Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Kejahilan Byan


__ADS_3

"Stop! Jangan mendekat Mas," larang Mara pada Byan yang kini kian mendekat kearahnya.


"Aku tak akan berhenti!" Byan tersenyum, kemudian ia menutup pintu kamar Mara dengan rapat dan menguncinya.


"Mas Byan!" Mara tidak tahu apalagi yang harus ia katakan, semakin dilarang Byan malah semakin melakukannya.


"Ayo!" Byan mengulurkan satu tangannya kearah Mara.


Mara terheran, ia tak menanggapi perlakuan Byan. Ia malah memalingkan wajahnya untuk tak menatap Byan.


"Ayo, aku bantu. Sebelum aku berubah fikiran," dengan senyum kecil, Byan merasa senang melihat penampakan wajah Mara yang cukup menggemaskan baginya saat ini.


"Tidak usah! Aku bisa bangun sendiri!" Dengan sigap Mara menolak pertolongan dari Byan. Menurutnya ia bisa berdiri sendiri tanpa bantuan Byan.


Belum saja ia bisa bangun dari ranjang, kakinya sudah tersangkut oleh selimut hingga membuat tubuhnya terhuyung dan jatuh.


Jatuh kepelukan Byan. Untung saja Byan dengan sigap menangkap tubuh Mara yang mungil itu.


Sontak Mara terkejut hatinya bergetar, jantungnya pun berdegup kencang. Matanya yang bulat dan wajahnya pun kian memerah karena malu.


"Jadi, kau masih ingin menolak pertolonganku??" Goda Byan masih dengan mengulum senyumannya.


Mara merasa semakin kesal sekaligus tak mampu lagi menahan malu. Ia sedikit berterimakasih pada Byan, setidaknya kepalanya tak membentur lantai karena Byan mampu menangkapnya.


"Terimakasih." Ucap Mara dengan ketus. Tapi sebenarnya ucapan itu tulus. Ia hanya tak mampu menutupi rasa malunya.


Byan mengubah posisi mereka, ia menarik tubuh Mara dengan cepat. Di dudukkannya bokongnya pada tepian ranjang dengan posisi Mara berada dipangkuannya.


"Mas Byan!" Mara tersentak semakin terkejut dengan perlakuan Byan yang tak terduga.


"Kenapa?" Seperti tak memiliki perasaan bersalah sedikitpun, Byan malah melontarkan pertanyaan yang membuat Mara semakin kelewat kesal.


"Kenapa katamu?? Mas, apa yang kamu lakukan?? Lepaskan!" Mara tidak habis fikir, ia mencoba memberontak untuk melepaskan diri dari Byan.


"Sudah ku bilang, aku tidak akan melepaskanmu, Mara," masih dengan tampang yang sama, Byan terus menatap lekat wajah Mara dengan senyumannya.


"Mas! Lepaskan aku!" Berontak Mara lagi. Namun, Byan malah semakin kuat mengkungkung dirinya.


"Aku tidak akan melepasmu, kecuali ..."


"Kecuali apa?" Rasa penasaran Mara semakin menjadi, ia tak habis fikir bisa-bisanya Byan memberikan suatu pengecualian padanya.


"Kecuali dengan satu syarat!" Byan tersenyum senang. Ia merasa bahagia sudah menjahili mantan istrinya itu.


"Syarat? Kenapa harus ada syarat? Apa untungnya buatku, Mas," Mara tak mau menerima begitu saja syarat yang ditawarkan Byan.


"Okey, jika itu maumu maka kita akan tetap terus begini," Byan tak mau ambil pusing. Ia tertawa puas dalam hati melihat wajah Mara yang semakin memerah dan terlihat kesal.


Kekesalan Mara sudah berada di ubun-ubun. Rasa panas dihatinya kian membara. Sekuat apapun ia memberontak, tenaga Byan tetap lebih kuat dibanding dirinya. "Apa syaratnya?"


Byan tersenyum puas. Kali ini ia benar-benar merasa telah berhasil menjahili Mara.


Byan terdiam sejenak, matanya menelisik setiap penjuru wajah Mara. Melihat hal itu, Mara merasa risih, fikirannya sudah menjalar kemana-mana.


