Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Jaga jantung, jangan sampai jatuh!


__ADS_3

Mara mengantarkan Star pergi ke sekolah bersama Sumi. Ia memilih mengendarai mobilnya sendiri dan meminta pak Kurdi untuk pulang.


Sebenarnya Mara takut melakukan hal ini, takut jika nanti Byan akan mengetahui tindakannya. Tapi, ini semua ia lakukan demi Star.


Saat di antar Mara ke sekolah, Star begitu senang. Keceriaan di wajahnya bisa terlihat kembali meski belum sepenuhnya. Star tetap saja masih sedih jika mengingat Papanya belum sadarkan diri hingga saat ini.


Beberapa jam kemudian, Star sudah keluar dari kelasnya. Ia pun keluar dengan perasaan gembira ketika melihat Mara masih menunggunya di depan.


"Tante!" Teriak Star memanggil Mara.


"Hei, sudah selesai?"


"Sudah," Star menjawab diiringi anggukan kepala. Senyumannya pun tak pernah lepas menghiasi wajah gembulnya itu.


"Oke, kalau begitu mari kita pulang!"


Dengan penuh semangat Star pun mengikuti Mara menuju mobil. Ia duduk di kursi tepat di sebelah kemudi. Sementara Sumi duduk di bangku penumpang.


"Non, kita ke rumah sakit ya. Papa Non Star sudah siuman," kabar yang Sumi beritahukan membuat dua orang yang mendengarnya itu merasa lega.


"Benarkah? Hore!! Papa sudah sembuh." Teriak Star antusias.


"Tante, mau kan ikut dengan Star menemui Papa?"


Permintaan Star membuat Mara bingung. Ia merasa tak pantas bertemu Byan setelah apa yang terjadi. Namun hatinya sungguh sangat ingin mengetahui keadaannya.


"Star, Tante harus bekerja. Bagaimana jika lain kali saja?" Mara mencoba mencari alasan untuk menolak permintaan Star.


"Yah," Star mengerucutkan bibirnya tanda kecewa.


"Non Star, tidak boleh seperti itu. Hari ini kita ucapkan terima kasih banyak ya untuk Tente," Sumi pun ikut bicara. Ia mencoba memberikan pengertian pada Star.


"Huh, padahal Star ingin memperkenalkan Tante Cantik dengannya," Star merajuk. Ia bermaksud memamerkan Mara pada seseorang.


"Seseorang?? Siapa, Non?" Tanya Sumi tak mengerti.


"Tante Monster!" Star melipat kedua tangannya di depan dada. Sembari menunjukkan wajah kekesalannya.


Sumi mengumpat tawanya mendengar ucapan Star. Ia tak mengajari Star untuk memanggil sebutan Monster kepada Kessy. Namun, tingkah bocah satu ini mengundang gelak tawa baginya, tak terkecuali Mara.


"Star, Siapa Monster itu?" Mara ingin mengetahui lebih jauh. Hal yang Star katakan membuatnya tertarik dan penasaran.

__ADS_1


"Tante harus berkenalan dengannya, ayo ikut Star temui Papa ..."


"Star, siapapun orang itu, kamu tidak boleh menyebutnya dengan hal yang tidak baik, Nak,"


Mara tak ingin meracuni otak Star dengan segala hal buruk. Ia ingin memberikan sebuah pengertian serta menanamkan kebiasaan yang positif dalam diri Star.


"Habisnya, dia persis seperti Monster. Dia menyeramkan!" Star terbayang-bayang wajah Kessy yang menurutnya begitu menakutkan dan begitu menyebalkan.


"Menyeramkan? Apakah dia jelek??" Mara masih bertanya-tanya ingin tahu siapa yang Star maksud.


"Pokoknya, kali ini Tante Cantik harus tahu siapa dia!" Star menyunggingkan senyumannya. Ada hal yang terlintas di fikirannya saat ini. Sebuah ide cemerlang, yang menurutnya akan menjadi pelajaran untuk Kessy.


Mara tak bisa menolak lagi, dari pada harus terjadi sesuatu pada Star. Hari ini ia juga sudah berjanji akan menyenangkan hati Star. Ia tinggal menyiapkan hatinya saja saat ini untuk berhadapan dengan Byan.


"Okey, Tante akan menemani Star menemui Papa."


Jawaban Mara membuat Star senang. Begitu pula dengan Sumi.


...****************...


Sementara di atas brankar, Byan merasa bingung tentang apa yang terjadi pada dirinya. Entah berapa lama ia tertidur, tubuhnya terasa pegal dan sakit.


"Kau begitu kuat, dan lebih jagoan!" Adryan datang untuk memeriksa keadaan Byan saat ini.


"Heuh," Byan tak menanggapi dengan perkataan apapun. Ia hanya membuat lengkungan tipis pada sudut bibirnya yang nyaris tak terlihat.


