Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Penguntit gagal


__ADS_3

Mara keluar dari komplek perumahannya, ia mengendarai mobil sendiri karena di rasa kakinya yang terluka sudah mulai membaik.


Malam ini, ia harus menemui Byan. Sesuai kata hatinya, ia harus berbicara dengan Byan. Apalagi Mara mengingat perkataan Byan siang tadi jika ia akan pergi jauh.


"Ke mana dia akan pergi? Apa dia hanya menggertakku saja?" Hati Mara terus berperang dengan fikirannya. Rasa cemas dan khawatir pun mulai melanda ketika ia kembali mengingat Byan yang tengah sakit.


Seperti yang dikatakan Star siang tadi, lengan Byan yang terluka dan harus di jahit. Apakah luka Byan itu diakibatkan oleh perkelahiannya dengan Steve tempo hari?


Semua itu masih menjadi teka-teki untuk Mara. Yang menjadi tujuan utamanya saat ini adalah bertemu dengan Byan, Mara menepikan sebentar mobilnya dan meraih ponsel di dalam tas kecil yang ia bawa.


Ia mencoba mencari kontak nomor telepon Byan, namun ia tak juga menemukan nama mantan suaminya itu.


"Astaga!" Hingga lebaran nyamuk pun Mara tak akan menemukan kontak Byan di ponselnya. Ia baru ingat jika mereka berdua tak saling memiliki nomor telepon satu sama lain.


"Lalu bagaimana caranya aku bisa bertemu dengannya?" Mara di buat bingung sendiri oleh tindakannya. Otaknya kali ini dipaksa untuk berfikir lebih keras lagi.


"Tidak mungkin aku datang ke rumahnya, itu tidak mungkin!" Mengingat tempo hari ia melihat Byan dan Kessy bermesraan, Mara mengurungkan niatnya untuk mendatangi kediaman keluarga Malik. Ia takut jika akan bertemu wanita yang dianggap Star sebagai monster itu.


"Ya, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan?" Mara berfikir hingga beberapa menit, ia tak tahu tujuannya harus ke mana.


"Dokter Adryan? Ya, hanya dokter Adryan satu-satunya jalan yang bisa ku tempuh,"


Namun Mara kembali mengingat perilaku suami dari temannya itu, jika ia datang ke sana pasti dokter Adryan akan berfikiran yang macam-macam. Apalagi ia terkenal dengan sifat yang konyol.


"Apa aku ke kantornya saja?" Mara kembali mengingat di mana Byan bekerja. Namun ini sudah malam, ia takut Byan sudah tak ada lagi di kantor. Jika ia pergi kesana, mungkin itu hanya akan membuang waktu.


"Arghhh!" Mara berteriak, namun tak terlalu kencang. Ia merasa sedang berada di jalan buntu saat ini. Tanpa arah, tanpa tujuan yang jelas.


"Harus kemana aku mencarinya?" Sungguh Mara merasa putus asa, ia tak tahu dengan cara apa lagi ia harus menemui Byan.


"Sumi??" Mara baru ingat, jika pernah menyimpan nomor telepon Sumi karena kepentingannya dengan Star.


Dengan segera Mara mencari kontak dan menelepon Sumi, beberapa kali nada panggilan itu terhubung namun Sumi tak kunjung menjawab telepon darinya.


"Ini baru jam setengah tujuh malam, tidak mungkin Sumi sudah tidur," Mara terus bermonolog dalam hati.


Tak ada langkah lain selain menuju ke kediaman keluarga Malik. Ia pun segera menginjak pedal gas mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil, ia terus merapalkan doa-doa berharap tak akan terjadi sesuatu yang buruk nanti.


Kini mobil Mara sudah berada di depan rumah mewah milik mantan Suaminya itu. Namun ia belum memberanikan diri untuk masuk atau turun dari mobilnya. Ia memilih menunggu sejenak dan memperhatikan sekitar rumah. Matanya terus memperhatikan gerbang besar yang menjulang tinggi di sana, namun belum ada tanda-tanda apapun.


Tak lama setelah itu, ia melihat mobil hitam yang tak asing lagi baginya keluar dari komplek rumah mewah itu.


"Bukankah itu mobil Mas Byan?" Mara tak mau kehilangan jejak, ia pun segera mengikuti mobil itu dari belakang.


Malam-malam begini, Mara merasa tak asing dengan jalan yang kini ia lewati. Jalan di mana ia masih mengikuti mobil Byan.


