
Harusnya malam ini Mara marah terhadap Byan, namun akibat perlakuan dan sentuhan Byan pada dirinya, membuat ia lupa harus berbuat apa yang seharusnya. Ternyata Byan begitu berpengaruh, bahkan dapat menggagalkan semua emosi yang telah ia pendam beberapa hari ini.
Lima belas menit sudah, Byan keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan handuk putih polos untuk menutupi setengah tubuh bagian bawahnya.
Keluarnya Byan dari dalam kamar mandi membuat Mara hanya bisa menelan salivanya. Kali ini Byan sungguh terlihat sempurna dan begitu menggodanya. Sungguh, Byan benar-benar terlihat seksi bak artis luar negeri di dalam film yang sering ia lihat.
Air yang menetes di tubuh dan wajahnya akibat rambut yang masih basah, membuat pesona Byan semakin kuat. Tatapan Mara pun tak beralih sama sekali, bahkan ia tak bisa berkedip lagi.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak berniat menggodamu," ucap Byan membuyarkan lamunan Mara.
"Apa-apaan kau, Mas!" Mara mengalihkan pandangannya, ia duduk di pinggiran ranjang dan kembali menatap layar televisi.
"Aku juga tidak berharap mendapat godaan darimu, aku tidak akan tergoda!" Celetuk Mara dengan memanyunkan bibirnya.
Byan hanya tersenyum menyeringai mendengar ucapan Mara sembari berjalan ke arah ranjang. Kini, Byan sudah berhadapan langsung dengan Mara. Dapat Mara rasakan aroma wangi pada tubuh dan rambut Byan, juga hawa yang dingin karena sentuhan tangan Byan.
"Kau, kau mau apa?" Mara membelalakkan matanya ketika melihat Byan sudah ada di dekatnya.
Byan menatap Mara sejenak, kemudian ia mengambil sesuatu di atas ranjang dan menunjukkan kemeja putih miliknya ke pada Mara.
"Aku tidak akan memakanmu, aku hanya ingin mengambil milikku," lagi, Byan mengulum senyumannya. Tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata lagi wajah menggemaskan Mara saat ini.
Wajah Mara memerah, ia sungguh malu karena sudah salah paham kembali. Ia pun memilih kembali menatap layar televisi dan mengacuhkan Byan.
Setelah selesai merapihkan pakaiannya, Byan duduk di sebelah Mara yang sedang asyik menonton televisi itu.
"Sekarang katakan, apa yang ingin kau jelaskan padaku," Byan menatap arloji di tangannya. Jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Rasanya cepat sekali waktu ini berlalu, bahkan ia belum puas bersama Mara, tapi waktu berputar amat cepat.
"Aku datang kemari hanya untuk melakukan bisnis bersama Steven, ada beberapa tempat yang akan ku jadikan cabang toko cakeku, Mas,"
Penjelasan Mara masuk akal, Byan pun bisa menerima itu. Namun ia kembali berfikir lagi, untuk apa Steven mengajak Mara ke Seoul dan berbisnis. Menurutnya hal ini begitu janggal.
"Apakah Steven menawarkan hal lain kepadamu?" Tanya Byan ingin tahu. Pasalnya, Byan merasa tindakan Steve bukan seperti orang yang akan berbisnis. Melainkan memiliki tujuan yang lain. Sementara Byan bisa menebak, jika Steven menyukai Mara.
"Besok, Steven juga akan mengajakku bertemu dengan relasi bisnisnya, Mas," jawab Mara jujur.
"Kau terlalu polos, Mara," Byan meraih pundak Mara dan menyandarkannya pada dada bidangnya.
"Maksudmu?" Mara tak mengerti. Jujur ia belum terlalu pandai dalam berbisnis. Bahkan ini adalah pertama kali baginya untuk menjangkau bisnis di luar negeri.
"Berbisnis tidak seperti ini, sebaiknya kau berhati-hati dan jangan terlalu percaya," ujar Byan mencoba membuat Mara lebih bersikap hati-hati dalam mengambil langkah atau keputusan.
"Apakah Steven tidak bisa di percaya?"
