
"Itu tidak mungkin!" Teriak Kamila diiringi air matanya yang berucucuran.
"Ibu, tenang," Mara menghampiri dan memeluk erat tubuh Kamila yang kini sudah lemas. Rasa bingung, cemas dan gelisah pun menghampirinya. Ia sungguh tak tahu apa yang telah Byan berikan, sehingga membuat Ibunya bersikap seperti ini.
Sementara mata Randy terus menatap layar laptop tanpa kedip, menyaksikan isi rekaman dari Video yang tengah diputar. Ternyata video itu menunjukkan perbuatan Ayahnya dengan Sepupu Ibunya sendiri, Avril.
"Randy, apa yang terjadi?" Tanya Mara amat penasaran. Karena ia belum membaca isi dari dokumen yang Byan berikan tadi.
Randy hanya menggelengkan kepalanya, dengan kepalan tangan yang kian mengeras, serta wajah memerahnya yang telah menunjukkan tanda marah.
Tak ada setetes pun air mata yang keluar dari mata Randy. Yang ada hanyalah amarah dan kebencian yang kian membuncah dalam dirinya.
"Untuk apa Ibu menangisinya? Dia tidak pantas untuk ditangisi, Bu!" Randy menatap kearah Ibunya yang masih menangis sesegukan. Randy hanya berharap Ibunya tidak terus-terusan menangisi Ayahnya.
"Randy? Mengapa berkata kasar dengan Ibu?" Mara baru melihat amarah Randy kali ini. Karena sebelumnya Randy tak pernah marah ataupun berbicara dengan nada tinggi.
"Dia tidak pantas di sebut sebagai Ayah, dia hanya memikirkan kesenangannya sendiri!" Randy memilih pergi ke dalam kamarnya. Baginya, meski melihat Ayahnya hanya di dalam rekaman saja, itu sudah amat menjijikkan. Bahkan setelah melihat Video itu, Randy tidak sudi menganggap Agung sebagai Ayahnya.
"Mulai sekarang bagi Randy, dia sudah tiada!"
Ucapan Randy terdengar begitu serius, namun Kamila hanya diam, tak bisa berbuat apa-apa. Karena kesalahan Suaminya sendiri lah yang membuat Randy begitu membencinya.
"Randy!" Asmara terus memanggil Adiknya itu. Namun Randy tak menggubris panggilannya. Ia tidak menyangka Randy akan seemosi ini. Dapat Mara lihat kebencian yang teramat dalam dari diri Randy terhadap Ayahnya sendiri.
Mara pun memilih membaca dokumen yang ada di atas meja, betapa terkejutnya ia setelah melihat isi laporan yang membeberkan tindak korupsi yang Ayahnya lakukan. Bahkan jumlahnya begitu fantastis. Pantas saja, semua aset keluarganya waktu itu terjual habis, ternyata semua uang itu digunakan Ayahnya untuk membayar denda dan ganti rugi.
Tak sampai di situ, Video yang tengah di putar Randy pun menunjukkan aksi tak seronok yang Agung dan Avril lakukan di dalam ruangan kerjanya.
Tess!!
Entah air mata yang keberapa kalinya, Mara kembali meneteskan air bening itu. Bukan karena baru saja mengetahui sikap bej*t Ayahnya, tetapi tuduhan yang telah ia lontarkan terhadap keluarga Malik itulah yang menjadi penyesalannya. Penyesalan yang tak bisa terbantahkan lagi.
Mara terlalu tergesa-gesa, ia juga mudah percaya dengan perkataan Steven yang jelas-jelas belum pasti kebenarannya. Sungguh, ia sangat menyesali perbuatannya ini. Jika mengingat ini, perasaan tak enak hati terhadap Byan terus mengganggunya.
"Ibu, jangan mengingat ini lagi," Mara segera menutup Laptop dan membereskan berkas-berkas yang menjadi jejak kejahatan Ayahnya itu. Ia meremas kertas-kertas itu hingga menjadi gumpalan seperti bola.
"Ibu tidak menyangka, masih banyak sekali kejahatan yang Ayahmu lakukan," ucap Kamila dengan suara serak akibat terlalu banyak menangis tanpa suara.
__ADS_1
"Bu, ini semua masa lalu. Kita sudah lama menguburnya, bukan? Kita bisa hidup mandiri sampai saat ini tanpa Ayah, tak ada yang perlu kita tangisi lagi, Bu."
"Ibu sudah salah sangka, Ibu menyesal, Mara," ucap Kamila dengan penuh penyesalan.
"Apa yang Ibu sesalkan?"
"Ibu menyesal karena telah menuduh keluarga Malik sebagai dalang dari kejahatan Ayahmu," Kamila kembali meneteskan air matanya. Memang seperti itu, ketika kita mempercayai orang terdekat dibandingkan orang lain. Padahal, jika ditelisik lagi, kebanyakan orang terdekat kita lah yang patut diwaspadai.
Apa yang Ibunya rasakan, ternyata sama dengan apa yang ia rasa. Namun Ia memilih untuk menahan perkataannya. Ia lebih memilih menenangkan hati Ibunya terlebih dahulu.
"Bu, sebaiknya Ibu beristirahat, sudah malam,"
"Mara, tolong besok hubungi Byan," pinta Kamila tiba-tiba.
