
"Aku hanya ingin mengunjungi Agatha,"
Steven segera mengambil posisi jongkok untuk meletakkan bunga yang dibawanya diatas pusara Agatha.
"Agatha tak menginginkamu disini, segera bawa bunga itu dan menyingkirlah dari sini!" Perintah Byan, ia mengusir Steven dengan mengambil bunga kemudian melemparkannya pada Steve.
Steve hanya memasang wajah datarnya kaku, sebenarnya ia tak terlalu mempedulikan kemarahan Byan, ia mencoba menepiskan rasa emosinya karena tujuan utamanya kemari hanya untuk mengunjungi makam Agatha. Namun belum sempat Steve mengutarakan niatnya, ia harus dihadang oleh Byan.
"Bagaimanapun Agatha dan aku tetap bersaudara, meski kau membenciku!"
Hanya sedikit yang dikatakan steve, kemudian ia pun melangkah pergi.
"Tak ada saudara sepertimu yang berani menculik keponakannya sendiri! Dan tak ada pula saudara penghianat sepertimu!!!!"
Teriakan Byan menghentikan langkah kaki Steven. Bagaimanapun Steven sudah dihukum atas kesalahannya di masalalu. Tapi mengapa Byan membuka luka lama itu lagi? Steve semakin merasa bersalah jika mengingat-ingat hal itu.
Steve tak mau ambil pusing, jika ia melayani Byan mungkin mereka berdua akan saling baku hantam.
Saat ini, waktu Steven sudah banyak terbuang. Hingga ia harus memutuskan pergi begitu saja meninggalkan Byan menuju bandara untuk kembali ke Amsterdam.
"Beraninya dia datang kesini menampakkan wajahnya itu!!!" Byan mengeratkan rahangnya dengan tangannya yang mengepal kuat.
"Agatha, maafkan aku, Aku tak bisa menganggap sepupumu itu sebagai saudaraku, aku harap kau mau mengerti ..."
Byan berbicara lirih, kemudian ia pun segera pergi meninggalkan pusara Agatha.
...****************...
Asmara menunggu Star di depan sekolahnya, ia sengaja menemui Star disini agar Star tak terus mengunjunginya di toko.
Beberapa menit ia menunggu, akhirnya bocah gembul itu pun menampakkan batang hidungnya, namun dengan wajah muram.
Melihat hal itu, Asmara pun langsung memanggil Star dengan tangan yang melambai keatas, berharap Star melihat keberadaannya. "Star ..."
Mendengar suara wanita yang amat ia kenal, Star pun langsung mengarah ke panggilan itu. "Tante cantik?"
Dengan penuh semangat Star pun berlari kecil menghampiri Mara yang menunggunya didepan gerbang.
"Tante, kenapa ada disini??" Tanya Star dengan wajah heran.
"Tante kangen dengan Star, tidak boleh?"
"Beneran?"
"Iya dong ..."
Star pun langsung bergelayut memeluk tubuh Mara yang sudah berjongkok mengimbangi tinggi Star.
"Star juga kangen tante,"
Mara hanya tersenyum lembut mendengar ucapan bocah itu, kemudian Mara mengajak Star menuju ke mobilnya dan langsung ditanggapi bocah itu dengan anggukan semangat.
Setelah sampai di mobil Mara yang terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah Star, Mara pun segera memberikan barang yang tadi dibelinya kepada Star.
__ADS_1
"Ini untuk anak manis yang sudah membuat tante kangen,"
"Apa ini tante?" Star menerima satu buah kotak yang sedikit besar dengan hiasan pita dari tangan Mara.
"Buka saja," pinta Mara.
Dengan sigap, Star pun langsung membuka kotak itu.
"Wowww?? Boneka kelinci, lucu sekali!!" Puji Star dengan perasaan gembira.
"Star suka?"
"Suka banget, makasih tante cantik ..." Star bergelayut manja memeluk tubuh Mara.
"Sama-sama sayang," Mara membalas pelukan Star dengan hangat.
Setelah itu, Mara mengeluarkan sepasang jepitan warna Pink dan dipakaikannya pada rambut Star yang dikuncir dua.
"Tante, masih ada hadiah lagi buat anak cantik,"
"Makasih ya tante, tante begitu baik. Apa seperti ini rasanya memiliki seorang mama??"
Dengan suara beratnya, Star menatap dalam mata Mara.
"Star ..." Mara merasa ikut terhanyut mendengar pertanyaan Star, ia pun kembali memeluk tubuh bocah itu.
