Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Keinginan Mara


__ADS_3

"Randy, tunggu!" Byan mencoba menghentikan langkah Randy.


"Aduh!!! Mampuslah aku!" Umpat Randy dalam hati. Ia benar-benar segan dengan mantan kakak iparnya ini. Apalagi Byan terkenal dengan sikap dinginnya.


"Ada yang bisa aku bantu, Kak?" Randy mencoba memepersiapkan diri, takut jika Byan akan mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan. Hingga suaranya pun terdengar gugup, menahan ketakutannya.


"Eum, bolehkah Kakak minta air minum. Kakak haus,"


Akhirnya Randy bisa memghembuskan nafasnya lega. Ternyata Byan hanya meminta air, bukan meminta hal lain yang telah membuatnya takut.


"Maaf, Kak. Saat ini sedang kemarau," jawab Randy disertai senyum jahilnya. Ia pun meneruskan langkah menuju ke dapur untuk mengambilkan air.


"Kemarau? Benarkah?" Byan menerka-nerka, ucapan Randy sungguh mengganggunya. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat Randy sudah kembali membawa segelas air putih untuk Byan.


"Silahkan di minum, Kak," pinta Randy dengan kaku.


"Terimakasih," Byan tak menunda lagi. Ia pun segera meneguk segelas air itu hingga tandas.


"Apa masih kurang, kak?" Tanya Randy lagi. Ia merasa heran dengan setelah melihat Byan yang amat kehausan.


"Tidak, ini sudah cukup. Terimakasih, Randy."


"Kalau begitu, aku permisi, Kak" Randy berpamitan kembali. Ia pun langsung menuju ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua.


Byan menatap Randy yang kini semakin menghilang dari pandangannya menaiki anak tangga. Entah mengapa ia tak bisa mengontrol matanya lagi, karena terus saja menguap dan dilanda rasa kantuk yang cukup berat. Ia pun memilih merebahkan tubuhnya pada sofa di ruang tamu yang jelas bukan rumahnya.


"Mungkin aku bisa memejamkan mataku sebentar," gumam Byan sembari menunggu Star.


Sementara di dalam kamar, Mara, Star dan Kamila saling bercengkrama bersama. Star merasa matanya pun sudah mulai mengantuk. Ia pun memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Mara.


"Star, ada apa?" Tanya Mara yang terus memperhatikan tingkah Star.


"Tante," Star menjawab pertanyaan Mara sembari terus menguap.


"Mungkin Star mengantuk, biarkan saja dia tidur, Mara," ucap Kamila yang paham dengan tingkah Star saat ini.


"Iya, Bu," Mara menghampiri Star, dan mengusap kepalanya beberapa kali dengan pelan. Tak butuh waktu lama, Star pun akhirnya tertidur.


"Ya, Tuhan," Kamila menepuk keningnya tanda telah mengingat sesuatu yang sempat ia lupakan.


"Ada apa, Bu?" Mara pun terkejut, tak tahu apa yang tengah terjadi pada Ibunya.


"Ibu harus pergi, Arisan," timpal Kamila.


"Oh, Mara fikir ..."


"Huh, mengapa Ibu bisa lupa begini, semua pasti sudah menunggu," Kamila segera bergegas menuju keluar kamar Mara.


"Biar Mara antar, Bu," tawar Mara. Mungkin dengan ia mengantar Ibunya tidak akan terlambat.


"Jika kau mengantar Ibu, bagaimana dengan Star?"


Mara menghela nafasnya, ia pun baru menyadari jika di rumahnya saat ini tengah ada Star.


"Ibu akan naik taksi saja," Kamila pun segera bergegas.

__ADS_1


"Mara antar ke depan, Bu,"


Kamila pun mengangguk, mereka berdua jalan beriringan menuju ke luar. Namun betapa terkejutnya ketika mereka sampai di ruang tamu.


"Ya, Tuhan," keluh Kamila.


"Anak dan ayah sama saja," celetuk Mara.


Baik Mara dan Kamila pun sama-sama menggelengkan kepala ketika melihat Byan sudah tertidur pulas di atas sofa.


"Bagaimana ini, Bu? Apa aku harus membangunkannya?" Tanya Mara kepada Ibunya meminta izin.


