
Terdengar teriakan kesakitan dari langit-langit goa. Ternyata pemilik lidah panjang itu adalah berbentuk kepala seorang nenek tua berwajah sangat menyeramkan.
Dia bergelantungan di langit-langit goa dan teriakannya langsung terhenti saat hawa dingin seperti es itu terus menjalar dan membekukan seluruh kepala dan tubuhnya yang bergelantungan.
"Luar biasa anak bungsu Sena ini, rupanya kakek buyutnya sudah menurunkan setengah dari kesaktiannya dan tubuh kecil Sifa ini mampu menyerap lebih cepat dari pada kedua kakaknya!!" gumam paman Said.
Mereka kembali berjalan dan kini lebih hati-hati lagi karena maut dan bahaya bisa mengancam dari segala penjuru goa itu dan mereka sama sekali tidak mengenali medan di dalam goa tersebut.
"Kok seperti ada yang mengikuti kita, ya??" gumam paman Said perlahan.
Tapi setiap kali dia menoleh kebelakang tak ada satupun bayangan di belakang mereka. Pada tengokan yang ketiga, bukan main terkejutnya paman Said saat melihat ada sesosok tubuh ikut berjalan di belakangnya.
"Kamu siapa??" bentak paman Said membuat Sifa dan Sena berhenti melangkah dan ikut menoleh kebelakang.
Di belakang paman Said ikut berjalan seorang gadis cantik berpakaian hitam, berambut hitam legam.
"Aku tadi mengikuti kalian dan sering bersembunyi karena aku takut pada ular kobra dan lidah mahluk tadi!!" kata si cantik itu berbicara dengan suara yang merdu sekali.
Mereka bertiga saling memandang satu dengan yang lain.
"Kamu mau apa dan ada keperluan apa masuk ke goa ini?? kamu tau ini tempat yang sangat berbahaya??" tanya paman Said yang curiga pada sosok di belakangnya itu.
"Sebaiknya kamu berjalan di depan saja, karena jalan di belakang sangat berbahaya apalagi untuk seorang wanita sepertimu!!" kata Sena.
"Jangan, aku ini penakut sekali jika aku di suruh jalan di depan!!" begitu alasannya.
"Terus terang kami itu curiga padamu, karena kami tau seluruh warga desa sudah jadi pengikut raja kegelapan, dan yang tidak bersedia mengikuti akan dijadikan tumbal mereka."
"Lalu tiba-tiba kamu muncul di belakang kami mengaku mengikuti kami!!" kata Sena.
Mereka mulai menjaga jarak dengan wanita berpakaian hitam itu.
Hi..hi...hi...hi
Terdengar tawa lirihnya pelan tapi mendirikan bulu roma.
"Kalian memang manusia-manusia cerdas bermata jeli, aku salut dengan kepintaran dan kejelian mata kalian bertiga!!" katanya pelan.
__ADS_1
"Tetapi sayang kepandaian dan kejelian kalian akan berakhir malam ini karena akulah yang akan mengakhiri semuanya!!" kata wanita berbaju hitam itu.
Paman Said, Sena dan Sifa bertambah waspada mendengar ancaman wanita itu.
Tiba-tiba dari mulut wanita itu menjulur lidah yang semakin panjang seperti tali mengejar kearah mereka bertiga.
Spontan mereka bertiga kaget dan cepat menghindar.
Dengan cepat Sena melepas cincin di tangannya dan sebelum dia menggenggam erat cincin itu dia segera berteriak pada paman dan Sifa untuk memegang tangannya.
Cincin yang diberikan Anthony kepada Sena itu mampu membuat si pemakainya serta orang yang ikut memegangnya tidak terlihat oleh mahluk apapun juga termasuk menghilangkan obor yang dipegang oleh paman Said dan Sena.
Seketika mereka bertiga menghilang dan jalan perlahan meninggalkan wanita aneh itu.
Dia tidak bisa melihat rombongan paman Said tetapi karena dengan bantuan obor yang ada di tangannya, mereka bertiga mampu melihat wanita berpakaian hitam itu.
