Mencintaimu Sekali Lagi

Mencintaimu Sekali Lagi
Bab 40 Dijebak


__ADS_3

Mereka berlima berlari menjauhi gudang tua tersebut.


"Kita ini ada di mana, paman??" kata Sena.


"Sepertinya kita berada cukup jauh dari rumah pak RT." Kata paman Said.


"Sebentar lagi kita sampai rumah, sebaiknya kalian bertiga jangan balik dulu kerumah pak RT terlalu besar bahayanya!!" kata paman Said.


"Buka....buka!!" ujar mereka yang ada di dalam gudang.


"Lho itu kan Toyib?? kok jadi mereka bertiga yang terikat sih??" kata ketiga orang yang baru masuk tadi.


***Flashback on***


"Bi, kenapa sudah lewat maghrib begini tapi Piere, pak RT dan istrinya belum juga kembali ke rumah?? Omi takut!!" kata Naomi.


Stella dan Bian yang beru saja selesai melaksanakan sholat maghrib juga melirik kearah jam di dinding.


"Iya, ya??? kemana mereka bertiga perginya?? seolah-olah kita mau dilepas sendiri di desa angker seperti ini!" kata Stella.


"Pacar kamu itu, Mi!! semua berawal dari dia yang merekomendasikan desa tertinggal dan terpencil ini supaya kita KKN di sini sudah tertinggal, terpencil, berhantu pula!!" kata Stella.


"Aku mau makan!! aku lapar!!" kata Bian menyela ucapan Stella agar tidak berlarut-larut.


Saat ketiganya sibuk menyiapkan makan malam mumpung lampu listrik masih menyala, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan.


"Barangkali itu Piere dan pak RT!!" kata Naomi lalu berlari keruang depan untuk membukakan pintu sementara Bian dan Stella sibuk mengolah makan malam mereka.


"Kok sudah lima menitan Naomi nggak kembali ke dapur sih?? bilangnya mau bantuin kita!!" kata Bian.


"Gitu deh kalau sudah ketemu pacarnya, lupa sama teman!!" kata Stella.


"Sebentar kupanggil dulu ya!!" kata Stella.


Stella berlalu keruang tamu.


"Kok sepi?? pada kemanaan mereka sih?? ini pintu luar dibiarkan saja terbuka begini??" kata Stella menuju pintu luar.


"Sepi!! pada kemana coba mereka??" gumam Stella.


Buk....


Stella merasakan seseorang telah memukul tengkuk lehernya dengan lumayan keras.


Seketika Stella roboh ketanah dan diseret oleh seseorang keluar halaman dan dikumpulkan dengan Naomi yang telah lebih dahulu pingsan.


"Ini si Stella juga kok lama banget sih keluarnya??" gerutu Bian.


Makanan sudah ditata Bian di meja makan, lalu dia keluar untuk memanggil teman-temannya.


"Sepi...pada kemanaan mereka??" gumam Bian.

__ADS_1


Buk...


Bian pun tak luput dari pukulan benda tumpul di leher belakangnya.


Ha...ha...ha...ha


"Makanya jangan sembarangan membukakan pintu untuk tamu tak dikenal, bersiaplah kalian untuk menjadi tumbal persembahan berikutnya, kami tak akan pernah membiarkan orang asing keluar hidup-hidup dari desa kami!!" kata orang itu sambil tertawa mengekeh.


"Di mana aku??" rintih Naomi sambil merasakan sakit di kepalanya.


"Kamu sudah sadar, Omi??" tanya Stella dan Bian berbarengan.


"Kalian lagi apa juga di sini??" kata Naomi masih bingung.


"Kita semua yang ada di sini sama, sama-sama disandera dan diikat kaki dan tangan kita!!" kata Bian.


"Sepertinya kita ada di sebuah gudang tua yang tak lagi terpakai!!" kata Stella.


"Gelap sekali tempat ini, hanya cahaya bulan dari celah-celah pintu yang memberikan sedikit penerangan." Kata Bian.


Sedang mereka bertiga memutar otak supaya bisa keluar dari tempat itu, tiba-tiba pintu gudang terbuka dan di lemparkan dua sosok tubuh kedekat mereka bertiga yaitu sosok Sena dan paman Said.


Dan bagaimana juga Sena dan paman Said sampai bisa ikut tertangkap??


Sambil menunggu makan malam, Sena mengobrol dengan paman, bibi dan ketiga anaknya, tiba-tiba dering panggilan telepon masuk dari Bian berbunyi.


