
Ketika tangan itu menyentuh aset berharga miliknya, Mara pun tersadar. Matanya membulat sempurna, ia pun secara reflek mendorong tubuh Byan hingga terhuyung kebelakang.
Belum sempat tangannya merasakan kenikmatan dari dua benda kenyal milik Mara, kini ia harus menunda hal itu karena Mara tiba-tiba saja melepaskan penyatuan bibir diantara mereka.
"Apa yang aku lakukan??" Seperti orang bingung, Mara baru tersadar akan perbuatannya.
Byan yang melihat keadaan Mara sekarang juga ikut bingung. Ia mencoba mendekat kearah Mara yang kini tengah berdiri bak patung.
"Mara, a-ku ..."
"Mas, apa yang kita perbuat ini salah!" Mara tak ingin menyalahkan Byan sepihak, karena ia sadar jika dirinya pun ikut bersalah atas apa yang terjadi saat ini.
"Mara, maaf aku ..." Mara menutup kedua matanya, ia sungguh menyesal karena tak bisa mengontrol dirinya hingga berbuat yang tak seharusnya.
Byan mendekat kearah Mara, dapat ia tebak jika saat ini Mara tengah menangis.
"Mara, tenanglah," Byan mencoba menenangkan Mara dari keadaannya saat ini.
"Hiks... Hiks...." Mara terus saja menangis sesegukan.
"Mara, apa kamu menyesal?"
Mara membuka mata yang tadinya ia tutup dengan telapak tangannya, diusapnya kasar sisa-sisa air mata pada wajah mulusnya.
Ingin Byan memeluk tubuh Mara yang tersandar ditembok kamar hotel dengan maksud untuk menenangkan. Tapi, Byan tak memiliki keberanian itu.
"Ya. Sangat!" Mendengar ucapan Mara seperti itu, tubuh Byan melemas. Ia fikir jika Mara menerima perlakuannya karena memiliki perasaan yang sama seperti dirinya, ternyata ia salah.
Byan tak bisa mengucapkan hal apapun lagi, karena nyalinya saat ini sudah ciut atas perkataan dan tatapan Mara padanya.
"Maaf aku sudah menyakitimu Mara," yang terucap dari mulut Byan hanya kata maaf.
Mara pun bangkit dari posisinya saat ini, ia memilih keluar dari kamar Byan dan berlari masuk ke dalam kamarnya.
Brak!!!!
Mara menutup pintu kamarnya dengan keras, tak lupa ia juga segera mengunci pintu kamar itu.
__ADS_1
"Ya tuhan, apa yang sudah aku lakukan?" Mara menyentuh bagian bibirnya, ia terus saja terbayang akan kejadian bersama Byan tadi.
"Mara, dasar bod*h!!!!"
Di dalam kamarnya ia terus saja merutuki dirinya sendiri. Ia menggunakan bantal untuk menutupi wajahnya karena merasa sangat malu. Jika ia bisa memutar waktu kembali, ia menginginkan tak bertemu dengan Byan.
"Mara, mengapa kamu mengulang kesalahan yang sama?" Fikirannya teringat akan masa lalunya dengan Byan lima tahun yang lalu. Ketika ia terus mengejar Byan, namun Byan malah memilih Agatha untuk menjadi istrinya. Dan setelah itu, kejadian-kejadian pahit pun menimpa dirinya.
Perasaan sakitnya masih terus terpendam hingga saat ini. Tapi ia tak pernah memiliki dendam atau pun rasa benci terhadap Byan, meski terus-menerus disakiti.
Sekarang, yang bisa dilakukannya hanya menghindar dari Byan. Ia tak ingin kembali menoreh lukanya sendiri jika terus dekat dengan Byan. Sosok lelaki yang dianggap sebagai cinta pertamanya.
"Aku harus bisa menjauh dari Mas Byan, harus!!!"
...****************...
Karena saat ini Mara adalah seorang pengusaha di bidang kuliner dan usahanya masih tergolong dalam skala kecil. Malam ini, Mara mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk menghadiri acara seminar di aula hotel.
Ya, tujuan utamanya kemari adalah untuk menghadiri undangan seminar kewirausahaan yang diadakan oleh seorang ahli pebisnis terkenal.
