Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Sebuah Rencana


__ADS_3

Beberapa hari ini tak ada semangat dalam diri Byan. Apalagi setelah ia meminta Abinya untuk menemui Ibu Mara agar meminta maaf atas kesalahan sepuluh tahun yang lalu. Namun, Abi Malik menolak permintaan Byan dengan alasan jika kejadian lama itu bukanlah murni kesalahannya.


Sebagai seseorang yang memiliki perasaan cinta yang begitu dalam terhadap Mara, Byan tak ingin hubungannya semakin merenggang. Meski sebenarnya Byan dan Mara memang tak ada ikatan apapun yang bisa memperjelas arti dari hubungan mereka berdua. Yang jelas, mereka berdua hanya mantan pasangan suami isteri.


Memikirkan hal itu, Byan semakin pusing. Apalagi setelah dua hari stay di rumah saja, ia tak kunjung menemukan ide atau cara yang bagus untuk menyelesaikan masalah ini.


"Papa," Star menyapa Byan yang tengah termenung di dalam kamarnya.


"Star," melihat Putri kecilnya itu kini berada di balik pintu, Byan merasa semakin gemas. Meski kepusingan sedang melanda dirinya, tingkah Star bisa membuatnya sedikit merasa damai.


"Papa," Star menghampiri Byan yang sedang tersenyum memandangi dirinya di atas ranjang dengan memangku laptop.


"Apa yang sedang Papa lamunkan?" Tanya Star penasaran.


"Siapa yang melamun? Papa tidak melamun, Star," Byan mengelak. Ternyata anaknya itu sudah pandai menilai perihal apa yang tengah ia lihat. Byan pun memilih menutup laptopnya dan mengganti memangku tubuh Star.


"Apakah Papa sedang melamunkan Tante Cantik?" Senyum sumringah terpancar di wajah Star. Entah pengaruh darimana, hingga Star menduga jika Byan tengah memikirkan Mara.


Byan mencubit pipi gembul putrinya itu, ia merasa semakin gemas. Ternyata Star kini sudah tau isi otak dan hatinya.


Namun karena ucapan Star barusan, sebuah ide muncul di otaknya. Ia pun menemukan salah satu cara untuk memecahkan masalah rumit yang sedang dihadapinya.


Byan memandangi wajah lucu Putrinya, ia memegang kedua pipi gembul itu dengan perasaan senang.


"Star, mau ikut Papa?"


Tanpa menolak, Star pun langsung menganggukkan kepalanya kegirangan. Sepertinya dia paham apa yang kini tengah direncanakan oleh Byan.


Byan merasa beruntung, malaikat kecilnya ini ternyata bisa menolongnya untuk keluar dari masalah yang tak kunjung selesai. Meski sebenarnya ia merasa sangat berdosa karena telah memanfaatkan Star.


...****************...


"Pa, ini rumah Tante Cantik?"


"Star, mau membantu Papa, bukan?" Byan sedikit berbisik, sembari memasang wajah melasnya.


"Tentu. Apa yang harus Star lakukan, Pa?"


Byan tak habis fikir, Star tak ada penolakan sama sekali. Padahal Star belum tahu apa yang Byan inginkan.


Byan tersenyum, Papa akan memberimu hadiah jika ini berhasil," rayu Byan.


"Benarkah?"


"He'eum," Byan pun langsung membisikkan rencananya ditelinga Star.


Star hanya tersenyum-senyum sembari mendengarkan jelas apa yang Byan katakan saat ini. Sebagai anak kecil, diiming-imingi hadiah saja sudah merasa senang. Namun bukan karena hadiah itu, niat Star hanya ingin membantu Papanya dengan tulus.


Setelah selesai membisikkan rencananya itu, Byan meminta Star untuk turun lebih dulu dari mobil menuju ke rumah Mara.


Star pun menuruti perintah Papanya itu dan sedikit berlari. Ia sungguh tak sabar untuk menemui Mara.

