Mencintaimu Sekali Lagi

Mencintaimu Sekali Lagi
Bab 43 Misi Penyelamatan 1


__ADS_3

"Diam kamu, Said! Nyawa hanya tinggal seujung kuku saja, sombong!" ucap Pak RT Tabrani.


"Wah, hebat dong kamu bisa tahu bahwa nyawa Paman Said tinggal seujung kuku lagi?" kata Anthony bertepuk tangan.


"Apakah sejak bersekutu dengan iblis, maka ilmu hitammu semakin meningkat? Jika begitu, bisakah kamu melihat kapan kalian sendiri akan mati?" ejek Anthony.


"Kurasa mulutmu makin hari bergaul dengan manusia kok semakin kurang ajar, ya?" kata Pak Tabrani dengan wajah merah padam.


"Itu memang benar, Pak. Ketika kita bergaul dengan manusia yang baik, kita juga jadi ikut semakin baik. Tetapi sebaiknya kita tidak bergaul dengan iblis seperti kawan kawinmu itu, sebab akan merubah kita seperti iblis," jelas Anthony.


"Sebentar lagi, Pak RT akan punya taring yang panjang dan bengkok macam babi, mata bolong, telinga panjang macam kurcaci... hihhhh!!" Anthony pura-pura bergidik ngeri sambil tersenyum menyeringai.


"Dasar hantu jahanam! Mati saja kamu sekarang!!" kata Pak RT, emosinya sudah meluap sampai ke ubun-ubunnya mendengar ejekan demi ejekan yang dilontarkan oleh Anthony.


"Aku kan sudah mati, Pak RT. Masa disuruh mati dua kali? Pak RT tuh yang mati bersama-sama antek-antek Pak RT, karena meresahkan warga!" kata Anthony semakin mengompori Pak RT.


Perkelahian tak terhindarkan lagi. Basri dan Toyib melawan Paman Said, sementara Anthony melawan Pak RT. Sena dan keempat anaknya tetap fokus menghadapi para mahluk lainnya.


"Rasakan kamu, hantu brengsek!" kata Pak RT sangat yakin pukulannya akan mengenai Anthony.


Wusss....


"Tidak kena!!!" kata Anthony sambil meliukkan pinggangnya.


"Sekarang, giliran aku, Pak Tua Tabrani?" teriak Anthony.


Bugh...bugh...


Arrghhhh...


Tabrani terlempar jauh ke belakang terkena hantaman telak di dadanya oleh Anthony.


Uhuk...uhuk...


Pak Tabrani muntah darah terkena hantaman Anthony.


"Bagaimana, Pak Tua? Masih sanggup?" kata Anthony tertawa.


"Kamu tahu, Pak Tua? Pukulan bangsa roh seperti aku, kekuatannya bisa berkali-kali lipat dari kekuatan pukulan manusia biasa," seringai Anthony bermain di bibirnya.

__ADS_1


"Keparat kamu, Anthony!" Pak RT merasa napasnya mulai tersengal-sengal, dia berulang kali berusaha menarik napasnya tapi selalu gagal hingga akhirnya...


Aaarrggghhhh....


Jeritan panjang dan mengerikan dari Pak Tabrani akhirnya menutup napasnya untuk selamanya.


"Paaakkkkk!!" teriak Toyib dan Basri mengejar sosok tubuh Pak Tabrani yang sudah terkapar tak bernyawa lagi.


"Dasar roh bajingan, kamu apakan Pak Tabrani?" teriak Toyib sangat marah.


Dia dan Basri saling melihat satu dengan yang lain seolah memberi tanda.


"Kita harus bisa menghabisi si tua Said yang bau tanah itu, karena dia adalah ancaman terkuat untuk kita semua," kata Toyib pada Basri.


Mereka berdua menempelkan kedua telapak tangan mereka menyatukan seerat mungkin lalu menyalurkan tenaga dalam mereka.


Wuuusshhh


Sinar berwarna merah sangat terang memancar keluar dari telapak tangan keduanya.


"Hati-hati, Paman. Mereka akan mengeluarkan ilmu andalan mereka, sinar penghancur roh!" kata Anthony dan berusaha untuk melindungi Paman Said, tetapi sangat terlambat!


Di saat yang genting itu, selarik sinar yang juga berwarna kemerahan, menghantam telak di pertengahan pukulan Toyib dan Basri. Sinar itu berasal dari cincin permata merah delima yang ada di jari manis tangan kiri Sena.


Melihat ketiga pemimpin mereka telah tewas mengenaskan, mahluk yang lain hanya menggeram, tapi tak ada yang berani lagi menyerang.


"Bagaimana dengan sisa-sisa dari mahluk ini, Anthony?" tanya Paman Said.


