Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Salah menduga


__ADS_3

Mara memperhatikan punggung kedua insan yang melangkah jauh meninggalkannya. Bagaimana pun ia masih begitu merindukan Star dan ingin memiliki waktu yang lebih lama untuk bersamanya. Namun sayang, waktu saat ini tak tepat. Byan telah membawanya pulang, sementara sesuai janji awalnya ia pun akan pergi bersama Steven.


"Mara," panggil Steven ketika Byan dan Star sudah melaju dengan mobilnya.


"Eum," jawab Mara singkat masih menatap laju mobil itu yang kian menjauh.


"Apakah hal ini termasuk kesibukan yang kamu katakan?" Entah apa yang ada di fikiran Steven hingga ia melontarkan pertanyaan seperti ini pada Mara.


"Steve, apa maksudmu?" Mara benar-benar belum memahami arti pertanyaan Steven barusan.


"Mara, jujurlah padaku. Sejak kapan kamu akrab dengan keluarga Malik lagi?" Tanya Steve lagi hingga membuat Mara semakin bertambah bingung. Belum juga ia menjawab pertanyaan pertama, Steve sudah membubuhinya dengan pertanyaan kedua yang berbeda.


"Steve, apa yang kamu katakan?" Sanggah Mara. Menurutnya Steven begitu posesif pada dirinya. Jujur, ia malas untuk berdebat kali ini.


"Mara, mulai sekarang jauhi keluarga Malik!" Perintah Steven.


Mara hanya bisa membolakan matanya serta mulutnya seolah tertahan untuk mengeluarkan kata-kata. Mengapa Steven begitu melarangnya berhubungan dengan keluarga Malik. Mara sungguh tak menyukai aturan yang Steven berikan. Pertanyaan yang awalnya membuat Mara bingung, kini ia harus dibingungkan oleh peraturan Steven.


"Steve, kenapa kau melarangku? Aku tidak berhubungan dengan keluarga Malik!" Kekesalan Mara kali ini benar-benar sudah memuncak. Hingga ia harus bernada tinggi saat berbicara dengan Steve.


"Lantas? Apa kamu bisa menjelaskan apa yang baru saja aku lihat?"


"Steve, mengapa kamu bersikap seperti ini?" Mara semakin kesal. Bisa-bisanya Steven melarangnya ini dan itu. Di tambah lagi sebuah penjelasan yang menurutnya tak butuh dijelaskan.


"Kamu tidak bisa jelaskan, bukan?" Steven begitu ingin mendengarkan penjelasan dari Mara yang dapat ia terima.


"Mengapa aku harus menjelaskan padamu, Steve?" Mara balik bertanya. Ia merasa tak perlu menjelaskan apapun pada Steven yang notabennya bukanlah siapa-siapa baginya.


"Mara, begitukah pemikiranmu? Apakah kamu tak peka?"


Perkataan Steven kali ini membuat Mara semakin bingung. Apa sebenarnya yang Steve maksud. Mengapa ia harus bersikap peka? Apa yang terjadi pada Steven sebenarnya?


"Steve, ada apa ini? Mengapa kita harus berdebat oleh masalah ini? Ada apa denganmu?" Mara menatap Steven penuh tanya disertai kekesalan yang tak dapat ia bendung lagi.

__ADS_1


"Kau belum menyadarinya? Oke, aku akan memberimu waktu untuk berfikir, Mara."


Steven pergi begitu saja meninggalkan Mara di sana yang hanya mematung. Entah apa penyebabnya semarah ini pada Mara, yang jelas ia begitu tak suka ketika melihat Mara bertemu dengan keluarga Malik. Mungkin lebih tepatnya ia tak menyukai jika Mara bertemu dengan Byan.


"Ada apa dengannya? Mengapa dia begitu aneh?" Mara bingung dengan sikap Steven. Ia pun memilih untuk kembali ke toko kuenya daripada mengejar Steven yang terlihat kesal itu.


"Harusnya aku yang kesal padanya, mengapa malah dia yang marah?" Mara terus merutuki sikap Steven hari ini. Kepalanya terasa berdenyut memikirkan teka-teki dari diri Steven.


"Dasar aneh!" Umpat Mara yang dapat didengar oleh Renata dan Susi.


"Siapa yang aneh, Mba?" Tanya Susi penasaran. Telinganya memang begitu baik karena dapat mendengar celotehan Mara yang baru datang dari luar.


"Pria itu memang aneh, jika aku jadi Mba Mara mungkin akan ku dorong dia sampai jatuh ke dalam parit!" Renata yang mulutnya asal ceplas-ceplos pun angkat bicara. Ia begitu yakin jika Mara kali ini tengah kesal pada Steven.


