
Puas berjalan-jalan bersama Star, akhirnya Mara memutuskan untuk pulang lebih cepat. Mengingat Star akan pergi ke Seoul malam ini.
Namun satu hal yang masih mengusik fikirannya, ia masih saja memikirkan tawaran Star untuk ikut bersamanya ke Seoul. Di dalam mobil, ia terus menatap wajah Star yang polos saat sedang tidur. Mungkin Star kini sangat lelah, fikirnya.
Ia membawa Star pulang ke rumahnya lebih dulu, menemui Ibunya dan Randy. Saat membawa Star dalam gendongannya, ia mendengar Star berbicara sendiri. Seperti orang yang sedang mengigau.
"Star tidak ingin Papa dan Tante Cantik terus bertengkar,"
Mara menghentikan langkahnya, ia menatap wajah Star, mengira jika anak itu sudah bangun dari tidurnya. Namun ternyata mata Star masih terpejam disertai kening yang berkeringat.
"Star menyayangi kalian berdua. Kalian harus berbaikan, Papa, Tante,"
Mendengar ucapan Star, hati Mara seakan teriris. Hingga air matanya pun tak terasa telah menetes.
Mara segera meletakkan tubuh Star di atas ranjangnya. Ia mengambil koper dari dalam lemari dan segera mengemas beberapa pakaian dan barang-barang yang ia butuhkan.
"Mara," panggil Kamila.
"Ibu?"
"Kamu mau pergi, kemana?"
Kamila duduk di pinggiran ranjang sembari tangan yang terus mengusap wajah Star. Di lihatnya Mara yang masih sibuk mengemas beberapa pakaian ke dalam koper, disertai mata yang memerah dan berkaca-kaca.
"Bu, Mara harus ke Seoul," ucap Mara dengan berat.
Meski begitu, ia harus mengatakan hal ini dengan jujur pada Ibunya. Ia tak ingin ada lagi kebohongan yang harus ditutupi, apalagi itu menyangkut masalah dengan Byan.
"Eum, begitu. Hati-hati, Nak,"
"Ibu izinkan?"
Mara tidak menyangka jika Ibunya tak memberikan komentar sedikitpun tentang kepergiannya yang mendadak ini.
"Ibu hanya berpesan, hati-hati dan jaga hati,"
Mara segera berhambur memeluk tubuh Kamila. Sepertinya Ibunya itu lebih memahami hatinya daripada dirinya sendiri. Tak ada kata-kata lain yang bisa Mara ungkapkan atas pengertian dari Ibunya. Mungkin setelah ia kembali dari Seoul, ia akan bercerita banyak.
...****************...
Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan.
Semua orang yang turun dari pesawat merasa berbahagia, namun berbeda dengan Mara. Sejak di dalam pesawat, hampir semua orang tertidur pulas. Tetapi Mara malah tidak bisa memejamkan matanya. Itu semua karena hati dan fikirannya saat ini sedang kacau.
Apalagi setelah kakinya berpijak di atas tanah, rasanya jantungnya terus berdegup kencang seolah akan jatuh. Belum lagi hatinya, tak karuan lagi rasanya.
Ini belum bertemu dengan Byan, jika sudah bertemu dengannya nanti, bukan tidak mungkin Mara akan seketika teler.
__ADS_1
"Mara, kamu baik-baik saja?" Tanya Andryani yang kini sudah melihat wajah Mara berubah menjadi semu pucat.
"I'm fine, Umi," jawab Mara disertai senyuman pahitnya.
"Tante yakin??" Star kini berganti menanyakan Mara. Karena ia juga melihat jika tante cantiknya itu seperti sedang tidak sehat.
"Iya, Star," Mara kembali meyakinkan Star. Ia berharap gadis kecil itu tak lagi mengkhawatirkannya.
"Itu Dia,"
Mendengar ucapan Andryani, jantung yang tadinya berdegup kencang kini menjadi semakin lamban, seakan ingin berhenti. Lemas seketika rasanya, saat ia melihat seorang pria dari kejauhan melambaikan tangannya. Apakah Pria yang melambaikan tangan dengan Andryani itu adalah Byan?
Andryani yang tahu jika Byan tak bisa menjemput di Bandara, dan mewakilkannya dengan Pak Lee orang kepercayaan Byan di Seoul.
"Pak Lee," sapa Andryani.
"Selamat pagi, maaf Tuan Byan tidak bisa menjemput. Ada urusan mendadak pagi ini di kantor," jelas Pak Lee.
"Terimakasih,"
Sedikit lega perasaan Mara kali ini. Ia seakan selamat dari sebuah tembakan yang nyaris mengenai jantungnya.
Mereka bertiga pun menaiki mobil yang dikendarai Pak Lee menuju Apartemen Byan. Perjalanan membutuhkan waktu tiga puluh menit, hal itu membuat Star tertidur didekapan Mara. Belum lagi di tambah udara yang terasa dingin. Sepertinya Star harus beradaptasi terlebih dahulu di negara ini.
Sampailah di Apartemen Byan, meski belum pernah datang ke sini Andryani sudah diberi tahu soal pass code unit yang ditempati anaknya.
Mara menggendong Star, sementara koper di bawa oleh Pak Lee. Sebenarnya Andryani telah meminta Pak Lee untuk menggendong Star, namun Mara melarangnya.