"Apakah akan kita musnahkan juga?" tanya Paman Said.


"Jika tidak kita musnahkan sekarang, nanti di kemudian hari akan menjadi ancaman untuk kita lagi!" kata Anthony.


"Anthony, apakah memang benar seluruh penduduk di sini sudah menjadi bagian dari mereka?" tanya Sena.


"Tidak semuanya, mereka yang mau mengikuti untuk menjadi pengikut sang raja, maka akan diampuni. Tetapi yang menolak, maka akan dijadikan korban berikutnya!" jelas Anthony.


"Apakah kamu tahu di mana mereka disekap sekarang, Anthony?" tanya Sena.


"Aku tahu, tetapi bangsa roh seperti aku tidak bisa masuk ke dalam sana. Sebab jika aku nekad masuk kesana, maka aku akan musnah untuk selamanya," kata Anthony lagi.

__ADS_1


"Jika begitu, biar aku dan Paman Said yang akan masuk kesana. Kalian berjaga saja di sini!" kata Sena.


"Mak, Sifa ikut... Sifa tidak akan membiarkan Mamak dan Embah menghadapi bahaya hanya berdua saja!" kata Sifa tiba-tiba.


"Bagaimana, Paman? Apakah tidak berbahaya Sifa ikut bersama dengan kita ke sana?" tanya Sena meminta pendapat dari pamannya.


"Biarkan saja dia ikut. Sekalian untuk mengasah kemampuan dan keberaniannya, sebab anakmu yang bungsu ini memiliki kelebihan di atas kakak-kakaknya," kata Paman Said.


Akhirnya, Sena mengijinkan Sifa ikut ke sana. Malam itu juga dengan diantar oleh Anthony ke goa tempat penyekapan orang-orang yang masih memiliki iman kepada Allah dan lebih baik memilih mati dari pada menjadi pengikut iblis.


"Aku hanya bisa mengantar kalian sampai di muka pintu goa. Aku akan menunggu kalian di sini. Kalian bertiga masuklah dengan hati-hati, ya!" kata Anthony.


Dengan berbekal obor, ketiganya masuk ke dalam goa itu. Sena berjalan di depan, disusul oleh Sifa, dan di belakang mereka mengikuti Paman Said.


Ternyata, untuk masuk ke sana tidak semudah yang mereka pikirkan. Banyak rintangan yang mengerikan di dalam goa itu.


Baru saja mereka memasuki goa, belum sampai sepuluh meter, mereka sudah dihadang oleh seekor ular kobra berbadan satu, berkepala dua, yang tiba-tiba menyemburkan bisanya kepada Sena. Untungnya, wanita itu telah waspada semenjak menginjakkan kaki di depan mulut goa tadi, sehingga obor yang dipegangnya disabetkan ke arah ular tersebut.


Bau daging terbakar tercium, menggilakan bulu roma mereka bertiga.


Lengkingan suara ular tersebut seolah memekakan telinga dan yang anehnya, ular tersebut bukannya gosong dan berubah jadi ular panggang, tetapi menjadi debu kehitaman dan terbang berhembus ditiup angin.


"Alhamdulillah...!!" kata paman Said dari belakang yang juga tengah memegang sebuah obor.


Kini, giliran Sifa, yang berada di barisan tengah, yang diuji.


Dari atas langit-langit goa, secara diam-diam tanpa suara, meluncur sebuah lidah memanjang berbentuk seperti tali dan meluncur perlahan hendak membelit leher gadis kecil itu.


"Awas, Sifa!!" teriak paman Said dari arah belakangnya.


Sebenarnya, telinga gadis cilik yang memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh anak lain itu, sudah mendengar suara berdesir yang sangat perlahan di atas kepalanya saat embahnya memberi peringatan. Sifa langsung memegang lidah itu dan menyalurkan kekuatan inti dari tubuh kecilnya. Kekuatan hawa dingin yang dia serap dari udara di sekitarnya membuat lidah itu membeku dan kaku seketika.


Terdengar teriakan kesakitan dari langit-langit goa. Ternyata, pemilik lidah panjang itu berbentuk kepala seorang nenek tua berwajah sangat menyeramkan. Dia bergelantungan di langit-langit goa dan teriakannya langsung terhenti saat hawa dingin seperti es itu terus menjalar dan membekukan seluruh kepala dan tubuhnya yang bergelantungan.


*


*


***Bersambung....

__ADS_1


Mampukah mereka bertiga menyelamatkan sisa penduduk yang masih ada?


Mohon dukungannya, ya, reader tercinta, dan ikuti terus lanjutan kisahnya.🙏🙏


__ADS_2