
Byan melangkahkan kakinya berat menuju ke luar. Sebenarnya ia masih ingin terus berbicara dan mencoba menjelaskan tentang semua yang terjadi padanya semalam. Namun penolakan Mara membuat dirinya sadar jika saat ini Mara sedang tak ingin diganggu olehnya.
Jika sebelumnya mendapat penolakan seperti itu membuatnya emosi bahkan marah, berbeda kali ini. Byan lebih memperluas rasa sabar ya terhadap perlakuan Asmara. Ia juga lebih bisa mengontrol emosi yang biasanya selalu menguasai dirinya.
Pagi ini Byan pergi menuju apotek, ia membeli beberapa jenis vitamin C untuk menjaga kebugaran tubuhnya yang sejak semalam tak bisa beristirahat dan memejamkan mata. Setelah itu ia pun segera pergi menuju ke kantornya, karena ia merasa masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.
"Sam, cari tahu siapa yang berani-beraninya menggangguku semalam!" Perintah Byan kepada sekretarisnya.
"Baik, Pak!" jawab Sam dengan lugas. Ia pun segera bergegas tak ingin menunda lagi perintah Bossnya itu. Meski kini pekerjaan yang sedang menantinya sangatlah banyak, ia mencoba untuk mengeaampingkan lebih dulu karena ia tak ingin menjadi santapan oleh Byan.
Sementara itu, Byan menunggu hasil dari pencarian Sam. Ia juga meminta Sam untuk menemukan kebenaran itu hari ini juga. Selang beberapa jam, Sam pun telah mendapatkan informasi yang dibutuhkan oleh Bossnya.
Bukan hal yang mudah untuk mendapatkan informasi seperti ini, namun karena Byan adalah orang yang tersohor dan seorang pelanggan baik pada Club itu, maka Sam bisa dengan cepat menembus dan mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Hasil rekaman CCTV pun telah di kirimkan oleh sang manager Club melalui E-mail.
BRAKKK!!!
Byan menggebrak meja kerjanya hingga membuat Sam terperanjat kaget. Kemarahan Byan kali ini begitu menyeramkan, bahkan karena masalah ini hampir setiap orang yang bekerja di kantor terkena imbasnya. Sedikit-sedikit Byan akan marah, memaki, bahkan membanting barang di sekitarnya hingga membuat semua orang yang melihat itu akan ketakutan.
"Kurang ajar!!!!!" Byan menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang berpegangan di meja. Tubuhnya condong ke depan, tatapan matanya yang tajam pun terlihat seperti tatapan membunuh bagi siapapun yang melihatnya.
"Beraninya dia bermain-main denganku?" Byan semakin marah setelah mendapat laporan dari Sam tentang siapa yang telah membuatnya bersikap seperti orang gila semalam.
"Tak akan ku ampuni dia! Baiklah, jika memang ingin bermain-main denganku, aku akan lihat sampai mana permainan konyolnya itu."
Byan memicingkan senyuman ala Devilnya. Ia kemudian menyeringai seolah di dalam otaknya sudah terpikirkan cara yang telah ia siapkan untuk membalas perbuatan Kessy.
Waktu berlalu begitu cepat, pekerjaan yang banyak tertunda membuatnya hari ini harus bekerja lebih ekstra. Meski terasa lelah dan penat, Byan harus tetap siaga karena masih ada urusan yang akan ia selesaikan. Setelah semua pekerjaannya selesai, Byan memutuskan untuk pergi ke Club malam ini juga.
...****************...
Di tempat yang berbeda, Kessy tengah besenang-senang dengan temannya di sebuah Club malam. Mereka semua terbahak-bahak mendengarkan cerita dari Kessy.
"Kalian tahu, dia berjalan terbirit-birit dengan anunya yang menonjol! Kalian tentu bisa membayangkan apa itu?" Kessy membuat ketiga teman wanitanya itu semakin tertawa terpingkal-pingkal.
"Kess, kau nakal," ujar Shania masih tak bisa menahan tawanya.
"Aku tidak nakal, dia yang menyepelekanku!" Kessy dengan percaya diri menertawakan Byan kembali.
