
Mara memasuki kamar Byan begitu ia sudah berhasil mencari alasan agar tak lagi bertatap muka dengan Kessy. Wanita menyebalkan yang berhasil membuat hatinya terbakar cemburu meski ia sempat tak mengakui hal itu. Ia menutup pintu rapat dan menduduki kasur empuk King size dengan sedikit kasar.
"Ish! Dasar wanita gila!" Umpatnya.
"Dia fikir dia itu siapa? Dia belum tahu apa jika aku ini bisa membunuh tanpa menyentuh!"
"Awas saja dia! Jika macam-macam aku akan memberi dia pelajaran!"
"Benarkah??"
Mara terkejut ketika Byan datang dan menyahuti umpatannya terhadap Kessy. Bisa-bisanya ia tak mengetahui Byan yang kini sudah ada di dalam kamar.
"Euh, mau apa ke sini, Mas?"
Byan tersenyum kemudian mengunci pintu dari dalam dan menghampiri Mara yang masih menampakkan wajah kesalnya.
"Kamu bilang ingin mandi, bukan?"
"Iya, sebentar lagi, Mas," jawab Mara gugup karena sudah tertangkap basah oleh Byan saat sedang mengumpat Kessy. Ternyata, nyalinya tak sebesar ucapannya.
"Mas Mau apa kemari?" Tanya Mara yang hanya dijawab dengan senyuman oleh Byan.
"Selain pemarah dan suka cemburu, ternyata kamu juga pelupa," Byan mendudukkan tubuhnya tepat disebelah Mara.
Mara menarik nafasnya panjang, ia baru sadar. Jika kamar ini bukanlah miliknya. Ia menyesal telah masuk kedalam kamar milik Byan. Kali ini ia berganti mengumpat dirinya sendiri.
"Dasar bo-doh!" Batinnya.
"Kenapa?"
Byan mulai paham, mungkin saat ini Mara sudah sadar akan tempatnya. Terlihat ketika mata Mara mengerling dan memperhatikan setiap penjuru kamar.
"Mas, aku mau mandi. Boleh aku pinjam kamar mandinya??" Dengan tak enak hati disertai senyum pahitnya, Mara mencoba menetralkan suasana. Mencairkan kekakuannya.
Sejenak Byan terdiam, kemudian otak jahilnya pun kembali memikirkan sesuatu yang tak ingin ia lewatkan.
"Sekarang?"
"Ya,"
"Em, tapi aku ingin mandi juga,"
Mara memutar bola matanya malas. Ia yakin kali ini Byan tengah mengerjainya. Harapannya, semoga saja Byan kali ini tak melakukan hal yang diluar nalar.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita mandi bersama?"
"Jangan gila, Mas Byan!" Secara spontan Mara langsung mencubit lengan Byan dengan kuat hingga ia mengaduh kesakitan.
"Aw!"
"Apa, mau lagi?"
"Boleh,"
"Mas!" Mara membolakan matanya kearah Byan. Memelototi pria itu yang malah semakin melebarkan senyumannya.
"Iya, sayang,"
Mata Mara semakin membola mendengar jawaban Byan yang menurutnya kurang pantas untuk didengar namun bisa membuat hatinya berdesir. Oh, jangan sampai ia lupa diri hanya karena panggilan sayang Byan yang sangat langka ini.
Byan meraih wajah Mara yang halus, mengusapnya perlahan dengan jari telunjuknya, "kamu tahu, aku tidak ingin jauh darimu,"
"Bahkan sedetikpun," lanjutnya lagi tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya. Menatap Mara dalam-dalam. Tanpa rasa jemu. Bahkan menurutnya, wajah cantik Mara begitu memabukkan dirinya.
"Aku memang pernah melakukan kesalahan besar, hal yang bo-doh, karena telah berlaku tidak adil padamu, Mara."
"Tapi ketahuilah, hal itu yang kini menjadikan penyesalan terberat bagiku dan ..."
"Maafkan aku, Mara. Aku pantas di hukum,"
Mara menggeleng, dapat ia rasakan bagaimana perasaan Byan dan tatapan matanya yang kini mengandung penyesalan besar. Meski sebenarnya tubuhnya saat ini sudah merasakan gelenyar aneh yang dialirkan akibat sentuhan jemari Byan pada wajahnya. Sentuhan yang tak tahu harus ia balas dengan cara apa.
