Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Pergi


__ADS_3

Matahari sudah terbit, pagi ini banyak sekali kesibukan yang harus dijalani oleh beberapa orang. Tak terkecuali Byan, ia sudah bangun sepagi ini. Tunggu, lebih tepatnya ia tidak tidur sama sekali sejak semalaman.


Mengingat dirinya akan pergi ke Provinsi yang begitu jauh dari Ibu kota, di mana menjadi tempat tinggalnya selama ini, meninggalkan beberapa orang tanpa sempat berpamitan. Ia juga meninggalkan orang yang begitu ia cintai, yang tak lain adalah Asmara.


Namun perasaannya sedikit lega setelah semalam sempat bersama Mara dengan waktu yang lumayan lama. Ia juga sudah lebih bahagia ketika tahu Ibu Kamila telah memberikan sinyal hijau bagi hubungannya dan Mara. Meskipun Mara belum mengakui perasaannya.


Yang harus ia hadapi saat ini justru keluarganya sendiri, terutama Abinya, Malik. Entah bagaimana nanti, ia berharap Malik akan segera sadar dan kembali memintanya pulang ke kota ini.


Dengan berat hati, Byan membawa kopernya menuju ke lantai bawah. Sebelum turun, ia menghampiri kamar Star lebih dulu dan ternyata sudah kosong. Menurutnya mungkin Star sudah turun bersama Sumi pengasuhnya.


Setibanya di lantai bawah, semua orang sudah menunggu kehadiran Byan. Namun sepertinya ada yang salah, karena Andryani dan Star tak berkemas. Bahkan pagi ini, Star masih mengenakan seragam sekolahnya.


"Star," Byan menghampiri Star yang masih menikmati sarapannya.


"Papa, ayo sarapan," Star menatap Byan penuh dengan senyuman namun terlihat sepertin paksaan.


"Star, mengapa memakai seragam sekolah? Bukankah Star ingin ikut Papa pergi?" Hati Byan masih penuh tanda tanya. Kemudian matanya melirik ke arah Andryani dan Malik secara bergantian. Ia merasa jika ada sesuatu yang tak beres pagi ini.


"Oppa bilang, Star tidak perlu pergi," dengan wajah polosnya Star menjawab pertanyaan Byan.


"Star, kita akan ..."


"Byan, Star akan tetap tinggal di sini karena kamu akan pergi ke Seoul," sambung Malik dengan santai.


"Apa???"


Tebakan Byan benar, jika ada yang tak beres. Ternyata Malik telah mengubah rencananya agar tetap membiarkan Star dan Andryani tinggal di kota ini tanpa ikut bersama Byan.


"Hanya kamu yang akan pergi, tidak Star atau pun Umi," lanjut Malik lagi menjelaskan.


"Abi benar-benar keterlaluan!!!"


Byan sudah sedikit lega karena ia hanya di pindah tugaskan ke Papua kemarin. Setidaknya itu masih di dalam negeri. Byan bisa seminggu sekali atau pun sebulan sekali untuk pulang ke Jakarta.


Namun, rencana yang sudah dirancang olehnya pun kini kandas. Karena ternyata Malik memiliki perubahan terhadap keputusannya kemarin.


"Pesawatmu akan take off pukul tujuh pagi, bersiaplah!"


Ingin Byan pergi saat ini juga dari rumah yang sudah sekian lama menjadi tempat tinggalnya. Rumah yang dulu memiliki suasana yang begitu hangat kini berubah menjadi panas. Tapi, ia juga memang ingin pergi pagi ini. Byan lebih mencoba meningkatkan kesabarannya lagi, meski ia tahu tindakan Abinya sangat keterlaluan dan sudah di luar batas.


Byan tak bisa menolak apapun lagi atas keputusan Malik. Ia lebih baik menuruti perintah Malik, dari pada ia harus menjauhi Mara.


