
jam tujuh malam, rama sudah menunggu kedatangan dimas di coffe daniel, rama mencari tempat duduk yabg sepi supaya perbincangan mereka tidak diganggu.
coffe daniel di kota bandar cukup luas sehingga tidak ramai sesak dan sangat nyaman untuk membicarakan hal-hal yang butuh ketenangan.
tidak lama dimas juga sudah sampai di tempat tujuan, dan menelfon rama. seorang laki mengangkat sambungan telfonya dan melambaikan tangan.
dimas berjalan kearahnya. "Anda rama? "
"iya pak dimas, saya rama" lalu mereka saling mengulurkan tangan berjabatan.
rama bisa segera tahua bahwa pria itu adalah dimas. dia dia yakin, yang mencarinya disini tidak ada orang lain lagi kecuali dimas.
dimas memesan capuccino hangat sebelum obrolan mereka mulai.
"apa anda mengenal istri saya pak rama?" dimas langsung ke pertanyaan dan tidak bertele-tele.
"ya, saya sangat mengenal istri anda, bagaimana anda bisa menikah dengan dira?"
"ada hubungan apa anda dengan istri saya?, sepertinya jakarta makasar tidaklah dekat."
" saya satu kantor dengan dira saat di jakarta, beberapa bulan lalu saya pindah tugas ke cabang makasar, baru beberapa bulan saya pindah tidak disangka saya bertemu dira lagi dia sudah hamil. apa anda menghamilinya dulu baru menikahinya? setau saya dira bukan wanita yang mudah dekat dengan laki-laki" rama berbicara tegas sambil mengambil minumanya, lalu meminumnya perlahan.
dimas mengepalkan tanganya. "dira bukan wanita yang bisa dihamili sembarangan, jaga omongan anda"
rama ingat pengalaman pertama rama dan dira, memang ramalah yang mengambil keperawanan dira.
berpacaran selama satu tahun, rama jarang sekali berciuman panas dengan dira. hanya cium singkat, pipi dan dahi.
dira sangat pintar menahan diri membuat rama semakin mencintai dira.
"iya, saya sangat mengerti. dira adalah wanita baik-baik. anda tau pak dimas? saya adalah kekasih dira saat dijakarta dulu, bahkan saya berniat melamar dira bulan ini? rasanya terkejut sekali saya kehilangan dira beberapa hari setelah saya pindah tugas, dan bertemu lagi ternyata dira sudah hamil besar"
dimas mengepalkan tangannya "dasar ********, kamulah yang membuat dira seperti ini" batin dimas.
"lalu apa tujuan anda datang kesni dan menemui dira?" dimas tidak mungkin menceritakan bagaiman mereka menikah, dimas tidak rela jika harus melepaskan dira untuk pria didepanya.
"aku mencari dira selama enam bulan ini, tapi baru tau beberapa minggu belakangan. aku kesini tentu saja mencari tau kenapa dira meninggalkanku begitu saja. hubungan kami juga sedang baik-baik saja. sungguh tidak masuk akal jika tiba-tiba dira menikah dengan laki-laki lain"
“aku menikahi dira karena memang karena alasan tertentu. Tapi aku mencintai dira sudah sangat lama, mungkin dari sebelum kalian saling kenal”
"alasan tertentu apa yang membuat kamu menikahinya?" tanya Rama
“kenapa dira tidak mengenaliku tadi? Apa kamu mencuci otaknya?”
“tutup mulutmu!” dimas mengepalkan tanganya menahan marah. “dira mengalami kecelakaan dan hilang ingatan”
__ADS_1
“kamu mengembil kesempatan saat dira hilang ingatan!! Gila kamu ya dimas!!!” rama menaikkan nada suaranya.
“bukan seperti itu, keadaanya sulit untuk aku jelaskan” dimas tidak menjelaskan kalau dira saat itu sedang hamil walaupun dimas curiga bahwa laki-laki inilah yang membuat dira seperti itu, tapi dimas takut ada hal lain dan membuat dira terlihat lebih buruk.
“saat ini yang paling penting adalah kesembuhan dira dulu. Biarkan dia menjalani hidup seperti yang lainya, menunggu ingatanya kembali dan dira bisa hidup bahagia. Jangan coba dekati dira. Karna sekarang aku suaminya. Aku harap kamu bisa sedikit membantu dira.”