"Byan, jangan melakukan tindakan seperti ini lagi. Itu akan membuat kondisi kakimu semakin tak baik!"


Adryan yang tahu jika Byan memiliki masalah pada kakinya akibat kecelakaan beberapa tahun lalu pun mencoba memberi peringatan. Ia juga memberikan beberapa saran agar Byan tak lagi berkelahi atau terlalu keras menggunakan ototnya.


"Jaga otot bisepmu itu baik-baik," Adryan mencoba menjahili Byan yang masih terlihat kesal.


"Jaga, untuk wanitamu itu!" Adryan kembali melanjutkan candaanya dengan mata yang mengarah pada Kessy.


"Dia bukan wanitaku!" Byan tak terima jika Adryan menyebut Kessy sebagai wanitanya. Hal ini sungguh begitu menyebalkan baginya.


"Benarkah?? Berarti sudah ada wanita lain yang mengisi kekosongan hatimu yang telah lama lapuk?? Adryan terus saja menjahili Byan. Sebagai dokter sekaligus teman Byan, ia sangat tahu betul keadaan luar dan dalam Byan.


"Ck! Kau ingin aku pecat sebagai dokter keluargaku?!" Byan tak ingin memperjelas lagi. Ia memberikan ancaman pada Adryan agar lelaki itu tak lagi menjahilinya.


"Oke, aku menyerah!" Adryan mebolakan mata, meski sebenarnya ia tahu jika saat ini Byan hanya menggertak. Ia sangat memahami bagaimana watak Byan.

__ADS_1


Setelah berbincang dan memeriksa Byan, Adryan pun berpamitan dan keluar dari ruang rawat Byan. Di saat itu pula Kessy datang mendekat ke arah Byan.


"By," Kessy hendak memberikan pelukan pada Bya. Namun Byan dengan cepat menampiknya.


Kessy hanya bisa menahan emosinya. Harusnya ia yang marah terhadap Byan, namun mengapa seolah Byan lah yang marah pada dirinya? Menghadapi Byan sungguh sangat butuh kesabaran baginya. Meski ia tahu, dirinya tak pernah bisa sabar.


"By, kau marah padaku?"


"Jangan membuang waktu, silahkan pergi!" Perintah Byan yang tak tahan melihat keberadaan Kessy terus-menerus di dekatnya.


"By, aku sudah berada di sini sejak kemarin ketika kamu belum sadar! Aku yang menjaga, merawat dan memeperhatikanmu ..."


"Oh begitu? Apa kau ingin aku memberikan gaji sebagai gantinya??" Byan menatap nanar Kessy dengan tatapan tajam dan penuh ketidaksukaan.


"Byan, aku tidak ingin uangmu! Aku mendekatimu karena aku memang tulus!" Sergah Kessy.


"Tapi, aku tidak membutuhkan itu semua! Pergi dari sini," Byan tak ingin kehabisan tenaga. Semakin meladeniya, maka Kessy semakin takkan menyerah.


"Papa!!" Dari gawang pintu, terdengar teriakan Star yang begitu memekikkan telinganya.


"Star??" Byan tersenyum melihat kehadiran anaknya yang masih mengenakan seragam sekolah di sertai wajah yang amat cerah.


Star menaiki kursi agar ia bisa menjangkau brankar rumah sakit yang tinggi. Hingga tubuhnya dapat memeluk Byan. Ia juga tak memberi kesempatan pada Kessy untuk mendekati Papanya lagi.


"Papa sudah sembuh?" Tanya Star penasaran.


"Seperti yang Star lihat, Papa sudah sangat sembuh!" Byan tak ingin putrinya itu mengkhawatirkan keadaan yang sebenarnya.


"Pa, Star punya kejutan!" Senyuman Star yang ceria dapat terlihat oleh mata Byan. Ia merasa penasaran tentang kejutan yang dimaksud.


"Benarkah?? Bolehkah Papa terkejut sekarang?"


Byan mencoba membuat obrolannya dengan Star menjadi sebuah candaan.


"Papa, jaga jantung, jangan sampai jatuh!" Perintah Star.


Byan semakin bingung dibuatnya, menurutnya kejutan yang Star buat belum bisa ia tebak.


Star menatap ke arah pintu, diikuti pula oleh mata Byan. Dan betapa terkejutnya ia, bahkan benar jantungnya kali ini akan jatuh ketika melihat siapa yang datang.


Meski hanya mengenakan kaos putih, celana hitam dan sepatu olahraga, ia malah terlihat semakin menakjubkan. Apalagi di tambah rambut kecokelatannya yang dikuncir keatas membuat penampilan sederhananya begitu memikat mata dan hati Byan.

__ADS_1


__ADS_2