Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Terluka tapi berdarah


__ADS_3

"Iya Mba, orangnya cool, tampan dan ..."


"Entah apapun bentuknya, mulai sekarang jangan asal menerima pemberian orang sembarangan!" Mara langsung masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Renata yang mematung dengan rasa bersalahnya.


Mara duduk di kursi dengan mendongakkan kepalanya ke atas. Matanya memutar ke sana kemari menatap langit-langit ruangan kerjanya. Fikirannya terus berputar, mencoba mengingat-ingat di mana kini liontinnya berada.


Belum juga menemukan titik terang, fikirannya sudah ditambah lagi dengan orang misterius yang akhir-akhir ini mengganggunya. Matanya menatap bucket bunga mawar putih yang kini masih ada di atas meja kerjanya.


"Mengapa orang itu tidak menemuiku secara langsung? Mengapa harus menitipkan pemberiannya melalui Renata?"


Banyak tanya yang ada di dalam diri Mara mengenai pria misterius itu. Nampaknya sekarang ia harus mulai berhati-hati. Ia takut jika di balik kejadian ini, akan terjadi suatu hal yang buruk.


Hari ini Mara terus berkutat dengan pesanan kue yang begitu banyak. Entah siapa yang memesan kue sebanyak ini. Yang jelas, sebelumnya ia belum pernah menerima orderan dengan jumlah besar seperti sekarang.


Tubuhnya terasa lelah, sepertinya ia harus segera pulang ke rumah karena hari sudah mulai petang. Jika ia pulang terlalu malam, Ibunya pasti akan menceramahinya lagi.


Pukul tujuh, tak selarut biasanya Mara pun pulang menuju ke rumah. Namun, satu hal yang tak biasa dapat dilihatnya dari kaca spion. Seseorang dengan motor sport berada di belakang mobilnya. Sejak di depan toko kuenya, sepeda motor itu seperti mengikuti kendaraannya.


Mara mulai curiga, ia pun memutuskan untuk lebih menaikkan laju mobilnya. Setelah ia melihat dari kaca spion, ternyata sepeda motor itu tak lagi terlihat oleh matanya.


"Apa aku terlalu berfikir negatif? Barang kali orang itu satu arah denganku," Mara menepikan mobilnya saat matanya melihat pedagang jagung bakar di pinggir jalan.


Di cuaca dingin seperti sekarang, ia pun ingin menikmati rasa manisnya jagung bakar itu.


"Pak, tolong bakarkan dua," ucap Mara pada pria paruh baya yang sedang menyibakkan kipas bambu pada jagung yang kini tengah ia bakar.


"Silahkan duduk, Non," Pria paruh baya itu mempersilahkan Mara untuk duduk menunggu antrean terlebih dahulu.


Cukup ramai pembeli jagung bakar malam ini, tak terkecuali pasangan muda-mudi yang mengganggu pandangan Mara. Mungkin karena ini adalah malam minggu, jadi banyak sekali muda-mudi yang keluar menikmati malam panjang ini.


Setelah tiga puluh menit menunggu, Mara pun mendapatkan jagung bakar pesanannya. Rasa lelah menunggu memang tak ada tandingan baginya. Namun Mara sudah terlanjur memesan, ia tak ingin membatalkan begitu saja. Bagaimana pun ia juga seorang pedagang dan pernah merasakan rasanya jika mendapat pembatalan sepihak dari komsumennya.


"Terimakasih, Pak," Mara memberikan pecahan uang lima puluh ribu kepada Pria paruh baya itu.


"Kembaliannya, Non,"


"Untuk Bapak saja," ucap Mara dengan ramah. Mara pun meninggalkan tempat itu menuju ke lokasi di mana mobilnya tadi menepi.

__ADS_1


"Andai semua pembeli seperti Nona itu," ucap Pria pedagang jagung dengan perasaan senang.


Saat Mara mencoba membuka pintu mobilnya, tanpa ia sadari seseorang merampas tas dari tangannya.


"Hei!!!" Teriak Mara dengan perasaan terkejut bercampur takut.


Pencopet itu pun berlari kencang mengendarai sepeda motornya. Mara mencoba meminta tolong pada orang-orang sekitar, namun sayang pencopet itu sudah mengambil langkah seribu dengan cepat.


"Bugh!!!!!"


Byan menendang sepeda motor dengan sebutan 'Raja Jalanan' itu dengan kakinya yang kuat, hingga membuat dua orang di sana jatuh tersungkur.


Melihat hal itu, Byan langsung merampas tas milik Mara. Ia pun memberikan satu bonus pukulan pada wajah pelaku hingga membuat hidungnya mengeluarkan darah segar.


"BUGHH!"


Namun satu orang pelaku bangun dan memberi sebuah hantaman pada perut Byan hingga membuatnya terhuyung. Pertarungan antara Byan dan pelaku itu pun berlangsung dramatis.