"Apa yang harus aku lakukan untukmu agar kamu memaafkanku, Mara?"
"Mas, aku sudah memaafkanmu,"
"Hatimu terlalu lembut," Byan memyunggingkan senyumannya. Penyesalan semakin menyelimuti hatinya kini saat tahu jika Mara sudah memaafkan dirinya.
"Mengapa aku baru menyadari semua ini setelah kehilanganmu?"
Semakin dalam tatapannya pada Mara. Semakin ia ingin membawa wanitanya itu saat ini juga kedalan genggamannya.
"Mas, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Itu hanya masalalu. Mari kita lupakan kenangan pahit itu. Kita cukup menjadikannya sebagai pelajaran dan kenangan hidup,"
Sepertinya mata keduanya kini sudah mengandung bawang yang membuat kedua mata mereka memerah dan berkaca-kaca.
"Aku sudah memaafkanmu, jangan pernah hidup dalam keadaan bersalah yang hanya akan menyiksamu,"
__ADS_1
"Mara, entah terbuat dari apa hatimu ini? Apakah kamu jelmaan bidadari dari surga?"
Plak!
Tangan Mara pun dengan sekejap menepuk paha Byan dengan keras hingga ia merasakan panas sekaligus semakin tak bisa lagi menahan gejolak dalam dirinya yang sejak tadi ia tahan.
"Mulai gombal," ujar Mara sembari mengerucutkan bibirnya.
"Jangan seperti itu," Byan benar-benar tidak tahan jika Mara sudah menunjukkan ekspresi manyunnya. Ia begitu menggemaskan.
"Lalu aku harus bagaimana, Mas? Apa aku akan diam saja dan membiarkanmu mengeluarkan kata-kata gombal yang tak enak didengar oleh telingaku dan ..."
Cup!
Cup!
Belum juga sempat omelan Mara selesai, kini Byan telah membungkam mulutnya. Lagi, ia merasa gelenyar aneh di tubuhnya semakin menjadi. Diam bak patung, mata yang membola, nafas yang teratur dan juga degupan jantungnya yang mungkin saat ini bisa didengar oleh Byan saking kencangnya.
Tak ada yang bisa dilakukan Mara ketika Byan memperlakukannya seperti saat ini. Memberontak? Oh, tentu tidak! Karena perlakuan lembut Byan ini mampu membuat dirinya terhanyut. Perlahan, tangan Byan yang sejak tadi memegangi wajahnya kini telah merengkuh bahu miliknya. Membuat tubuhnya semakin bergelora karena sentuhan Byan.
Semakin dekat, semakin lembut Byan mengecup bibirnya, semakin tinggi pula ia merasa ingin terbang. Ditambah lagi aroma maskulin Byan yang semakin menggugahnya. Merasa nyaman ketika ia berada didekat Byan.
Mungkinkah Byan merasakan hal yang sama sepertinya?
Tok! Tok!
"Papa!"
Hai Readers, terimakasih semua yang sudah terus setia bacaain episode demi episode dalam cerita ini. Di sini Othor mau kasih tau karya baru yang bentar lagi bakalan gangguin kalian. Karya receh, yang tentunya nggak kalah menarik buat dibaca. Silahkan mampir ke karya Othor yang baru.... Let's Go!!!
SENIOR CANTIK INCARANKU
Mengisahkan tentang........
Danu Narendra, pria yang mengagumi seorang wanita di tempat kerja barunya, Ayuna Maharani yang tak lain adalah Seniornya. Tidak mudah mendekati wanita ini karena banyak hal yang menjadi batasan untuknya.
Lambat laun, Danu semakin yakin jika ia memiliki perasaan terhadap Ayuna. Hingga pada suatu malam, ia telah berani bersikap lancang pada Seniornya itu. Bahkan perbuatannya itu telah berhasil membuat Ayuna marah besar. Akibat perbuatannya itu, kedekatan mereka yang sudah terjalin baik kini merenggang.
Tanpa disadari, jarak antara keduanya malah semakin membuat Danu ingin memiliki Ayuna. Apalagi ketika ia mengetahui latar belakang Ayuna yang selama ini sama sekali tak diketahui olehnya.
Ternyata, Ayuna adalah ..............
__ADS_1