“apa yang bisa aku lakukan kalau aku tidak boleh mendekatinya.”
Dimas terdiam memikirkan hal apa yang bisa dilakukan.
“apa kamu tau teman dekat atau sahabat dira? Dira mungkin akan lebih membutuhkan itu”
“ah iya, dia sedang melanjutkan study ke luar negri satu tahun ini, aku belum mengenalnya lama, tapi aku punya nomer yang bisa dihubungi.” Rama menuliskan nomor dan nama wanita itu.
"baik terimakasih." dimas mengambil kertas yang berisi nomer seorang perempuan lalu menyimpan dalam kantung kemejanya.
beberapa saat kemudian, Hp dimas berbunyi. tertera nama dira dilayar.
SITUASI DIRA.
Dirumah, dira sedang merebahkan badanya ditempat tidur, memandang langit-langit kamarnya sambil mencoba mengingat laki-laki yang bernama rama.
"aku merasakan kedekatan dengan laki-laki tadi, tapi siapa dia?" batin dira.
dira terus melamun dan tidak fokus mengerjakan sesuatu sampai dia terpeleset saat sedang didapur, lantai dapur basah saat dira tidak sengaja menumpahkan air minum yang dituangnya.
dira menjerit kesakitan, meraih telfon dimeja makan didekatnya lalu menelfon dimas.
"kak, pulang ya! aku jatuh di dapur, perutku sakit" dirameletakkan telfonya kembali dan berjalan perlahan ke sofa dengan menahan sakit.
Di coffe daniel, dimas segera pergi tanpa pamit dan langsung melaju kencang ke arah rumah.
coffe daniel dan rumah dimas tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu sepuluh menitan saja.
saat dimas sampai rumah, dira sedang berbaring di sofa, dan dimas segera membawa dira ke IGD rumah sakit emanuel.
sampai di ugd ada dokter umum yang menjaga dan dokter niken ternyata sedang duduk di IGD dan sedang ada pasien hamil yang baru saja dia periksa.
"ada apa pak dimas?" dr. niken lanhsung menghampiri dira yang baru berbaring di tempat tidur.
"dira terpeleset di dapur dok".
dokter niken segera memeriksa perut dira. "masih sakit mbak? "
"sedikit dok"
__ADS_1
"kita bawa keruang usg disebelah ya pak dimas."
"iya" dimas mengangguk.
brankar dira dibawa ke ruangan sebelah, terdapat alat ultrasonografi disana.
"alhamdulillah tidak ada yang menghawatirkan mb dira, kandungan mbak bagus. tadi bisa jadi kontraksi karena benturan badan mb, lain kali lebih hati-hati lagi ya, beberapa hari kedepan kalau merasakan sesuatu yang tidak normal kontrol ya"
"iya dok" diraenjawab singkat.
setelah selesai diperiksa dan menyelesaikan administrasi, dira dan dimas pulang.
dimas menuntun dira untuk turun dari mobil. dan membantu dira tidur dikamarnya.
"aku tidur disini ya, takut kalau malam kamu kenapa-napa, aku nanti tidur dibawah."
"iya kak"
dimas membawakan susu hangat dan vitamin yang biasa dira minum. setelah itu dira tidur dikasur dan dimas tidur dibawah.
dira memandangi dimas yang sedang memejamkan mata. laki-laki yang selalu menjaganya selama ini. begitu baik, perhatian dan sangat melindunginya.
"kak, jangan tidur disitu" dira tau dimas belum tidur.
"kamu gak nyaman ya ada aku disini? "
"bukan begitu, kakak tidur di atas aja sama dira"
dari awal perkawinan dira memang sudah merasakan sedikit debaran-debaran saat dimas melakukan hal-hal manis padanya.
semakin kesini dimas semakin menunjukkan ketulusan dan kasih sayangnya membuat dira mulai mencintai dimas.
dimas tersenyum lembut lalu naik ke tempat tidur dan tidur disamping dira.
Dira tidur menyamping membelakangi dimas. dimas menatap punggung wanita yang dicintainya, lalu ikut tertidur.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.