Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Mode Serius


__ADS_3

"Maaf Mas, aku harus pergi," Mara mencoba membuka pintu mobilnya. Namun tangan Byan dengan sigap mencegahnya dengan memegang tangan milik Mara.


"Pergilah bersamaku, Mara,"


Ingin rasanya Byan membawa Mara pergi sejauh mungkin dari kota ini, berharap tak ada lagi yang mengganggu mereka berdua. Hingga pada suatu saat, mereka akan mendirikan keluarga kecil bersama Star dan hidup bahagia. Itulah impian Byan yang akan diwujudkannya.


"Mas, kau sedang bermimpi?" Mara mengayun-ayunkan satu tangannya di hadapan Byan. Ia mencoba menyadarkan Byan dari lamunannya itu.


"Aku berharap itu adalah kenyataan," jawab Byan masih menatap Mara tanpa berkedip.


"Lepaskan tanganku, Mas! Aku harus pergi," Mara mencoba menarik pegangan tangan Byan.


Perlahan, meski dengan berat hati Byan pun melepaskan pegangan tangannya, "Mara, bisakah kita bicara?"


"Bukankah sejak tadi kita sudah bicara?" Mara mengerenyitkan dahinya hingga menjadi berkerut.


"Maksudku tidak di sini," ucap Byan. Ia begitu berharap Mara akan memberikan ruang waktu berbicara di tempat lain.


"Mengapa tidak di sini saja, Mas," tatap Mara pada Byan yang kini sudah memasang wajah memohon.


"Ini hal yang penting, Mara," jawab Byan masih dengan wajah memelasnya.


"Sepenting apakah?" Mara menaikkan satu alisnya ke atas, ia sedikit bingung dan ragu. Takut jika Byan akan kembali membohonginya.


"Nanti kau akan mengetahui, tapi setelah kita pergi," jawab Byan penuh harap dan meyakinkan Mara.


"Jangan coba-coba mempermainkanku, Mas!" Mara kini sudah mulai menaikkan intonasi bicaranya. Ia benar-benar di buat kesal oleh Byan. Kapan Byan tidak bertindak semaunya?


"Apakah kau tidak bisa melihat keseriusan di wajahku ini, Mara?"


Jujur, Mara dapat membaca wajahnya jika Byan kali ini sedang berada di dalam mode serius. Tidak seperti biasanya.


"Baiklah, tapi hanya sebentar." Mara pun mengalah, ia tidak bisa mencairkan batu keras yang kini ada di hadapannya. Mengalah adalah jalan satu-satunya yang harus ia tempuh. Karena bersikeras pun percuma, Byan pasti takkan menyerah begitu saja. Mara juga merasa ada yang ingin ia sampaikan dan ini adalah kesempatan baik untuknya.


"Terimakasih, Mara," Byan merasa lega ketika Mara memberikannya kesempatan untuk berbicara. Ia pun membawa Mara menuju ke arah mobilnya.


"Mau ke mana?" Tanya Mara heran ketika melihat Byan sudah mengarahkannya ke mobil hitam metalic milik Byan.


"Bukankah kita akan pergi?"


"Dengan mobilmu?" Tanya Mara mengangkat sebelah alisnya kembali.


"Ya?"


"Kita hanya akan berbicara, bukan pergi untuk piknik, Mas!" Mara melangkahkan kakinya cepat, ia berharap Byan akan mengikutinya dari belakang.


"Ayo!" Ajak Mara ketika melihat Byan hanya berdiam diri di sana.

__ADS_1


"Kita mau ke mana, Mara?"


Mara hanya menggelengkan kepalanya, ia pun tetap melangkahkan kaki menuju ke arah Cafe yang berada tepat di seberang toko kue miliknya.


Ketika sampai lebih dulu, Mara segera memesan dua cup kopi espresso hangat.


"Aku yang mengajak pergi, tapi kau yang mentraktirku," ujar Byan hanya bisa tersenyum mengagumi sikap Mara. Tatapannya tak lepas dari wajah Mara yang kini sangatlah dekat di depan matanya.


Mara hanya diam, ia tak menanggapi ucapan Byan itu. Setelah kopi diantarakan oleh pelayan Cafe, Mara pun segera membuka suara dan tak ingin lagi membuang waktu lebih lama.


"Katakan hal penting apa yang ingin kau sampaikan?"


Byan menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Entah dari mana ia akan memulai pembicaraan penting ini pada Mara.


"Benar dugaanku, kau hanya bermain-main, Mas!" Umpat Mara dengan nada penuh kekesalan, kemudian ia segera menyeruput kopi untuk menenangkan situasi hatinya saat ini.


"Mara, aku sudah katakan berulang kali padamu. Aku tidak pernah bermain-main dalam ucapanku, apalagi mempermainkan dirimu!" Byan mengelak, sungguh ia tak pernah berniat main-main pada Mara.


"Lalu apa yang ingin kau katakan? Jangan membuang waktuku, Mas?" Mara sudah mulai hilang kesabaran.


"Mara, jawab pertanyaanku dengan jujur," Byan juga tak ingin membuang waktunya. Ia tak ingin Mara menilai buruk tentang dirinya lagi.


