
Byan menatap wajah wanita di depannya, entah ini keberuntungan atau kesialan untuknya. Yang jelas, situasi saat ini sangat tidak tepat.
"Mas, Byan?" Sapa Asmara ketika melihat Byan berada di hotel yang sama dengannya. Bahkan saat ini, kamar yang mereka tempati bersebelahan.
Mara berfikir jika Byan datang ke hotel ini untuk menghadiri acara seminar yang sama dengannya. Namun Mara tak ingin dibilang sok akrab karena terlalu banyak bicara, ia memilih hanya sekedar menyapa Byan saja.
"Ma-Mara," suara Byan terdengar kaku, namun ucapan Byan dapat didengar jelas oleh telinga Mara.
"Mas di hotel ini juga??" Karena bingung harus berkata apa, mau tidak mau Mara lebih dulu bertanya pada Byan.
"He'eum," tak banyak yang bisa Byan katakan. Saat ini ia sedang menahan rasa yang tengah mengganggunya sejak tadi.
"Mas? Apa mas sakit?" Karena melihat keringat yang mengucur dari dahi Byan, Mara sedikit khawatir. Mara mencoba mendekat, dengan langkah kakinya yang semakin maju ke arah Byan. Padahal, di awal pertemuan ia sudah bersikeras hanya sekedar menyapa Byan. Tapi, sepertinya niatnya itu diurungkan olehnya karena melihat kondisi Byan saat ini.
"Jangan mendekat!!" Sontak Byan membuat Mara kaget. Byan berkata dengan nada tinggi seolah membentak.
Mara hanya diam, ia kemudian menundukkan kepalanya. Diurungkannya langkah kaki yang hendak mendekati Byan.
"Ya ampun Mara, apa yang kamu lakukan? Lihat Byan masih saja bersikap keras, jadi kamu jangan sok akrab hanya karena Byan menolongmu kemarin," dalam hati Mara hanya bisa bergumam merutuki kelakuannya sendiri.
"Oh, kalau begitu aku permisi Mas," Mara tak ingin membuat Byan marah lagi, ia pun berusaha untuk meninggalkan Byan, meski hatinya sangat mengkhawatirkan kondisi Byan saat ini.
Melihat raut wajah Mara yang tak berbinar lagi, Byan sungguh menyesal. Ia menyesal karena telah membentak Mara dengan suara kerasnya. Mara pasti kecewa, begitulah tebakannya.
"Mara, maaf," Kata maaf Byan dapat terdengar oleh Mara. Hingga Mara menoleh kembali dan menghampiri Byan.
"Tidak perlu meminta maaf Mas, bahkan aku sudah biasa mendapat perlakuan kasar kamu meskipun itu sudah lama, tapi jujur rasanya masih sakit sampai sekarang," Hanya di dalam hati Mara berani mengucap, sungguh ia tak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata itu pada Byan.
"Mas, biar aku bantu," Mara meraih kunci yang Byan pegang dan membukakan pintu untuk Byan. Karena sejak tadi, ia melihat jika Byan sedang kesusahan. Ia juga merasa Byan sedang tidak enak badan, dapat terlihat jelas keringat dingin yang membasahi area keningnya.
Anggap saja jika pertolongannya kali ini sebagai rasa balas budi karena Byan sudah menolongnya tempo hari.
Mendapat sentuhan dari tangan Mara, perasaan Byan malah semakin sulit dikendalikan. Apalagi dengan adik kecilnya, ah sungguh tak dapat lagi ia tahan. Rasanya sesuatu yang mengeras itu ingin segera memumbul keluar.
Mara sudah membukakan pintu untuk Byan, kemudian ia mempersilahkan Byan segera masuk ke dalam kamar itu.
__ADS_1
"Masuklah Mas,"
Tak dapat dipungkiri, perkataan Mara semakin membuat hasrat Byan naik hingga tak dapat tertahankan.
Setelah Byan masuk ke dalam kamar, Mara mencoba membantu untuk menutup pintu itu dari luar. Namun belum tertutup penuh, Byan sudah mencekal pergelangan tangan Mara.
"Mara ..." lirih Byan, kemudian ia menarik tangan Mara hingga Mara pun ikut masuk ke dalam kamar itu. Mata Mara membulat, tak mengerti apa yang akan dilakukan Byan kepadanya.
Sementara Byan hanya bisa menelan salivanya, sungguh ia ingin menuntaskan hasratnya saat ini. Apalagi di sini sudah ada Mara, wanita yang akhir-akhir ini mengusik hati dan fikirannya.
Tubuh Mara bersandar di tembok, dengan posisi Byan tepat berada di depannya dan amat dekat. Kini tubuh Byan dan tembok telah menghimpitnya.
"Mas ke-kenapa?" Khawatir jika terjadi sesuatu pada Byan, meski dengan perasaan takut ia pun segera bertanya.