"Mas, apa syaratnya?" Mara tak mau lebih lama berada di dalam kungkungan Byan. Mau tak mau ia harus lebih mengalah. Sudah biasa baginya mengalah dari sikap Byan selama ini.


"Kamu sudah tak sabar?" Lagi-lagi Byan tersenyum puas didalam hati.


Tangannya menyelipkan helaian rambut yang terjuntai kebelakang telinga Mara. Sontak hal itu membuat Mara menghindari tangan Byan.

__ADS_1


Byan tahu, Mara masih ingin menjaga jarak dengannya. Tapi untuk saat ini, entah mengapa Byan malah ingin terus dekat dengannya.


"Mas, jangan mempermainkan aku!" Mara menggerak-gerakkan tubuhnya memberontak kembali. Berharap bisa lepas dari kungkungan Byan tanpa syarat. Namun usahanya hanya sia-sia. Yang didapatkan hanyalah rasa sakit karena Byan malah mencengkram pegangannya dengan kuat pada pinggul Mara.


"Mas, lepaskan! Atau aku akan berteriak!" Gertak Mara lagi. Namun Byan hanya diam saja.


Sebenarnya ia merasa bersalah karena telah memperlakukan Mara seperti ini. Tapi, hatinya merasa senang dan puas.


"Mara ..." Byan memejamkan matanya dengan senyuman yang menyungging dibibirnya.


Mara hanya diam, ia begitu paham apa yang dimaksud oleh Byan beserta syarat yang ditawarkannya tadi. Mara hanya bisa menelan salivanya, ia menatap setiap jengkal demi jengkal wajah Byan yang begitu ia kagumi.


Byan segera membuka matanya, ia melepas kungkungannya terhadap Mara, dapat terpampang jelas didepannya wajah Mara yang semakin memerah tak karuan. Yes, akhirnya dia berhasil menjahili Mara.


"Sudah." Ucap Byan.


"Hah???" Mara tak mengerti, ia menatap heran kearah wajah Byan yang hanya berjarak beberapa senti saja.


"Ya," Byan tersenyum senang.


"Maksudnya??" Mara tak mengerti.


"Aku sudah melepaskanmu. Apa kamu ingin kita terus begini?" Byan tak hentinya tersenyum menatap senang wajah Mara.


Mara yang baru sadar akan hal itu pun segera beranjak dari pangkuan Byan. Ternyata ia tak sadar ketika Byan melepas cekalan tangannya.


Melihat tingkah Mara, ia semakin senang tak


terkira. Lucu dan menggemaskan. Ternyata sebahagia ini rasanya mengerjai mantan istrinya itu.


Mara benar-benar merasa telah dikerjai oleh mantan suaminya, ia berniat dalam hati akan membalas perlakuan Byan.


"Kamu mengusirku?" Bukan tidak mengerti, tapi Byan masih ingin berada lebih lama berada di dekat Mara.


"Memangnya apa lagi jika bukan itu?" Kini giliran Mara yang tersenyum smirk.


"Oh, jadi begitu? Padahal aku merasa jika kamu masih ingin dekat denganku, bukan begitu?" Byan berdiri mendekat kearah Mara.


"Jangan Ge-er! Yang ada aku muak melihat Mas terus-terusan!" Mara tak mau kalah. Ia berusaha menolak semua kata hatinya.


"Muak? Kamu yakin? Aku tidak percaya,"


"Mas, tidak lucu!" Mara mengeluarkan wajah Marahnya ketika Byan terus saja menggoda dirinya.


"Tapi kamu begitu lucu," Byan mengatakan hal yang sejujurnya.


"Pergi sekarang!" Usir Mara yang kian tak tahan dengan sikap Byan yang membingungkan menurutnya.


"Kemana?"


"Terserah!"


"Jika aku pergi kepelukanmu, bagaimana?" Byan tersenyum senang, sebenarnya ia pun masih ingin memeluk tubuh Mara.


"Mas Byan!" Mara membulatkan matanya, kini dengan raut wajah marah.


"Ya, Mara?" Byan kembali mengulum senyumannya.


"CK!!!" Mara tak tahu lagi harus berkata apa. Byan memang membuatnya begitu kesal kali ini.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu masih ingin dekat denganku, bukan?" Byan tak ingin kehabisan cara untuk kembali menjahili Mara.


