Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Masih menunggu


__ADS_3

Byan merebahkan tubuhnya yang begitu lelah dan penat, ternyata Abinya sudah mempersiapkan Apartement untuk ia tempati di Seoul. Bahkan, Apartemen itu tergolong luas untuk ia tempati seorang diri.


"Apakah Abi sudah lama mempersiapkan ini semua?" Byan bahkan tak bisa memejamkan matanya, fikirannya terasa kacau dan amat berantakan.


Kekacauan yang ia hadapi saat ini begitu mengganggu, ingin sekali ia melawan orang tuanya jika tak mengingat akan menjadi seorang anak durhaka. Tanpa terasa, matanya pun terpejam dengan sendirinya.


Melihat pintu kamar Byan terbuka, Kessy pun segera menghampiri. Ia melihat pria yang terbaring di atas ranjang, begitu ia dekati dapat terlihat jelas jika wajah Byan menunjukkan sebuah kelelahan.


"Dia terlihat teduh jika sedang tidur, mengapa ia tidak menunjukkan wajah ini ketika sedang sadar?"


Kessy semakin mendekat, dapat ia lihat jelas ketampanan pada wajah tegas Byan. Ia mendudukkan bokongnya di pinggiran ranjang, tak ada rasa jemu ia memandangi wajah itu. Bahkan ia merebahkan wajahnya, menyangga wajah itu dengan kedua tangannya, memperhatikan setiap inci bagian wajah Fabyan.


"Eum," Kessy mengangkat tangannya, ia ingin sekali menyentuh alis tegas dengan bulu lebat milik Byan itu.


Ketika tangannya sudah hampir menyentuh Byan, tiba-tiba tangan itu di cekal keras. "Singkirkan tanganmu!"


Byan langsung bangun dari pembaringannya, ia segera menyingkirkan tangan Kessy dengan tenaga yang begitu keras hingga Kessy pun merasa kesakitan.


"By," Kessy memegangi tangannya, ia bahkan begitu kesal terhadap Byan. Pasalnya ini bukan pertama kalinya ia mendapat perlakuan kasar dari lelaki itu.


"Apa yang kau lakukan di sini? Pergi!!" Byan menunjukkan jarinya kearah pintu keluar.


"Kamu mengusirku?" Tanya Kessy dengan tatapan kesalnya. Ternyata sulit bagi Kessy menaklukkan hati pria dingin itu.


"Sudah tahu, mengapa masih diam di sini? Cepat pergi!!" Byan kembali mengusir Kessy.


Kessy begitu geram, sikap Byan semakin lama semakin membuatnya lelah. Namun, ia masih terus bertekad untuk lebih bersabar lagi. Karena ia begitu ingin memiliki Byan. Bukan tak mungkin jika suatu hari nanti Byan akan luluh terhadapnya.


"By, aku mau pergi ke mana? Aku pun tinggal di sini, bersamamu," ujar Kessy menahan amarahnya. Seelok mungkin ia mengeluarkan kata-kata dari mulutnya dengan nada lembut.


"Apa??" Kini hal tak terduga kembali terjadi. Entah ini ulah siapa, Byan belum bisa menebak.


"Apa Abi dan Umi tidak memberitahumu?" Kessy mendekat ke arah Byan dengan langkah gontai.


"By, aku di tugaskan untuk menjadi Asisten pribadimu," lanjut Kessy lagi setelah melihat Byan diam dengan tatapan kekesalan.


"Asisten pribadi? Jangan bermimpi!" Byan masih berusaha menolak. Ia tak ingin memiliki asisten seperti Kessy. Jika ia tak bisa menemukan asisten yang lain, maka lebih baik ia bekerja sendiri.


"By? Mengapa kau begitu terkejut? Aku pintar berbahasa Inggris, Mandarin, untuk bahasa Korea aku sedang mempelajarinya, jangan merendahkan kemampuanku," Kessy memamerkan semua bakatnya. Hingga membuat Byan muak mendengarnya.


"Aku, tidak butuh asisten sepertimu! Lebih baik aku bekerja sendiri!" Byan masih menolak, ia masih tak bisa menerima atas keputusan Abinya untuk menjadikan Kessy sebagai Asissten Pribadinya. Jika orang lain, ia masih bisa menerima. Tapi untuk Kessy, sungguh ia tak menginginkan hal ini.