"Tidak perlu, biarkan saja Byan tidur mungkin dia lelah," Kamila langsung berpamitan pada Mara dan pergi keluar segera karena takut akan terlambat.


"Oh, baiklah," Mara tak membahas hal tentang Byan lagi. Ia takut itu akan memulihkan ingatan Ibunya tentang kejadian sepuluh tahun yang lalu.


Bagaimana pun, Mara juga tak ingin jika Ibunya terus saja mengingat masa lalu yang berkaitan dengan Ayahnya. Sebisa mungkin Mara mencoba menghindar dan menutupi semua hal yang berkaitan dengan masa lalu itu. Karena ia tak ingin Ibunya kembali sakit-sakitan.


Setelah kepergian Kamila, Mara mendekat ke arah Byan yang kini sedang tertidur pulas. Karena siang ini matahari begitu terik, hingga dapat menembus jendela dan menyoroti wajah Byan. Meski Mara sudah menutup gorden, tetap saja sinar matahari itu masuk melewayi celah fentilasi. Mara pun beranjak menutupi sorotan sinar matahari itu. Mara meletakkan tangannya agar membentuk sebuah bayangan dan bisa menutupi wajah Byan dari silaunya cahaya matahari.


"Entah mengapa, aku tidak bisa membencimu meski aku tahu kau hanya membuat lukaku ini semakin dalam," ucap Mara lirih. Matanya pun tak henti memandangi Byan dengan wajah tegas dan terlihat lelah meski sedang tertidur.


"Aku ingin kita baik-baik saja, tapi keadaan memaksaku untuk berbuat lain."


Mara memilih beranjak dari posisinya saat ini. Ia lebih baik pergi ke kamarnya menemani Star. Jika terus berada di dekat Byan, mungkin luka yang ia alami saat ini akan semakin menganga dan bertambah parah.


"Jangan pergi," Byan mencekal pergelangan tangan Mara seketika.


Sontak hal itu membuat Mara terkejut. Jantungnya pun tak bisa lagi diajak kompromi. Berdebar, berdebar dan terus berdebar dengan kencang.


"Mau menghindariku lagi?" Byan tak ingin membuang kesempatan untuk berbicara dengan Mara kali ini. Susah payah ia membuat rencana agar bisa menemui Mara, dan hasilnya pun cukup membuat Byan sedikit lega.


"Siapa?" Mara tak bisa menahan perasaannya kali ini. Byan benar-benar telah menangkap basah dirinya.


"Mara, aku pun sama sepertimu. Ingin kita baik-baik saja, meski keadaan memaksa tidak."


Mendengar ucapan Byan, mata Mara terbelalak lebar. Dalam hati ia terus berkata-kata dan mengumpat dirinya sendiri.


"Sial! Apa dia mendengar semua yang aku katakan?" Batin Mara.


Byan tersenyum melihat wajah Mara yang mulai memunculkan semburat merah. Sepertinya ini adalah kesempatan yang baik untuknya.


"Aku tidak ingin membuat lukamu semakin dalam, aku juga tidak ingin kau membenciku karena semua itu malah membuat hatiku semakin sakit, Mara."


"Apa kamu hanya pura-pura tidur??" Mara merasa kesal. Menurutnya Byan pasti hanya berpura-pura tidur untuk menjahilinya hingga bisa mendengar semua ucapannya barusan.


"Aku tidak pernah berpura-pura, aku tertidur bukan berarti tidak bisa mendengar, Mara."


"Lepas," Mara tak ingin meladeni Byan lebih lama. Ia memilih memberontak agar tubuhnya bisa lepas dari dekapan Byan.


Namun bukannya terlepas, Byan malah semakin mengencangkan dekapannya hingga Mara tak bisa berkutik. Jarak wajah mereka pun kini hanya tinggal beberapa senti saja.


"Lepaskan aku, Mas!!" Mara mencoba memberontak.


"Aku tidak akan melepaskanmu, biarkan seperti ini, Mara." Byan memejamkan Matanya. Dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh Mara yang amat ia rindukan selama beberapa hari ini. Sepertinya ia tak ingin melepaskan Mara lagi.

__ADS_1


"Mas, lepaskan!!!" Mara menaikkan suaranya satu oktaf. Hal itu membuat Byan tersadar dan membuka matanya.


