
Waktu sudah menjelang malam, Kessy berpamitan untuk kembali ke rumahnya. Hari ini, mungkin hanya Andryani yang peduli akan kehadirannya dan menemaninya. Meskipun sebenarnya Kessy sering tidak nyambung jika mengobrol pada wanita yang sudah memiliki cucu itu.
Ia merasa Obrolan mereka hanya mengarah pada tahun sembilan puluhan, hal itu membosankan menurutnya. Namun mau bagaimana lagi, karena lagi-lagi tujuan utamanya lah yang membuatnya harus tetap betah. Ralat, pura-pura betah lebih tepatnya.
"Jika sudah menjadi mertuaku, jangan sampai membicarakan hal seperti ini, tidak penting! Bisa-bisa hidup aku basi seperti nasi," Kessy hanya bisa mengumpat dalam hati.
"Hati-hati ya Kessy, salam untuk Mamanya,"
"Okay Tant, salam juga buat Byan,"
Setelah mengucapkan itu, Kessy pun pergi dari lingkungan rumah besar milik keluarga Malik yang tersohor itu. Tak lama kemudian, Byan yang sudah berpenampilan rapi dan wangi keluar dari kamarnya. Malam ini ia berencana pergi kesuatu tempat untuk menghadiri acara ulang tahun pernikahan temannya.
"Byan, mau kemana? Kessy baru saja pulang," Melihat penampilan rapi Byan, Andryani pun tak hilangkan kesempatan ini untuk bertanya.
Pasalnya sejak tadi Byan tak kunjung keluar kamar, sekarang ketika Kessy sudah pergi Byan malah keluar.
"Adryan dan Ratih merayakan pesta ulang tahun pernikahan, Umi," jawab Byan.
"Oh, Umi fikir kamu akan mengantar Kessy pulang," Andryani tersenyum, dugaannya kali ini ternyata salah.
"Tidak penting, Umi,"
"Byan, jangan seperti itu! Kessy orangnya baik, berpendidikan, pintar, dan cantik cobalah untuk membuka hatimu,"
"Umi, jangan pernah memperkenalkan Byan dengan wanita lagi, karena itu percuma, hanya membuang tenaga saja!"
Byan segera menyalami Andryani, ia pun pergi keluar rumah mengendarai salah satu mobilnya yang berwarna hitam metalic.
Andryani hanya bisa menghela nafas panjang, ia tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi sikap Byan yang sejak lima tahun ini tak pernah dekat dengan wanita lagi. Ia semakin khawatir pada keadaan putra semata wayangnya itu.
Meski bisa mengurus dirinya sendiri, setelah menjadi duda lima tahun ini tetap saja Andryani berfikir jika Byan butuh ditemani seorang wanita.
Dan tentunya ia tak ingin jika Byan salah jalan. Seperti banyak kejadian dizaman modern ini. Banyak anak teman-temannya yang sering menghabiskan waktu dengan wanita malam, jika mengingat itu akan terjadi pada putranya Andryani semakin merasa khawatir.
Segera ia tepiskan prasangka buruknya itu, yang harus ia fikirkan saat ini adalah kembali mendekatkan Byan pada Kessy.
Di tempat yang berbeda, di tengah ramainya pesta yang digelar disebuah halaman rumah karena kali ini Adryan dan Ratih menggelar pesta out door.
Sesampainya Byan disana, ia segera menemui sepasang Suami Istri yang tengah berbahagia di sana.
"Selamat untuk kalian berdua,"
"Byan, terimakasih ..." Ucap Adryan, sementara Ratih hanya menyimpulkan senyumannya.
"Jadi, apa harapanmu kedepannya, dry?" Tanya Byan.
"Nambah anak!" Adryan terkikik, sementara Ratih memukul lengan Adryan karena malu.
__ADS_1
"Lalu? Rencanamu apa kawan? Kapan kamu akan menikah lagi?"
