk membedakan mana teman dan yang mana lawan.
"Bian, berhentilah dulu!!" Kata Frans.
Bian menghentikan motornya di tepi jalan.
"Ada apa Bian??" Tanya Stella.
"Entahlah...ayahku menyuruhku untuk berhenti!! Makanya aku berhenti, mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh ayahku pada kita!!" Kata Bian.
"Ada apa ayah? Mengapa ayah menghentikan kami??" Tanya Bian.
"Bian, sebaiknya kamu dan Stella jangan mengambil jalan itu, sebaiknya mengambil jalan yang memutar saja mungkin lebih jauh tetapi lebih aman!!" Kata Frans.
"Tapi ini sudah sore banget yah...sedangkan jalan pintas di depan adalah jalan terdekat dan tercepat menuju rumah mbak Sena!! Jika kami berdua mengambil jalan memutar lagi berarti setelah maghrib kami baru tiba di sana!!" Kata Bian.
"Nggak apa-apa nak, biar lambat tapi kalian berdua selamat!!" Kata Frans lagi.
"Memangnya di depan ada apa sih yah??" Tanya Bian lagi.
"Ayah juga nggak tau tetapi ayah merasakan ada bahaya besar yang akan menanti di sana." Kata Frans lagi.
__ADS_1
"Sebaiknya kita turuti saja perkataan ayahmu, Bian...mungkin apa yang dikatakan ayahmu ada benarnya." Kata Stella.
Akhirnya mereka kembali mengambil jalan memutar untuk menghindari jalan semula.
"Aduh paman, aku sudah menelpon ponselnya Bian maupun Stella berkali-kali tapi nggak diangkat, aku jadi khawatir paman!!" Kata Sena.
"Insya Allah nggak apa-apa mak, bang Bian dan kak Stella ada yang menolong kok!!" Jawab Sifa.
Akhirnya mereka kembali berbincang-bincang. Rama lebih banyak jadi pendengar setia setiap petuah yang di sampaikan paman.
Tak lama....
TOK...TOK...TOK
"Itu pasti bang Bian dan kak Stella!!" Jawab Sifa lalu beranjak berdiri untuk membuka pintu.
"Oh Bang Bian dan kak Stella, masuk!!" Kata Sifa.
"Syukurlah kalian tiba dengan selamat, sejak tadi ponsel kalian kutelepon tapi nggak ada jawaban!!" Kata Sena tersenyum lega.
"Ya sudah kalian masuk dan istirahat sejenak nanti kita sholat Isya berjamaah!!" Kata paman Said.
"Aku buatkan kalian minuman hangat dulu ya....kalian mau makan??" Tanya Sena menawarkan.
"Minuman hangat aja mbak, kami tadi sudah makan kok!!" Jawab Stella.
__ADS_1
Saat Sena berjalan kedapur untuk membuatkan minuman Bian dan Stella, dia melihat bibinya berjalan cepat melintasi dapur menuju ke kebun di belakang rumah kontrakan mereka.
Awalnya Sena akan memanggil bibinya mungkin bibinya akan ke toilet dekat kebun untuk buang hajat dan perlu bantuannya untuk menemani tetapi urung dia lakukan karena bibinya tampak berjalan dengan cepat.
Akhirnya Sena tak jadi merebus air untuk membuat minuman Bian dan Stella. Dia memutuskan untuk mengikuti bibinya.
"Bibi mau kemana ya?? Kok nampaknya sangat tergesa-gesa sekali?" Gumam Sena.
Dia meraba cincin pemberian Anthony. Cincin bermata batu merah delima yang mempunyai khasiat dan kemampuan luar biasa itu digenggamnya, seketika itu juga tubuh Sena menghilang dari pandangan bertepatan saat bibinya menoleh kearahnya.
"Sepertinya tadi ada yang sedang mengikuti aku, tapi syukurlah nggak ada siapa-siapa!!" Kata bibi Sena.
Dia lalu berdiri di pinggir kebun pisang milik yang punya kontrakan.
Siapa yang sedang ditunggu oleh bibiku itu? Aku semakin curiga pada bibiku ini, teringat juga pada perkataan Anthony tadi." Gumam Sena pelan.
Walaupun bibinya tak dapat melihat kehadirannya tetapi Sena tetap waspada.
"Apa sebenarnya yang terjadi padamu bi? Mengapa bibi jadi seperti ini??" Kata Sena.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya reader.🙏🙏