Mencintaimu Sekali Lagi

Mencintaimu Sekali Lagi
Bab 87 Terkena Serangan


__ADS_3

Sifa memperhatikan sekali lagi wajah paman kakeknya itu kali ini dengan lebih teliti.


"Kak? Kakek sepertinya tidak bernapas?" Desis Sifa cepat.


Saat Dina mendorong pelan dada paman Said, orang tua itu roboh ke lantai dengan posisi tubuh tertekuk seperti masih dalam kondisi sedang duduk.


"Kakek??" Teriak keduanya.


Dini mencoba tenang. Dia memeriksa denyut nadi di leher kakeknya.


"Kakek masih bernapas Sifa, hanya saja denyutnya sangat lemah!" Bisik Dini pada Sifa.


Sambil membaringkan tubuh kakeknya di lantai, Sifa menelusuri pandangan matanya keseluruh titik-titik syaraf di sekujur tubuh paman Said.


"Apa ini?" Lirih Sifa saat melihat benda sangat kecil seperti sebuah jarum tertusuk di bawah ketiak paman Said.


"Kak? Pantas kakek kesulitan bergerak, benda itu yang menyumbat aliran darah kalek!" Bisik Sifa pada Dini.


Dini juga ikut memperhatikan dengan seksama.


"Apa kita bisa mengeluarkan benda itu, Sifa? Jika tidak segera dikeluarkan maka nyawa kakek bisa berbahaya, jantungnya bisa berhenti karena aliran darahnya juga mulai tersumbat!" Ucap Dini lirih.


Sifa kembali meneliti dengan seksama.

__ADS_1


"Bisa, tapi sedikit beresiko! Tapi tak ada jalan lain lagi, kita tidak mungkin menunggu mamak pulang, kita harus berusaha terlebih dahulu!" Ucap Sifa.


"Coba kamu panggil Juan untuk mengawasi keadaan, kakak yakin ini ada hubungannya dengan nenek palsu itu!" Bisik Dini.


Tanpa dikomando lagi Sifa bergegas pergi kekamar Juan.


"Astaghfirullah, kamu bikin aku kaget saja!" Pekik Juan tetapi segera ditutup mulutnya oleh Sifa agar tidak terdengar hingga keluar kamar.


"Ada apa?" Bisik Juan pelan.


"Kakak keluar dulu, awasi keadaan sebab aku dan kak Dini akan berusaha untuk menolong kakek!" Bisik Sifa.


"Apa yang terjadi, kakek Said kenapa?" Balas Juan sambil berbisik.


"Kakak awasi nenek itu, karena aku dan kak Dini beranggapan bahwa ini semua ada hubungannya dengan si nenek palsu." Terang Sifa.


Mereka keluar kamar tanpa menimbulkan suara sementara di dalam kamar.


"Mampuslah kamu si tua Said, cepatlah kamu menghadap malaikat maut!" Ujar Aminah terkekeh senang.


"Kamu adalah ancaman terbesar di rumah ini, jika kamu sudah mampus maka tak ada yang bisa menghalangi aku lagi untuk menguasai kekuatan keempat anak beranak itu!" Kekeh Aminah.


Hoamhmmm...

__ADS_1


Tampak Aminah menguap berkali-kali.


"Ish, mengantuk sekali aku malam ini? Rasanya tubuhku ini lelah sekali, mungkin ketiga anak brengsek itu sudah tertidur pulas karena tak ada lagi kudengar suara mereka, dan juga orang itu sudah pulang! Pulang ke Rahmatullah, hihihi....!" Aminah tertawa geli disela rasa kantuk yang menyerangnya.


"Tidur dulu ah...!!" Lalu Aminah membaringkan tubuhnya di atas kasur lipatnya dan langsung pulas tertidur.


"Dasar orang bodoh, katanya berilmu tinggi tapi menghadapi sirep seperti itu saja sudah jatuh pulas tertidur!" Cibir Juan.


Memang Juan lah yang meniupkan mantra sirep untuk Aminah tanpa wanita itu sadari karena dia terlalu menganggap remeh ketiga remaja itu.


Sementara itu Dini dan Sifa tengah berupaya mengeluarkan jarum yang menyusup masuk kedalam sistem syaraf yang ada di ketiak paman Said.


Keduanya sampai mengeluarkan keringat dingin, karena salah sedikit saja maka jarum itu akan melesak semakin jauh dan tidak bisa diambil kembali.


*


*


***Bersambung...


Berhasilkah kedua remaja itu menolong kakeknya?


Mohon dukungannya selalu untuk karya author receh ini ya reader🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2