
"Umi, lukanya cukup serius, Byan membutuhkan perawatan di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan," Adryan, selaku dokter dari keluarga Malik pun memberi saran kepada Andryani yang kini semakin mencemaskan kondisi Byan.
Luka jahitan di lengan kanan Byan akibat sayatan belati kemarin belum mengering. Kini luka itu sudah koyak kembali karena perkelahian Byan dan Steven tadi. Byan terlalu memaksakan diri, padahal Dokter Adryan sudah melarangnya untuk beraktivitas lebih Seperti biasanya.
Ini semua karena Mara. Ya, itu semua hanya di lakukan Byan untuk seorang Asmara Arsytanty. Wanita yang spesial baginya. Wanita yang tengah ia kejar-kejar saat ini tanpa memikirkan dampak buruk bagi dirinya sendiri.
"Dok, tolong lakukan yang terbaik untuk Byan!" pinta Andryani penuh harap.
"Umi tenang, semua Dokter pasti akan memberikan yang terbaik untuk pasiennya," Selesai memeriksa Byan, Adryan pun pergi untuk memeriksa pasiennya yang lain.
"Omma, apa yang terjadi pada Papa?" Tanya Star pada Andryani mengenai kondisi Byan. Bocah kecil itu tiada hentinya menangis ketika melihat Papanya terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.
"Star, tidak boleh menangis, kita doakan saja yang terbaik untuk Papa, ya?"
Andryani berusaha untuk terlihat kuat di depan cucunya, namun sebenarnya air matanya sudah banyak yang tertumpah. Sesak pada dadanya belum juga hilang, sungguh ia tak kuasa melihat Byan melemah dalam pembaringan.
"Papa ..." Rengek Star menatap Byan dengan beruraian air mata.
Andryani bertambah sedih ketika melihat cucunya itu terus-terusan menangis memanggil Byan.
Bagaimana ia bisa menenangkan Star, jika menenangkan dirinya sendiri dia tak mampu.
"Papa, bangun," Star masih menunggu Byan di pembaringannya. Namun, Byan belum juga sadarkan diri.
"Tant," saat itu pula Kessy datang ke ruangan rawat Byan dengan membawa wajah kecemasan.
"Kessy," Andryani segera memeluk tubuh langsing bak model milik Kessy. Hal itu pun disambut cepat oleh Kessy.
"Tant, apa yang terjadi pada Byan?" Tanya Kessy masih menepuk-nepuk pelan pundak Andryani sebagai bentuk menenangkan.
"Tante belum tahu persis, tiba-tiba Sam menghubungi Tante dan ..." Andryani tak kuasa memperjelas kondisi Byan pada Kessy. Ia malah semakin mengeluarkan air matanya.
"Tant, tenanglah. Aku yakin Byan akan segera sadar."
__ADS_1
Meskipun Kessy masih menyimpan dendam kekesalan pada Byan, melihatnya terbaring lemah seperti ini membuatnya merasa sedih. Bahkan air mata sungguhan kini sudah menetes dari dalam kelopak matanya.
Sementara Star, ia tak mempedulikan keadaan di sekitarnya. Ia masih saja mendoakan Byan, berharap Papanya itu akan segera sadar.
"Pa, Star janji tidak akan nakal lagi, Papa bangun ..." Tetesan air mata kini kembali membasahi pipi gembul milik Star. Ia tak sanggup melihat Byan terus berbaring lemah dengan mata yang terus saja tertutup.
Byan kembali terluka, bahkan luka itu menembus hingga hati kecilnya tatkala ia melihat Mara pergi bersama Steven meninggalkan dirinya.
...****************...
Di lain tempat, Steven mengantarkan Mara pulang ke rumahnya. Untuk mobil Mara yang tertinggal, Steve sudah meminta montir mengambilnya.
Steven begitu kecewa pada Mara. Pagi tadi Steve meminta Mara untuk berfikir akan perasaannya. Namun, ternyata Mara malah pergi bersama Byan. Sungguh semua ini terjadi di luar nalar. Steven merasa ada sesuatu yang disembunyikan Mara padanya.
"Steve, apa yang kamu lakukan terhadap Byan itu salah!" Mara yang sejak tadi diam, kini akhirnya membuka suara. Ia melampiaskan kekesalannya dengan memarahi Steven.
