
"Byan, kamu tidak perlu ke kantor. Kondisimu belum terlalu fit," larang Andryani yang pagi ini sudah melihat Byan mengenakan pakaian kantornya dengan rapi.
"Umi, Byan sudah sembuh!" Byan tak ingin berlama-lama di rumah, apalagi meninggalkan kantor lebih lama di saat-saat seperti ini. Karena banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan akibat banyaknya project baru di kantornya.
"Byan, kamu bisa meminta Sam datang ke rumah jika ada hal atau urusan pekerjaan yang mendesak," Andryani mencoba memberikan sebuah saran pada Byan.
"Itu hanya membuang waktu Umi, banyak hal lain yang harus Sam kerjakan, " timpal Byan.
Tak ada lagi yang bisa Andryani katakan, Putranya itu memang penggila kerja seperti Suaminya. Selain itu, Byan juga terkenal sebagai kepala batu. Melarangnya pun dirasa percuma dan hanya membuang-buang tenaga saja.
"Umi tidak bisa berbuat apa-apa jika itu maumu," Andryani mulai menyerah.
"Umi, ada satu hal yang bisa Umi lakukan untukku,"
"Hal apa? Apakah penting?" Tanya Andryani.
"Umi cukup mendukung apapun yang Byan lakukan dan putuskan, itu saja."
Byan menyunggingkan senyumannya pada Andryani. Ia berharap Uminya akan mengiyakan perkataannya barusan.
"Umi harus tahu, hal apa yang harus kau putuskan hingga dapat Umi dukung, Bukan begitu?" Andryani merasa ada sesuatu yang akan Byan lakukan kali ini. Sepertinya hak yang lebih serius.
"Umi, akan ku jelaskan nanti. Aku harus pergi ke kantor,"
"Morning ..."
Belum juga beranjak, Byan sudah melihat Kessy sepagi ini datang ke rumahnya.
"Sial, aku terlambat!" Umpat Byan kesal.
"Hai, Kessy?" Andryani menyapa Kessy.
"Umi," Kessy memeluk hangat tubuh Andryani. Ada hal yang berubah dari dirinya, yaitu panggilannya terhadap Andryani kali ini.
"What?" Byan melongo, ia merasa tak habis fikir dengan sikap Kessy yang kini memanggil Andryani dengan sebutan Umi.
Andryani tak menanggapi apapun, ia hanya tersenyum manis di depan Kessy. Baginya, ia akan menghargai apapun panggilan orang lain terhadapnya. Ia juga lebih terbiasa mendapat panggilan 'Umi' dari orang-orang terdekat dan yang lebih mengenal dirinya.
"By, ada apa? Apakah aku tidak boleh memanggil U-MI?" Kessy menatap Byan penuh dengan senyuman. Senyuman yang sulit diartikan bagi siapapun yang melihatnya.
"Umi, Byan harus pergi," Byan tak menanggapi apapun perkataan Kessy. Ia sungguh tak ingin terlibat obrolan apapun padanya sepagi ini. Itu hanya akan membuatnya semakin muak. .Byan beranjak dari duduknya, kemudian menyalami tangan Andryani.
"Papa," suara Star membuat langkah Byan terhenti.
"Star?" Sudah siap ke sekolah?" Tanya Byan menghampiri Putrinya.
"Star ingin di antar oleh Papa,"
__ADS_1
"Benarkah? Karena hari ini Papa sedikit sibuk, jadi kita harus berangkat lebih pagi!"
Byan tak ingin membuat senyum keceriaan Star pagi ini hilang. Ia pun memutuskan untuk mengantarkan Star ke sekolah terlebih dahulu.
"Hore! Akhirnya Star ke sekolah di antar Papa, setelah kemarin di antar oleh Tante Cantik," Star memeluk erat tubuh Byan sebagai wujud kebahagiaan yang ia dapatkan hari ini.
"Sumi apa yang di katakan Star itu benar?" Andryani yang tidak mengetahui hal itu pun mencoba mencari tahu melalui Baby Siter cucunya.
"I-ya Umi," Sumi hanya menundukkan kepalanya pelan tak berani berkata banyak.
"Byan tahu soal ini?" Andryani bertanya lagi dengan sedikit berbisik.
"Tahu, Umi. Bahkan kemarin Mba Mara sempat mengantar kami ke rumah sakit bertemu dengan Tuan Byan," jawab Sumi dengan jujur.
"Oh, Ya tuhan. Lalu apakah Mara mendapat perlakuan kasar lagi darinya?"
"Mba Sumi, ayo!"
Belum sempat Sumi menjawab, Star sudah memanggilnya untuk segera berangkat ke sekolah bersama Papanya.
"Umi, saya permisi," pamit Sumi pada Andryani yang ditanggapi dengan anggukan kepalanya perlahan.
Setelah semua orang pergi, Kessy mengambil kesempatan untuk mengulik masalah wanita yang sejak kemarin mengganggu fikirannya. Ia merasa jika ada hal yang tak beres.
