
Sejak saat terakhir bertemu, kini Byan dan Asmara tak pernah lagi saling menampakkan diri. Keduanya saling menghilang masing-masing, saling menyibukkan diri masing-masing, namun keduanya juga masih saling memikirkan.
Seperti yang terjadi pada Asmara kali ini, bekerja pun menjadi tak fokus. Otaknya meminta untuk membuang jauh-jauh kejadian tempo hari bersama Byan. Namun hatinya menolak, perasaannya masih terus menyimpan nama Byan.
"Mara, apa yang sebenarnya kamu inginkan? Berhentilah memikirkannya," Mara terus bergumam di dalam hati. Hingga ia tak menyadari jika ada seseorang yang menghampirinya.
"Tante Cantik," panggil Star memeluk tubuh Mara dengan erat.
"Star," Mara pun menerima pelukan hangat dari bocah yang tengah ia rindukan itu. Beberapa hari tak bertemu menurutnya Star semakin menggemaskan.
"Tante apa kabar, lama kita tidak bertemu?"
"Baik, Tante rindu Star," ucap Mara mencubit pipi Star kemudian kembali memeluknya.
Mata Mara celingukan mencari seseorang yang tak ia lihat. Biasanya Sumi menemani Star, namun kali ini ia tak melihatnya.
"Di mana Mba Sumi?" Tanya Mara ingin tahu dengan siapa Star datang ke toko kuenya hari ini. Apalagi ini adalah hari libur sekolah.
"Star tidak bersama Mba Sumi,"
"Lalu? Apakah Star hanya bersama Pak kurdi?" Tanya Mara lagi.
Star hanya menggelengkan kepalanya, kemudian ia tersenyum.
"Jangan bilang Star kemari sendiri!" Mara mulai khawatir akibat tingkah Star yang tak seperti biasanya.
Star kembali menggelengkan kepalanya. "Coba tebak, Star kemari dengan siapa?"
"Dengan siapa?" Mara malah menjadi bingung, ia tak habis fikir jika Star kini tengah mengajaknya main tebak-tebakan.
"Sebentar ya Tante cantik, nanti Star perkenalkan orangnya," Star pun mengajak Mara keluar dari toko kuenya dengan menarik tangan Mara.
Setelah keluar, Star pun menunjuk seseorang Pria di seberang sana yang baru saja keluar membeli Ice Cream di sebuah mini market.
"Itu dia, Papa!" panggil Star pada Papanya dengan suara berteriak.
__ADS_1
Mendengar suara putrinya memanggil, Byan pun menoleh ke arah asal suara. Namun matanya seketika itu tak mampu berkedip lagi setelah melihat siapa wanita yang kini tengah bersama Star, Byan ingin mundur tapi itu tidak mungkin.
"Papa!" Teriak Star sekali lagi, hal itu pun membuat Byan berusaha melawan keegoisannya. Ia pun segera menyebrangi jalan dan mendatangi Putrinya bersama seorang wanita yang telah ia kenal.
Entah apa perasaan Mara saat ini setelah tahu Star memanggil Pria di seberang sana dengan sebutan 'Papa'. Apakah perasaannya kini harus sedih, atau mungkin harus bahagia? Ia masih bingung. Hanya degupan jantung yang semakin kencang yang kini menyelimuti dirinya.
"Tidak mungkin!" Batin Mara, ketika melihat Byan kini sudah terpampang jelas di hadapannya.
"Star ..." Byan berusaha bersikap biasa saja di depan Mara, ia juga berusaha bersikap tenang karena ada Star bersama mereka. Padahal, saat ini ia ingin sekali marah dan meluapkan emosinya.
"Mana Ice Creamnya, Pa?" Tanya Star yang menagih Ice Cream yang tadi sempat ia pesan pada Byan.
"Ini," Byan menyerahkan Ice Cream rasa cokelat pesanan Putrinya.
Star tersenyum, kemudian ia mengambil Ice Cream dari tangan Papanya. Namun hal tak terduga terjadi, Star malah memberikan Ice Cream itu pada Mara.
"Tante cantik, ini untuk Tante ..." Dengan senyuman bahagia, Star berharap Mara mau menerima Ice Cream pemberiannya.
"Star, terimakasih ..." Mara pun menerima Ice Cream tersebut dengan perasaan yang tak karuan.