__ADS_1


Entah ini sebuah kebetulan atau memang jodoh, belum sempat Star mengetuk, pintu itu sudah dibukakan oleh seseorang.


"Nenek?" sapa Star pada Kamila yang kini tengah berdiri di ambang pintu.


"Bintang?" Kamila terkejut seketika mendapati Star di depan rumahnya. Matanya celingukan mencari keberadaan seseorang, dan benar saja ia dapat melihat Byan tengah berlari menghampiri mereka.


"Nenek, aku ingin bertemu Tante Cantik," ucap Star langsung memberi tahu tujuannya.


Kamila masih bungkam, ia melihat Byan yang kini semakin mendekat kearah mereka. Membuatnya menjadi semakin serba salah.


"Ibu, maaf aku ..."


"Mari masuk," Kamila langsung mempersilahkan Star dan Byan masuk ke dalam rumahnya. Meskipun sebenarnya ia sudah tak ingin bertemu Byan atau dengan orang yang berhubungan dengan keluarga Malik lagi.


Kamila juga tak ingin menunjukkan rasa ketidaksukaannya terhadap Byan di depan Star secara langsung. Karena menurutnya Star hanyalah anak kecil yang tak tahu apa-apa atas kejadian masa lalu orang tuanya.


Byan mendapatkan keuntungan kali ini, tidak sia-sia ia menggunakan Star untuk menjalankan rencananya. Benar saja, ia tak mendapat amukan atau perkataan yang tak enak didengar olehnya dari Kamila.


"Terimakasih, Nenek," ucap Star dengan bangga. Ia pun masuk ke dalam rumah dengan perasaan gembiranya.


Kamila hanya tersenyum kecil menanggapi Star, bagaimana pun hatinya masih merasa janggal atas kehadiran Byan di rumahnya. Namun, lagi-lagi Star bisa membuat suasana tegang yang ia hadapi kini menjadi sedikit lebih tenang.


"Ada maksud apa datang kemari, Byan?" Tak ingin berbasa-basi, setelah mempersilahkan Byan dan Star duduk di ruang tamu, Kamila pun langsung menanyakan maksud kedatangan Byan.


"Bu, aku ..."


"Nenek, di mana Tante Cantik?"


Kamila tersenyum sipu menatap Star, bocah itu memang menggemaskan. Sepertinya Star sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Mara.


"Nenek, bolehkah Star bertemu Tante Cantik?" Star menatap Kamila penuh harap.


Siapa yang tak luluh jika mendapat perlakuan manis seperti saat ini dari bocah menggemaskan seperti Star. Sikap manis serta kemanjaannya membuat siapapun akan menyukainya.


"Boleh??" Tanya Star lagi ketika tak mendapat jawaban dari Kamila. Kali ini dengan mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali.


"Iya, boleh." Kamila tak bisa menolak, Star memang pandai meluluskan hatinya.


"Yeay!!!!" Star melompat beberapa kali kegirangan. Ia meraih tangan Kamila dan menciuminya tanpa henti.


"Star, jangan seperti itu. Nenek tidak akan nyaman," tegur Byan. Byan merasa tak enak hati atas tindakan Star terhadap Kamila.


"Benarkah?" Star menatap wajah Kamila yang tak memperlihatkan ketidaksenangannya atas tindakan Star. Menurutnya Kamila tak seperti yang Byan katakan. Bahkan Star dapat melihat jika Kamila adalah orang yang sangat menyayanginya dengan tulus.


Setelah menatap wajah Kamila, Star menatap kearah Papanya. Dari situ, Byan memberikan kode melalui mata kepada Putrinya itu.


"Nenek, tidak pernah keberatan, bukan?" Tanya Star kepada Kamila untuk memastikan jika perkataan Byan itu salah.


"Star, tidak ada hal apapun yang membuat Nenek keberatan, jika itu berkaitan denganmu," Kamila tak ingin mengecewakan Star. Meski sebenarnya hatinya saat ini sedang dilanda kegundahan.


