
Setelah selesai dengan meeting pentingnya, Byan segera keluar meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa. Sedikitpun ia tak ingin membuang waktunya untuk bertemu dengan Mara, wanita yang selalu ingin ia jaga.
"By, kau mau kemana?"
"Byan!!!!!"
Ia bahkan tak mempedulikan teriakan Kessy yang terus memanggil namanya berulang kali. Tidak ada yang Byan fikirkan lagi selain Asmara. Sudah hampir dua jam ia meninggalkan wanita itu, perasaan cemas pun terus menghantuinya.
Entah apa yang terjadi sore hari ini, lalu lintas begitu padat hingga Byan pun tak dapat menaikkan kecepatan mobilnya.
TINNNN!!! TINNNN!!
"Ck! Ada apa ini?" Byan terus menyalalakan klakson mobil, berharap mobil di depannya segera melaju.
"Argh! Sial!" Umpat Byan dengan kekesalan yang membuncah.
Bagaimana bisa ia membuang waktunya di jalan raya yang begitu padat ini. Ia pun memutuskan untuk menghubungi Mara via teelepon, agar tahu jika keadaan Mara saat ini baik-baik saja.
Tak ada respon atau jawaban dari Mara, meski sambungan telepon itu terhubung. Hal ini semakin membuat Byan terus khawatir.
"Ayolah!" Byan menghubungi Mara sekali lagi, namun hal itu tidak mengubah apapun. Mara masih tak menjawab telepon darinya.
"Mara, di mana kamu?" Byan terus bertanya-tanya. Hingga otaknya pun memikirkan Steven.
"Jangan-jangan?" Byan segera membuang fikiran negatifnya itu. Ia lebih mencoba berfokir positif, untuk membuang jauh-jauh kekhawatirannya terhadap Mara.
Sudah hampir lima belas menit menunggu, lalu lintas pun akhirnya bisa di kendalikan. Byan segera menancap pedal gas, berharap mobilnya itu akan terbang dan segera tiba untuk bertemu dengan Mara.
Byan berlari, ia menelusuri lorong hotel di mana kamar Mara berada. Sampai di depan pintu kamar itu, Byan mengetuk pintu dengan memanggil nama Mara.
Tok! Tok!
"Mara, buka pintunya," panggil Byan dengan mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat berlari terlalu kencang. Di tatapnya arloji yang sudah hampir menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
Entah apa yang dilakukan olehnya hari ini, sehingga semuanya terasa begitu cepat berlalu. Ia mencoba mengetuk ulang pintu kamar Mara, namun masih saja tak mendapatkan jawaban.
"Mara!!!!" Teriak Byan.
Tak juga mendapatkan jawaban, Byan pun kembali menghubungi nomor telepon Mara. Namun saat ini nomor telepon Mara sudah berada di luar jangkauan.
"Apa yang terjadi?"
Byan segera berlari menuju resepsionis. Perasaannya menjadi tak karuan, bahkan ketakutan demi ketakutan itu pun muncul mendadak menyelimuti hatinya. Byan sungguh tak menginginkan hal buruk terjadi pada Mara.
__ADS_1
"Apakah penghuni kamar nomor 34 sedang pergi?" Tanya Byan kepada seorang wanita berparas cantik menandakan ciri dari wanita asli korea.
"Maaf, Tuan, tamu dari nomor kamar 34 sudah Chek Out sejak satu jam yang lalu," jelas sang resepsionis itu dengan bahasa yang ramah juga sopan.
Deg!!!
Jantung Byan rasanya berhenti seketika mendengar ucapan wanita yang kini ada di depannya. Ternyata firasatnya benar, jika terjadi sesuatu dengan Mara. Ia tak akan mengampuni Steven, jika ini adalah perbuatan lelaki itu.
"Apakah dia pergi bersama seorang pria?" Tanya Byan lagi. Khawatir Mara dibawa pergi oleh Steven dengan paksa.
"Tidak, Tuan. Nona tersebut hanya pergi seorang diri," jawabnya lagi.
"Mara pergi sendiri? Tidak bersama Steven? Apakah pegawai hotel ini berbohong padaku?" Byan bermonolog di dalam hati sembari mencari kejujuran pada raut wajah si resepsionis.
"Apa ada yang bisa kami bantu lagi, Tuan?" tawar resepsionis pada Byan yang terlihat kebingungan itu.
"Tidak! Terimakasih," Byan segera meninggalkan hotel. Ia pun menuju ke mobilnya dan menghubungi seseorang lagi untuk melacak keberadaan Mara.
Tanpa disadari, ternyata Mara tengah bersembunyi di balik tembok menatap kepergian Byan dengan raut wajah sedih kearah punggung Byan yang kian menghilang dari pandangannya.
"Kau sudah mengambil keputusan dengan baik, Mara," ucap Steven yang kini ada di sebelahnya disertai senyum kemenangan.
Mara hanya bisa menitikkan air matanya, entah ini keputusan benar atau tidak untuknya, tetapi ia tidak memiliki keputusan lain. Ia usap air mata pada pipinya dengan kasar, kemudian menarik koper itu menuju keluar.