Setelah sampai, Mara diarahkan menuju ke sebuah kamar untuk menidurkan Star. Sementara Andryani menuju kamar tamu.
"Mara, istirahatlah terlebih dahulu," pinta Andryani dengan menaruh koper miliknya dan koper Star ke dalam kamar di mana mereka masuk.
"Ya, Umi,"
Setelah Andryani menutup pintu kamar dari luar, Mara pun segera membereskan Star lebih dulu. Ia melepas kaus kaki, mengelap beberapa bagian tubuh Star dan mengganti bajunya. Setelah itu ia menyelimuti tubuh Star.
Selesai urusan Star, Mara pun segera menuju ke kamar mandi membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Rasanya begitu lelah, setelah beberapa jam melakukan perjalanan udara yang lumayan lama.
Ia pun memilih membaringkan tubuhnya di sebelah Star. Hingga akhirnya matanya pun perlahan terpejam karena rasa kantuk yang melanda.
Setelah mendengar kedatangan Star dan Uminya, Byan segera merampungkan urusan di kantor dan pulang ke Apartementnya. Untuk hari ini ia meminta Kessy menunda semua jadwalnya, namun ia tak mengatakan kepada Kessy jika Uminya datang. Hal itu dilakukannya agar Kessy tak mengusiknya. Apalagi ia sangat paham, Kessy begitu akrab dengan Uminya. Meski keakraban mereka terlihat janggal.
"Umi," sapa Byan kepada Uminya.
"Byan, sudah pulang?" Andryani meletakkan gelas teh yang dipegangnya ke atas meja. Kemudian menerima uluran tangan Byan dan memeluk putranya itu.
"Di mana Star, Umi?" Byan mencari keberadaan Star dengan mata yang celingukan ke setiap sudut ruangan.
__ADS_1
"Ada di kamar kamu," jawab Andryani santai.
"Aku sangat merindukannya, aku ingin segera memeluknya," Byan segera melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamarnya.
"Benarkah? Awas jangan sampai salah peluk,"
"Salah peluk?" Byan tak mengerti akan perkataan Uminya. Dia hanya bisa tersenyum sipu, karena ia yakin jika Uminya itu sedang menjahilinya.
Perlahan Byan memutar knop pintu kamarnya, ingin memberi kejutan pada Star. Sungguh ia sangat merindukan anak semata wayangnya itu.
Ceklek!
Sebegitu pintu terbuka, mata Byan pun ikut terbuka lebar. Apakah pemandangan yang kini ada di hadapannya itu benar??
Byan melangkah semakin dekat, mendekati ranjang di mana dua orang wanita cantik tengah tertidur di atas ranjang king size miliknya.
Benar, meski berkali-kali ia mengucek matanya. Pemandangan itu tak berubah, apa yang ia lihat hari ini ternyata adalah nyata.
Keinginannya untuk memeluk Star pun tertunda, karena wanita di sebelahnya telah memeluk erat tubuh putrinya itu. Bahkan, wajah Star pun menghadap ke arah Mara, hingga hanya wajah Mara lah yang terpampang jelas di depannya. Ia pun memilih duduk dipinggiran ranjang, memuaskan matanya terlebih dahulu.
Byan hanya bisa memandangi wajah Mara, ia sungguh tak menyangka jika Mara akan ikut datang ke Seoul. Tak ada yang memberitahu dirinya akan hal ini. Meski begitu, ia amat senang dan merasa ini adalah kejutan terindah baginya.
Byan ingin menyentuh helaian rambut yang sedikit menutupi wajah teduh Mara, namun diurungkannya niat itu karena takut Mara akan terbangun.
Byan memilih mengusap puncak kepala putrinya, ia harap Star akan bangun dan melihat kedatangannya. Dan benar saja, beberapa kali usapan Star pun mulai bergerak dan memutar tubuhnya. Ia membuka mata perlahan, saat itu pula ia melihat wajah Byan tengah tersenyum memenadanginya.
"Sttt," Byan meletakkan jari telunjuknya menutupi bibir. Berharap Star tidak berisik dan mengganggu tidur Mara.
Star hanya tersenyum, ia paham apa yang Papanya itu maksud. Ia pun berbicara dengan suara perlahan.
"Papa, Star ingin pipis,"
"Baiklah, ayo sini,"
Star dan Byan bergerak amat lamban, seolah menirukan gerakan maling yang sedang mengendap-endap.
Setelah mengantarkan Star ke kamar mandi, mereka berdua kembali duduk di pinggiran ranjang memandangi Mara yang belum juga bangun.
"Papa tahu, Tante Cantik tidak tidur sama sekali saat di dalam pesawat," ucap Star masih dengan suara berbisik.
"Benarkah?" Byan hanya menjawab ucapan Star sambil terus tersenyum menatap ke arah Mara.
"Ya, sepertinya kasur Papa menghipnotis Tante. Sehingga dia begitu nyenyak tidur dan merasa nyaman,"
"Dia memang selalu nyaman jika berada di dekat Papa," ucap Byan dengan bangga.
"Haruskah kita membangunkannya? Star lapar, Pa," Tanya star karena merasa perutnya sangat lapar.
__ADS_1
"Star, pergilah ke ruang makan dengan Omma. Papa yang akan membangunkan Tante," pinta Byan, sementara ia tetap disini.
"Em, baiklah," Star pun keluar dari kamar meninggalkan Papa dan Tante cantiknya itu.