"Terserah kau menerimaku atau tidak! Yang jelas Abi sudah mempekerjakanku, jika ada yang kau butuhkan panggil saja aku. Aku akan pergi terlebih dulu ke kamarku," Kessy mengedipkan sebelah matanya, ia sungguh menyukai jika bisa menggoda Byan yang berkepala batu itu.


"****!!!" Byan mengumpat kesal, rasanya hidupnya kali ini seperti di dalam penjara. Bahkan diusianya yang sudah menginjak kepala tiga, ia masih saja diatur dan diawasi oleh orang tuanya.


Rasanya ini tidak adil, Malik meminta dirinya untuk menjauh dari Mara namun kini ia didekatkan dengan wanita lain dan itu adalah Kessy. Byan sungguh tak mengerti dengan jalan fikiran Abinya itu.


"Arghhhhh!!!" Byan berteriak, sungguh dirinya begitu kacau.


...****************...


Di tempat yang berbeda, Asmara terus saja melamun dengan ponsel yang tak lepas dari tangannya. Ia masih menunggu, menunggu seseorang akan memberi kabar padanya. Namun sampai saat ini, orang yang ia tunggu tak kunjung menghubunginya.


"Apa terjadi sesuatu padanya?" Tanya Mara pada hatinya sendiri. Jika memang terjadi sesuatu pada Byan, mungkin ia akan memakluminya. Tapi sungguh hatinya tak sabar ingin segera mengetahui bagaimana kabar Byan saat ini.


"Aku bisa apa?" Mara kini hanya pasrah, kemudian ia membangkitkan gairah dan semangatnya kembali agar tak terus terpuruk dalam keadaan. Jika nanti Byan menghubunginya, maka itu akan menjadi kabar baik. Namun jika Byan tak menghubunginya, maka Mara hanya bisa menerima, tanpa bisa berbuat apa-apa.


DRTTT ... DRTTTT ...


Mara dengan cepat melihat layar ponselnya yang tengah bergetar itu. Tak disangka, akhirnya ponselnya pun bergetar juga tanda ada yang sedang menelponnya.


Namun, matanya menjadi lemas ketika melihat siapa yang menghubunginya. Seseorang yang tidak ia harapkan, seseorang yang tidak ia tunggu sejak kemarin malah melakukan panggilan video padanya.


Mara ingin menolak panggilan itu, tetapi ia merasa tak enak hati. Paslanya sudah lama ia tak berkominukasi dengan Steven setelah terakhir kali bertemu. Apalagi pertemuan mereka itu berakhir dengan pertengkaran.

__ADS_1


Mara pun memilih menggulir icon panggilan hijau pada layar ponsel untuk menerima panggilan video dari Steven.


"Hai, Steve," sapa Mara pada Steven dengan memasang senyum seadanya.


"Mara, ada apa denganmu?" Steven melihat wajah Mara yang muram dan lesu pun menjadi khawatir.


"Aku baik-baik saja, Steve. Jangan khawatir," jawab Mara.


"Tapi, wajahmu itu ..."


"Mungkin aku lelah, Steve. Banyak sekali pekerjaan beberapa hari ini," potong Mara.


"Benarkah?"


"Steve, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku akan menghubungimu nanti, okey?" Mara menutup panggilan video itu sepihak. Ia kemudian membanting sedikit kasar ponselnya di atas meja kerja.


Mungkinkah Mara merasa kecewa? Karena sosok yang ia harapkan justru tak kunjung mengabarinya. Mara menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Mara,"


Dengan cepat Mara menoleh ke salah suara. Ia membuka tangan yang sudah menutupi wajahnya itu. Seperti ini, ia masih mengharapkan kehadiran Byan. Namun betapa terkejutnya ia setelah melihat siapa yang datang. Dengan spontan ia pun menghentikan perkataannya.


"Mas, By-"


"Mas?" Apa kau sedang menunggu seseorang?" Tanya Steven. Ia kemudian menutup pintu rapat, langkahnya semakin dekat dengan Mara.


"Steve? Kapan kau datang?" Mara tak menjawab apapun. Ia memilih bertanya perihal kedatangan Steve mencoba mengalihkan pembicaraan. Jika Steven tahu ia sedang menunggu seseorang, yang tak lain adalah Byan. Mungkin ini akan membuat pertemuan mereka kembali berakhir dengan pertengkaran seperti tempo hari. Ia tahu, bagaimana bencinya Steven terhadap Byan. Bahkan jika Byan dan Steven bertemu, mereka berdua terus saja salah paham.


