
"sus perut istri saya sakit.” Kata dimas pada perawat itu.
“Saya siapkan obat pereda rasa sakitnya ya bu, bu dira coba tarik nafas dalam dan jangan panic ya, ini wajar kok saat obat biusnya sudah mulai hilang.” Ucap perawat itu sambil menyiapkan obat suntik yang sudah di resepkan oleh dokter niken.
***
Pagi hari rama bersiap menuju bandara untuk segera terbang ke kota Bandar. Dia sudah berada didalam mobil bersama ben dan rohan supir pribadi rama.
Dia mengambil Hp yang sedari malam belum ia lihat. Ada beberapa notifikasi pesan dan salah satunya dari niken. Rama membuka beberapa pesan tentang pekerjaan dan membuka surel yang masuk berisi tentang pekerjaan juga tapi tidak membuka pesan dari niken.
Setelah membaca surel yang berisi tentang perusahaan yang akan rama pegang nanti, rama menutup hapenya.
“kapan aku mulai kekantor ben?”
“minggu depan tuan, tuan besar meminta anda mempelajari semua hal tentang perusahaan dulu supaya anda memahami situasi perusahaan.”
Rama mengangguk mengerti.
Lalu membuka Hpnya kembali membuka pesan dari niken.
“dira sudah melahirkan” rama membaca pesan itu dengan mata melebar.
“apa yang terjadi denganmu dira? Bukannya kamu akan melahirkan enam sampai delapan minggu lagi?”
Sejak faisal memberitahunya bahwa yang dikandung dira adalah anaknya. Rama beberapa kali menghubungi niken untuk menanyakan kehamilan dira termasuk taksiran kelahiran anak yang dikandungnya.
Ada seburat kebahagiaan dan juga kegelisahan disana. Rama takut terjadi sesuatu yang membahayakan dira dan anaknya tapi dia juga bahagia bahwa anaknya sudah lahir. Rama membayangkan betapa bahagianya dia jika dira dan anaknya bisa bersama.lalu rama memejamkan matanya dengan wajah datar lalu mengehembuskan nafasnya kasar.
“aku akan membawamu dan anak kita pulang” ujar rama dalam hati.
“ben, sampai di bandara kita langsung ke rumah sakit emanual saja, dira sudah melahirkan”
“baik tuan. Apakah tuan akan membeli bunga dulu tuan?”
“ahh..aku hampir melupakannya. Kita beli bunga dulu. Aku akan berterima kasih dengan dira sudah mengandung anakku dengan baik.”
__ADS_1
“tapi tuan, bukannya kehamilan non dira belum ada Sembilan bulan ya?”
“iya, aku juga memikirkan itu. nanti akan ku tanyakan pada niken apa yang terjadi dengan dira”
Tidak lama rama sudah sampai di bandara lalu masuk kedalam jet pribadi yang sudah menunggunya. Jet itu segera terbang menuju kota Bandar.
Dua puluh lima menit kemudian, jet pribadi rama mendarat di bandara raden. Rama turun dengan ben lalu menaiki sedan hitam yang sudah menunggunya disana.
Saat melihat took bunga ben akan turun untuk membelikan bunga untuk rama tapi rama mengentikan ben.
“aku saja yang beli ben” baik tuan muda.
Ben turun dan membuka pintu belakang untuk Rama. Rama keluar menuju toko bunga. Ben menunggu rama diluar pintu took yang tidak tertutup. Rama membeli seikat bunga mawar putih yang dirangkai cantik. “Aku mencintaimu dengan tulus, bunga ini menandakan rasa cintaku yang suci, ku harap kamu segera mengingatku dira” batin rama.
Tanpa rama sadari kalau dira memang sudah mengingatnya. Mengingat semua kenangan tentang mereka.
Rama masuk kedalam mobil, disusul ben. Mobil segera melaju ke rumah sakit tempat dira dirawat.
Butuh waktu hampir satu jam untuk sampai di rumah sakit itu, rama segera turun masuk kedalam rumah sakit. Ben menanyakan ke bagian resepsionis untuk menanyakan ruangan dira.
“bu anindira ada di ruang VIP V lantai tiga pak” ucap resepsionis kepada ben.