"Jika itu memang harus di jawab,"


"Baiklah, tapi kau harus tetap mengatakannya dengan jujur," Melihat Mara yang sudah mulai jenuh, Byan pun mau tak mau menuruti permintaan Mara. Setidaknya ia bisa sedikit mengetahui hal yang selama ini mengganggu Mara.


"Mara, apa ada orang yang mencurigakan selama ini?"


"Mencurigakan?"


"Maksudku, apa ada yang kau curigai. Seseorang misalnya mengikutimu atau mengganggumu?"


Mara terdiam sejenak, fikirannya melayang pada satu kejadian. Ia mengingat ketika ada orang yang patut ia curigai akhir-akhir ini. Orang yang mengirimkannya Vitamin C, bucket bunga dan yang terakhir orang berhelm yang membantunya ketika mengalami penjambretan.


"Mara? Apa benar ada?" Byan mulai gusar, dari wajah Mara dapat ia lihat jika memang ada orang yang telah mengusiknya.


"Tidak!" Jawab Mara masih menutupi sosok pria misterius yang belum ia ketahui wujudnya itu. Bahkan sampai sekarang, ia belum juga menemukan pria itu.


"Mara, aku harap kau berhati-hati. Karena bisa saja kau akan ada dalam bahaya ..."


"Hanya ada satu pengganggu," ucap Mara memotong pembicaraan Byan yang belum sempat selesai.


"Apa? Siapa itu, katakan padaku ciri-cirinya seperti apa dan apakah kau mengenalnya?"


Mara tertawa, bahkan suara tawanya itu dapat terdengar oleh beberapa pengunjung di Cafe itu. Merasa sadar telah kelepasan, Mara pun segera menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia mencoba kembali menetralkan hatinya saat ini.


"Mara, mengapa kau tertawa?" Byan malah heran, namun ia juga senang karena setelah sekian lama ia dapat melihat tawa Mara yang begitu didambakan olehnya.

__ADS_1


"Kau bahkan tak menyadarinya?" Mara kembali memicingkan senyumnya, senyum yang tak biasa. Senyuman yang menandakan sebuah kekecewaan pada dirinya.


"Mara, apakah aku mengenal orang yang kau sebut pengganggu itu?"


"Jelas kau sangat mengenalnya lebih dari siapapun, Mas!" Hati Mara mulai berapi-api, ia sungguh ingin meledakkan seluruh isi hatinya saat ini juga.


"Benarkah? Jika begitu katakan padaku siapa orangnya? Jika aku tahu dia telah mengganggumu, aku akan memberikan pelajaran padanya," Byan sungguh tak sabar, apakah pengganggu itu berhubungan dengan ayahnya? Jika memang benar, Maka Byan akan menghentikan hal itu.


"Benarkah?" Tanya Mara masih dengan memicingkan senyum pahitnya.


"Ya, siapa dia? Katakan Mara!" Byan kali ini sungguh tak sabar.


"Kau!"


"A-apa?"


"Kau, kau lah orangnya, Mas!"


"Mara, mengapa aku?" Byan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia merasa tek pernah mengusik atau mengganggu Mara.


"Kamu tidak sadar? Selama ini, kamu selalu menggangguku, Mas. Kamu selalu membuatku bingung bahkan serba salah atas sikap dan perbuatanmu!" Mara sudah mulai meledakkan isi hatinya saat ini.


"Mara, aku ..."


"Dan hari ini, kamu pun kembali menggangguku! Aku harap ini yang terakhir kalinya, aku ingin setelah pertemuan kita hari ini kamu tidak lagi datang menemuiku begitu pula dengan diriku!" Mara sedikit lega, akhirnya ia pun bisa mengungkapkan sesuatu yang mengganjal pada hatinya.


"Tidak! Mara," Byan masih tak bisa menerima. Bahkan ia tak ingin jika Mara melarang untuk bertemu dengannya.


"Dan ..."


Mara menghembuskan nafasnya, berharap sesuatu yang mengganjal di hatinya akan segera pergi dan terhempas.


"Dan anggap kita tidak pernah bertemu,"


Byan tertunduk lesu, bahkan orang yang ingin ia perjuangkan tidak ingin lagi bertemu dengannya. Sungguh hancur dan sakit rasa hatinya saat ini.


"Mara, jangan mengatakan itu," Byan meraih tangan Mara yang ada di atas meja dan menggenggamnya dengan erat.


"Lepaskan Mas!!" Teriak Mara yang membuat beberapa pengunjung pun melihat ke arah mereka.


"Maaf, Bu, apa pria ini mengganggu anda?" Tanya seorang security yang kini menghampiri mereka berdua.


"Dia istriku, kami berdua hanya bertengkar kecil maaf mengganggu kalian!" Byan segera menarik tangan Mara menuju ke luar Cafe.


"Lepas!!!" Mara menghentakkan tangannya. Namun seperti yang pernah di alaminya, Byan tak melepaskan tangannya begitu saja.


"Mara, kau boleh marah padaku. Tapi aku mohon jangan memberikan pilihan tersulit seperti ini!" Byan kali ini benar-benar memohon pada Mara.

__ADS_1


__ADS_2