"Pemakaman?" Mara terkejut ketika melihat Mobil Byan berhenti di area pemakaman. Dari situ ia bisa melihat Byan yang turun dari mobil serta membawa beberapa tangkai bunga di tangannya.


Mara tak diam saja, karena penasaran ia pun turun dari mobil dan mengikuti Byan. Sebelum itu, ia memasang masker terlebih dahulu dan memakai hoodie hitam untuk menutupi bagian kepalanya.


"Untuk apa Mas Byan malam-malam seperti ini ke pemakaman?" Hati Mara penuh dengan tanya, bahkan tanpa sadar ia sudah seperti seorang penguntit. Setelah melihat Byan sudah berhenti di salah satu makam, Mara pun menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik pohon yang jaraknya tidak jauh hingga ia dapat mendengar semua ucapan Byan dengan jelas.


"Agatha, maaf aku baru bisa mengunjungimu," Byan meletakkan beberapa tangkai bunga segar bermacam-macam jenis di atas pusara Agatha.


"Tha, aku tidak bisa membohongi perasaanku ini. Maaf jika aku menyakitimu," Byan berbicara dengan pusara Agatha kembali dengan suara yang semakin berat. Ia juga mengeluarkan air mata dengan terus meminta maaf pada Agatha yang sudah lama tiada itu.


"Tha, maaf jika kini aku tak bisa lagi setia denganmu, aku sangat menginginkannya, bahkan perasaanku padanya melebihi rasa yang pernah ada untukmu, maafkan aku Tha,"


Mara dapat mendengar isakan tangis Byan, ternyata Byan menumpahkan semua air matanya yang telah terbendung sejak lama itu di pusara mendiang Agatha.


Selama ini Mara tak pernah melihat Byan selemah ini, tapi ternyata pria yang selalu terlihat tegar, kuat, bahkan dingin dan egois itu bisa menangis juga. Rupanya, di sinilah tempat ia menangis. Apakah tidak ada tempat lain baginya untuk sekedar bercerita??


Mara pun jadi ikut menangis menyaksikan Byan, bahkan Byan terisak dalam waktu yang cukup lama dan hampir setengah jam.


Ternyata tangisan pria seperti Byan bisa melebihi tangisan seorang wanita. Sungguh hati Mara kini amat tersentuh bahkan ikut menangis.


"Tha, kamu pasti tahu siapa wanita yang aku maksud yang telah menggantikan posisimu di hatiku, sekali lagi maafkan aku," Byan kembali meminta maaf pada Agatha.


Mara yang mendengar itu menjadi kesal, sembari mengusap sisa buliran air bening di pipinya, ia terus saja mengoceh, "Memangnya Agatha akan memaafkannya, hanya karena dia terus meminta maaf? Dasar aneh!!"


"Siapa wanita yang dia maksud?" Hati Mara bertanya-tanya tentang wanita yang selalu disebut oleh Byan. Wanita yang akan menggantikan posisi Agatha di hatinya itu. Mara sungguh penasaran. Yang ia sayangkan, mengapa Byan tak menyebut nama wanita itu.


"Tha, aku pamit. Besok aku harus pergi ke Papua," Byan pun beranjak dari makam Agatha, melangkah menuju ke arah mobilnya terparkir.

__ADS_1


Mendengar itu, Mara menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Ia begitu terkejut ketika mengetahui Byan akan pergi ke Papua.


"A-pa?? Papua??"


Setelah melihat Byan kini telah pergi, Mara pun ikut melangkah dari area pemakaman yang tak membuatnya merinding sama sekali. Baginya areal pemakaman ini bak sebuah taman, bukan kuburan.


Merasa ada yang janggal, Byan menunda untuk masuk ke dalam mobilnya. Ia memilih untuk bersembunyi terlebih dahulu.


"Di mana dia?" Mara kehilangan jejak, namun ia masih melihat mobil Byan terparkir di depan matanya.


Mata Mara mencari-cari keberadaan Byan, kemudian langkahnya pun maju mengintai dari luar jendela mobil berharap menemukan Byan. Namun sepertinya mobil Byan masih kosong.


"Siapa kau!!" Dari belakang seseorang telah mencekal tangannya dengan kuat.


Seketika Mara terkejut, ia bahkan gagal menjadi seorang penguntit karena telah tertangkap.


