
"Yah pagi ini Bian akan mengunjungi rumah seorang teman mungkin Bian akan sekalian pulang keasrama, minggu depan baru Bian kembali kemari lagi menjenguk ayah!!" Kata Bian.
"Baiklah Bian, kamu jaga diri baik-baik di sana, belajar sungguh-sungguh jangan terbawa oleh sifat dan sikap teman-temanmu." Pesan ayah Bian sebelum Bian pergi kembali ke asrama.
"Jangan lupa Bian, jika kamu ada waktu maka kunjungilah ibu dan adikmu!! Ayah tidak pernah mengajarkan kepadamu untuk mendendam kepada orang lain, apalagi dia adalah ibu kandungmu sendiri, nanti ibu kamu pasti berpikir bahwa ayahlah yang telah melarangmu menemui mereka dan ayah tidak mau itu."
"Yang ayah mau, hubungan ayah dan ibu boleh berpisah tetapi hubungan ayah dan adikmu juga hubungan kamu dan ibumu tetaplah harus terjalin, silaturahmi antara anak dan orang tua tidak boleh terputus." Ucap ayah Bian panjang lebar.
"Iya ayah, tetapi tergantung juga bagaimana ibu menerima Bian, jika sikap ibu ke Bian tidak pernah berubah selalu dingin dan menganggap Bian sebagai orang lain jangan salahkan Bian jika Bian juga akan berlaku sama." Kata Bian lalu dia pamit dengan berat hati meninggalkan ayahnya tercinta.
Bian lebih memilih menaiki angkutan umum karena motornya dia tinggalkan di asrama pada saat mereka hendak melakukan KKN di desa Pinus tempo hari.
**************
"Apa lagi sih Aida?? Aku itu sibuk, pekerjaanku banyak! Novelku sudah harus aku rampungkan akhir bulan ini belum lagi usahaku sekarang harus lebih banyak membutuhkan perhatianku, jika pertemuan hanya untuk membahas untuk menikahimu, aku sudah tegaskan bahwa aku tidak mau!" Jawab Rama sambil berkutat dengan tulisannya.
"Sombongnya kamu mas, baru punya usaha kecil-kecilan dan baru jadi penulis yang belum terkenal saja sudah sombong!" Sindir Aida.
"Hanya karena aku menolak untuk menikahimu dan menolak untuk bertemu denganmu sudah kamu bilang aku sombong?? Aku butuh uang untuk melanjutkan hidupku tanpa harus bergantung pada orang lain karena aku cacat, bahkan istriku pun tega meninggalkanku dengan laki-laki lain, masih kamu bilang aku sombong? Ingat Aida demi ibu dan demi memenuhi tanggung jawabku sebagai laki-laki aku rela meninggalkan keluarga yang sangat aku cintai yang ada dari aku masih nol sampai aku bisa menjadi orang yang mapan tetapi aku tinggalkan demi wanita tidak jelas sepertimu, aku bahkan meragukan sekarang apakah Mayda itu anakku atau anak dari hasil kamu tidur dengan lelaki lain? Aneh kamu Aida!" Sinis Rama balik.
Aida nggak mau tau jika mas Rama tidak datang, maka Aida akan bunuh diri!! Mas...ma, aagghhh sudah dimatikan sama mas Rama kurang ajar betul lelaki cacat itu!!" Umpat Aida membanting ponsel mahalnya di ranjang king size miliknya.
Semua perbuatan Aida itu tak luput dari tatapan sinis Mayda.
"Jika aku ada di posisi papa Rama, aku juga pasti akan berbuat hal yang sama, untuk apa mempertahankan wanita rusak akhlak dan tukang selingkuh sepertimu??" Sinis Mayda lalu berlalu ke kamarnya.
"Aku memang anak iblis tetapi aku benci wanita tukang selingkuh sepertimu, aku masih bisa merasakan tulusnya kasih sayang papa Rama padaku walaupun dia meragukan aku putrinya atau bukan!! Sedari bayi aku dekat dengan papa Rama aku bahkan sering kamu tinggalkan pergi keluar kota dengan alasan pekerjaan dan papa Rama lah dan nenek yang terpontang panting merawatku, walaupun sekarang aku harus kembali pada papa Baron tapi bukan berarti aku adalah mahluk yang tak tau membalas budi pada orang yang telah membesarkan aku!" Gumam Mayda.
Aida tampak sangat kesal. Dia berjalan mondar mandir di kamarnya.
"Apa yang harus aku katakan pada mama dan papa jika mereka tau bahwa aku hamil tanpa suami? Siapa lagi yang akan kumintai pertanggung jawaban kali ini?" Gumam Aida.
"Sebenarnya ini anak siapa ya?? Aku juga lupa!!" Gumam Aida bermonolog pada dirinya sendiri sambil masih sibuk berjalan kian kemari untuk mencoba mengingatnya.
"Malam itu yang aku ingat saat aku mabuk aku ditolong oleh seseorang yang tampan sekali, tapi aku tidak tau siapa dia, hanya itu yang sempat aku ingat setelah itu aku sudah berada di ranjang kamarku keesokan harinya!" Gumam Aida.
