
"Aku tahu kau tidak menyukai Byan, tetapi tolong jangan paksa aku untuk berhenti menyukainya, itu tidak akan pernah bisa, Steve,"
"Mara ..."
"Maaf, aku tidak akan pernah bisa membalas perasaanmu, maafkan aku Steve," Mara tertunduk lesu, air mata pun kini sudah menetes di wajahnya.
"Sekali lagi maafkan aku," lanjut Mara.
"Mara," langkah kaki Steven mulai maju, ia hendak mencegah kepergian Mara dengan meraih tangannya.
"Berhenti Steve, biarkan aku pergi."
Mara berlari pergi meninggalkan Steven sendiri. Selesai sudah ia menjelaskan semua kepada Steven. Perihal skandal Ayahnya sepuluh tahun lalu, sesuatu yang cukup melegakan baginya. Setidaknya, tidak akan ada lagi kesalahpahaman diantara Steve, Byan dan dirinya.
Ia juga tidak ingin jika Steven terus mendekatinya, karena semua itu akan sia-sia. Sampai kapanpun Mara tidak akan pernah bisa mencintai Steven, karena hatinya telah terkunci rapat-rapat. Tentu saja pemilik kunci itu adalah Byan.
Merasa sudah tuntas urusannya dengan Steven, Mara pun segera pergi menuju ke sebuah tempat. Di mana ia harus menemui Star di sekolahnya.
Waktu sudah menunjukkan jam pulang, akhirnya orang yang ditunggunya sudah menampakkan wujudnya.
"Tante!" Teriak Star dari kejauhan.
Mara sudah bisa mendengar suara nyaring itu meski dari jarak yang masih begitu jauh. Ia melambaikan tangan ke arah Star dengan senyum sumringah.
"Mara,"
Suara seseorang mengejutkan Mara saat ini. Ketika ia menoleh, betapa terkejutnya setelah tahu siapa orang yang kini berada di sebelahnya.
"U-mi?"
Tubuh Mara merasa kaku, perasaannya pun menjadi tak enak karena kini mantan Ibu mertuanya itu sudah berada tepat di sebelahnya.
"Ingin menemui, Star?" Tanya Andryani.
"Oh, itu aku ..."
Belum sempat Mara selesaikan perkataannya, Star sudah datang menghampirinya juga Andryani. Secara bergantian Star menyalami tangan kedua wanita dewasa di depannya kini.
"Omma ada di sini juga?"
"Iya, sayang," Andryani memegang dagu Star dengan gemas.
"Omma, bolehkah Star pulang dengan Tante?" Star berharap mendapatkan izin dari Andryani.
"Star, kenapa ingin pulang dengan tante?" Tanya Andryani ingin tahu.
"Omma tak izinkan?" Star sudah mulai menunjukkan wajah manyunnya.
__ADS_1
"Tentu, Omma izinkan. Tetapi tanya dulu dengan Tante, apakah kamu tidak akan merepotkannya?"
Hati Mara sudah ketar-ketir, ia fikir Andryani akan menghlanginya untuk bertemu dengan Star. ternyata ia malah mendapat izin dari mantan mertuanya itu. Sedikit bersyukur, namun banyak hal yang menjadi pertimbangan Mara saat ini. Terutama perasaan tak enak hatinya.
"Umi, Star tidak pernah merepotkan. Aku boleh membawanya ke suatu tempat hari ini?"
"Baiklah kalau begitu," Andryani tak ingin Mara merasa kaku atau canggung terhadapnya. Sejatinya, Mara adalah wanita yang baik dan begitu menyayangi Star. Kasih sayangnya pun tak perlu diragukan lagi. Andryani yakin, Mara bisa dipercaya untuk menjaga Star.
"Omma, besok hari libur. Star ingin menginap di rumah Tante," rengek Star.
"Star, kita hanya akan berjalan-jalan," Mara tidak mengerti akan rengekan Star kali ini yang meminta izin pada Andryani untuk menginap di rumahnya.
Mulai hari ini Star sudah libur sekolah, meski begitu Mara tak ingin jika Star menginap di rumahnya. Ia takut jika hal ini akan diketahui Byan. Karena ia sendiri yang sudah membuat janji untuk tak lagi berhubungan dengan keluarga Malik. Kini, ia sendiri pun yang mengingkarinya.
"Star, malam ini kita harus pergi ke Seoul. Apa Star tidak ingin ikut?" Tanya Andryani. Karena sesuai rencananya, malam ini mereka sekeluarga akan berlibur ke Seoul sekaligus mengunjungi Byan.
"Seoul??" Star seperti belum paham akan perkataan Ommanya. Matanya terus memutar keatas, tanda sedang berfikir keras.