Dengan sekuat tenaga Byan membalikkan tubuh orang yang memakai hoodie hitam itu agar menghadap kepadanya, ia menyandarkan tubuh itu sangat rapat pada mobilnya hingga tak bisa berkutik lagi.


Karena suasana cukup gelap, Byan tak dapat melihat jelas wajah orang yang kini ia tangkap akibat hoodie dan masker yang ia pakai.


Byan pun tak menunda lagi, ia segera menarik masker itu dari wajahnya. Betapa terkejutnya ia setelah melihat siapa orang yang kini tengah ia tahan.


"Mara?" Byan membelalakkan matanya, ia berharap penglihatannya saat ini salah. Untuk lebih memastikan ia pun membuka hoodie dari kepala Mara.


Dan benar tebakannya, orang yang tengah ia kungkung saat ini adalah wanita yang bernama Asmara.


"Mas, aku ..." Mara ketakutan, matanya sudah memerah disertai keringat yang mengalir deras dari keningnya.


"Mara, apa yang kau lakukan di sini?" Byan segera melepaskan kungkungannya terhadap Mara.


"Maaf, aku ..." Mara tak bisa beralasan lagi. Otaknya saat ini begitu buntu hingga tak bisa menemukan alasan yang tepat untuk ia jelaskan pada Byan.


"Mara," Byan menarik tubuh langsing itu dan segera memeluknya dengan erat. Ia tak mau tahu alasan apapun yang akan Mara jelaskan saat ini. Yang ia tahu, Mara kini ada di hadapannya dan ia tak ingin lagi membuang waktu lebih banyak.


Malam ini mungkin malam terakhir untuk bisa bertemu dengan wanita yang kini mengisi hatinya.


Mara merasa tak dapat bernafas karena pelukan erat yang Byan lakukan. Tapi Mara membiarkan Byan lebih lama memeluk tubuhnya setelah ia mengingat jika tadi Byan sempat menangis.


"Biarkan seperti ini, biarkan aku memelukmu lebih lama lagi, Mara," ucap Byan menolak Mara pergi.


"Mas, tapi ini sudah malam,"


Byan menarik tubuh Mara dan membuka pintu mobilnya. Kemudian ia mendudukkan tubuh Mara di kursi sebelah kemudi.


Byan pun segera memutar, ia masuk dari pintu sebelah kanan ke dalam mobilnya.


"Mas, mau ke mana?" Tanya Mara ketika melihat Byan sudah menyalakan mesin mobilnya.


Byan tak menjawab sepatah kata pun, ia segera tancap gas dan melajukan mobilnya.


Mara baru ingat, ia telah meninggalkan mobilnya di area pemakaman. "Mas, mobilku,"


"Biarkan saja!" Byan tak terlalu menanggapi ucapan Mara perihal mobilnya.


"Mas, mobilku tertinggal!" Mara sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Tidak akan ada yang mengambilnya! Di sana aman," jawab Byan tak mau ambil pusing.


Mara kehabisan kata-kata, melihat Byan memasang wajah murung serta tak banyak bicara seperti ini malah membuatnya semakin takut. Apalagi jika ia mengingat ketika Byan habis menangis dengan isakan yang begitu berat.


"Mas, kita mau ke mana?" Mara merasa tak asing ketika melihat jalan yang kini di lalui oleh mobil Byan.


Benar dugaan Mara, Byan kini telah berhenti tepat di depan rumahnya. Namun sampai saat ini Byan belum mengeluarkan kata-kata apapun. Itulah hal yang membuat Mara bingung.


"Mas, kenapa ke rumahku?" Tanya Mara lagi.


"Turun!" Byan membukakan pintu untuk Mara. Kemudian Mara pun turun dari mobil Byan dengan penuh tanya.


Byan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kencang. Ia pun menarik tangan Mara menuju ke arah rumahnya.


"Pulanglah, untuk urusan mobilmu biar besok aku yang mengurusnya," tepat di gerbang rumah, Byan berbicara seperti itu.


"Mas, aku sungguh tak mengerti apa maksudmu?" Hati Mara masih menyimpan banyak tanya.

__ADS_1


"Aku harus pergi, aku titip salam untuk Ibu," Byan tak mau lebih lama lagi bersama Mara. Hal itu malah membuat dirinya tak ingin berpisah dari Mara.


"Mas, tunggu!" Mara menarik tangan Byan.


Byan menatap Mara serta tangannya yang dipegang kuat oleh Mara. Ia berharap semoga Mara tak mengucapkan kata-kata yang akan kembali membuatnya kecewa.