"Entahlah, aku belum berfikir kearah sana,"
"Awas loh, nanti burungmu tidak bisa bangun kembali jika lama-lama didiamkan!"
Byan tak menanggapi dengan perkataan apapun, ia hanya menggelengkan kepalanya heran. Ya memang begitulah watak Adryan, ia terkenal dengan kata-katanya yang bar-bar!
"Eh, di sana ada temanku, Aku tinggal dulu ya Byan," Ratih mengarah kesuatu tempat, karena telah melihat temannya datang.
Sementara Byan dan Adryan menatap Ratih yang menghampiri temannya.
"Hey, Ratih, selamat ya ..." Asmara datang memeluk tubuh Ratih.
"Terimakasih sudah datang, Mara," Ratih tersipu bahagia, ia tidak menyangka Mara akan datang.
"Pasti aku datang, ini untuk kamu," Mara memberikan bingkisan bersampul silver, dengan hiasan pita merah kepada Ratih.
"Tidak perlu repot-repot, kamu hadir saja aku sudah bersyukur. Habisnya kamu selalu sibuk,"
Melihat dari jarak sedikit jauh, dapat terlihat jelas siapa wanita yang tengah bersama dengan Ratih. Karena diusianya saat ini mata Byan belum minus. Byan tak lagi mengedipkan matanya, ia benar-benar terkesima pada penampilan Mara kali ini.
Gaun malam berwarna pastel sebatas lutut, dengan rambut yang digelung ke atas, menampilkan leher jenjang putih miliknya semakin membuat Mara mempesona.
Penampilan Mara benar-benar berbeda, tak seperti dulu lagi. Asmara yang dikenalnya dulu benar-benar sudah berubah.
"Heh! Jangan dilihat saja! Coba saja kamu dekati, masih Single," Adryan yang melihat Byan terkesima menatap Mara tanpa kedip pun membuyarkan lamunannya.
Karena saat menikah dengan Mara lima tahun yang lalu dilakukan secara tertutup. Ditambah lagi pernikahan mereka hanya bertahan enam bulan, membuat semua teman-teman byan tak mengetahui hubungannya dengan Mara.
"Byan, kabarnya dia seorang janda! Serasi denganmu yang seorang duda,"
"Hmm ..." Byan meneguk minuman ditangannya, tak mampu ia berkata banyak perihal Mara pada Adryan. Senjatanya hanyalah bungkam, karena sekali saja ia berucap maka akan terpancing.
"Eh, jangan menyepelekan! Kabarnya dia juga janda Virgin, alias belum pernah tersentuh!"
"Bukan urusanku!" Sebenarnya byan ngilu mendengar ucapan Adryan, tapi ia harus tetap menjaga wibawanya di depan teman konyolnya itu.
Rasanya ia menyesal datang ke acara pesta ini, jika hanya mendapat sebuah gangguan dari Adryan.
"Apa kamu tidak percaya?? Aku jadi penasaran, suami mana yang tidak mau menyentuh istrinya? Apalagi secantik Asmara!"
Sontak perkataan Adryan membuat Byan terbatuk-batuk. Kemudian ia pun segera meneguk minuman yang ada ditangannya.
"Kamu tidak apa-apa, Byan?"
"Aku tak apa!"
__ADS_1
"Ratih!!!! Cepat kemari bawa Mara!" Teriakan Adryan dapat terdengar jelas oleh Istrinya. Kemudian ia pun segera membawa Mara menemui Adryan dan Byan.
Mara pun menerima ajakan Ratih, karena ia juga belum bertemu dengan Adryan. Tapi Mara tidak dapat melihat wajah pria yang bersama Adryan, karena posisinya saat ini membelakangi mereka.
Saat Byan tahu jika Adryan memanggil Mara, ia pun memilih diam. Karena jika ia pergi maka Adryan mungkin akan curiga.
Namun, saat ini perasaannya menjadi tak karuan. Hati dan jantungnya seperti sedang berperang, entah perasaan macam apa ini menurutnya.