"Star, bukankah jika sudah libur sekolah kita akan menemui Papa?" Andryani menjelaskan hal ini pada Star, namun matanya mengarah kepada Mara.
Melihat tatapan aneh dari mantan mertuanya itu, Mara merasa ada sesuatu yang tak beres. Namun ia segera menepiskan perasaannya itu. Ia berharap, tatapan Andryani tak memiliki maksud apapun.
"Papa?" Star mendadak membolakan matanya. Ia begitu terkejut sekaligus senang.
"Umi, jika ingin ke Seoul ..."
Sontak hal itu membuat Mara terkejut bercampur panik. Sebenranya bukan hal itu yang ingin ia katakan. Entah dari mana Star bisa menebak-nebak hal itu. Dengan mulut yang masih terbuka, Mara menatap kearah Andryani. Ia pun segera meluruskan ucapan yang belum sempat ia selesaikan tadi.
"Eum, Star. Karena malam ini Star harus melakukan perjalanan jauh, maka kita tunda saja dulu ya, jalan-jalannya?"
"Yah, kenapa harus di tunda." Star kini menunjukkan wajah kecewanya.
"Star, saat ini Tante sedang banyak pekerjaan," Mara kembali mencari alasan lagi. Berharap akan mendapat pengertian dari Star.
"Tante, ayo ikut dengan Star. Kita bisa bertemu Papa," Star memegang kedua tangan Mara.
Mata Mara semakin membola, ia tak mengerti mengapa Star melakukan hal ini. Jika ia ikut bersama Star ke Seoul, bukan tidak mungkin ia akan di hajar oleh Byan. Bukan cuma di hajar, bisa saja Byan langsung membunuhnya.
"Omma, bolehkah Tante ikut dengan kita?" Tanya Star pada Andryani.
"Eum ..." Andryani menunjukkan wajah sedang berfikirnya sembari menatap wajah Mara.
Di tatap seperti itu, Mara merasa semakin salah tingkah. Ingin rasanya ia menolak permintaan Star itu, namun entah mengapa mulutnya seakan bungkam tak bisa terbuka.
"Omma, boleh ya ..." rayu Star pada Andryani.
"Tentu, Omma akan sangat senang jika Tante Mara ikut bersama kita," jawab Andryani.
__ADS_1
"Umi, aku ..."
"Mara, sekali ini saja tolong wujudkan keinginan Star. Umi harap kamu bisa," Andryani menepuk pundak Mara perlahan. Ia pun kemudian pergi bersama pak Kurdi meninggalkan Mara dan star.
Perasan Mara campur aduk, bagaimana mungkin ia tak bisa menolak keinginan Star? Tentu hatinya saat ini tak menentu.
"Tante, ayo!"
Ucapan Star menyadarkan Mara dari lamunan. Kemudian ia pun mengajak Star masuk ke dalam mobilnya.
"Tante, Star senang. Akhirnya kita akan berlibur bersama,"
"Star, Tante sungguh minta maaf. Sepertinya Tante tidak bisa ikut,"
"Kenapa? Apa karena Papa?"
"Bukan, tidak ada hubungannya dengan Papa, Star"
"Tante, Papa pernah memberikan sesuatu pada Star," tiba-tiba Star ingat akan suatu hal.
"Apa?"
Star membuka tasnya, mencari-cari keberadaan benda yang beberapa bulan pernah diberikan oleh Byan sebelum pergi ke Seoul.
"Ini," setelah menemukannya, Star menunjukkan benda itu kepada Mara.
Mata Mara terbelalak, ia pun segera menghentikan laju mobilnya. Ia meraih benda dari tangan Star dan memperhatikannya dengan intens.
"Star, dari mana mendapatkan liontin ini?"
"Dari Papa," jawab Star polos.
"Papa? Star yakin?" Tanya Mara meyakinkan Star. Karena ia sungguh bingung mengapa liontinnya itu ada dengan Byan. Selama ini ia mencari kemana-mana.
"Iya, sebelum Papa pergi. Waktu kita di bandara, Papa memberikan liontin ini kepada Star. Papa bilang, Star harus memberikannya kepada Tante Cantik," jelas Star dengan jujur.
"Kenapa liontin ini ada dengan Papa?"
"Star tidak tahu, Tante bisa tanya langsung dengan Papa setelah kita sampai di Seoul,"
"Star, Tante tidak bisa ikut," Mara masih menolak permintaan Star.
"Tante, bukankah Tante ingin bertemu Papa?"
"Star ..." Mara menghela nafas panjang. Ia tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya dengan Star.
"Tante, ayolah. Star ingin kalian berdua tidak bertengkar lagi. Apakah kalian tidak lelah, meski berjarak jauh tapi kalian terus saja bertengkar?"
__ADS_1