"Aku tidak mengatakan itu. Aku hanya ingin kau lebih bisa membedakan orang yang benar-benar bisa di percaya, dan orang yang mendekatimu karena memiliki tujuan lain," jelas Byan lagi.
"Tujuan lain?" Sejenak Mara berfikir, perkataan Byan mungkin ada benarnya.
"Aku tahu kau pintar dalam menilai seseorang, kau pasti mengerti maksudku,"
Byan tak ingin memberi penilaian buruk pada Steven di depan Mara. Ia juga tak ingin mempengaruhi Mara. Menurutnya, biarkan Mara yang memberi penilaian sendiri terhadap Steven. Meski Byan tahu, sebenarnya Steven juga memiliki tujuan tertentu. Hal ini akan menambah pekerjaan rumah baginya.
Byan meraih satu tangan milik Mara, ia menyatukan jari-jarinya dengan jari Mara. Ia eratkan jemarinya itu dan mengecupnya lembut.
"Mara, aku akan terus mendukung apa yang kau inginkan. Tapi, tolong dengarkan saranku kali ini. Jangan terlalu mempercayai orang lain, termasuk Steven,"
Byan terlalu khawatir jika miliknya ini akan berada dalam situasi sulit. Ia juga cemas karena Steven mengajaknya berbisnis.
"Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau bisa dipercaya, Mas?" Mara mencoba mencerna semua perkataan dan saran dari Byan. Namun ia juga melontarkan pertanyaan itu untuk Byan. Karena Byan juga termasuk orang yang amat dekat dengannya.
"Mara, hatimu yang akan menilainya. Aku yakin, kau akan percaya padaku," Byan terlalu percaya diri. Ia kembali mengecup punggung tangan Mara tanpa melepaskan dari genggamannya.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan dirimu? Kau bahkan belum menjelaskan semuanya. Apa yang akan kau jelaskan, Mas?" Mara tak sabar ingin mendengarkan penjelasan dari Byan.
"Mara, ada satu hal yang belum ku ketahui. Tapi, percaya padaku. Aku sedang mencari tahu, dan secepatnya akan memberitahumu,"
Byan menjelaskan secara serius. Ia belum bisa memberitahu larangan Abinya untuk dekat dengan Mara. Karena ia belum mengetahui alasan yang jelas. Jika ia sudah mengetahui alasan itu, sesegera mungkin ia akan memberitahu Asmara.
"Hal apa? Seserius itukah?" Mara begitu penasaran. Bahkan ucapan Byan susah untuk dimengerti.
"Mara, sepertinya ada seseorang yang menginginkan kita untuk tidak bersama."
Mendengar penjelasan Byan kali ini, Mara jadi teringat akan Andryani yang tempo hari melarangnya untuk dekat dengan Byan. Apa mungkin orang yang dimaksud Byan adalah Uminya? Atau ada orang lain? Kessy pun sama halnya, ia tak menginginkan Mara dan Byan bersama.
Ingin sekali Mara mengatakan hal itu, namun ia tak ingin menimbulkan kesalahpahaman diantara Byan dan Andryani. Lebih baik Mara memendamnya sendiri, ia juga akan mencaritahu apa penyebab Andryani memintanya untuk jauh dari Byan dan juga Star.
"Bagaimana dengan Papua?" Tanya Mara mencoba menutupi apa yang ada di dalam fikirannya kali ini. Ia pun kembali membahas soal pindah tugas yang Byan katakan ke Papua.
"Urusan di Papua sudah selesai, dan aku di pindah tugaskan ke Seoul. Untuk hal ini aku minta maaf karena tak memberitahumu," Byan merasa menyesal karena tak sempat memberitahu hal ini pada Mara.
"Tiga hari, kau tak sempat mengabariku?" Tanya Mara lagi. Ia ingin tahu apa sebenarnya kesibukan Byan. Atau masih ada hal lain yang belum bisa Byan katakan padanya.
"Ini," Byan mengambil ponsel dari saku celananya.
"Ponsel?" Tanya Mara tak mengerti.
"Aku terlalu ceroboh sehingga meninggalkan ponsel lamaku di rumah. Baru kemarin aku membeli ponsel baru," ucap Byan dengan jujur.