"Apa lagi yang kau inginkan, Steve? Bukankah aku sudah melakukan apa yang kau inginkan? Sekarang mana rahasia besar yang akan kau katakan itu?"
Steven tersenyum senang, meski ia sadar jika keegoisannya ini tidak benar. Jika ia tidak bisa memiliki Asmara, maka tidak juga untuk pria lain termasuk Byan.
#FLASH BACK
Tok! Tok!
Satu menit selang kepergian Byan dari kamarnya, Mara terheran dengan suara ketukan pintu. Sempat ia tak ingin membuka, namun ia takut jika itu adalah Byan. Karena sebelumnya Byan pernah melakukan hal yang sama untuk bertemu dengannya kembali.
"Apalagi yang dia inginkan, bukankah aku sudah memintanya untuk pergi?" Tanya Mara dalam hati. Ia pun turun dari ranjang dan membukakan pintu.
"Ada apa lagi Ma-"
Ucapan Mara terhenti seketika melihat Steven sudah berdiri di ambang pintu. Steven dengan cepat mendorong Mara hingga terhuyung dan masuk ke dalam kamar.
"Steve!" Perlakuan Steven padanya sungguh tak sopan. Mara sangat tak menyukai perangai buruk Steve, meski sebenarnya Byan pun pernah melakukan hal yang sama. Namun rasa yang ia terima sangat berbeda.
"Mara, kamu tidak akan bisa lari dariku," ucap Steven disertai tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Steven, apa yang akan kau lakukan?" Mara berjalan mundur, karena menghindari Steve yang terus memajukan langkah terus mendekati dirinya.
"Mara, kau menyukai pria pengecut itu??" Pertanyaan Steven membuat Mara kalang kabut, ia pun tak punya pilihan lain untuk memperjelas semuanya. Benar, ia memang menyukai Byan.
"Apa maksudmu?" Mara tahu jika orang yang Steven maksud adalah Byan. Demi menetralkan perasaannya, Mara pun mencoba mengalihkan pembicaraan dengan pura-pura tidak mengerti.
"Heuh!!!" Tatapan Steven pun kini berubah menjadi semakin menyeramkan. Bahkan ia merasa jika Steven kini sudah berubah menjadi seorang penjahat.
"Mara, apa yang kau sukai dari pria munafik itu? Pria yang suka berbohong, pria yang suka menyakitimu, bahkan pria itu yang telah menghancurkan keluargamu!!!!" Ucap Steven dengan nada tinggi dan penuh emosi. Di tatapnya wajah dan netra Mara yang kini sudah mulai memerah.
"Steven, a-apa yang kau katakan? Menghancurkan keluargaku?" Tanya Mara dengan tertatih.
Dari sekian banyak ucapan Steven, yang ia ingin dengar dengan jelas adalah kalimat terakhir. Ia tak mengerti mengapa Steven membawa-bawa keluarganya saat membahas Byan.
"Lihat, kau pun tak tahu jika selama ini pria pengecut itu telah menipumu?? Kau telah dibohongi oleh keluarga itu, Mara!!"
Penjelasan Steven masih belum bisa Mara mengerti.
"Steven, katakan dengan jelas apa yang kau ketahui," pinta Mara kini dengan suara sedikit meninggi.
"Kau mencintainya, tapi kau tidak mengetahui banyak hal tentangnya, aku kasihan padamu!"
"Steven!!!!" Mara mulai emosi. Ia tak habis fikir jika Steven akan berkata seperti itu dan merendahkan dirinya.
"Kau marah padaku? Tak apa, aku tidak marah akan hal itu. Setidaknya, aku lebih memiliki keberanian dibandingkan Byan, karena aku sudah menunjukkan watak asliku padamu sekarang," jelas Steven lagi. Tatapannya semakin tajam, hingga membuat Mara semakin takut dan tubuhnya pun kini sudah bersandar di tembok.
Steven menyentuh wajah Mara, sungguh ia tak rela jika Mara akan kembali berhubungan dengan Byan.
Mara segera menepis tangan Steven yang lancang itu, entah mengapa ia tak begitu menyukai segala bentuk sentuhan Steven.
"Mara, aku memiliki satu syarat, jika kau ingin mengetahui rahasia besar yang sudah keluarga Malik sembunyikan darimu, ini semua tentang ayahmu,"
Mara mendadak terkejut dengan apa yang Steven utarakan. Hal yang berkaitan dengan Ayahnya? Apakah Steven hanya mengarang? Mara sungguh ingin tahu, rasa penasarannya begitu besar. Apalagi ini menyangkut keluarganya.
"Jika kau tak mau tahu, aku tidak akan memaksa. Tapi, aku akan tetap memberitahu hal ini dengan Ibumu, dan kita akan lihat bagaiman reaksinya?"
Steven kembali menyeringai. Ternyata Steve sepicik ini. Ia pun membawa-bawa Kamila dalam hal ini.
"Steven? Katakan apa syaratnya?" Tidak ingin terjadi apa-apa dengan Ibunya, Mara pun menerima penawaran Steven yang gila itu.
"Jauhi Byan!"
#FLASH BACK OFF
__ADS_1