"Kau tahu kan? Byan pasti tidak akan tinggal diam jika tahu yang sebenarnya?" ucap Mella kali ini mencoba memperingatkan Kessy.
"Iya Kessy, semua tahu siapa Byan, bukan?" sambung Tantri.
"Ah, aku tidak takut! Bahkan jika dia tahu, mungkin dia akan membawaku ke ranjang, I'm so happy!"
Semua tertawa kembali, mereka tak sadar jika ada sepasang mata di sana yang tengah memperhatikan semua kegiatan mereka dan mendengar ucapan yang tengah menghina dirinya.
"Kau benar ingin pergi ke ranjang bersamaku?" Suara bariton seseorang yang menakutkan itu pun muncul di belakang Kessy.
__ADS_1
Hingga semua tersadar siapa yang datang, mental semua orang yang melihatnya pun seperti kerupuk yang sedang tersiram air dan menjadi ciut.
"By-Byan??" Kessy hanya menelan salivanya, ia tak habis fikir jika Byan ada di sini.
Byan menyodorkan tangannya, berharap Kessy akan menyambutnya. Dan benar, uluran tangan Byan itu tak dapat ditolak oleh Kessy.
"Aku akan membawamu ke ranjang, seperti yang kau inginkan!" tukas Byan membawa Kessy pergi.
Ketiga teman Kessy pun hanya membelalakkan mata mereka masing-masing. Melihat Kessy kini bersama Byan dan bergandengan tangan , mereka yakin jika akan terjadi sesuatu yang buruk pada Kessy.
"Habislah!" Umpat ketiganya secara bersamaan.
Namun di tengah-tengah stage, di mana banyak orang yang sedang berdansa dengan diiringi musik disco, Byan menghentakkan pegangan tangannya hingga membuat tubuh Kessy terhuyung.
Semua orang di sana terperanjat kaget, sehingga mata orang-orang itu seolah tertarik oleh magnet mengarah kepada Byan dan Kessy.
"Byan, apa yang kau lakukan?" setelah tubuhnya terlempar dan terjatuh di lantai, Kessy menatap tajam kearah Byan dengan perasaan yang tak dimengerti.
"Hai semua!! Apa ada yang mau ke ranjang bersama wanita ini???" Teriak Byan membuat semua mata lelaki hidung Zebra di sana menatap haus akan itu.
Mereka bersorak seolah ingin berebut menemani Kessy untuk pergi ke ranjang.
"Jika ada yang mau, ambil saja wanita ini, gratis!!" Byan memicingkan senyuman ala devilnya. Ia senang setelah memberi pelajaran pada Kessy, yang menurutnya hanya seorang wanita ******.
"Byan!!!" Kessy meremas ujung bajunya, ingin sekali ia menampar wajah Byan yang tengah tersenyum meski sedang memepermalukan dirinya. Ia merutuki kebodohannya sendiri karena sudah mau termakan rayuan Byan dan tak berfikir panjang.
"Selamat bersenang-senang dengan permainanmu ini!" Byan menghempas cekalan tangannya, kemudian ia pun pergi.
"Byannnnn!!!!!" Teriak Kessy kesal, ingin rasanya ia mengejar lelaki yang sudah pergi meninggalkannya. Namun ruang geraknya terbatas, belum lagi banyak lelaki yang menghampiri dirinya seakan memperebutkan tubuh itu untuk membawanya ke peraduan.
Rasanya Kessy ingin menangis ketika beberapa pria itu menyentuhnya. Bahkan tangannya pun terasa sakit karena terus saja ditarik ulur oleh para lelaki hidung Zebra itu.
Bahkan, ia sempat marah ketika seorang lelaki dengan senang meremas pay*dar* miliknya.
"Lepaskan aku!!!" Teriak Kessy dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Beruntung saat itu ketiga temannya pun langsung datang menolong Kessy dari gerombolan pria hidung Zebra.
Kessy menangis ketakutan, baginya ini adalah pengalaman terburuk dan menakutkan. Apalagi tadi seseorang telah menyentuh dan melecehkan tubuhnya, jika mengingat itu sungguh ia merasa semakin takut.