"Terimakasih, Nenek," Star tahu jika Kamila begitu menyayanginya.

__ADS_1


"He'eum," jawab Kamila sembari menganggukkan kepalanya.


"Di mana Tante Cantik? Aku tidak melihatnya, Nek?" Star menelusuri setiap sudut rumah yang sedari tadi tidak melihat keberadaan Mara.


"Tante sedang istirahat di kamarnya. Tunggu sebentar, biar Nenek panggilkan,"


"Nek, Star ingin ikut,"


Baru saja Kamila ingin beranjak, Star sudah menghentikannya. Star merengek karena ingin ikut dengan Kamila menemui Mara di kamarnya.


"Star, jangan seperti itu. Itu tidak sopan," Byan mencoba menasihati anaknya.


"Baiklah, Star akan tunggu di sini," ucap Star dengan suara lemah. Star pun duduk di sofa dengan mengerucutkan bibirnya menunjukkan rasa kecewa.


"Star boleh ikut, ayo!" ajak Kamila. Ia tak suka melihat wajah Star yang kini sudah ditekuk menandakan rasa kecewanya.


"Yeay!!!!" Star kembali bersemangat. Ia beranjak dari sofa kemudian segera menggandeng tangan Kamila.


Stelah berhasil, Star pun berjalan beriringan bersama Kamila. Sejenak Star menoleh ke belakang menatap Byan dengan senyuman sembari mengacungkan jempolnya.


Byan membalas memberikan dua jempolnya ke arah Star. Sungguh ia tak menyangka jika putri kecilnya ini sangat bisa diandalkan.


Ingin sekali Byan mengikuti kedua wanita itu agar bisa melihat Mara. Selama dua hari tak bertemu, rasa rindunya sudah menumpuk. Bahkan, kini sudah berada di ubun-ubun.


Sayangnya, Byan tak mungkin mengikuti Kamila dan Star yang kini menuju ke kamar Mara. Jika itu terjadi, ia benar-benar tidak tahu diri.


Byan lebih memilih menunggu dengan sabar di ruang tamu sembari mata yang terus menatap layar ponselnya.


Ternyata sejak beberapa hari ia meninggalkan Seoul, Kessy terus saja menghubungi Byan dan mengirimkan pesan. Bahkan pesan dari Kessy telah mencapai ratusan. Entah apa yang Kessy kirimkan, yang jelas Byan tak ingin membaca pesan itu dan lebih memilih menutup Ponselnya.


Byan sudah menunggu di ruang tamu selama beberapa menit bahkan sudah setengah jam. Namun yang ia tunggu tak kunjung datang.


"Kak, Byan???"


Baru saja pulang sehabis latihan bola, Randy yang melihat mantan kakak iparnya itu ada di rumahnya pun terkejut.


"Hey, Randy," sapa Byan. Ia kemudian bangun dari duduknya. Rasanya ia sudah pegal terus saja duduk di sofa selama setengah jam.


"Sudah lama tak bertemu, kamu sudah tinggi," lanjut Byan mencoba lebih mengakrabkan diri dengan Randy setelah sekian lama tak pernah bertemu.


Randy hanya mengangguk, ia masih bingung atas kehadiran Byan di rumahnya. Ia pun memilih untuk masuk menemui Kakak dan Ibunya.


"Aku permisi,"


"Randy, tunggu!" Byan mencoba menghentikan langkah Randy.


"Aduh!!! Mampuslah aku!" Umpat Randy dalam hati. Ia benar-benar segan dengan mantan kakak iparnya ini.


"Ada yang bisa aku bantu, Kak?" Randy mencoba memepersiapkan diri, takut jika Byan akan mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan. Hingga suaranya pun terdengar gugup, karena sedikit takut.


"Eum, bolehkah Kakak minta air minum. Kakak haus,"

__ADS_1


__ADS_2