"Re?" Melihat Renata berkata seperti itu, Mara pun langsung menghampiri dan bertanya padanya.


"Iya, Mba," jawab Renata merasa takut pada tatapan tajam mata Mara. Jantungnya seolah terhenti, seakan ada hal serius yang akan dikatakan Mara padanya.


"Apa lelaki itu adalah Steven?" Tanya Mara untuk memastikan pria misterius kepada Renata. Karena hanya Renata yang tahu persis wajah pria itu. Hanya Renata yang menerima pemberian pria itu untuknya.


"Ya ampun, Renata!" Susi yang mendengar itu pun menjadi geregetan dengan pemikiran lambat pada Renata.


"Maksud Mba Mara, apakah pria yang barusan itu adalah pria yang memberikan Vitamin C dan bunga mawar putih tempo hari?" jelas Susi secara gamblang. Susi memang terlihat sedikit cerdas dibandingkan Renata. Hal itu pun langsung disertai anggukan kepala oleh Mara.


"O, itu?" Renata menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Renata, apakah dia orangnya?" Tanya Mara sekali lagi.


"Bukan, Mba! Jelas bukan bule itu." Renata menyunggingkan bibirnya hingga berbentuk kerucut.


Mara salah menduga. Ternyata pria yang ia kira itu adalah Steven, menurut Renata bukan.


"Jadi, jika bukan Steven lalu siapa orang itu?" Hati Mara terus bertanya-tanya. Ia sungguh membutuhkan jawaban akan hal yang akhir-akhir ini begitu mengusik fikirannya.

__ADS_1


Sementara di dalam mobilnya, Byan hanya bisa terus bergumam dalam hati. Apa yang ia lihat hari ini sangat mengganggunya. Kehadiran Steven sungguh bagaikan pengusik kali ini.


"Steven? Dia kembali lagi?" Tanya Byan di dalam hati.


"Papa," panggil Star pada Papanya yang masih menyetir mobil dengan fokus.


"Iya, ada apa Star?"


"Papa, apakah Papa tidak Marah jika Tante bertemu dengan Star?"


Pertanyaan Star membuat Byan semakin bersalah. Jika saja ia tidak melarang Star dengan Mara bertemu pada awalnya, tak mungkin pertanyaan seperti ini dilontarkan oleh putri semata wayangnya itu.


"Sayang, Papa tidak melarang apapun jika itu yang terbaik untukmu," Byan mengusap pelan puncak kepala Star dengan lembut.


"Horee!!!!" Star bergembira sambil terus bertepuk tangan. Hal itu membuat Byan terharu. Ternyata Star begitu menginginkan Mara berada di dekatnya.


Sebenarnya bukan Star saja yang bahagia ketika bertemu Mara. Byan pun merasakan hal yang sama. Sungguh, jika diizinkan ia ingin terus berada di dekat Asmara setiap hari. Hal itu di lakukannya agar Mara dapat terpantau langsung dan aman.


Ia tak perlu lagi mengunjungi toko kue dengan menitipkan pemberiannya melalui orang lain. Ia juga tak perlu lagi menjadi penguntit untuk membuntuti Mara jika pulang larut malam.


Itu semua hanyalah hayalan belaka Byan. Pertanyaannya saat ini adalah, apakah Mara mau bertemu dengannya seperti apa yang ia hayalkan?


Byan pun menepiskan semua hayalannya. Ia kembali fokus menyetir mobil menuju ke rumah dengan kecepatan sedang.


Saat tiba di kediaman Malik, Star turun dengan tangan yang di gandeng oleh Byan. Rencana mereka untuk pergi bermain gagal hari ini.


"Nah, itu mereka sudah pulang," ucap Andryani pada Kessy yang sejak beberapa menit lalu menunggu kedatangan Byan.


Kessy menyunggingkan senyumannya, tak habis-habis caranya untuk mendekati Byan. Meski sudah berulang kali ia mendapat penolakan dari Byan.


"Byan, Kessy menunggu," Andryani langsung mengambil alih tangan Star dan membawanya ke kamar meninggalkan Kessy dan Byan di ruang tamu.


"Ck!" Byan hanya bisa berdecak kesal. Ia tak paham dengan pemikiran Kessy yang tiada henti mengganggu dirinya. Meski sudah berbagai cara ia lakukan untuk memberikan Kessy pelajaran.

__ADS_1


"By," Kessy yang tak tahu malu itu pun langsung menghampiri Byan den memeluknya.


__ADS_2