Bayangan Byan terus saja berputar-putar dalam otaknya. Bagaiman jika nanti terjadi sesuatu pada Byan? Apakah Byan terluka? Bagaimana keadaannya saat ini? Siapa yang menolongnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja bermain di dalam fikiran Mara. Haruskah ia kembali menemui Byan sekarang?
"Tidak ada yang terjadi diantara aku dan Mas Byan."
Mara berbohong, ia merasa menutupi semua hal yang bersangkutan pada Byan dari Steve adalah langkah tepat. Menurutnya Steve tidak perlu tahu masalah antara dirinya dan mantan suaminya itu. Bahkan Ibunya pun belum ia ceritakan. Ia hanya menunggu waktu yang tepat, meskipun ia tahu entah kapan waktu itu datang.
"Bohong!" Steven mulai menaikkan intonasinya. Hati kecilnya berkata jika Mara saat ini tidak berkata jujur.
Mara terperanjat, ia tak menyukai nada bicara Steven. Nada bicara yang begitu kasar. Bahkan orang yang mendengar itu akan menilai jika dirinya seseorang yang tempramental.
"Jawab Mara, katakan yang sejujurnya?" Kini Steve sudah memelankan suaranya. Ia mencoba menahan semua rasa emosinya pada Mara.
"Steve, kau tak percaya padaku? Itu terserah dirimu!" Mara tak mau berdebat lebih, ia mengambil langkah yang membuat Steve bungkam.
"Steve, lebih baik kau berfikir akan kesalahanmu hari ini! Kau sudah menghajarnya hingga terluka, bahkan perlakuanmu itu sudah kelewat batas!"
__ADS_1
"Mara, kau begitu khawatir padanya?"
"Aku lebih mengkhawatirkanmu, Steve. Bagaimana jika kau tersandung kasus lagi dan keluarga Malik akan kembali melaporkan perbuatanmu itu kepada polisi, hah??"
Mara sudah mulai jengah, ia tak habis fikir Steven akan bertindak gegabah.
"Mara, aku hanya khawatir jika dia akan menyakitimu kembali."
Steven pun memilih diam, ucapannya tak ditanggapi sama sekali oleh Mara. Kecewa rasanya, namun apa boleh buat. Saat ini, ia belum bisa mengungkap perasaan sesungguhnya pada Mara karena di rasa bukan waktu yang tepat.
Steven menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah Mara. Yang di lakukan Mara adalah keluar dari mobil Steve dengan cepat.
"Mara," panggil Steve.
Mara menoleh, namun ia tak mau memandang wajah Steve yang membuatnya marah hari ini.
"Mara, apa aku boleh ..."
"Tidak! Sebaiknya kau segera pulang!"
Mara pun masuk begitu saja meninggalkan Steven.
Steven tak memiliki pilihan lain, niatnya untuk lebih lama bersama Mara kini kandas. Apalagi malam ini ia harus kembali lagi ke Amsterdam.
"Ada yang berubah dari dirinya, dia begitu mengacuhkanku. Apa mungkin terjadi sesuatu antara Mara dan Byan??"
Otak Steven tak henti-henti bertanya-tanya tentang perubahan sikap Mara. Apalagi setelah ia melihat Mara bersama Byan.
"Ini bukan sebuah kebetulan, apa yang direncanakan lelaki itu?? "
"Jika dia berani macam-macam pada Mara, aku akan memotong pangkal lehernya!" Steven pun kembali melajukan mobilnya. Ia menuju ke hotel di mana tempatnya menginap.
Di dalam kamar, Mara merebahkan tubuhnya yang terasa amat lelah hari ini. Niatnya pergi ke rumah keluarga Malik adalah untuk menemui Star sebagai janjinya pagi tadi.
__ADS_1
Ternyata kedatangannya itu berada pada waktu yang tak tepat. Ia malah menyaksikan pertunjukan yang membuat hatinya terasa nyeri dan ngilu. Di ulang lagi dalam ingatannya, di mana wanita yang memiliki postur tubuh bak model itu memeluk Byan dengan mesra. Meski ia tak dapat melihat jelas wajah wanita itu.
"Apa sebenarnya yang aku rasakan? Mengapa terasa nyeri sekali?" Mara memegangi dada tepat di mana hatinya yang sakit itu berada.