"Masuklah lebih dulu, berpamitanlah langsung dengan Ibu,"


Deg!!


Apakah ini kesempatan yang telah Mara berikan untuknya? Atau ini sebuah tanda perpisahan sungguhan yang membuatnya dan Mara tak akan lagi bisa bertemu?


Jantung Byan berdegup tak karuan, ia tak tahu harus bagaimana saat ini. Jika ia menerima masuk, maka ia harus siap dengan apa yang akan dikatakan oleh Kamila. Jika ia menolak masuk, ini di rasa sebuah ketidaksopanan yang dilakukannya.


Dengan menahan gejolak hatinya, Byan pun mengikuti Mara dari belakang. Ia kembali masuk ke dalam rumah ini setelah siang tadi baru keluar.


Mara mempersilahkan Byan duduk dan menunggu di ruang tamu. Kemudian ia masuk ke dalam mencari Ibunya juga Randy.


Sayangnya, Randy malam ini sudah tidur akibat terlalu lelah setelah pulang latihan bermain bola. Hingga hanya Ibu Kamila saja yang keluar menemui Byan.


"Ibu," Byan merasa gugup ketika sudah melihat Kamila keluar dengan satu cangkir teh hangat ditangannya.


"Silahkan di minum, Nak Byan," Kamila mempersilahkan Byan meminum teh hangat buatannya.


"Bu, aku kemari ingin berpamitan," kata pamit itu tiba-tiba muncul dari mulutnya.


"Baru saja tiba, kau sudah ingin pamit?" Kamila tak mengerti akan ucapan Byan.


"Mengobrollah dahulu dengan Mara, Ibu harus pergi ke acara arisan di rumah Bu RT,"


Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba sikap Kamila berubah ramah dan tak menakutkan seperti siang tadi. Entah apa yang terjadi, namun otaknya berfikir jika Mara lah yang mampu mendinginkan suasana hati ibunya.


Byan tersenyum ramah ketika Kamila berpamitan dengannya untuk keluar. Sementara Byan masih menunggu Mara yang sejak tadi tak kunjung ke luar menemuinya.


"Mas," Asmara memanggil Byan agar ikut dengannya ke dalam.


"Mara?" Dapat Byan lihat kini Mara tengah memakai celemek berwarna Pink, sesuatu yang amat langka baginya.


"Aku sudah siapkan makanan, kau pasti lapar,"


"Dari mana kau tahu jika aku lapar?" Tanya Byan penasaran.


"Kau terlalu banyak menangis, tenangamu pasti habis," tak seperti biasanya, malam ini giliran Mara yang menjahili Byan.


Melihat Mara terus mengulum senyumannya, ia pun segera mendekat mengikuti Mara dari belakang.


"Nasi goreng seafood, hanya ini menu makanan yang cepat!" Mara tak sempat memasak menu lain, karena ia tahu itu akan membutuhkan waktu yang lama.


"Mara,"


"Heum?" Mara melihat ke arah Byan yang kini menatapnya dengan tatatpan dalam.


"Terimaksih," Byan segera duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh Mara satu porsi nasi goreng untuknya.


"Kau tidak makan?" Tanya Byan yang melihat hanya ada satu porsi nasi goreng.


"Aku tidak ingin makan nasi goreng," jawab Mara menatap Byan dengan senang.


"Lalu apa yang ingin kau makan?" Tanya Byan lagi.


"Kau!" Mara tertawa lepas setelah merasa berhasil menjahili Byan.


Byan yang melihat tawa itu pun langsung mendekatkan diri ke arah Mara. Ia menarik pinggul langsing milik Mara hingga duduk di atas pangkuannya.


"Lakukanlah," Byan berkata seolah pasrah, kini jaraknya dan Mara sungguh sangat dekat.


Sementara, Mara yang di perlakukan seperti ini oleh Byan tak bisa lagi berbuat apa-apa. Getaran hatinya seolah mendorong harus menerima semua perlakuan yang Byan buat untuknya.


"Kau ini!" Mara sudah berani menarik dan menekan dengan keras hidung mancung milik Byan. Hingga membuat Byan hampir tak bisa bernafas.


Karena aksi Mara, Byan semakin merapatkan pegangannya pada pinggul Mara hingga membuat tubuh mereka semakin rapat.


"Mara, kau tak ingin memakanku?"

__ADS_1


__ADS_2