"Apakah Papa akan pergi sangat jauh?" Tanya Star yang kini melihat Byan hanya diam tak berbicara. Matanya juga melihat koper besar berwarna hitam yang terus Byan pegang.


"Iya, Star jangan nakal. Papa pasti akan sering mengunjungi Star," Byan memeluk tubuh gembul putrinya itu. Ia mengecup puncak kepala Star tanpa henti. Entah kapan lagi ia akan melakukan hal ini, yang pasti hari ini adalah terakhir kalinya ia bertemu dengan Star.

__ADS_1


"Papa," Star menangis terisak dengan sesak. Ia terus merangkul tubuh Papanya yang pasti akan terus ia rindukan. Entah mengapa Star merasa jika Byan akan pergi teramat lama.


Andryani dan Sumi, yang melihat itu pun ikut menangis. Melihat ayah dan anak yang akan berpisah itu masih berpelukan erat. Kejam memang keputusan yang diambil oleh Malik. Namun ia juga tak punya pilihan lain. Dengan begini, Malik berharap Byan akan lebih baik lagi dan yang pasti akan semakin menjauh dari Mara.


"Byan, maafkan Umi," Andryani memeluk tubuh kekar putra semata wayangnya. Ia terus menangis karena sebagai ibu tak bisa berbuat apa-apa untuk menentang keputusan suaminya.


"Umi tidak bersalah, tolong jaga Star," Byan tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Ia pun segera meninggalkan kediaman milik keluarga Malik menuju ke Bandara dan di antar oleh Pak Kurdi.


Star hanya bisa menangis melihat kepergian Papanya, meski sebenarnya ia ingin ikut, namun karena semalam Malik sudah memberi penjelasan, Star akhirnya memilih untuk tinggal di sini bersama Oppa dan Ommanya.


"Papa," Star tersimpuh di atas lantai ketika mobil yang Byan naiki sudah mulai hilang dari pandangannya. Ia terus saja menangis mengantarkan kepergian Byan.


Kejam memang, karena Malik memisahkan seorang anak dan ayahnya. Suatu hari, Byan hanya berharap Malik akan segera sadar dan menyesali perbuatannya.


Sesampainya di Bandara, Byan menarik koper miliknya. Namun betapa terkejutnya ia setelah mendengar seseorang memanggil namanya.


"Byan!!!" Teriak Kessy dengan melambaikan tangannya.


"Kessy??" Byan hanya bisa menghela nafas panjang. Kali ini ia benar-benar tidak ingin diganggu oleh kehadiran Kessy. Byan melaju saja, ia tak ingin menghabiskan waktu lebih lama. Ia tahu jika Kessy hanya akan membuang waktunya saja.


Melihat Byan berjalan cepat dengan menarik koper hitam, ia segera mengejar agar tak tertinggal.


"By, bisakah kau pelankan langkahmu?" Kessy sedikit memanjakan suaranya. Rasanya kakinya sangat pegal karena mencoba mengimbangi langkah kaki Byan yang begitu lebar.


Byan masih tak menjawab, ia masih saja berjalan cepat. Hal itu membuat Kessy kesusahan, keringat pun sudah mulai mengucur di dahinya.


"Pesawat kita??" Byan berfikir sejenak, langkah kakinya tiba-tiba terhenti, dengan tatapan mata tajam yang melihat koper berwarna Pink muda di tangan Kessy.


"Why? Apa jangan-jangan kamu belum tahu jika kita akan berada di dalam pesawat yang sama?"


"Apa?" Byan meraup wajahnya kasar. Ini adalah momen yang dirasa tidak tepat. Mengapa wanita menyebalkan seperti Kessy harus satu pesawat dengannya?


"Bahkan kursi yang akan kita duduki, bersebelahan!"


Byan merasa ada hal yang aneh, di dalam hati ia bermonolog sembari terus memikirkan ulah siapa ini?


"Ini bukanlah sebuah kebetulan," gumam Byan.