Begitu selesai memberi pelajaran pada Kessy dan sedikit merasa lega karena telah membalas perbuatannya, Byan mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat. Tempat di mana ia sangat ingin melihat seseorang.
Tiba di depan toko kue milik Mara, Byan hanya memandangi tempat itu. Di jam malam seperti ini toko kue itu masih buka, bahkan masih ada beberapa pengunjung yang datang.
Byan juga melihat mobil Mara masih terparkir di depan, ia yakin jika Mara kali ini belum pulang. Niat hatinya ingin bertemu dengan Mara meski dengan perasaan ragu. Namun ia bertekad dan keluar dari mobil menuju ke dalam toko itu.
Setelah tiba di dalam, Byan tak melihat keberadaan Mara. Menurutnya mungkin Mara masih ada di dalam ruang kerjanya. Nyalinya pun menciut, ia tak kuasa untuk bertemu dengan Mara meski hatinya sangat menginginkan itu.
__ADS_1
"Permisi, ada yang bisa di bantu?" Tanya seorang karyawan menghampiri Byan.
"Oh, aku ingin membeli kue kering cokelat," hanya itu yang ia jadikan alasan untuk masuk ke dalam toko ini. Meski sebenarnya tujuan utamanya bukanlah itu.
"Mari ke sebelah sini, Pak," jawab si karyawan wanita itu memberi arahan pada Byan.
Byan melihat satu toples kue cokelat yang tak asing baginya. Ya, kue cokelat yang pernah di makan oleh Star waktu itu. Ia pun membeli dua toples kue cokelat itu.
Setelah selesai berbelanja, mata Byan masih celingukan tak menemukan seseorang yang benar-benar sedang dicarinya.
"Maaf, apa aku boleh menitipkan ini," Byan memberikan sebuah bungkusan berisi vitamin C yang tadi ia beli di Apotek.
"Untuk siapa, Pak?" Tanya karyawan wanita itu dengan name tag Renata.
"Tolong berikan ini pada Mara, permisi," hanya itu yang ia sampaikan. Setelah itu ia pun pergi ke luar untuk pulang.
"Siapa dia? Kenapa menitipkan ini untuk Maba Mara? Apakah itu pacar Mba Mara? Kiyowoo," Renata merasa terkesan dengan penampilan dan wajah Byan yang terbilang tampan. Dengan segera ia pun mengetuk pintu ruangan Mara untuk memberikan titipan dari lelaki yang tak ia ketahui siapa namanya itu.
Tok! Tok!
"Masuk," jawab Mara dari dalam.
"Mba, permisi,"
"Re? Ada apa?" Tanya Mara pada Renata yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
"Mba, ada titipan!" Renata langsung menaruh bungkusan itu ke meja Mara.
"Apa ini?" Tanya Mara heran dan langsung membuka kantung plastik berwarna putih itu.
Mara tak mengerti sekaligus heran dengan isi kantung itu. "Vitamin?"
"Ciye ..." Goda Renata pada Mara.
"Siapa yang menitipkan ini, apa tidak salah orang, Re?" Tanya Mara lagi mencoba meyakinkan Renata.
"Tidak, bahkan pria tampan itu memberikan ini dengan menyebut jelas nama Mba Mara!" Ujar Renata dengan penuh semangat.
"Pria?" Mara terheran-heran dibuatnya. Ia belum bisa menebak siapa Pria yang memberikan beberapa jenis Vitamin C untuknya. Mara terus memandangi bungkusan itu mencoba memikirkan siapa yang memberikannya.
"Di minum loh Mba, jangan menolak kebaikan orang! Apalagi orangnya setempat itu," Renata pun segera keluar dari ruangan Mara karena sudah waktunya untuk berkemas dan menutup toko.
"Dasar Renata!" Umpat Mara.
Sepeninggalan Renata, Mara masih memikirkan siapa si penitip Vitamin C itu. Namun ia sangat berterimakasih karena saat ini ia sangat membutuhkannya.
"Entah siapa orangnya, terimakasih ..." ujar Mara kemudian meminum Vitamin C itu.
__ADS_1