"Aku mencintaimu, Mara," ucap Byan lirih.


Entah berapa kali Byan mengungkapkan perasaannya itu. Mara masih tetap berhati keras dan tak mau menjawab atau membalas ungkapan Byan. Meski sebenarnya ia tahu, Byan mengatakan itu dengan tulus.


"Tapi aku tidak!" Mara berkata ketus sembari memalingkan wajahnya menatap kearah lain. Mungkin ia tak sanggup jika bertatapan dengan Byan. Meski begitu, Byan tahu jika Mara kini tengah berbohong.


"Tidak salah lagi!"


"Jangan terlalu percaya diri, Mas!"


"Kenapa? Apa aku salah?" Byan tak ingin Mara terus bersikap ketus padanya. Ia berusaha membuat Mara menatapnya jika sedang berbicara.


"Jangan bersikap seperti ini, Mara. Aku tidak ingin jika kita terus bertengkar," lanjut Byan. Kemudian ia mengendurkan dekapan tangannya terhadap Mara.


Tak ingin membuang kesempatan baik ini, Mara pun segera melepaskan diri dari Byan. Ia bangun dan kini telah berdiri tegap.


Begitu pun dengan Byan, ia bangun dan membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan.


"Aku harap, kau tidak lagi salah paham, Mas," Mara menghela nafasnya panjang. Ia harus bersiap dengan apa yang akan ia katakan pada Byan.


"Aku sudah memintamu untuk tidak lagi menemuiku, bukan? Jangan memaksa kemari hanya karena ingin berbicara atau bertemu denganku, aku tidak ingin lagi jika ..."


"Jika apa, Mara?" Byan masih mengatur ritme nafasnya. Namun ia sungguh tak sabar ingin segera mendengarkan kelanjutan dari ucapan Mara yang tengah tertunda.


"Lupakan tentang semua yang pernah kita lalui, anggap saja tidak pernah terjadi apapun diantara kita, Mas!" Mara sebenarnya tak ingin berkata kasar, namun ini adalah pilihan baginya. Meski sebenarnya pilihan ini amat berat untuk dijalani.


"Kamu memintaku melupakan semuanya? Apa itu karena masa lalu yang terjadi antara keluarga kita?"


Byan tak habis fikir, bagaimana bisa ia melupakan Mara. Apalagi semua tentangnya, itu hanya akan membuatnya semakin mengingat Mara.


Byan sudah pernah melakukan hal ini, bukannya melupakan yang ada semua tentang Mara malah semakin mengisi hati dan fikirannya.


"Kau tahu itu," jawab Mara dengan suara pelan namun nafasnya sangat memburu.


"Aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu," jawab Byan jujur. Kenyataannya memang begitu, ia baru mengetahui hal itu beberapa hari yang lalu saat terakhir kali bertemu dengan Mara.


"Mara, aku rasa ada kesalahpahaman yang terjadi. Bukan aku membela keluargaku, bukan pula aku tak ingin membela dirimu. Aku ingin kita sama-sama mencari tahu yang sebenarnya," jelas Byan. Sungguh ia lelah dengan hal ini, karena membuat hubungannya dengan Mara yang sempat membaik kini meregang kembali.


"Mara, mari kita perbaiki ini. Aku yakin, ada yang masih belum kita ketahui dari kejadian sepuluh tahun yang lalu,"


Mara terdiam, ia mencerna setiap perkataan Byan. Ia akui, perkataan Byan memang ada benarnya. Itu pun menjadi tujuan Mara sebelumnya untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya.


"Aku tidak ..."


"Mara, tolong jangan menolak! Jika kita sudah menemukan kebenarannya, aku berjanji untuk memenuhi keinginanmu," ucap Byan dengan suara berat disertai mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Keinginanku??" Mara benar-benar tak mengerti apa maksud ucapan Byan.


"Aku berjanji, setelah semua terbongkar dengan jelas aku tidak akan lagi muncul dihadapanmu!"


To be continue ...


*🍒 Hai readers, terimakasih sudah setia membaca karya Othor. Semoga semuanya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak untuk karya ini. Silahkan Komentar, Like, Vote, dan kasih hadiahnya*...


__ADS_2