Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Bukan sebuah kencan


__ADS_3

Sore ini, Steven datang berkunjung ke rumah Mara. Dengan pakaian yang rapih, namun santai Steve ingin mengajak Mara pergi ke suatu tempat. Kaos putih berpadu dengan jaket kulit hitam, serta celana jeans hitam selutut menambah tampilan Steve semakin terlihat muda.


Sebelum pergi ia meminta izin terlebih dulu pada Kamila ibu Asmara. Tentu saja Kamila mengizinkan mereka berdua pergi dengan syarat untuk tidak pulang larut malam.


Meskipun Mara sudah dewasa, ia tak pernah pergi dari rumah tanpa izin ibunya. Baginya, keluarga adalah yang nomor satu. Apalagi saat ini ia hanya memiliki ibu dan seorang adik saja.


"Steven, kamu mau ajak aku kemana sih?" Di dalam mobil yang dikendarai Steven, Mara ingin tahu kemana ia akan dibawa pergi.


"Kau akan tahu nanti Mara," Ucap Steven dengan senyum yang melengkung dibibirnya.


"Kamu tidak akan membawaku pergi ke Amsterdam, kan?"


"Aku sangat menginginkan itu Mara,"


"Steven?" Mara membelalakkan matanya kearah Steve.


Steven tertawa girang, ia merasa sudah berhasil mengerjai Asmara kali ini.


"Kenapa tertawa??" Tanya Mara yang kesal melihat Steve tertawa senang.


"Jadi, apakah aku harus menangis?"


"Ck!!!, Steve sejak kapan kau begini?"


Asmara menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


"Sejak aku mulai jatuh hati kepadamu Mara," Tentunya Steve berkata didalam hati, tak berani ia mengungkap perasaannya saat ini. Steve takut Mara malah akan menjauhinya.


Sampailah di suatu tempat yang Steve maksud, ternyata ia membawa Mara ke sebuah Mall yang cukup terkenal di Jakarta.


"Apakah kita ingin berbelanja?"


"Bukan," Ucap Steve, kemudian ia berjalan dengan santai di depan Mara lebih dulu.


"Kyaaa!!!" Mara kesal, karena Steve meninggalkan dirinya begitu saja.


Steven mengulum senyumannya, ternyata mengerjai Asmara semenyenangkan ini. Andai dari dulu ia melakukannya, pasti hidupnya lima tahun lalu takkan membosankan. Sayangnya, Steve baru menyadari perasaannya disaat semua dirasa terlambat baginya.


"Steve, kau mau bawa aku kemana?" Langkah Asmara terasa lelah ketika ia mencoba mengimbangi langkah kaki Steve yang lebih lebar dari pada dirinya.


Steven tak menjawab pertanyaan Mara, ia terus saja berjalan hingga sampai di depan Bioskop. Steve memesan dua tiket film yang sedang tayang saat ini.

__ADS_1


Mara terdiam kaku, ia baru menyadari ternyata sudah sampai di depan bioskop. Ia heran pada sikap Steve, ada angin apa sebenarnya? Mengapa Steve mengajaknya ke bioskop?


"Ayo!" Ajak Steve setelah selesai membeli tiket film. Tak lupa ia membeli popcorn dan juga minuman untuk mereka berdua.


"Ya tuhan Steven," Mara hanya menggelengkan kepalanya tak percaya setelah Steve memberinya sebuah minuman dan juga popcorn.


"Ayo masuk," Ajak Steve pada Mara.


"Benar-benar menyebalkan! Kau mengajakku nonton? Hey Steve tunggu aku ..."


Lagi-lagi Steve meninggalkan Mara, dengan sedikit berlari Mara pun menyusul Steve dengan suara sedikit berteriak. Hal itu pun tak luput dari perhatian banyak orang. Hampir setiap orang memperhatikan tingkah Mara. Mara pun menjadi malu atas kelakuannya sendiri.


"Ini kan film yang mau aku tonton??" Mara memelototi tiket yang kini dipegang olehnya, ternyata itu adalah tiket nonton film yang sudah lama ingin di tonton oleh Mara.


"Cepat duduk!" Panggil Steve yang sudah duduk dikursi dengan nomor yang sesuai pada tiket, ia pun segera memanggil Mara yang masih saja berdiri mematung.


"I-iya," Mara pun tersenyum bahagia. Ia tak menyangka Steve akan mengajaknya menonton film kesukaannya.


Berlangsung satu jam lebih, akhirnya film pun berakhir. Steve dan Mara pun keluar, sebelum kembali mengantarkan Mara pulang, Steve mengajak Mara untuk makan terlebih dahulu.


"Kita makan terlebih dulu," ucap Steve menuju sebuah restoran yang tak jauh dari bioskop.


"Jika tak ingin makan, maka temani aku saja," jelas Steve, ia pun membuka buku menu makanan yang sudah tersedia diatas meja.