Mara berusaha untuk lebih fokus dan tidak lagi memikirkan Byan. Jika fikirannya buyar, maka ia tidak bisa menyerap ilmu yang akan dibahas di acara seminar nanti. Jika hal itu terjadi tentu akan merugikan waktunya saja.
"Mara, ayo fokus!!" Mara berdiri di depan cermin melihat setiap pantulan dirinya. Ia menarik nafasnya panjang, dan menghembuskannya dengan cepat. Setelah merasa sudah siap dengan penampilannya, ia pun segera keluar dari kamar hotel.
Ketika akan menutup pintu, ia menatap kearah kamar sebelah yang sempat dimasukinya tadi. Digelengkan kepalanya dengan kuat, ia coba menepis semua fikiran yang terus berputar di dalam otaknya.
Dengan mengambil langkah cepat, ia pun segera pergi menuju aula hotel seperti orang yang sedang dikejar-kejar hutang.
Tiba di aula tepat pukul tujuh malam, ia memilih duduk di kursi yang telah disediakan. Ternyata sudah banyak orang yang datang. Setidaknya ia tidak terlambat menghadiri acara ini.
Seorang Master of Ceremony atau yang biasa disebut MC sudah mulai membuka acara. Tiba pada inti acara, ia pun memperkenalkan seorang narasumber untuk mengisi acara inti malam ini.
"Tentunya kita semua tahu, seorang pengusaha muda sukses ini. Kita sambut inilah dia, Fabyan Alfarizi Malik ..."
Riuh tepuk tangan hampir semua orang dapat terdengar serentak di dalam aula hotel. Semua orang menyuarakan nama Byan, namun Mara hanya bungkam.
Degg!!
__ADS_1
Jantung Mara terasa berhenti sekejap, ia tak menyangka jika Byan menjadi Narasumber pada acara seminar ini. Jika ia tahu, maka ia pasti takkan datang.
Jelas, ia ingin menghindar dari Byan. Tapi bukannya terwujud, keinginannya justru bertolak belakang.
"Ya tuhan, apa lagi ini?" Mata Mara menatap dalam Byan yang sudah berdiri di atas panggung. Saat matanya tertuju kesana, mata Byan pun menatap kearahnya dengan tatapan lebih tajam.
Deg!
Entah itu disengaja atau hanya kebetulan, yang jelas situasi yang ia hadapi saat ini serba salah.
Lagi, ia merasa sedang tertangkap basah ketika matanya menatap seorang Byan di sana. Tak ingin dianggap seperti itu, Mara pun segera mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak bisa terus begini!" Mara merasa otaknya sedang tidak sinkron dengan hatinya. Jika orang lain di sini terus memperhatikan apa yang disampaikan oleh Byan, berbeda dengan dirinya yang terus memikirkan kejadian siang tadi saat bersama Byan.
"Aku bisa gila!" Umpat Mara dalam hati. Karena ia tak fokus, ia pun memilih meninggalkan acara seminar yang belum berakhir itu.
Ternyata kehadiran Mara menjadi perhatian Byan. Tanpa beralih, ia terus menatap ke arah Mara. Begitu pula saat Mara pergi meninggalkan aula hotel.
Karena sesi tanya jawabnya sudah selesai, ia pun meninggalkan acara Seminar itu setelah tak lama dari kepergian Mara.
Byan merasa ada yang harus segera ia selesaikan pada mantan istrinya itu. Karena Byan merasa jika Mara saat ini sedang menghindarinya.
Byan menuju ke kamar hotel yang ia sewa. Ia pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Mara.
Tok!! Tok!!
Tak lama, pintu kamar pun terbuka. Mata Mara kembali membulat dengan rona wajahnya yang semakin memerah bak buah tomat.
Terkejut mengetahui seseorang yang mengetuk pintunya ternyata adalah Byan, ia pun segera mendorong pintu itu dari dalam agar tertutup kembali.
Namun, Byan tak menyerah begitu saja. Ia dapat menahan pintu itu agar tidak tertutup kembali. Tenaga Mara begitu mudah untuk dikalahkan.
Bukannya pintu tertutup, tapi malah semakin terbuka lebar.
"Mara! Berhenti menghindariku!" Dengan tatapan dingin, Byan semakin mendekatkan dirinya ke arah Mara.
Mara melangkah mundur ketika Byan semakin maju. Hingga akhirnya tubuh Mara pun terjatuh ke ranjang.
__ADS_1