Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Mama untuk Star


__ADS_3

"Mara?" Byan menatap Mara terpana, hingga matanya tak bisa berkedip lagi.


Mara semakin mendekat, langkahnya perlahan merasa malu dan tak enak hati. Ditatapnya Byan yang kini sedang mengenakan kimono rumah sakit berwarna biru langit dengan wajah pucat pasi.


"Hai, bagaimana keadaanmu, Mas?" Mara meletakkan keranjang buah yang ia bawa di atas nakas. Ucapannya yang kaku, serta rasa nervous berhadapan dengan Byan membuat mentalnya semakin ciut.


"Ba-ik," Byan masih tak mengalihkan pandangannya ke arah Mara. Sungguh ia tak menyangka jika Mara akan datang menjenguknya.


"Semoga segera sembuh," ucap Mara dengan gerak-gerik yang serba salah.


"Tante, kenalkan ini adalah Tante Cantik!" Star menatap ke arah Kessy yang masih berdiri di dekat brankar. Baru pertama kali Star menyapa Kessy, namun hal ini justru membuat Kessy semakin kesal.


Kessy menelisik setiap penampilan wanita yang dipanggil 'Cantik' oleh Star itu. "Sepertinya dia tak asing?" Tanya Kessy dalam hati.


"Mara," Mara mengulurkan tangannya ke arah Kessy yang tepat berada di seberangnya.


"Kessy, calon istri Byan!"


Deg!


Jantung Mara seakan berhenti mendengar ucapan wanita yang kini tengah tersenyum lebar di depannya. Wanita dengan perawakan bak model, serta terlihat seperti orang yang berada. Mara segera menyadarkan lamunannya, ia pun membalas dengan senyuman.


Byan dan Star yang mendengar ucapan Kessy merasa kesal pada Kessy. Mereka merasa tak enak hati terhadap Mara.


"Apa yang di lakukan wanita ini?" Byan hanya bisa memendam kekesalannya terhadap Kessy. Ia memegangi dahinya sendiri, tindakan Kessy ternyata di luar dugaannya. Bagaimana caranya ia harus menjelaskan pada Mara nanti? Pasti Mara akan salah paham, fikirnya.


"Pa, apa benar Tante ini akan menjadi Mama Star??" Star tak ingin menunda lagi, ia harus segera mengetahui jawaban dari Byan saat ini juga. Ditatapnya nanar Byan, seolah menantikan sebuah jawaban.


"Star, itu semua ..."


"Benar! Mulai sekarang, Star bisa panggil Tante sebagai MAMA," sambung Kessy penuh percaya diri dengan menekankan kata 'mama'.


Mara tak bisa melakukan atau berkata apapun, ia hanya menundukkan wajahnya. Sepertinya ia salah mengambil keputusan hari ini. Ia pun memilih untuk segera pergi dari tempat ini.

__ADS_1


"Tidak!!!" Teriak Star.


Belum juga Mara berpamitan, ia sudah dikagetkan oleh teriakan Star yang begitu memekikkan telinga.


Star pun berlari menuju keluar dengan wajah kesal dan memerah. Melihat itu, Mara pun segera menyusulnya. Ia meninggalkan Byan dan juga Kessy tanpa pamit.


"Star," Mara berlari keluar mengejar Star.


"Kessy, apa yang kamu lakukan?? Jangan bertindak sesukamu!!" Byan mencoba melepaskan selang infus yang melekat di tangannya. Ia ingin mengejar Star dan Mara di luar.


"By, apa yang aku katakan itu benar adanya. Star harus tahu secepatnya," jawab Kessy menjelaskan maksudnya.


"Wanita gila!" Byan mengambil langkah menuju ke luar meninggalkan Kessy. Ia tak ingin membuang waktu lebih lama, meladeni Kessy baginya akan membuatnya ikut gila.


Byan melangkah tertatih, hingga di temukannya keberadaan Star yang kini tengah menangis di dalam pelukan Mara.


"Star tidak mau punya Mama seperti Tante Monster!" Ucap Star diiringi tangisannya.


Sementara, Byan yang mendengar ucapan Star hanya bisa mengulum senyumannya. Ia tak menyangka jika Star akan menyebut Kessy sebagai Monster. Namun, sebutan itu memang lebih pantas untuk wanita seperti Kessy.