"Lalu?"


"Jika kau tak ingin diperhatikan oleh banyak orang, maka pesanlah makanan,"


"Tapi, aku tak ingin makan Steve!" Jelas Mara menolak, apalagi setelah ia melihat harga yang tertera pada menu makanan sangatlah mahal. Mara merasa lebih baik memasak sendiri, ia sebenarnya bisa membuat makanan seperti ini.


"Mara, apakah kau ingin membuat semua orang menilai buruk terhadap diriku?"


"Maksudmu?" Mara benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Steve.


"Aku akan terlihat sebagai pria jahat karena makan sendiri! Mungkin mereka akan menganggap jika aku ini pelit karena tak mampu membelikanmu makanan,"


"Steve, kita tidak sedang berkencan? Kenapa orang lain harus menilai begitu?"


Steven hanya diam, benar perkataan Mara. Mereka berdua tak sedang berkencan, bahkan mereka tak memiliki hubungan apapun. Kecewa, sedih, sakit perasan Steve saat ini. Ia merasa tengah ditolak, padahal jelas ia tak pernah mengungkapkan apapun pada Mara. Sampai kapan perasaan ini akan terus ia sembunyikan? Bahkan hatinya merasa tak terima jika Mara berkata begitu.


"Mara, besok aku akan kembali ke Amsterdam, malam ini aku akan mentraktir apapun yang ingin kamu makan di restoran ini,"

__ADS_1


Penjelasan Steve akhirnya dimengerti oleh Mara, maka mau tak mau ia pun memesan satu menu makanan yang paling murah.


Steve hanya menggelengkan kepalanya, ia tak ingin memaksa Mara lebih, ia takut Mara malah akan kecewa padanya.


Setelah selesai makan, Mara dan Steve pun segera pergi dari restoran itu. Karena hari sudah semakin gelap, Steve harus mengantar Mara ke rumah sesuai janjinya pada ibu Mara.


Dipintu luar, tanpa sengaja Steve berpapasan pada seseorang. Seseorang yang sudah dikenalnya, bahkan sangat dikenal meski itu dulu.


Untuk saat ini, hubungan mereka tak lagi sama, Yang ada malah semakin memburuk.


Mara yang tak melihat ada seseorang yang tengah memperhatikannya, karena ia tengah sibuk bermain ponsel untuk berkirim pesan pada Randy adiknya.


Steve sadar, jika Byan saat ini tengah memperhatikan mereka dari jarak yang sedikit jauh. Namun Byan berjalan semakin mendekat, menurut Steve Byan akan masuk kedalam restoran yang mereka singgahi tadi dan menghampiri mereka berdua.


Saat itu pula Steven langsung menggenggam tangan Asmara dengan kuat, sontak hal itu membuat Mara terkejut dan menghentikan aktivitasnya bermain ponsel.


Mara menatap kearah Steve, ia benar-benar tak mengerti dengan tindakan Steve kali ini. Tapi, Mara melihat tatapan steve mengarah kedepan, Mara pun mengikuti arah mata Steve tertuju.


Mara dan Steve terdiam, langkah mereka berdua terhenti ketika melihat Byan yang kini semakin mendekat.


Nafas Steve kian memburu, melihat mata Byan yang tajam itu. Begitu pula dengan Asmara. Mereka berdua seperti sedang tertangkap basah tengah berselingkuh.


Saat Byan sudah dekat, ternyata Byan berlalu begitu saja. Hanya tatapan tajamnya yang dapat terlihat. Wajah Byan pun masih datar seolah tak mengenal mereka berdua. Tak ada sapaan atau sekedar basa-basi kepada Asmara maupun Steven.


"Bahkan dia masih sama angkuhnya seperti dulu!" Steven langsung membawa Mara pergi, dengan tangan yang masih menggandeng Mara.


Mara tak berkata apapun, ia mengikuti langkah Steve hingga tiba di parkiran mobil.


"Steve, lepas ..." pinta Mara, ia pun menepiskan pegangan tangan Steven.


"Maaf Mara, aku ..."


"Sudahlah, ayo kita pulang!!" Mara segera masuk kedalam mobil ia pun duduk di bangku sebelah kemudi dan langsung memasang safety belt.


Sementara di dalam restoran, Byan merasa geram. Hari ini ia berfikir sedang terkena sial karena bertemu dengan Steve dan Mara.


"Sial! Rasanya dunia ini sempit sekali, tidak bisakah mereka menjauh dari kehidupanku?" Byan terus saja mengumpat kesal sembari menunggu klien bisnisnya datang.


Tak butuh waktu lama, akhirnya orang yang ditunggu pun datang. Wanita muda itu datang menghampiri Byan dengan sumringah, segera ia mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Byan.


"Selamat malam pak Byan, senang bertemu dengan anda,"

__ADS_1


__ADS_2