"Baru saja sampai, boleh aku duduk?" Tanya Steven.


"Silahkan," Mara mempersilahkan Steven menduduki sofa berwarna merah maroon di ruang kerjanya itu.


"Terimaksih, Mara," Steven tanpa henti terus memandangi wajah wanita yang amat ia rindukan. Bahkan ia rela pulang pergi dari Amsterdam untuk menyisihkan waktu bertemu dengan Mara. Namu sepertinya Mara belum juga mengerti akan perasaannya. Perasaan yang belum ia ungkapkan hingga hari ini.


"Steve, mengapa kau menelepon jika sudah berada di sini? Kau menyebalkan sekali," ucap Mara sembari meletakkan teh hangat di atas meja untuk Steven.


"Tidak sabar?" Mara tak mengerti apa yang kini Steven maksud.


"Aku begitu tidak sabar ingin bertemu denganmu, Asmara!" Tutur Steven dengan jujur.


Mara tak lagi memasang wajah ramahnya, ia kembali memperlihatkan wajah datar di hadapan Steven. Ia mencoba beralih topik untuk memecahkan suasana canggungnya.


"Berapa lama kau akan tinggal di sini?"


"Tidak lama, mungkin hanya dua hari saja," jawab Steven.


"Oh," Mara tak berbicara panjang lebar. Ia juga bingung harus berbicara dan membahas soal apa dengan Steven.


"Mara, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan,"


"Apa itu, Steve?" Mara tak begitu penasaran, ia memilih bertanya seadanya.


"Mara, ini untuk pengembangan bisnis cake yang kau buat. Aku memiliki peluang untuk itu," jelas Steven.


"Peluang?" Mara masih bingung, ia pun mencoba mendengarkan Steve lebih serius.


"Bukankah kau ingin memperluas usahamu ini hingga ke luar negeri? Tanya Steven dengan penuh keyakinan.


"Ya, benar. Tapi aku masih belum menemukan negara mana yang cocok, aku sedang mencari-cari rekomendasi Steve,"


"Bagaimana jika Seoul?" Tawar Steve.


"Seoul? Korea Selatan?" Mara membelalakkan matanya. Negara yang begitu terkenal dengan artis K-pop itu memang sungguh menakjubkan bagi Mara. Tapi apakah mungkin ia bisa membuka cabang baru di sana? Masih banyak hal menjadi pertimbangannya.


"Ya, jika kau mau aku akan membantumu. Kebetulan sekali aku ada beberapa relasi di sana, ada tempat yang cocok yang bisa kau jadikan toko seperti di sini," panjang lebar Steven menjelaskan pada Mara. Berharap Mara akan menyetujui ide yang ia berikan.

__ADS_1


"Aku akan memikirkannya nanti, Steve," Mara menjadi lesu. Ia belum bisa memutuskan hari ini.


"Apa yang kau fikirkan? Ini adalah peluang bisnis yang baik untukmu, Mara. Jangan menundanya lagi," Steven berusaha membujuk Mara agar menuruti keinginannya.


"Apakah ada kendala pada modal? Soal itu kau jangan khawatir aku akan membantumu," Steve mencoba menebak apa yang mengganjal di hati Mara. Jika hanya masalah biaya, ia dengan siap menawarkan bantuan. Bahkan tanpa balasan apapun ia rela.


"Tidak Steve, bahkan tabunganku pun cukup untuk modal. Kau tak perlu repot!" Mara menolak cepat. Karena memang tabungan yang ia simpan hingga sekarang lumayan cukup, jika hanya untuk membuka cabang di Seoul.


Selama ini ia tak pernah hidup boros. Dengan keadaan cukup dan seadanya saja, ia sudah begitu bersyukur. Karena hidupnya yang tidak banyak neko-neko, tabungannya pun bisa membiayai anak cucunya nanti.


"Lalu apa yang menjadi pertimbanganmu? Mungkin aku bisa membantu, Mara,"


Steven mencoba menawarkan bantuan lain pada Mara. Karena bantuan modal sudah di tolak Mara mentah-mentah.