"Jika Star tidak ingin Tante Monster menjadi Mama, maka wanita seperti apa yang Star inginkan??" Byan tiba-tiba datang dan duduk tepat di sebelah Star.


Melihat Byan ada di sini, perasaan Mara semakin tak karuan. Ia pun mencoba melepaskan Star dari pelukannya. Namun, tangan Byan segera menahan tindakan Mara. Ia memegang lengan Mara agar tetap memeluk Star.


"Papa, Star tidak ingin siapapun menggantikan posisi Mama!" Rengek Star semakin mengencangkan suara tangisannya.


"Star, mengapa bicara seperti itu? Apa Star tidak ingin Tante Cantik ini menjadi Mama Star?" Byan semakin mengulum senyumannya seketika melihat reaksi Mara. Wajah Mara semakin memancarkan rona kemerahan. Lagi, sepertinya Mara sudah mulai dibuat stres oleh Byan.


"Apa? Tante Cantik?" Star mendongakkan kepalanya, ia menatap Mara yang kini tengah memasang wajah tak biasa.


"Star, jangan hiraukan ucapan Papa," Mara mencoba menenangkan Star juga dirinya sendiri. Ia juga berusaha melawan perasaan yang ada di dalam hatinya.


"Tante, apa Tante mau menjadi Mama Star?"

__ADS_1


Deg!!


Mara semakin terjebak, ia tak tahu harus berkata apa lagi. Ia hanya bisa menyalahkan Byan. Ya, gara-gara Byan Star malah membuatnya menjadi serba salah. Ia mencoba berfikir keras mencari cara untuk mengatasi Star kali ini.


"Star, memang tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi mama di hatimu. Itu tidak akan pernah bisa, sayang," Mara menatap wajah Star lekat, ia mencoba membuat Star yakin dengan ucapannya. Ia juga melirik Byan beberapa detik, namun Byan malah mengedipkan sebelah matanya.


Tingkah Byan itu justru membuat Mara bertambah kesal. Ia hanya bisa mengalihkan pandangannya dari Byan mencari posisi aman.


"Baik Tante atau Tante yang ada di dalam tadi, kami tidak akan bisa menggantikan posisi mama untuk Star. Jadi Star jangan khawatir,"


"Benarkah? Jika begitu, mengapa Tante monster mengatakan akan menjadi Mama Star??"


"Star, mungkin Tante itu sedang bermimpi." Jawab Mara dengan senyuman indah yang melengkung di wajahnya.


Mendengar ucapan Mara, Byan merasa bahagia. Ia menganggap perkataan Mara itu karena tidak menginginkan jika Kessy menjadi ibu untuk Star. Namun, ia juga tahu jika Mara tak ingin memberikan sebuah harapan pada Star.


"Star, kita lihat saja nanti. Papa akan menjadikan Tante Cantik ini sebagai Mama untukmu," sambung Byan.


Mara membelalakkan matanya, ia tak mengerti maksud Byan itu. Ia hanya bisa mengendurkan nafasnya untuk menenangkan diri sendiri.


Sementara Star hanya tersenyum memandangi wajah Mara. Ia juga berfikir, jika Mara menjadi Mamanya pasti ia akan bahagia. Namun, untuk saat ini ia tak ingin memaksakan Mara. Baginya, Mara sudah berada di dekatnya selama ini ia sudah cukup bahagia.


"Star, Tante harus kembali bekerja," Mara tak ingin membahas hal yang masih tak masuk akal baginya. Ia memilih mengakhiri pembahasan ini dengan berpamitan pulang.


"Tante, terimakasih untuk hari ini," ucap Star dengan mencium pipi kiri Mara.


Byan yang melihat pemandangan itu merasa terharu. Ternyata sesayang ini Star terhadap Mara. Begitu pula Mara, yang terlihat begitu menyayangi Star.


Mara membalas kecupan Star pada pipinya. Ia pun mencium pipi kanan dan kiri Star secara bergantian. "Tante pulang, jangan menangis lagi, sayang"


"Iya sayang," jawab Byan.


Mara semakin tak mengerti, sikap Byan membuatnya merasa tengah di permainkan. Mara tak menggubris perkataan Byan. Ia hanya menggeleng kepalanya pelan kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2