
"Mara," panggil Steve dengan melambai-lambaikan tangannya, namun Mara masih tetap tak menggubrisnya. Entah apa yang Mara lamunkan kali ini, Steve merasa jika sesuatu tengah mengusik fikiran Mara.
"Mara," panggil Steve sekali lagi, Namun Mara masih saja mematung.
Steven akhirnya memutuskan untuk menyentuh wajah Mara, ia mencubit pipi itu hingga si pemilik pun mengaduh kesakitan.
"Aw!"
Steven tersenyum senang, kali ini Mara sudah sadar dari lamunannya. "Apa yang kau fikirkan, hah?"
"Steve," Mara mengerucutkan bibirnya, dengan tangan yang mengusap-usap pelan pipinya yang kini telah memerah akibat cubitan tangan Steve.
"Apa ada yang mengganggu fikiranmu, Mara?" Steve sungguh ingin mengetahui banyak hal tentang Mara. Terlebih lagi, ia juga berharap Mara akan bercerita banyak padanya.
"Tidak, aku hanya heran padamu," Mara memnyunggingkan senyumannya. Ia kemudian mengambil minuman kaleng yang ada di lemari es tepat berada di ruang kerjanya.
"Ini, kau pasti haus," Mara mempersilahkan Steve untuk minum.
"Mara, kenapa kau tak mengerti juga. Haruskah aku mengatakannya sekarang?" Steve hanya bisa bergumam di dalam hati dengan tatapan mengarah pada Mara tanpa kedip.
Plak!!!
Mara menepuk lengan Steven dengan cukup kuat hingga Steve pun mengaduh.
"Awww!!" Steven meringis merasakan sakit pada lenganya yang di tepuk oleh Mara. Lengan itu memang sebelumnya sudah sakit diakibatkan terkilir tempo hari, kini bertambah sakit ketika Mara menghadiahkannua tepukan kuat.
"Steve, kau tak apa?" Tanya Mara khawatir melihat Steven terus saja memegangi lengan kanannya.
"Kau tahu, lenganku ini sudah sakit Mara. Kenapa kau menambah rasa sakitnya," Steve masih meringis.
Mara diam sejenak memandangi Steven. Sekilas di fikirannya terlintas kejadian semalam di mana seseorang yang menolongnya itu terluka tepat pada lengan kanannya.
"Tidak mungkin," gumam Mara.
"Kau masih mau memukulku?" Steven mengulum senyuman ketika Mara terus saja menatap dirinya.
Mara mengangkat tangannya hendak melayangkan pukulan kembali, namun belum sempat itu terjadi Steve sudah menahan tangannya itu. Mara mencoba melepaskan pegangan tangan Steven, namun Steve masih saja enggan untuk melepaskannya.
"Steve, lepas," pinta Mara menggoyang-goyangkan tangannya.
__ADS_1
"Tidak!" Steven kini masih mencengkram tangan Mara dengan terus mengulum senyuman. Sepertinya Steve masih ingin menggoda Mara sebagai obat rasa rindunya selama ini.
"Steven!" Mara mulai jengah, ia merasa tak suka dengan perbuatan Steven kali ini. Entah apa yang mengganggu otaknya, perlakaun Steven malah membuat Mara kesal.
"Maaf," Steven yang sudah melihat kekesalan pada wajah Mara pun segera melepaskan cekalan tangannya secara perlahan.
Mara menghela nafasnya panjang, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya di mana ada Steven juga. Ia mencoba menghalau rasa kesalnya saat ini, hingga ia menawarkan untuk pergi ke luar bersama Steven.
"Steve, pasti kau belum makan. Bagaimana jika kita pergi makan ke luar?" tawar Mara pada Steven yang kini tengah canggung pula.
"Baiklah," ucap Steven dengan perasaan tak enak hati.
Entah apa yang membuat Mara begitu risau atas perlakuan Steven kali ini. Tak seperti biasanya pula Steven bersikap seperti ini padanya. Menurut Mara, perlakuan Steve padanya kali ini keterlaluan. Hanya saja, ia lebih baik diam dan tak mengeluarkan kekesalannya untuk menghargai Steven yang jauh-jauh datang hanya untuk bertemu dengannya.
"Re, aku mau pergi keluar sebentar. Tolong jaga toko, ya?" Perintah Mara di dengarkan dengan baik oleh Renata, begitu pula dengan Susi yang tengah melayani seorang pembeli.
"Ya, Mba," jawab Renata dengan mata menatap sinis ke arah Steven yang kini tengah berdiri di sebelah Mara.
"Hati-hati, Mba," Susi pun ikut angkat bicara. Dua orang karyawan itu memang begitu perhatian pada Mara. Itu semua karena Mara selalu memperlakukan mereka dengan baik.
Mara hanya menganggukkan kepalanya pelan, namun ucapan Steve kali ini malah mengganggu pendengaranya.