"Sekarang?"
"Sekarang apa?" Tanya Byan, ia tak mengerti apa maksud pertanyaan singkat Mara itu.
"Sekarang lebih baik kau pulang, Mas." Pinta Mara dengan mengulum senyumannya.
"Kau yakin tak ada pertanyaan lain?" Byan masih ingin di sini, ia semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh Mara. Jika Mara mengizinkan, ia ingin tidur di kamar yang sama malam ini.
Entah ini sindirian untuk Byan, atau hanya sebuah ungkapan biasa. Namun Byan merasa jika Mara tengah merajuk.
"Penjelasanku pun tidak akan selesai sampai besok pagi, apakah aku harus bermalam di sini?" Byan menyelipkan helaian rambut Mara yang terjuntai kebelakang telinganya. Byan menyentuh dagu milik Mara tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mas, jangan macam-macam," Mara mulai mengancam. Ia bahkan tidak ingin Byan lebih lama lagi tinggal di sini, apalagi jika sampai bermalam. Tidak bisa ia bayangkan apa yang akan terjadi padanya jika satu kamar dengan Byan.
Mendapat ancaman seperti itu, Byan hanya bisa mengulum senyumannya. Ia bahkan menyukai sosok Mara di saat marah seperti ini.
"Jelaskan, tentang Kessy?" Mata Mara menatap tajam mata Byan. Sepertinya ia sangat ingin mengetahui hal yang menyangkut Kessy. Wanita yang terus dekat dengan Byan, mengalahkan kedekatannya.
"Oh, wanita itu? Dia Asistenku di sini," ucap Byan santai.
"Apa? Asisten???" Mata Mara membola dengan sempurna. Ia begitu terkejut ketika mengetahui Kessy menjadi Asisten Byan. Bukankah itu akan membuat mereka berdua terus dekat?
"Dia hanya seorang Asisten, semua yang dia lakukan hanya sebatas pekerjaan. Kau tak perlu secemburu itu," Byan tak bisa lagi menahan tawanya. Wajah Mara benar-benar lucu dan menggemaskan ketika sedang cemburu.
"Apa? Cemburu? Untuk apa aku cemburu, itu tidak mungkin!" Mara membenarkan posisinya menjadi tegap dan tak lagi bersandar pada dada bidang Byan. Ia membantah jika sedang cemburu dengan Kessy.
"Benarkah?" Goda Byan lagi.
"Kau tidak percaya? Aku tidak pernah cemburu dengannya, yang benar saja!!" Mara menjauhkan posisi duduknya dari Byan. Namun Byan terus menggeser tubuhnya agar terus dekat dengan Mara.
"Kau cemburu, akui saja. Aku bisa melihat hal itu, Mara," Byan kembali menggoda Mara. Baginya ini adalah hal yang amat menyenangkan.
"Tidak!" Tetiak Mara. Mara mengerucutkan bibirnya karena merasa kesal atas tuduhan Byan.
"Jangan seperti itu, atau aku akan menciummu!" Byan kembali menarik tangan Mara agar berada di dekapannya lagi.
__ADS_1
"Mas, Byan!!!"
TOK!! TOK!!
Mendengar ada yang mengetuk pintu, Mara dan Byan pun diam. Selarut ini, siapa yang datang? Keduanya sama-sama bertatap dan melempar tanya. Apakah ada seseorang yang mengetahui keberadaan mereka?
"Mara, apa kau belum tidur?" Suara dari luar dapat terdengar jelas oleh telinga Mara. Ternyata itu adalah suara Steven yang begitu ia kenal.
"Steven?" Mara tak tahu lagi apa yang akan ia lakukan. Jika sampai Steven mengetahuinya sedang bersama Byan, maka ini akan menjadi kacau.
"Mas, kau sembunyi lebih dulu!" Pinta Mara pada Byan.
"Apa? Untuk apa aku sembunyi? Biar aku yang membuka pintunya," jawab Byan. Ia segera melangkah mendekat ke arah pintu. Namun Mara segera menghalanginya.
"Mas, tolong sembunyi. Jangan membuat semuanya kacau!" Ucap Mara dengan suara berbisik. Ia tak ingin Byan keluar menemui Steven. Jika itu terjadi, maka perang diantara mereka akan terjadi.