Byan masih diam, nafasnya terus memburu. Matanya masih menelisik setiap bagian dari wajah wanita yang ada tepat di depannya.
Mata lentiknya, alis tegasnya, hidungnya yang mancung, dan bibir ranum itu, ingin segera ia melahapnya. Sungguh, baginya Mara begitu menakjubkan.
Mengapa ia baru menyadari itu semua sekarang?
Byan melepas cekalan tangannya pada Mara. Ia kemudian memilih pergi ke kamar mandi dengan segera.
Melihat Byan pergi ke kamar mandi dan menutup pintu dengan keras, membuat Mara bingung. Ia tak mengerti atas sikap dan perlakuan Byan terhadapnya hari ini.
"Mas Byan? Mas kenapa?" Mara berteriak dari luar kamar mandi.
Sementara Byan melucuti setiap helai kain yang menutupi tubuhnya, ia mengguyur tubuhnya dibawah shower dengan air dingin. Ia harap,rasa sakit pada adik kecilnya akan segera mereda.
"Arghhhh! Sial!" Umpat byan dengan meremas kuat rambutnya yang kini telah basah.
"Mas??" Mara masih memanggil Byan dari luar pintu kamar mandi.
Karena tak juga dijawab, Mara pun memberanikan diri membuka pintu itu. Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada Byan di dalam sana.
Kedua mata mereka pun bertemu, seketika itu pula Mara segera menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Wuaaaaa!" Mara berteriak. Ia kemudian berbalik arah, tak ingin lebih lama melihat pemandangan tanpa sensor di depannya.
"Kau memancingku Mara!" Byan menyeringai, ia mematikan shower kemudian meraih handuk yang tergantung di kamar mandi untuk membalut separuh dari tubuhnya.
"Mas, ma-maaf," Mara pun melajukan langkah menuju keluar kamar mandi dengan menutup kedua matanya.
Tapi sayang, ternyata Byan tak membiarkannya pergi begitu saja. Byan pun menghalangi jalan Mara dengan kembali menarik tangannya. Tubuh Mara terhuyung hingga berbalik arah dan berhadapan dengan tubuh Byan.
Dapat Mara rasakan dinginnya kulit Byan, tak terkecuali sesuatu yang mengganjal dibawah sana.
"Mas Byan, lepaskan!" Mara kini dihadapkan oleh situasi yang sulit. Ia mengaku salah, karena telah berani masuk ke dalam kamar mandi begitu saja.
"Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja," Byan semakin mengeratkan pegangannya pada tangan Mara. Ditariknya pinggul Mara yang langsing itu hingga semakin menempel pada tubuhnya.
"Mas ..." lirih Mara lagi mencoba menyadarkan Byan. Tangannya mencoba menahan bagian dada Byan yang sudah semakin dekat dengannya. Namun tenaganya tak sekuat itu, Byan terus mendorong tubuhnya hingga semakin merapat dengan Mara.
Byan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Mara. Dapat dirasakan hembusan nafas Mara yang hangat, dapat dirasakannya pula bagian dada Mara yang telah mengenai tubuhnya hingga jantung keduanya pun saling berdegup kencang.
"Mas, tolong lepaskan aku!" Mara memberontak, fikirannya sudah menjalar kemana-mana.
"Mara, izinkan aku ..."
"Lepas Mas Byan, Heummmmpt ..." Mara tak dapat berkutik lagi, bibir ranumnya sudah di tutup Byan dengan bibir miliknya.
Tangan Mara mencoba menolak, tapi Byan dengan sigap segera mencekal kedua tangannya dengan kuat. Mara tak mau membuka mulutnya untuk Byan, tapi Byan tak menyerah begitu saja. Ia pun menggigit bibir bagian bawah Mara, dan akhirnya mara pun membuka mulutnya.
Saat itulah, Byan dengan ganas melahap dengan rakus bibir ranum milik mantan istrinya itu. Memberontak pun percuma, mara tak bisa melakukan apapun. Tenaganya kalah oleh seorang lelaki kuat seperti Byan.
Semakin lama, Mara semakin terhanyut dan mengikuti irama permainan Byan. Terlebih lagi, Byan memperlakukannya dengan sangat lembut.
Sepertinya, keduanya saling terhanyut dalam permainan ini. Dengan hati-hati, Byan mengalunkan belaian bibirnya pada bibir Mara.
Meski awalnya Mara mencoba menolak, tapi kini ia pun ikut menikmati kecupan dan ******* bibir Byan.
Byan melepaskan cekalan tangannya pada tangan mara. Ia mulai mencari-cari tempat persinggahan tangan selanjutnya. Dirabanya setiap jengkal bagian tubuh Mara, hingga ia tak sabar ingin menyentuh dua gunung kembar milik Mara yang tempo hari begitu memikatnya. Jika ia memiliki keberanian penuh, kini selangkah lagi ia akan berhasil merasakan itu.
__ADS_1