“terimakasih mbak” ben segera memberitahukan kepada rama. Rama dan ben berjalan kembali menuju lift menekan tombol lantai dimana dira tinggal.
Keluar dari lift, rama bisa melihat ruangan VIP tepat didepan koridor dari tempat ia berdiri. Ben berjalan mendahului rama mencari kamar dira.
Ben kembali berjalan disamping rama saat sudah mengetahui ruangan VIP V tidak jauh dari mereka.
Ben mengetuk pintu di depan kamar itu. Saat itu memang sedang jam kunjung pasien. Walaupun bukan jam kunjungpun, rama tetap bisa masuk mengingat ayahnya juga punya saham di rumah sakit ini.
Dimas dan orang tua dira yang berada didalam kamar sedikit merasa heran siapa yang berkunjung menjenguk dira. Mengingat belum ada yang mengetahui bahwa dira sudah melahirkan. Rosi, della dan adik dimas juga akan ke rumah sakit malam nanti karena mereka sedang sekolah dan della menunggu rosi dirumah.
“ibu saja yang buka pintu” kata bu nisa pada dimas yang terlihat akan berdiri.
Bu nisa berjalan kearah pintu lalu membukanya. Betapa terkejutnya melihat rama ada di depan pintu. Rama begitu terlihat berbeda dari saat dia menemui mereka. Menggunakan setelan berwarna coklat muda, rama sangat terlihat tampan. Bu nisa hampir tidak mengenali rama.
__ADS_1
“nak rama?” ucap bu nisa lirih sambil menatap ke arh rama.
“siang tante, iya ini saya”.
“ahh benar, silahkan masuk”.
Rama segera masuk kedalam. Saat rama masuk, dira sedang memejamkan matanya, rasa sakit pasca operasi begitu menguras tenaganya sehingga saat obat penghilang rasa sakit bekerja dira bisa tidur walaupun tidak nyenyak.
“Siang om” ucap rama sambil tersenyum menyapa pak jaya.
Pak Jaya menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya. Bu nisa yang berada dibelakang rama menatap cemas kearah suaminya.
Pak jaya berdiri dari duduknya menghampiri istrinya lalu menggenggam erat tangan istrinya. Pak jaya menyadari bahwa istrinya pasti cemas.
rama menghampiri ranjang dimana dira berbaring. Diusapnya tangan dira dengan lembut. “terima kasih sayang, sudah mengandung dan melahirkan anak kita”.
Dimas yang mendengar ucapan rama mengepalkan tangannya.
Dira membuka matanya perlahan saat merasakan sentuhan ditangannya yang tidak terpasang infuse. Sentuhan yang berbeda dari suaminya.
Dira melebarkan matanya saat melihat rama berdiri disampingnya. Air mata menggenangi matanya yang sayu sampai mengalir deras.
Ben mengambilkan kursi untuk ramayang ada diruang itu, rama lalu duduk disamping dira sambil menggenggam tangannya.
“jangan nangis sayang, kau terlihat cantik jika tersenyum. Aku tidak suka melihatmu menangis.”
Dira menangis semakin keras sampai terisak – isak. Rasa sakit pasca operasi teralihkan dengan rasa sakit dihatinya. Begitu sakit sampai menangispun tidak bisa membuat dira lega.
Rama membelai rambut dira, mengusap pipinya dan membersihkan air mata dira dengan tangannya.
Dira menggenggam erat tangan rama, kesedihan begitu ia rasakan.
“aku bertemu kembali denganmu dengan cinta yang sudah terbagi, dengan tubuhku yang sudah menjadi milik orang lain, dengan hati yang sudah berpaling. Tapi saat ini, aku kembali mengingatmu, kembali mencintaimu dengan cinta yang sama dengannya. Aku menjadi milik orang lain tapi melahirkan buah cinta kita. Apa yang harus aku lakukan.” Batin dira membuat tangisnya semakin jadi.
Pak jaya menghampiri dira menepuk bahunya. “Tenangkan dirimu dira. Semua ada jalan yang terbaik.”ucap pak jaya.
__ADS_1
Tidak ada yang tau bahwa dira sudah mengingat semuanya. Dira menahannya sendiri. Selain karena rasa sakit operasi SC yang masih sangat menyiksanya, dira juga ragu memberitahukan keadaannya pada dimas dan orang tuannya.