Banyak sekali fikiran negatif Byan terhadap Mara saat ini. Ia pun memutuskan untuk menelepon sopir dan pengasuh anaknya agar segera datang kemari.
"Pa, kenapa menelepon Mba Sumi?" Star yang mendengar Byan menelepon Sumi pun mendadak bertanya.
"Star, Papa ada urusan pekerjaan mendadak," ucap Byan dengan nada dingin namun mata yang melirik ke arah Mara yang kini tengah mematung.
"Bukankah Papa sudah berjanji mengajak Star bermain bersama Tante Cantik?"
"Star ..." Byan tak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Byan sudah berjanji pada Star, namun setelah tahu jika teman barunya itu adalah Mara, semuanya menjadi kacau baginya.
"Star, kita bermain lain kali saja. Hari ini Papa sedang sibuk, sayang ..." dengan nada bicara yang lembut, Mara mencoba memberi pengertian kepada Star.
"Tapi Tante tidak sibuk, kan?" Tanya Star dengan nada manja kepada Mara.
"Hari ini Tante harus pergi ke rumah sakit," ucap Mara dengan mengusap lembut kepala Star.
__ADS_1
"Apakah mengantar Nenek?"
"Star benar, Tante harus mengantar Nenek ke Dokter,"
Melihat Putrinya begitu akrab dan patuh pada Mara Byan jadi merasa kesal. Entah sejak kapan mereka saling mengenal, firasat Byan jadi tak menentu. Namun jika dilihat oleh matanya, Star begitu menyayangi Mara. Begitu pun dengan Mara, tidak! Mungkin kali ini Mara hanya sedang bersandiwara, itulah fikiran Byan saat ini.
Setelah Sumi dan Pak Kurdi datang untuk membawa Star pulang, kini giliran Byan yang harus menyelesaikan urusannya.
"Sejak kapan kau mendekati Star?" Tanya Byan tak ingin berbasa-basi setelah Star pergi bersama Sumi dan Pak Kurdi.
"Mas, mari kita bicara di dalam," Mara merasa tak enak karena banyak orang yang berlalu lalang di luar, hingga ia meminta Byan untuk masuk ke dalam tokonya. Byan pun mengikuti Mara dari belakang, hingga tiba di dalam ruangan kerja Mara.
"Apa sebenarnya tujuanmu?" Mata Byan menatap Mara dengan tajam. Disertai banyak tanya yang ingin ia ketahui dari dalam hatinya.
"Mas, aku tidak memiliki tujuan apapun! Awalnya aku benar-benar tidak tahu jika Star adalah anakmu, sungguh ..."
"Jangan pernah mendekati Star lagi," Byan tak ingin berbicara banyak, ia hanya memberi peringatan kecil kepada Mara. Byan pun memilih untuk meninggalkan Asmara.
Namun Mara tak tinggal diam, sebelum Byan pergi Mara pun segera menahannya dengan mencekal tangannya. Mara merasa harus menyelesaikan masalah ini secepatnya agar tak ada lagi kesalahpahaman diantara mereka berdua.
"Mas, apakah Star adalah Bin-tang?"
Saat itu pula langkah Byan terhenti, dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan mendorong Mara hingga mengenai tembok.
Byan merapatkan tubuhnya dan menghimpit Mara. Tatapan tajam mata Byan penuh dengan emosi, ia menelisik setiap sudut wajah Mara. Kemudian ia memegang dagu milik Asmara dan menekannya dengan kuat hingga Mara merasa kesakitan.
"Jangan pernah mendekati Putriku, apalagi jika kau sampai menyakitinya. Aku tak akan pernah mengampunimu!!"
Selesai dengan ancamannya, Byan pun menghempaskan wajah Asmara yang sempat ia pegang dengan kuat hingga menimbulkan bekas kemerahan.
Tak banyak kata-kata yang bisa diucapkan oleh Mara, bahkan ia hanya bisa bungkam menahan rasa sakit yang baru saja ia terima. Rasa sakit atas perlakuan Byan, juga rasa sakit yang menusuk hatinya sangat dalam.
Mata Mara yang memerah itu pun kini telah mengeluarkan Air Mata kesakitan. Sadar akan Air Matanya, Mara pun mengusap wajahnya dengan kasar.
Byan menyadari hal itu, ia tak ingin berlama-lama berada di dekat Mara. Hal itu hanya akan mengobrak-abrik hatinya saja. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan Asmara.
__ADS_1