Kali ini Kessy merasa menang. Rupanya ia berhasil menjahili Byan yang masih saja bersikap dingin padanya.


Kini kesempatan emas ada pada Kessy. Semalam Malik meminta Kessy untuk menemani Byan pergi ke Seoul. Kessy tak bisa menolak, karena negara itu termasuk negara impiannya. Malik juga meminta Kessy mengawasi Byan di sana.


Mungkin keberuntungan sedang berpihak pada gadis itu. Bahkan ia bisa lebih leluasa untuk terus dekat dengan Byan.


...****************...

__ADS_1


"Kessy, apa-apaan kau?"


Byan terperanjat ketika Kessy kini duduk di bangku tepat bersebelahan dengannya.


"Ada apa By?" Kessy menaikkan satu alisnya ke atas menunjukkan ketidakpahamannya. Padahal, sebenarnya ia sudah tahu jika akan duduk berdekatan dengan Byan.


"Mengapa kau duduk di sini?" Tanya Byan dengan tatapan tajamnya.


"Hei, ini nomor kursiku. Harusnya aku duduk di sini, bukan?"


Kessy membuka kacamata hitamnya, kemudian ia mendudukkan bokongnya tepat di kursi sebelah Byan. Di sandarkannya kepalanya serta meluruskan kakinya yang terasa pegal.


Entah kesialan macam apa ini bagi Byan. Ia pun mencoba mencari akal lain agar bisa menghindari Kessy. Bahkan baru beberapa menit Kessy dekat dengannya, ia sudah merasa tak nyaman. Apalagi jika ia harus terus dekat dengan Kessy sepanjang perjalanan. Sungguh Byan pasti tidak akan tahan.


Kessy tak banyak tanya ketika Byan pergi, ia fikir Byan mungkin akan menuju ke toilet.


Byan melihat satu celah yang bisa ia manfaatkan. Ia pun bangun dari kursinya dan menghampiri seseorang yang tak ia kenal.


"Hai, apakah kau ingin bertukar tempat duduk denganku?" Sapa Byan pada gadis yang kira-kira berumur sekitar delapan belas tahun.


Gadis itu menatap Byan dengan intens, pria berwajah tampan itu begitu membuatnya terpesona. Bahkan aroma parfumnya saja membuat gadis itu tak mampu mengedipkan mata. "Tampan sekali," puji gadis itu dalam hati.


"Jika kau mau, kau bisa duduk di kursi tepat di sebelah jendela itu,"


Ketika gadis itu melihat kearah yang Byan tunjuk, ia dengan senang hati menerima tawaran Byan. Kebetulan ia sangat ingin duduk di dekat jendela.


"Baiklah," Tanpa banyak pertanyaan, ia langsung pergi menuju kursi Byan.


"Aman," Byan menyandarkan tubuhnya dengan tenang. Akhirnya ia bisa terpisah dari Kessy.


Berbeda halnya dengan Kessy, ia begitu terkejut ketika seorang wanita duduk sembarangan di sebelahnya.


"Hey, hey!!!" Sentak Kessy pada wanita yang masih terlihat muda itu.


"Ada apa Tante?" Seolah tak paham maksud Kessy, ia hanya bisa bertanya dengan wajah polos.


"Jangan sembarangan duduk di sini!"


"Ini kursiku, Tante. Mengapa akuntidak boleh duduk di sini?" Gadis itu pun mencoba melawan atas perlakuan Kessy yang di rasa kurang sopan. Meski ia lebih tua darinya, setidaknya ia juga harus bisa menghargai orang lain. Apalagi mereka belum saling mengenal.


"Pergi! Kursi ini sudah ada yang punya!" Bentak Kessy kembali.


"Aku tahu, tapi Tuan tampan itu memintaku untuk bertukar kursi dengannya!" gadis itu menunjuk ke arah Byan.


Mata Kessy pun membola, apalagi ketika Byan menatap dirinya dengan senyum smirk.

__ADS_1


"Byan!!!!"


__ADS_2