Ia terus menyembunyikan wajahnya membelakangi posisi Mara dan Ratih.
"Hai mara," Sapa Adryan. Ia pun berusaha mengenalkan Byan pada Mara.
"Hai dry, selamat ya semoga pernikahan kalian langgeng ..." Mara mengulur tangan kehadapan Adryan.
Adryan pun menerima uluran tangan dari Mara. "Mara, kenaikan ini temanku," Adryan menepuk pundak Byan, hal itu membuatnya menoleh kearah Mara.
Mata keduanya bertemu, Mara maupun Byan terdiam sesaat. Mara tak tahu harus berkata apa, Byan pun sama halnya begitu. Tapi Byan tak ingin temannya curiga, ia pun memikirkan suatu cara yang bisa menyelamatkannya dalam situasi yang kini menjebaknya.
"Byan ..." Tiba-tiba Byan mengulurkan tangannya berharap Mara akan menerimanya.
"Apa ini? Apa dia Amnesia? Apakah dia benar-benar tak menegenalku?" Mara terdiam sesaat, ia hanya bisa bergumam dalam hati ketika Byan mengajaknya bersalaman.
Mara jadi berfikir, setelah sempat beberapa kali bertemu Byan kemarin dan sikap Byan seolah tak mengenal dirinya, mungkin benar jika Byan menderita Amnesia.
"Hey! Mara, jangan menatap Byan seperti itu, jika kamu seperti itu maka dia akan jatuh cinta padamu!" Sontak perkataan Adryan membuyarkan lamunan Asmara. Ia pun segera menerima uluran tangan Byan.
"Asmara!" Dengan senyum simpulnya ia memperkenalkan dirinya pada Byan, padahal jelas-jelas ia dan Byan sudah saling mengenal sejak lama.
Lesung pipi yang semakin terlihat di wajahnya membuat Mara semakin terlihat cantik. Tak mampu lagi Byan melepaskan uluran tangan Mara.
"Sudah, jangan lama-lama! Belum muhrim!" Mau tak mau Adryan yang melepaskan kedua uluran tangan teman-temannya itu.
Byan dan Asmara hanya saling berdehem, keduanya tak berbicara lagi.
"Ya sudah, Byan tolong temani Mara dulu, kami berdua ingin menemui tamu yang lain," Adryan mengajak ratih meninggalkan mereka berdua. Hal itu sengaja dilakukan Adryan, ia hanya ingin Byan dan Mara saling mengenal. Sukur-sukur bisa saling tukar nomor ponsel.
"Sial! Adryan menjebakku!" Umpat Byan kesal dalam hati.
Setelah Adryan dan Ratih pergi, Byan pun mengajak Mara berbicara.
"Jangan salah paham, aku hanya tak ingin Adryan dan Ratih tahu masa lalu kita," dengan suara lirih, namun terdengar angkuh, terasa menusuk hingga kedalam jantung Mara. Hingga Mara merasa sakit karena ucapan Byan.Ternyata dugaan Amnesia itu tidak benar, ia pun kembali menanggapi perkataan Byan.
"Tidak masalah, Mas," Mara berusaha tegar, ia berbicara sembari terus tersenyum.
"Apa yang dikatakannya? Tidak masalah? Apa-apaan ini, mengapa dia terus tersenyum? Sial!!" Dalam hati lagi Byan mengumpat.
"Lagi pula bagiku mengenalmu atau tidak, itu sama saja. Aku permisi Mas," Setelah mengatakan hal itu, Mara pun segera meninggalkan Byan sendiri.
__ADS_1
Byan mengangkat tangannya mencoba mencegah Mara. Namun ia turunkan kembali tangannya itu, meski sebenarnya masih ada yang ingin ia katakan pada Mara.
Byan hanya bisa menatap punggung mara yang kian menjauh dari pandangannya, terlihat beberapa pria disana menatap Mara dengan haus. Hal itu membuat Byan kesal, entah mengapa? Perasaan macam apa ini, ia pun belum mengerti.