"Sialan....di mana kalian bertiga bersembunyi para manusia pengecut?? ayo tampakan diri kalian padaku jangan jadi pengecut seperti sekarang ini!!" teriak wanita itu marah sekali.
"Kita bertiga dikatakan pengecut olehnya, mbah!!" kata Sifa berbisik geram.
"Tak usah dilayani, kita abaikan saja dulu karena kita tidak mempunyai banyak waku lagi, sebentar lagi tengah malam dan mereka semua yang ada di dalam sana akan dijadikan korban persembahan." Kata paman Said.
"Lihat pintu besi seperti penjara itu paman!!" tunjuk Sena dengan bibirnya, mereka masih berjalan bergandengan karena mereka sama sekali tidak tau apa yang akan menunggu mereka selanjutnya di depan sana!!
"Sepertinya para tawanan yang akan dijadikan korban itu di penjara di sana, deh!!" kata paman Said.
"Bisa jadi paman, ayo!!" kata Sena yang masih menggenggam cincin itu.
"Sebentar mak...tapi mengapa tak ada yang menjaga sel itu jika sel tersebut dijadikan tempat para tahanan?? pasti ini ada apa-apanya!!" kata Sifa.
"Terus bagaimana kita bisa masuk kesana??" tanya Sena.
Seperti ada semacam kunci yang disembunyikan atau ada tombol rahasianya!!" kata paman Said menimpali.
"Sstttt...mak lihat wanita berbaju hitam tadi juga menyusul sampai kesini??" bisik Sifa memberi kode dengan tunjukan bibirnya.
Mereka bertiga terdiam dan memepetkan diri kearah dinding goa.
__ADS_1
Merek melihat si hitam itu tampak mengendus-enduskan hidungnya kian kemari.
"Kemana mereka perginya???? di sini pun tak tercium bau mereka sedikit pun." Kata si hitam itu seolah ada lawan bicara di depannya.
Kemudian dia menuju salah satu tiang besi yang ada di dinding. Tampak dia menekan sesuatu yang merupakan sebuah tombol lalu pintu besi di depan mereka itu terbuka.
Si hitam masuk kedalam tak lama pintu tersebut menutup dengan sendirinya.
Semua kejadian tak luput dari pengawasan Sena, paman Said dan Sifa setelah merasa aman ketiganya pun ikut melakukan seperti yang telah dilakukan oleh wanita berbaju hitam tadi.
Mereka melewati pintu tersebut dan melangkah dengan hati-hati.
Tak lama berjalan mereka sampai di depan pintu sel yang dijaga oleh beberapa orang berjubah hitam.
"Lihatlah paman bukankah mereka itu sebagian adalah para di sini dan sebagiannya lagi mungkin di ambil dari kampung sekitar hutan pinus ini.
"Lihatlah paman, bukankah itu orang tua Toyib, Hasan dan Basri?? juga ada beberapa warga yang lain yang ikut disandera!!" kata Sena.
"Kasihan mereka, sudah berapa lama mereka disekap di sini??" tanya Sena lagi.
"Tapi tempat mereka ditahan dijaga oleh dua orang berjubah hitam, tuh!! juga ada wanita berbaju hitam turut menjaga tawanan itu sepertinya mereka menyadari telah ada penyusup masuk ke sarang mereka." Kata Sena.
"Jadi bagaimana caranya kita masuk kedalam, paman??" tanya Sena lagi.
"Salah satu dari kita harus memancing mereka agar meninggalkan tempat ini supaya dua dari kita bisa masuk kedalam sana membebaskan para tawanan!!" kata paman Said.
"Nggak mungkin kalau Sifa, pasti salah satu dari antara kita berdua yang harus memancing mereka." Kata paman Said lagi.
"Kalau begitu paman saja yang memancing mereka agar menjauh dari kurungan itu, paman kan biasa memancing kerusuhan juga biasa memancing di air keruh, nanti setelah mereka mengejar paman, barulah aku dan Sifa masuk untuk membebaskan mereka semua!!" kata Sena.
*
*
***Bersambung...
Bisakah paman Said memancing para penjaga tersebut untuk menjauhi kurungan??
__ADS_1
Ikuti terus yuk kisah mereka selanjutnya di next episode.