"Tante, apakah Tante punya anak?" Mata star membelalak bulat sempurna, dengan suara lucunya ia mulai ingin lebih akrab dengan Mara.
"Punya ..."
"Ini, ada dihadapan Tante sekarang."
"Tante ..."
"Star, jangan bersedih lagi ya?"
Hanya itu yang bisa dilakukan Mara untuk menghibur Star saat ini. Ia juga tidak tahu, entah mengapa sepertinya ia memiliki sebuah ikatan dengan Star.
"Star, Tante harus segera pergi," Karena merasa ada janji dengan Steven untuk bertemu dengannya ke bandara, Mara terpaksa harus meninggalkan Star setelah melihat kedatangan Sumi.
"Tante cantik mau kemana? " Star begitu penasaran, rasanya ia ingin ikut kemanapun Mara pergi.
"Tante harus ke bandara," Tangan Mara mencubit pelan pipi Star dengan gemas.
"Tante mau pergi?? Star mau ikut tante saja!" Bocah kecil itu mulai menunjukkan aksi merajuk.
"Sayang, Tante hanya ingin mengantar teman Tante pergi. Tante masih akan tetap di Jakarta, jangan khawatir," Mara harus memutar otaknya penuh, pasalnya Star sangat pandai membuat drama.
"Tante tidak berbohong, kan?" Tanya Star memastikan.
"Tidak sayang, Tante tidak pernah bohong! Bohong itu dosa!" Jawab Mara dengan berganti mencubit hidung Star.
"Hati-hati Tante, besok kita bertemu kembali ya?"
__ADS_1
Star mengacungkan jari kelingkingnya kearah Asmara, demi membuat anak kecil itu ceria kembali mara terpaksa menautkan jari kelingkingnya.
Setelah selesai menyerahkan Star kepada Sumi, Mara pun bergegas pergi ke bandara.
Mara berlari mencari keberadaan Steven, namun tak juga ia temukan di ruang tunggu ataupun di tempat yang lain. Mara mencoba menelpon steve, tapi diluar jangkauan.
"Apakah pesawatnya sudah berangkat?? Ya tuhan, aku terlambat!" Mara menutup ponselnya, kemudian ia masukkan kedalam tas selempangnya kembali.
Sejenak Mara duduk di kursi, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sungguh ia merasa mengingkari janji terhadap Steve, pasalnya kemarin ia berjanji akan menemuinya di bandara sebelum Steve berangkat ke Amsterdam. Namun ternyata Mara terlambat, ia tak berjumpa dengan Steven.
"Maaf steve, aku tak bisa menepati janjiku," ucap Mara lirih.
"Kau menepatinya Mara," suara bariton seseorang mengejutkan Mara.
"Steve???" Begitu menoleh, ternyata Steve sudah duduk di sebelahnya dengan memasang senyuman manis.
"Ya ampun steve, aku fikir aku telah terlambat! Untunglah kamu masih belum berangkat! Jadi aku bisa menepati janjiku," lanjut Mara.
"Aku belum berangkat, masih ada waktu lima belas menit lagi,"
"Baguslah ..."
"Mara ..."
"Ya?"
"Terimakasih ..."
"Te-ri-makasih, untuk apa?" Tak biasanya Steve memasang wajah seriusnya. Hal ini membuat Asmara semakin heran dengan ucapan yang sedikit terbata.
"Terimakasih sudah menepati janjimu," Steven mengangkat tangannya, ia mencoba meraih tangan Mara.
"Oh, itu. Ya tentu steve, aku tidak ingin kamu menganggapku sebagai teman yang ingkar janji."
Mara bersikap biasa saja ketika Steve memegang jemarinya, namun berbeda dengan Steve rasanya ia ingin terus memegang jemari lentik itu.
Karena merasa semakin tak nyaman, Mara pun mencoba melepaskan pegangan tangan Steven.
"Sudah waktunya berangkat Steve,"
"Jaga dirimu baik-baik Mara, aku pasti akan merindukanmu ..."
"Kau pasti rindu masakan buatanku, bukan??"
Mara tak begitu paham akan arah dari perkataan Steven.
"Mara, aku akan selesaikan urusanku di Amsterdam dulu. Setelah itu aku akan kembali lagi ke Jakarta untuk menemui Ibu, Randy dan juga dirimu. Kau akan menungguku, bukan???"
"Menunggumu?? Oh, tentu aku akan menunggu kedatanganmu kembali ke sini. Jangan lupa mengabariku, agar aku mempersiapkan pesta penyambutan untuk teman baikku ini!"
"Teman baik??"
"Ya, kau adalah teman baikku!"
__ADS_1
"Tapi ..."