Satu orang pelaku yang tadinya mendapat pukulan dari Byan pun mengeluarkan senjatanya. Sebuah belati kecil tetapi tajam, ia pun mengarahkan belati itu pada Byan. Bersyukur Byan dapat menghindarinya, tetapi lengan sebelah kanannya tergores dan mengeluarkan darah.


Namun tak berhenti di situ saja, Byan tak ingin menyerah hingga tubuhnya melayang memberikan tendangan keras pada dua pelaku itu.


Melihat itu, Mara segera menghampiri pria yang telah membantunya. Ia ingin mengucapkan terimakasih karena telah menggagalkan tindak kejahatan yang menimpanya.


"Ini," Byan menyerahkan tas milik Mara dengan satu tangan memegangi lengan sebelah kanannya yang terasa perih akibat sayatan belati.


"Terimaksih, Tuan ini ..." Mara mencoba membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar pecahan uang berwarna merah, tetapi ia terlambat. Pria berjaket kulit dan memakai helm itu malah pergi meninggalkannya begitu saja.


"Hei, Tuan tunggu!!" Teriak Mara memanggil pria berhelm yang tak ia ketahui wajahnya itu. Namun matanya dapat melihat, jika pria itu terus saja memegangi lengannya.


"Apakah dia terluka?" Batin Mara dalam hati. Andai Pria itu tak pergi begitu saja, Mara pasti akan segera membawanya ke rumah sakit.


"Cepat sekali dia pergi," Mara mencari-cari keberadaannya. Hingga ia sempat bertanya kepada beberapa orang di sana barangkali ada yang mengenalnya.


Namun semua orang di sana memberikan satu jawaban yang sama. Tidak ada yang mengenali sosok pria berhelm itu. Malah mereka yang sudah biasa di sini, baru melihatnya untuk yang pertama kali.


Mara merasa menyesal karena belum sempat mengenal pria yang telah menolongnya itu. Andai saja ia tak membeli jagung bakar, hal ini pasti tidak akan terjadi. Namun tak ingin lebih lama lagi berada tempat ini, ia pun segera pulang ke rumah.

__ADS_1


...****************...


Byan berjalan tertatih menuju ke rumahnya, ia terus memegangi lengan kanannya yang kini telah mengeluarkan banyak darah.


"Byan?" Tanya Andryani yang kini melihat putranya merintih kesakitan.


"Umi, tolong obat," pinta Byan dengan suara merintih.


Andryani pun segera mengambil kotak P3K, ia juga segera meminta asisten rumah tangganya untuk segera menghubungi dokter keluarga untuk datang ke rumah memeriksa kondisi Byan.


Byan melepaskan jaketnya, ia sudah melihat luka sayatan pada lengannya yang kini masih saja mengeluarkan darah.


"Byan, sebenarnya apa yang terjadi, Nak?" Tanya Andryani penasaran sekaligus sedih melihat putranya terluka.


"Cuma kecelakaan kecil, Umi," Byan tak ingin ambil resiko, ia juga tak ingin Uminya merasa khawatir.


"Byan, lukanya kecil tetapi dalam. Sepertinya harus di jahit," ujar Andryani ketika membersihkan luka Byan dan memberikan pertolongan pertamanya.


Byan merintih, lukanya terasa semakinperih ketika Andryani mengoleskan obat merah pada kulitnya. "Umi, tolong perlahan,"


"Iya, Nak. Umi sudah menghubungi dokter Adryan untuk memeriksamu,"


"Tidak perlu, Umi. Ini hanya luka kecil biasa, aku hanya butuh meminum obat anti nyeri," ucapan Byan begitu lemah, meski begitu hatinya sedikit tenang karena mengetahui Mara baik-baik saja malam ini meskipun dirinya terluka tapi berdarah.


Drttt!!! Drtttt!


Ponsel Byan pun bergetar, nama Sam tertera pada layar dan Byan segera menjawab panggilan dari sekretarisnya itu.


"Bagaimana?" Tanya Byan dengan suara sedikit berbisik.


"Saya sudah mengikutinya hingga sampai ke rumah, Pak," jawab Sam dari seberang sana.


"Ok," Byan menutup panggilan telepon dari Sam sepihak. Hal itu tak lepas dari perhatian Andryani. Menurutnya, ada hal yang tengah disembunyikan oleh Byan dari darinya. Namun, ia tak ingin mengetahui lebih untuk saat ini.


Sementara, Sam yang sudah berhasil menguntit Mara hingga sampai dengan selamat di kediamannya pun hanya bisa mengumpat kesal. Hari ini Bossnya yang killer itu memintanya pulang lebih awal, namun ketika ia sedang berkencan dengan kekasihnya malam ini tiba-tiba Byan meneleponnya untuk suatu tugas penting. Ibarat sudah terbang tinggi, kini ia di jatuhkan dengan keras. Harapannya untuk melakukan Date bersama kekasihnya pun kandas.


"Arghh!!" Sam memukul setir mobilnya.

__ADS_1


"Tugas penting macam apa ini? Aku malah terlihat seperti seorang penguntit!" Umpat Sam dengan hati dongkolnya.


__ADS_2