Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Mencari tahu


__ADS_3

"Steve? Apa yang kamu bicarakan?"


Saat ini, Mara sudah melihat deraian air mata di wajah Ibunya. Mara tidak tahu apa yang Steve katakan pada kamila hingga membuatnya menangis tersedu-sedu.


"Ibu," Mara menghampiri Ibunya, dipeluk ya erat-erat tubuh itu.


"Mara, maafkan aku. Tapi menurutku, Ibu harus tahu semua ini. Aku tidak ingin menyembunyikan hal sebesar ini dari Ibu," Steven meminta maaf pada Mara karena telah memberi tahu rahasia terbesar yang mereka sembunyikan.


Meski sebelumnya Steven berjanji tidak akan memberitahu hal ini pada Ibunya. Nyatanya, Steven mengingkari janji itu.


"Ibu ingin istirahat," ucap Kamila lirih. Ia bangun dari duduknya dan menuju ke dalam kamar.


Siapa yang akan tahu perasaannya saat ini, setelah sepuluh tahun berlalu, ia menjalani masa-masa sulit dan membesarkan kedua anaknya sendirian, hari ini ia mengetahui fakta tentang suaminya yang sebenarnya.


Usai Kamila masuk ke dalam kamarnya, Mara pun segera berbicara pada Steven.


"Keterlaluan kau, Steve!"


"Mara, Ibu harus tahu. Jika ini terus kita pendam, maka kita hanya akan menimbun dosa," jelas Steven.


"Steve, aku sudah katakan padamu untuk mencari kebenarannya terlebih dahulu. Mengapa kau seceroboh ini? Bagaimana jika kesehatan Ibu terganggu?"


Perasaan sedih bercampur emosi menyelimuti diri Mara. Menurutnya Steven terlalu tergesa-gesa. Yang ia khawatirkan saat ini hanyalah kondisi kesehatan Kamila.


"Mara, kebenaran apa lagi yang akan kau cari? Semuanya sudah jelas, bukan?"


Tak ingin Mara dikuasai emosi, Steven mencoba menenangkan dirinya. Steven juga tak ingin Mara menggali masa lalu yang terjadi pada ayahnya lebih dalam. Ia khawatir semua itu hanya akan melukai hati Mara.


"Steven, jika dari awal keluarga Malik hanya ingin menghancurkan keluargaku seperti katamu, maka aku akan mencari tahu masalah yang sebenarnya, aku tidak ingin asal menuduh," ujar Mara memberikan alasannya pada Steven.


"Mara, bukan itu alasanmu. Aku tahu sebenarnya kau masih belum bisa menerima karena Byan terlibat dengan masalah ini, bukan?"


Lagi-lagi Steven membuat Mara semakin kesal. Ia membawa-bawa nama Byan, yang sudah jelas sangat sulit untuk dilupakan itu.


"Steve, ini tidak ada hubungannya dengan Byan! Jika seandainya kau pun terlibat, aku pun tak akan memaafkanmu!!"


Kekesalan Mara sudah mulai memuncak, entah bagaimana caranya ia harus mengontrol emosinya. Yang jelas saat ini, ia ingin segera mengetahui kebenarannya agar tak menimbulkan kesalahpahaman diantara dua keluarga.

__ADS_1


"Mara, kau tak perlu semarah ini. Aku hanya ingin fikiranmu terbuka, Byan bukanlah pria yang baik yang harus terus kau fikirkan! Dia adalah pria munafik!"


Satu-satunya alasan Steven, ia ingin menjauhi Mara dari mantan suaminya itu. Dengan begitu, ia mungkin jauh lebih mudah mendapatkan kembali hati Mara.


"Aku baru tahu sekarang, jika kau adalah pria munafik yang sebenarnya, Steven!"


Kemunculan Byan mengejutkan kedua orang yang tengah berdebat di dalam sana. Bagaimana bisa Byan datang ke rumah Mara, sementara baru saja kemarin mereka meninggalkan Seoul.


"Byan?"


Tatapan tajam mata Byan dan Steven kini saling bertemu. Keduanya sama-sama menyimpan amarah seakan ingin segera ditumpahkan dengan sebuah perkelahian.


Mara yang mengetahui kedua pria itu sudah saling memendam amarah pun mencoba melerai.


"Berhenti, jika kalian ingin berkelahi silahkan keluar dari rumahku!" Mara sedikit melirihkan suaranya, sembari menatap kedua pria itu secara bergantian. Ia tak ingin jika kehadiran Byan akan membuat Ibunya keluar dari kamar. Hal itu akan semakin memperumit keadaan.