"Untuk apa, Bu?" Mara tidak mengerti mengapa Kamila memintanya menghubungi Byan. Padahal ia sudah berjanji tidak akan lagi berurusan dengannya.
"Ada hal yang ingin Ibu sampaikan padanya,"
"Soal apa, Bu?" Mara penasaran. Pasalnya baru kali ini Kamila ingin berbicara hal serius dengan Byan.
"Hubungi saja Byan, Ibu akan ke kamar,"
"Tapi? Tapi apa, Mara?" Kamila menatap Mara penuh selidik, seperti ada hal yang tengah disembunyikan oleh Mara. Ia pun belum bisa menebaknya.
"Eum, baiklah. Besok Mara akan mencoba menghubungi Mas Byan," Mara tak ingin mengatakan hal yang sebenarnya. Ia lebih memilih menutupi perihal akhir hubungannya dengan Byan saat ini.
"Kali ini aku baru sadar, akulah yang membuat hubungan ini berakhir," gumam Mara dalam hati.
...****************...
"Bu, Mara berangkat," pamit Mara pada Kamila untuk pergi ke toko kuenya.
"Hati-hati," jawab Kamila yang kini masih membuatkan susu hangat untuk Randy.
"Ya, Bu," Mara segera menyalami tangan Ibunya dan juga Randy. Namun tak seperti biasanya, Randy terlihat murung. Melihat itu, Mara memilih membiarkan Randy sementara untuk menenangkan diri.
"Mara, tunggu!" Panggil Kamila.
__ADS_1
"Ya, ada apa, bu?" Mara pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh kembali kearah Kamila.
"Mara, apa kamu sudah menghubungi Byan?" Kamila yang melihat Mara tengah terburu-buru langsung bertanya.
"Oh, itu. Mara akan menghubunginya nanti," Mara mengeluarkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapat.
"Eum, baiklah,"
Setelah merasa aman, Mara pun langsung menuju ke mobilnya. Ia menggulung rambutnya yang tadi digunakan untuk menutupi sedikit wajahnya. Ia pun menjepit poni yang menutupi dahinya.
Wajah sembab dan mata yang sayu, akibat terus saja menangis semalaman di kamar membuat Mara harus menutupi hal ini dari Ibunya. Malam itu akan menjadi pengingat terbesar didalam keluarganya. Ibunya, Randy dan dirinya sendiri telah bersedih semalaman penuh.
Namun bukan karena masalah Ayahnya, ada hal lain yang tengah mengganggu hati dan fikirannya.
"Bagaimana caraku menghubunginya?" Mara terus merasakan denyut pada kepalanya. Sejak semalaman ia terus berfikir mencari cara untuk bisa menghubungi Byan. Namun hingga saat ini belum juga ia menemukan cara itu.
Mara hanya bisa beralasan kepada Ibunya. Tetapi tak mungkin baginya jika terus mencari alasan. Jika begitu mungkin Ibunya akan mencurigainya.
"Steven?"
Tiba-tiba Mara teringat tentang Steven. Ia merasa masih ada yang harus dibahas bersama Steven. Apalagi setelah semalam mengetahui kebenaran tentang Ayahnya. Sudah beberapa kali ia menelisik isi Video itu, ia tak menemukan kejanggalan. Menurutnya, Ayahnya memang bersalah dan tak pantas jika ia menyalahkan keluarga Malik. Untuk ini, ia akan meluruskan bersama Steven lain kali.
Mara sudah pasrah, jika memang Ayahnya itu bersalah maka pihak yang berwajib yang akan menanganinya. Lagi pula masalah itu sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu. Mara juga tak tahu di mana keberadaan Ayahnya dan Tantenya itu sekarang.
Ada yang mengatakan jika mereka berdua kabur ke luar Negeri. Tetapi kabar itu tidak jelas dan tidak ada yang tahu di Negara mana mereka tinggal. Entahlah, Mara berupaya tak mempercayai kabar yang tak pasti itu.
Menyetir sembari terus berfikir membuat konsentrasi Mara terganggu. Ia menghentikan laju mobilnya di tepi jalan. Mara merasa asing setelah menelusuri jalanan yang saat ini ia lewati. Karena jalan menuju toko kuenya tidak lewat sini.
"Astaga!" Mara baru tersadar, jika saat ini ia sudah berada di depan komplek perumahan mewah milik keluarga Malik.
"Bagaimana bisa aku di sini?"
Seperti merasakan dejavu, sebuah mobil keluar dari kawasan rumah keluarga Malik. Mata Mata pun tak lepas memandangi mobil hitam metalic itu. Ia tahu, mobil siapa itu dan ia segera menancap gas mengikuti kemana mobil itu melaju.
Mara berhenti sejenak setelah melihat mobil itu masuk ke dalam kawasan Bandara. Entah tebakannya itu benar atau tidak, yang jelas sesuatu mengganggu fikirannya.
"Apakah dia akan pergi?" Mara segera memarkirkan kendaraannya dan segera keluar. Ia memasuki area di dalam bandara mencari keberadaan seseorang.
__ADS_1
Mara berlari, matanya menelisik setiap sudut bandara. Seperti tak ada kata lelah, dan matanya pun bertemu dengan mata seseorang.
"Mara?"