"Mara, kau jangan khawatir. Banyak relasi bisnis juga yang akan membantu dan mengarahkan usahamu di sana, aku akan menjamin semuanya,"


Steven tak ingin menunda kesempatan baik ini. Ia


harus ikut andil dalam usaha Mara. Dengan begitu ia akan lebih mudah dekat dengan Mara.


"Mara, bagaimana jika kita bekerja sama saja?"


"Bekerja sama?" Mara masih belum memahami keinginan Steve.


"Aku yang akan memberi modal, dan kau yang mengelola? Bagaimana?" Steven kini semakin bersemangat. Ia yakin, dengan tawarannya ini Mara akan tergiur.


"Mara, jangan takut! Jika kau bisa mengembangkan bisnismu saat ini, maka kau akan lebih mudah mengembangkan bisnis-bisnis yang lain," Steven kembali merayu Mara. Ia berharap Mara akan menyetujui kerja sama yang ia tawarkan.


"Steve, mengapa kau antusias sekali?" Tanya Mara penasaran. Ia merasa seolah Steven bukan hanya ingin berbisnis atau kerja sama semata.


"Mara, aku hanya ingin kau lebih mengolah bisnismu ini agar aku bisa melihat wanita berkompeten sepertimu sukses!"


Tanggapan Steven ada benarnya juga, hingga Mara pun mencoba berfikir cepat.


"Biarkan aku berfikir, Steve. Beri aku waktu dua hari ini,"


Steven merasa waktu yang ditawarkan Mara begitu lama. Ia tidak sabar jika Mara memberi waktu dua hari pada dirinya. Ia pun mencoba kembali untuk mencari cara yang lain.


"Mara, aku beri waktu hingga sore ini, bagaimana?"


"Sore ini?"


"Mara, jika kau setuju maka besok kita akan langsung mengunjungi Seoul," Steven tak ingin terlambat, ia sudah merencanakan dua hari liburnya ini agar bisa membujuk Mara.


"Steve, terlalu cepat. Banyak hal yang perlu di siapkan, Bukan?" Mara terkejut, secepat ini Steve ingin mengajaknya pergi ke Seoul.


"Soal persiapan, jangan khawatir. Serahkan padaku," jawab Steven dengan enteng. Seakan ia sudah lama mempersiapkan hal ini.


"Apakah aku harus minta izin pada Ibu, agar kau setuju?" Steven kembali mengeluarkan jurus andalan. Jika sudah menyangkut tentang ibunya, pasti Mara akan cepat mengikuti permintaannya.


"Oke, oke! Biarkan aku yang bicara pada Ibu," Mara tak bisa berkutik. Berdebat dengan Steven baginya tak akan ada ujungnya. Jalan satu-satunya yang bisa ia ambil adalah dengan mengalah dan menyetujui keinginan Steven.


"Aku sangat berharap, kau akan menjadi wanita cantik yang sukses!" Steven kembali menyemangati Asmara.


"Steven, kau sebahagia itu? Bahkan aku belum menjadi wanita cantik yang sukses seperti yang kau sebut!" Mara mengerucutkan bibirnya, baginya kali ini Steven bersikap berlebihan.


Steven bangkit dari duduknya, ia kemudian mendekat ke arah Mara yang duduk di depannya. Dengan perasaan berdebar, Steve pindah duduk tepat di sebelah Mara.


"Mara, aku peduli padamu. Aku ingin kau menjadi wanita sukses, aku ingin kau menggapai semua cita-citamu, aku adalah pria yang pertama yang akan selalu mendukungmu,"


Perkataan Steven membuat Mara merasa aneh, bahkan ini tak sepeti Steven yang ia kenal selama ini. Perkataan lembut, perhatian, kepedulian dan dukungan yang Steven berikan terasa begitu asing baginya.


Melihat Mara berdiam diri, Steve pun memberanikan diri memegang tangan Mara. "Mara,"


Mara seketika segera menghentak tangannya, cekalan tangan Steven begitu aneh untuk perasaannya. Seakan ia merasa sedang menghianati seseorang karena tengah berjuang dengan pria lain.

__ADS_1


"Steve, apakah ada hal lain yang akan kau bicarakan? Aku masih banyak pekerjaan," Mara mengusir Steven secara halus. Entah mengapa sikap Steven begitu membuatnya tak nyaman.


Berbeda jika ia mendapat sentuhan dari Byan, bahkan ia tak bisa menolak sentuhan itu. Namun hingga hari ini, Byan masih juga belum menghubunginya.


__ADS_2