"Mara, biar dia tahu jika aku sedang bersamamu!" Byan ingin sekali menampakkan diri di depan Steven. Bahkan ia tak sabar ingin melihat raut wajah Steven yang begitu lucu ketika melihat mereka berdua berada dalam satu kamar.
"Mas, cepat sembunyi!!" Mara menarik tangan Byan ke arah kamar mandi. Ia berharap Byan mau menuruti permintaannya kali ini.
"Aku bukan selingkuhanmu, mengapa aku harus bersembunyi?" Byan tak mengerti apa yang Mara fikirkan. Kali ini ia benar-benar marah dengan tindakan Mara.
"Sembunyi di sini, dan aku akan menyelesaikan masalah Steve," Mara menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari luar.
"Mara!!" Kini Byan semakin emosi. Namun bagaimana lagi, ia tak bisa berbuat apa-apa dan hanya pasrah terkurung di dalam kamar mandi.
Setelah menyelesaikan Byan, Mara segera membuka pintu kamar dan menemui Steven. Ia mencoba membenahi pakaian dan rambutnya agar terlihat tak mencurigakan.
"Steve?" Sapa Mara dari ambang pintu yang tak ia buka lebar.
"Mara, kau belum juga tidur?"
"Belum Steve, ada apa kau datang selarut ini?" Tanya Mara lagi dengan rasa penasarannya. Di samping itu ia juga takut jika Byan akan berteriak dan akan membuat Steven curiga.
"Mara, aku mendengar kau berbicara dengan seseorang, siapa?" Steven begitu penasaran. Pasalnya ia melihat wajah Mara kali ini terlihat cerah, tak seperti awal tadi. Menurutnya, kondisi Mara kini sudah mulai membaik.
"Oh, aku baru saja selesai melakukan panggilan video bersama Randy dan Ibu, Steve," ucap Mara berbohong. Ia berharap Steven akan mempercayai kata-katanya.
"Oh, begitu." Steven merasa aneh dengan Mara yang terus saja berdiri di ambang pintu dan setengah menutup pintu hingga Steven tak bisa melihat kamar Mara dari luar.
"Steve, apa ada hal lain yang ingin kau katakan? Apa tidak bisa besok?" Mara mencoba mengusir Steve dengan cara halus. Mudah-mudahan, Steven akan peka dengan ucapannya.
"Tidak, aku hanya ingin memastikan keadaanmu, sepertinya kau sudah membaik," ucap Steven. Meski sebenarnya ia masih ingin terus melihat dan bersama Mara.
"Baiklah, terima kasih atas perhatiannya. Selamat beristirahat, Steven," Mara memberi salam dan membiarkan Steven pergi ke dalam kamarnya lebih dulu.
Setelah Steven pergi Mara pun segera menutup pintu dengan rapat. Perasan takutnya akhirnya bisa mereda meski belum hilang sepenuhnya. Untung saja Steven percaya padanya, jika tidak maka akan terjadi sebuah tragedi di kamar ini.
Mara baru ingat, jika ia mengurung Byan di dalam kamar mandi. Ia pun segera menghampiri Byan dan membuka kunci pintu kamar mandi itu.
"Mas, Byan?" Mara melihat Byan sedang duduk di atas kloset duduk dengan menyangga dagunya. Wajah kesal itu dapat Mara lihat dengan jelas.
"Mas?" Mara mendekati Byan, yang sejak tadi hanya diam saja.
Namun, belum saja Mara mendekat Byan sudah beranjak dari duduknya itu dan keluar dari kamar mandi.
"Mas," Mara bingung, bagaimana cara membujuk Byan yang sedang marah itu. Biasanya ia yang selalu merajuk, namun kali ini keadaannya berbanding terbalik.
"Mas, kau mau ke mana?" Tanya Mara melihat Byan sudah memakai jasnya.
Byan hanya menatap Mara tanpa bicara, ia kemudian mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya dan meletakkan kartu itu di atas ranjang tidur beralas sprei putih itu.
__ADS_1
"Mas, kau mau pulang??"