"Mara, aku mencarimu. Syukurlah ternyata kau ada di sini," perasaan Byan sedikit lega. Pencariannya pun berakhir karena telah melihat Mara dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun ia harus terbang jauh dan meninggalkan waktu istirahatnya demi menemui Mara.


Mara heran, mengapa Byan terlihat seakan tak terjadi masalah apapun. Harusnya Byan marah padanya karena pergi tanpa pamit. Bahkan jika Mara menjadi Byan, ia mungkin tak akan memaafkan dirinya.


"Kau sudah melihat Mara di sini, sebaiknya kau pergi!" Perintah Steven.


Byan tak mengerti mengapa Steven selalu ikut campur dengan urusannya. Bahkan ia sangat ingin memusnahkan pria itu saat ini juga karena telah membawa Mara pergi darinya tanpa pamit dan sebab yang belum ia ketahui.


"Aku hanya ada urusan dengan Mara, bukan denganmu," ucap Byan ketus tanpa menatap kearah Steven.


"Urusan Mara, maka itu juga urusanku!" Steven pun tak mau kalah. Ia merasa lebih berhak atas diri Mara.


"Heuh, benarkah begitu? Jika memang begitu, aku hanya ingin mendengarnya dari mulut Mara sendiri," Byan menatap Mara intens, ia sangat menginginkan sebuah jawaban dari Mara yang sejak tadi hanya diam tak memberikan reaksi apapun.


"Mara sedang tak ingin bicara denganmu, sebaiknya kau pergi!" Steven kini mulai mengambil tindakan. Ia mendorong tubuh Byan agar menjauh dari Mara.


"Mara, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Byan masih tak ingin menyerah. Ia pun kembali mendorong Steven dan kembali mendekati Mara.


"Ck!" Steven berdecak kesal. Ia pun kembali menarik tubuh Byan agar menjauh dari Mara.


"Mara, bicaralah," pinta Byan memohon.

__ADS_1


"Dasar pria tak tahu diri, sudah menyakiti Mara dan keluarganya tapi kau masih berani mendekatinya!"


Karena Mara tak kunjung bicara, maka Steven pun mengambil tindakan. Ia menarik tubuh Byan dan memberinya satu pukulan.


Bughh!!


Mara terkejut dengan tindakan Steven. Sungguh ia tak menginginkan hal ini.


"Apa maksudmu?" Byan tak membalas pukulan Steven, meski sebenarnya ia ingin menghajar pria yang selalu ikut campur itu. Ia lebih memilih mengetahui maksud dari perkataan Steven yang menurutnya rancu.


"Heuh, kau tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu?" Steven kesal. Mengapa pria seperti Byan pura-pura bodoh.


Byan terdiam, ia sangat membutuhkan jawaban dari Mara. Ditatapnya Mara, namun masih sama seprti awal kedatangannya. Mara masih membuang pandangannya kearah lain.


"Keluarga Malik, keluarga yang terpandang dan terkenal! Tapi munafik!" Ucapan Steven begitu menusuk kedalam hati Byan. Bagiamana bisa Steven membawa-bawa nama keluarganya atas masalahnya dengan Mara.


"Jangan membawa-bawa keluargaku!"


"Kenapa? Kau takut? Ketakutanmu itu sudah terjadi. Dan Mara pun sudah mengetahui kebusukanmu!"


"Steven!" Mara berteriak, ia harap Steven akan menghentikan semua ini. Ia juga sedang malas berdebat apalagi ia telah melihat sudut bibir Byan yang lebam dan berdarah.


"Kenapa Mara? Biarkan saja dia mendengar jika kau sudah mengetahui rahasia besar yang sudah ia sembunyikan selama puluhan tahun," Steven tak sabar, ia sangat menantikan kehancuran Byan di depan matanya saat ini juga.


"Mara, apa yang sebenarnya ..."


"Jangan pura-pura tidak tahu, Mas. Skandal yang telah menjebak ayahku, ternyata ulah keluargamu sendiri!" Kini Mara sudah mulai angkat bicara dengan perasaan yang berapi-api.


"Skandal? Skandal a-pa Mara? aku benar-benar tidak tahu, sungguh!" Byan mencoba meyakinkan Mara jika ia memang tak mengetahui skandal yang telah diributkan dan melibatkan keluarganya.


Steven tertawa lepas, ia menatap bahagia ketika melihat Byan sudah hancur kali ini.


"Tuan Fabyan Alfarizi Malik, sebaiknya kau pergi dan katakan pada ayahmu itu untuk bersiap-siap!"


"Mara, aku akan mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Tapi sungguh, aku tidak mengetahui skandal yang kau maksud,"


"Jika ini ada hubungannya dengan keluargaku, maka aku akan bertanggung jawab, Mara,"

__ADS_1


__ADS_2