Bian mengatakan pada Sena bahwa Naomi kesurupan lagi dan meminta tolong pada paman Said dan Sena untuk datang karena dia dan Stella kewalahan memegang Naomi sementara Piere, pak RT dan istrinya belum juga kembali dari kota.


Tanpa curiga sedikitpun keduanya masuk ke dalam rumah tetapi sepi tak ada siapapun di sana dan tiba-tiba kepala belakang mereka seperti dipukul oleh seseorang lalu mereka berdua jatuh pingsan dan dibawa juga menyusul Bian, Stella dan Naomi kegudang tua.


Dan apa kabar dengan Anthony?? mengapa dia sampai tak tau jika Sena ada dalam bahaya??


Saat Sena meminta Anthony untuk mengecek keadaan sekitar, Anthony mengikuti sesuatu yang mencurigakan sampai masuk kedalam hutan pinus. Dan ternyata itu adalah jebakan untuk menjauhkan Anthony dari kekasihnya dan paman Said.


Setengah mati hantu tampan itu mencari jalan keluar dari hutan tersebut tetapi hutan larangan itu seolah mengurung dia di dalamnya.


Seluruh kekuatannya seolah mental saat dia mencoba menyerang tabir gaib di hutan itu.


Anthony hampir putus asa saat tiba-tiba rohnya tersedot tertarik keluar dengan cepat pertanda ada seseorang yang mengusap cincin permata merah delima itu dan memanggil namanya.


Sifa yang saat itu merasakan firasat yang tak enak mencoba memanggil Anthony sehingga menyelamatkan hantu tampan itu dari kungkungan tabir misterius yang mengurungnya.


"Om Anthony?? mamak sama embah Said di mana??" tanya Sifa.


"Itu sudah...kami terpisah di rumah pak RT, om mengejar sesuatu yang mencurigakan sampai ke hutan pinus...Mamak dan paman Said lalu tiba-tiba menghilang bersama yang lainnya." Kata Anthony.


***Flashback off***


Mereka berlima pulang kerumah paman Said bersama-sama.


"Assalamualaikum!!" kata paman Said.

__ADS_1


"Waalaikum Salam!!" kata bibi menjawab salam suaminya.


"Kenapa lama sekali pulangnya, pak??" tanya istrinya.


"Nanti aja bicaranya bu, di dalam saja...ayo masuk!!" ajak paman Said pada ketiganya.


Bibinya Sena membuatkan teh hangat juga menyajikan ubi rebus hangat untuk mereka semua.


"Kami takut kembali kerumah pak RT lagi, paman!!" kata Stella.


"Ya sudah kalian bertiga tinggal saja di sini!!" kata paman Said.


"Oh iya, tadi kita itu mau membahas soal Toyib!!" kata paman Said.


"Ada apa dengan Toyib, pak??" tanya istrinya.


"Ternyata Toyib adalah salah satu biang keresahan di desa Pinus ini!!" kata paman Said.


"Maksud bapak bagaimana??" tanya istrinya.


"Embah, selama ini om Toyib pura-pura sedih, menangis dan frustasi saat kehilangan om Hasan, padahal itu semua hanyalah sebuah sandiwara untuk menutupi kejahatannya!!" kata Sifa.


"Ternyata om Hasan meninggal karena dijadikan korban persembahan bagi junjungan mereka." Kata Sifa lagi.


"Dan hebatnya, Sifa sama sekali tidak bisa membaca pikiran om Toyib, pantas dia selalu menolak berinteraksi langsung dan tak mau bersentuhan dengan Sifa rupanya dia tau Sifa memiliki kemampuan untuk menguak masa lalu dan masa depan seseorang!!" kata Sifa lagi.


"Kasihan Hasan, mungkin saat dia menampakan diri pada kita saat itu untuk memberi peringatan pada kita agar waspada pada Toyib!!" kata bibi Sena.


"Keterlaluan Toyib, dia rela menggadaikan persahabatannya yang sudah terjalin mulai kecil dengan Hasan dan Basri hanya demi harta, kekuasaan dan keabadian." Kata paman Said.


Tiba-tiba...


Bruk....


Dinding rumah yang terbuat dari kayu seperti dilempar batu oleh seseorang dari luar halaman.


"Apa itu??" tanya mereka semua kaget.


Anthony yang juga sedang berada di situ bersama keluarga Sena berinisiatif keluar dengan menembus dinding rumah.


Bluk...pletak...


"Wadaw...!!" jerit Anthony.


"Kenapa batu yang dilempar itu bisa mengenaiku dan menyakiti aku??" tanya Anthony sambil memegang dahinya yang benjut.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya reader dan ikuti terus kisah mereka di episode selanjutnya.🙏🙏


__ADS_2