"Umi, memangnya siapa wanita itu?" Tanya Kessy penuh selidik.
"Wanita yang selalu di sebut oleh Star. Sepertinya mereka berdua begitu dekat?"
Andryani tak ingin mengungkap siapa sebenarnya Mara bagi keluarganya. Ia juga tak ingin Kessy mengetahui tentang masa lalu Byan dan Mara yang kini sudah menjadi kenangan meski mereka berdua tengah dipertemukan kembali.
"Oh, namanya Asmara," jawab Andryani seadanya. Dengan jawaban singkat ini, ia berharap Kessy tak lagi melontarkan pertanyaan-pertanyaan tentang Mara.
"Oh, nama yang bagus. Tapi sepertinya ada yang berbeda dari wanita itu, Umi,"
"Berbeda? Ya, Umi juga merasa seperti itu," Andryani tak ingin membahas lebih lanjut, ia berusaha mengalihkan pembicaraan lain pada Kessy.
"Kessy, apakah hari ini kamu mau menemani Umi pergi ke salon?"
"Salon? Sepertinya ide yang sangat bagus, Umi," untuk hal seperti salon atau berbelanja, Kessy tak pernah menolak hal itu. Karena itu adalah salah satu dari hobinya.
...****************...
"Tante Cantik?" sepulang sekolah, Star terkejut dengan kehadiran Mara yang kini menunggunya tepat di depan sekolahnya.
"Syukurlah, ternyata Star sudah membaik, ini untuk anak manis," Mara memberikan satu toples cake cokelat kepada Star sebagai hadiah.
"Wow! Terimakasih Tante," Star menerima cake itu. Namun matanya juga dikejutkan dengan hal lain.
__ADS_1
"Itu Papa!!!" Teriak Star.
Mara pun menoleh kebelakang, betapa terkejutnya ia mendapati Byan yang sudah berjalan semakin mendekat ke arah mereka berada saat ini.
"Sayang, sudah selesai belajarnya?" Tanya Byan menggendong tubuh Star.
"Sudah, Pa," Star begitu bahagia hari ini. Ia tak pernah mendapat kejutan baik seperti hari ini di mana Mara dan Byan menjemputnya secara bersamaan di sekolah.
"Wah, Star di jemput sama Mama dan Papanya ya??" Salah satu orang tua teman sekelas Star tersenyum ke arah Byan dan Mara.
"Maaf Bu, kami ..."
"Iya, Bu," jawab Byan dengan ramah memotong ucapan Mara yang belum juga selesai.
"Wah, ternyata Mama Star cantik juga ya," orang tua teman sekelas Star yang lain pun memuji Mara.
Mara di buat ketelimpungan, ia tak habis fikir jika Byan juga akan menemui Star hari ini. Namun semua sudah terlanjur, ia hanya bisa menanggapi perkataan ibu-ibu di sana dengan senyuman ramah.
"Pa, mengapa Papa berbohong?" Tanya Star pada Byan ketika semua ibu-ibu itu telah berlalu.
"Papa tidak berbohong. Bohong soal apa?" Byan berusaha meluruskan pertanyaan Star.
"Papa mengatakan jika Tante Cantik adalah Mama Star, mengapa?" Tanya Star lagi dengan wajah polosnya.
"Star, Papa tidak bohong. Papa akan membuktikan jika Tante Cantik ini akan segera menjadi Mama Star sesungguhnya," Byan mencoba mengubah penilaian negatif Star tentang perkataannya.
"Star, sekarang lebih baik ikut Mba Sumi ke dalam mobil dulu. Tante ingin bicara dengan Papa," pinta Mara pada Star. Ia merasa ada hal yang harus diluruskannya bersama Byan.
Setelah Sumi mengajak Star masuk ke dalam mobil Byan, Mara pun mulai angkat bicara.
"Jangan pernah melakukan hal ini lagi, Mas,"
"Mara, untuk hal ini aku ..."
"Jika memang kamu ingin mempermainkan wanita, silahkan permainkan wanita yang lain. Tapi, bukan aku!" Mara sudah mulai merasa kesal. Akhir-akhir ini sikap dan ulah Byan selalu membuatnya bingung bahkan menimbulkan masalah baru pada hatinya.
Namun berbeda dengan Byan, ia malah semakin mengulum senyumannya tanpa mengalihkan pandangannya pada Mara.
"Baiklah, jika kau tak ingin dipermainkan. Mulai sekarang aku akan serius!!" Ucap Byan dengan suara tegasnya.
"Mas Byan, cukup! Tolong hentikan ini semua,"
"Aku tidak akan bisa berhenti Mara, aku bersungguh-sungguh!"
"Percuma berbicara denganmu, aku permisi!"
Kali ini Byan memilih membiarkan Mara untuk pergi. Ia tak mau menghentikan langkahnya seperti kemarin-kemarin. Ia berharap Mara akan mengerti dan menganggap jika ucapannya barusan bukanlah sebuah permainan belaka.
__ADS_1
"Aku harap, kau bisa melihat kesungguhanku mulai sekarang Asmara Arsytanty."