Sementara dari kejauhan tampak seseorang yang sangat tampan sedang memandang Aida.
__ADS_1
"Maafkan saya Aida jika saya telah menitipkan beban berat ini di pundakmu, tetapi karena dari rahim kamu lah sudah terlahir anak titisan iblis, maka dari rahim kamu juga lah yang harus terlahir bayi yang bisa melawan keangkara murkaan kakaknya sendiri!!"
"Kamu jangan khawatir Aida, saya sama sekali tidak menodai kamu, saya hanya menitipkan putra saya ke dalam rahimmu untuk di lahirkan kembali ke dunia ini untuk membasmi keangkara murkaan yang akan terjadi akibat ulah Baron dan sekutu iblisnya."
"Tapi kalian jangan khawatir karena ada tiga remaja yang kelak juga akan membantumu, putraku!" Lalu si manusia berpakaian putih lenyap dari pandangan seiring dengan angin yang berhembus.
**********
"Assalamualaikum???"
"Benar nggak ini rumahnya ya?" Bian masih berpikir-pikir tiba-tiba dari dalam rumah pintu dibuka.
"Paman??" Sapa Bian pada lelaki tua itu.
"Oh nak Bian, akhirnya sampai juga kemari! Masuklah pasti nak Bian sangat lelah!!" Kata paman Said mempersilakan.
"Pada kemanaan semua paman?" Tanya Bian lalu duduk bersila di lantai.
Sepi...
"Ah, mungkin paman lagi di dapur kali!! Ah panasnya sore ini, aku duduk di luar aja ahhh!!" Gumam Bian lagi.
Akhirnya Bian memutuskan menunggu paman Said dengan duduk di teras karena udara sore itu juga sangat gerah.
Tak lama...
Dari depan halaman muncul paman Said dan istrinya, Sena bersama Dini, Juan dan Sifa sepertinya habis jalan-jalan.
"Lho Bian, kok mau datang nggak telepon dulu? Jadi tidsk kita tinggalkan jalan?" kata Sena.
Bian tidak menjawab perkataan Sena. Matanya menatap lurus pada paman Said lalu membalikan kepalanya menatap ke dalam rumah.
"Bian? Kok kamu menatap paman begitu amat?" tanya Sena heran.
"Terus siapa yang membukakan kamu pintu? Padahal tadi pintu ini posisinya sedang terkunci??" Kata Sena lagi.
"Paman Said yang membukakan aku pintu makanya aku bisa masuk tetapi aku keluar lagi karena kegerahan di dalam, dan paman Said tadi ke dapur tapi nggak balik lagi keluar, kupikir paman lagi sibuk di dapur atau apa lah jadi aku tunggu di luar saja." Jawab Bian.
__ADS_1
"Paman Said sejak tadi selalu bersama dengan kami kok? Tadi kita kan berangkatnya sama-sama ke alun-alun!" Jawab Sena.
"Sumpah mbak, untuk apa juga aku bercanda, toh ini pintu juga terbuka kok!! Kan kalian bilang tadi pintu rumah terkunci!" Kata Bian serius.
"Waduh??? Masa ada hantu juga di rumah ini?" Kata bibi Sena.
"Pantas tadi saat aku mengucapkan salam, paman Said yang membuka kan pintu untuk aku tadi tidak membalas salamku bahkan saat aku mau sungkem padanya, dia malah menghindar dengan alasan tangannya masih kotor." Kata Bian mulai kebat kebit.
Mereka berenam saling berpandangan.
"Tadi abang ada singgah di satu tempat kah sebelum kemari?" Tanya Sifa memecah keheningan.
Bian tampak diam dan berpikir sesaat.
"Tadi ban angkot yang abang tumpangi mengalami pecah ban, akhirnya angkot berhenti untuk mengganti ban dulu."
"Pada saat berhenti itu maka para penumpang segera keluar sementara menunggu ban diganti!! Ada yang mencari toilet dan ada yang mencari warung terdekat, begitu pula denga abang yang segera mencari warung untuk membeli minuman dingin." Ucap Bian.
"Terus sambil menunggu bang Bian beristirahat di mana?" Tanya Sifa lagi.
"Abang hanya duduk di bawah pohon sambil makan roti dan minum, hanya itu sih!!" Ujar Bian.
"Abang membawa sesuatu dari pohon itu!" Kata Sifa.
"Membawa apa dek? Sehelai daun aja abang nggak pegang!" Jawab Bian bingung.
"Maksudnya Sifa itu, kamu membawa sesuatu yang tidak kasat mata itu bersama perjalananmu, rupanya dia selalu memperhatikanmu selama kamu duduk di bawah pohon tadi yang sebenarnya adalah rumahnya!! Sepertinya dia menyukaimu, Bian!" Kata Sena.
"Jangan bercanda mbak, jangan membuat aku jadi takut!" Ujar Bian kelihatan was-was.
*
*
***Bersambung...
Ikuti terus kisah perjalanan mereka selanjutnya di next episode dan jangan lupa dukungannya๐๐๐๐
__ADS_1