"Mas, tolong jangan bersikap seperti ini! Bercanda itu tak harus mempermainkan hati!"


Kekesalan Mara kini sudah memuncak, ia dengan spontan mengeluarkan unek-unek yang mengganjal di dalam hatinya.


"Aku tidak bercanda, apalagi mempermainkan hati," ujar Byan tegas.


"Sudah cukup, karena aku mau istirahat jadi, silahkan keluar dari kamar aku sekarang!"


"Tidak."


"Kalau begitu, aku yang akan keluar!" Mara merasa prustasi, ia mencoba menggertak Byan. Namun, ternyata tak berhasil juga.


"Tidak akan ada satupun dari kita yang akan keluar dari kamar ini!" Byan menunjukkan kunci pintu kamar yang kini ada ditangannya. Ia mengeluarkan kunci itu dari saku celananya.


Sontak Mara pun kaget, ia tak menyangka jika Byan mengambil kunci pintu kamarnya.


"Mas, berikan padaku," ketakutan Mara mungkin sudah kemana-mana. Ia takut Byan akan berbuat macam-macam lagi seperti tadi siang.


"Ambil saja jika bisa!" Tantang Byan.


"Aku lelah Mas," Mara tak ingin berdebat lebih, ia memilih diam dan duduk dipinggiran ranjang.


"Aku juga," Byan pun menyusul Mara dan duduk tepat di sebelah Mara.


"Ya Tuhan ..." keluh Mara, ia tak tahu harus dengan cara apalagi agar Byan segera keluar dari kamarnya.


Drtt.... Drtt...


Ponsel Mara bergetar saat itu memecah keheningan di dalam kamar. Mara pun segera beranjak dari duduknya, ia meraih ponselnya dan melihat pada layar nama Steven.


Byan pun dapat melihat dengan jelas siapa nama pemanggil pada ponsel Mara.


Mara pun segera menjawab panggilan video dari Steven, ia mengambil jarak sedikit jauh dari Byan.


"Hai, Steve," sapa Mara menampakkan senyumannya.


"Mara, kau baik-baik saja? Aku mengirim pesan padamu tapi tak kau jawab," ucap Steve dengan nada khawatir.


"Aku sedang ada di seminar, Steve," jawab Mara dengan mata yang sedikit melirik ke arah Byan.


"Oh, aku bahkan sudah begitu merindukanmu, padahal baru beberapa hari kita tak bertemu, Mara," Steven mengeluarkan isi hatinya saat ini, ia mengatakan dengan jujur apa yang tengah ia rasakan.


"Aku pun begitu," ucap Mara dengan berat hati, meski sebenarnya ia menganggao jika perasaan rindu Steve adalah hal biasa yang dirasakan oleh sesama teman, yang ia khawatirkan saat ini adalah perasaan Byan. Ia merasa Byan kali ini tengah memikirkan hal yang tak ia ketahui. Ia juga dapat melihat kini Byan tengah diam tak bersuara, tidak seperti tadi sebelum Steve menelepon.


"Aku ingin mandi Steve, bisa kau hubungi aku nanti?" Mara ingin segera mengakhiri panggilan Video bersama Steve, karena saat ini hal yang harus ia selesaikan lebih dulu adalah urusannya bersama Byan.


"Baiklah, kirim pesan padaku jika kau memiliki waktu luang."


Hanya itu kalimat yang dapat didengar oleh Mara, ia pun segera mengakhiri panggilan Videonya bersama Steve tanpa sepatah kata.


Saat itu pula Byan merasa tengah tertangkap sedang berselingkuh bersama Mara. Ia bersikap seolah Mara sedang mendapat telepon dari kekasihnya, sementara ia hanya bisa diam dan bersembunyi.


"Mas Byan, segera akhiri ini," ucap Mara dengan tatapan lelah. Ia berharap Byan akan keluar dari kamarnya dan memberikan kunci pintu kepadanya.


"Apakah sedekat itu kau dengannya?" Byan merasa penasaran terhadap apa yang tengah ia lihat tadi.


"Mas, aku dan Steve ..."

__ADS_1


"Aku bisa melihatnya," Byan kali ini merasa sedang dilanda rasa cemburu. Ia pun memilih keluar begitu saja dari kamar Mara.


__ADS_2