Mara menggeliatkan tubuhnya berharap Steven akan melepaskan tangan yang kini telah mencengkram pundaknya. Namun, sama hal nya seperti tadi. Steven tetap saja melabuhkan tangan itu tanpa memikirkan Mara yang kini sudah merasa risih.
"Steve," Mara tak enak hati jika ia meminta Steven menurunkan tangannya itu dari pundaknya. Namun, meski ia sudah terus menggeliat dan menggerak-gerakkan tubuhnya Steve masih juga tak peka.
"Ya, Mara," Steven melajukan langkahnya ketika sampai di depan toko.
"Steve, bisakah kau turunkan tanganmu itu?" pinta Mara setengah bernada tinggi.
"Bisa," jawab Steve dengan enteng. Namun tangannya itu tak juga pergi dari pundak Mara. Yang ada ia malah semakin mengeratkan tangannya.
"Steve!" Nada bicara Mara semakin tinggi. Sungguh ia begitu kesal dengan tindakan Steve kali ini.
"Apa? Kau ingin memberontak?" Tanya Steve dengan tatapan dalam. Tatapan yang mewakili perasaan rindunya pada Mara. Steven sangat berharap Mara akan senang akan kedatangan Steven yang mengejutkannya. Namun harapan Steven itu terhapus ketika bertemu, Mara malah bersikap biasa saja.
"Steve, jika orang lain melihat tingkahmu itu akan menimbulkan ..."
"Aku tak perduli. Aku merindukanmu, Asmara," potong Steve pada ucapan Mara. Tatapan keduanya pun saling bertemu, dengan jarak yang begitu dekat. Tak sadar ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka berdua di sana.
__ADS_1
"Tante, Cantik!" Suara manja Star memekikkan telinga Mara.
"Star??" Mara terkejut kini bocah yang selalu ia rindukan itu kini ada di hadapannya. Namun kali ini ia datang bukan bersama pengasuhnya, melainkan bersama seseorang yang tak ingin dilihat oleh Mara.
Star berlari ke arah Mara, hal itu di gunakan Mara untuk menepiskan tangan Steven yang sejak tadi masih saja berlabuh pada pundaknya. Kedatangan Star kali ini menyelamatkan Mara.
Mara mengambil posisi jongkok, sementara Star dengan nyamannya langsung berhambur memeluk seseorang yang begitu ia rindukan.
Dari belakang, Star diikuti oleh seorang pria yang tak lain adalah Byan. Saat Star dan Mara saling berpelukan, lain halnya yang terjadi antara Steven dan Byan. Mereka berdua saling acuh dan sejenak melemparkan tatapan tajam Tatapan penuh kebencian yang begitu dalam.
"Star, apakah sudah sembuh?" Tanya Mara memecahkan keheningan.
"Star sudah sembuh, jika tidak sembuh Papa tidak mau mempertemukan Star dengan Tante," ucap Star dengan manja pada Mara.
Rasa aneh yang berdesir di hati Mara kian membuncah. Entah perasaan apa ini ketika matanya bertemu dengan mata Byan. Mereka berdua pun saling menatap kemudian sama-sama membuang pandangan.
"Tante, Om itu siapa?" Tanya Star ketika melihat Steven bersama Mara.
"Star, Om ini ..."
"Star, kita harus segera pulang karena Tante sedang sibuk," kini Byan menyela pembicaraan Mara. Ia pun mencoba mengambil alih Star dari dekapan Mara.
"Benarkah?" Tanya Star tidak percaya. Ia terus menatap Steven penuh tanya.
Smentara Steven hanya bisa diam sembari tangan yang terus memegangi dagunya. Ia tidak bisa berfikir jernih jika berhadapan dengan Byan.
"Star, kemari. Tante dan Om itu akan jalan-jalan, jadi Star jangan mengganggu, ya?"
Kehadiran Star bagi Mara sama sekali tidak mengganggu, justru ucapan Byan barusan yang sangat mengganggu hatinya.
"Apa-apaan dia? Kenapa dia berbicara semaunya?" Tanya Mara dalam hati dengan perasaan kesal akibat ucapan Byan.
"Ayo kita pulang, Sayang," ajak Byan pada Star.
Star pun menuruti perkataan Byan, kemudian ia berpamitan pada Mara dan juga Steven.
"Star, Tante akan menemuimu nanti," ucap Asmara mengusap puncak kepala Star penuh kasih sayang.
"Benarkah, Tante? Star tunggu!" Star begitu bersemangat untuk menantikan Mara menemuinya meski entah itu kapan.
__ADS_1
Mendengar itu, Byan tak bisa berkata apa-apa. Apalagi jika ia harus melarang Star bertemu Mara. Itu tidak mungkin karena Star begitu bahagia ketika bertemu Mara. Perasaan Star mewakili perasaanya kali ini. Satu hal yang Byan sayangkan, mengapa ia harus melihat Steven bersama Mara hari ini. Apalagi ia melihat dengan jelas jika Steven merangkul pundak Mara seakan mereka berdua adalah sepasang kekasih. Perasaan mengganjal disertai nyeri menguasai hati Byan saat ini.